MURTADIN_KAFIRUN

Similar topics
Latest topics
Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 17 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 17 Guests :: 2 Bots

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 9:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Anjing hu Akbar

View previous topic View next topic Go down

Anjing hu Akbar

Post by heirnee@gmail.com on Wed Jan 21, 2009 10:07 pm

Anjing hu Akbar

Ijtihad Muhammad Yusman Roy (Ustadz Roy) yang menggunakan dua bahasa dalam salat akhirnya harus menabrak pagar pembatas keagamaan. Praktek penggunaan Bahasa Arab dan Indonesia dalam salat yang ia lakukan dianggap telah melecehkan agama (Islam). Ia dan istrinya pun harus rela digaruk oleh aparat keamanan dengan dalih telah menyebarkan ajaran sesat. Ini semakin meneguhkan anggapan bahwa di negeri kita ini, tafsir atas kebenaran selalu merupakan milik penguasa. Dahulu kita juga disuguhkan adegan yang kurang lebih sama dengan fenomena Ustadz Roy tersebut. Contoh saja kasus Ulil Abshar-Abdalla, atau kasus "Anjing hu Akbar" di IAIN Bandung, serta banyak kasus lain yang sering dianggap sebagai bagian dari penyimpangan doktrin keagamaan, dan karenanya harus dimusnahkan. Lalu muncullah fatwa kafir, sesat, dan halal darahnya.
Cara pandang seperti ini memang bisa dikatakan sebagai imbas dari kentalnya nuansa logosentrisme dalam pemikiran keislaman. Pemikiran yang berbeda bukan dimaknai sebagai rahmah, tapi justru dianggap sebagai penyimpangan dari doktrin. Wajar jika klaim sesat selalu bermunculan terhadap pemikiran yang dianggap bersebrangan dengan pandangan umum. Begitu juga ketika Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyikapi ibadah yang dipraktekkan Ustadz Roy. Mereka menilai praktek tersebut sudah menyimpang dari pakem dan keluar dari rel syariat. Benarkah demikian?
Islam Sebagai Mozaik
Kelahiran Islam sebagai sebuah agama pada dasarnya sangat terkait dengan konstruksi budaya. Islam, pada kenyataannya memang cukup lentur dengan membubuhkan dimensi lokalitas pada hampir keseluruhan ajarannya. Bisa dikatakan bahwa Islam mengafirmasi konteks sosial dan budaya masyarakat Arab saat itu. Pendek kata, Islam sangat memahami kenyataan lokalitas budaya setempat serta historisitas proses pergumulan antara teks dan realitas. Saking kuatnya pengaruh lokalitas terhadap konstruksi keberagamaan umat Islam, Khalifah Umar al-Faruq, sebagaimana dikutip oleh Khalil Abdul Karim, pernah menyatakan, "Arab adalah bahan baku Islam". Artinya, bangsa Arab adalah primary resources bagi pembentukan Islam. Dengan pernyataan tersebut Umar ingin menjelaskan bahwa umat Islam harus bisa memisahkan dan membedakan antara universalitas dan partikularitas Islam. Bagaimanapun juga, terbentuknya Islam tidak bisa lepas dari konteks budaya Arab pada saat itu. Sehingga, produk kebudayaan Arab bisa dikatakan sebagai partikularitas Islam yang harus dipisahkan dari dimensi universal Islam.
Khalil Abdul Karim telah menggambarkan dengan baik bagaimana kebudayaan Arab diadopsi dan kemudian menjadi doktrin umat Islam. Dalam Al-Judzur al-Tarikhiyyah li al-Syari'at al-Islamiyyah, ia melakukan analisa terhadap beberapa ajaran Islam yang menurutnya adalah warisan dari budaya masyarakat Arab pra-Islam.
Menurut Khalil, sakralisasi umat Islam terhadap Bulan Ramadan merupakan salah satu dari tradisi yang diwarisi dari bangsa Arab. Praktek lain seperti pengagungan bulan-bulan haram (Dzulqaidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab) juga bagian tradisi bangsa Arab sejak pra-Islam. Sakralisasi bulan-bulan tersebut dimaksudkan sebagai masa untuk tidak berperang bagi bangsa Arab, karena pada bulan itu mereka menunaikan ibadah haji dan umrah. Bisa juga dicontohkan aturan pemakaian jilbab bagi perempuan. Hakikatnya, aturan ini ditetapkan sebagai bentuk pengamanan sosial bagi perempuan. (Sa'id al-Asymawi, Haqiqat al-Hijab wa Hujiyyat al-Hadits). Kedekatan antara budaya Arab dan Islam itulah yang membuat kita kesulitan memilah mana yang merupakan budaya Islam sendiri dan mana yang bukan. Lalu bagaimana dengan salat?
Khalil memang tidak menyebutkan bahwa salat juga bagian dari kelanjutan tradisi Arab yang diislamkan. Tetapi ada komentar menarik dari Bambang Noersena (2002) yang menyebutkan bahwa hampir 90% ibadah Islam melestarikan dan meneruskannnya dari agama-agama semitik sebelumnya, khususnya kekristenan Syria yang masih mempertahankan ritusnya dari zaman rasuli (mula-mula). Satu contoh paralelitas peribadatan Islam dan Kristen (Syria) adalah salat lima waktu yang sejajar dengan salat tujuh waktu (al-sab'ush shalawat) dalam gereja mula-mula (Gereja Kristen sebelum perpecahan tahun 451). Bahkan kata salat itu sendiri, seperti yang dikatakan Bambang dengan mengutip Artur Jefferey, sebenarnya berasal dari bahasa Suryani yakni tselota. Kata tselota itu hingga saat ini masih dipakai oleh Gereja yang masih melestarikan bahasa Suryani (Gereja ortodok Syria, Gereja Assyria dll) sementara kata salat dipakai oleh umat Islam dan seluruh gereja di Timur Tengah. Tak hanya dalam istilah, dalam praktek salat itu sendiri, umat Islam sebenarnya hanya memodifikasi sedikit dari praktek yang sudah berjalan. Salat dengan berdiri, membungkuk (ruku'), sujud, tahiyyat adalah "imitasi kreatif" umat Islam dari postur ibadah orang Yahudi yang kemudian dilestarikan gereja-gereja purba dan juga umat Islam itu sendiri. Jadi, jelaslah bahwa sesungguhnya peribadatan dalam Islam sangat lekat sekali dengan ritus peribadatan dan aktivitas bangsa Arab saat itu.
Shalat Bilingual
Perdebatan soal bahasa yang digunakan dalam salat, sebenarnya bukan masalah yang tidak ada referensi sejarahnya. Menjadi agak mengherankan ketika Ustadz Roy mendadak diamankan oleh pihak kepolisian, karena melaksanakan salat dengan bahasa Arab dan Indonesia.
Jika kita mengaca sejarah, kita akan melihat perdebatan sengit antara Imam Abu Hanifah yang berasal dari Parsi dan Imam Syafi'i yang berasal dari Arab keturunan Quraisy. Imam Syafi'i adalah orang yang sangat kuat berpandangan bahwa membaca al-Fatihah (dalam salat) dengan menggunakan bahasa Arab merupakan kewajiban. Orang yang tidak melakukannya, salatnya tidak sah. Sementara Abu Hanifah memperbolehkan membaca al-Fatihah dalam bahasa Parsi atau bahasa non-Arab lainnya, bagi mereka yang tidak menguasai bahasa Arab.
Imam Abu Hanifah tidak peduli apakah mushally (orang yang salat) benar-benar tidak bisa berbahasa Arab atau sengaja tidak berbahasa Arab. Ia mengatakan bahwa salat orang yang demikian tetap dinilai sah.
Dan perdebatan soal bahasa ini sebenarnya tidak hanya pada persoalan salat. Bahasa yang digunakan dalam khutbah Jumat juga menjadi bahan perdebatan. Lagi-lagi dalam konteks ini Abu Hanifah dan Imam Syafi'i saling berhadapan. Jika Syafi'i menilai tidak sah orang yang menggunakan bahasa non-Arab sebagai media, Abu Hanifah justru berpandangan sebaliknya.
Jadi, salat yang dipraktekkan Ustadz Roy sebenarnya bukan tanpa referensi. Lalu kenapa ini dianggap sesat? Apakah kita juga akan menganggap sesat ajaran Imam Abu Hanifah karena memperbolehkan salat (membaca al-fatihah) dengan bahasa `ajam? Padahal beliau adalah Imam madzhab yang cukup brilian dalam mengeksplorasi produk pemikirannya.
Apa yang membuat umat Islam menjadi berang akibat "ulah" Ustadz Roy adalah karena begitu kuatnya nalar arabisme menghunjam pemikiran umat Islam Indonesia saat ini. Semua hal yang berbau Arab dianggap sebagai Islam itu sendiri. Padahal yang Arab belum tentu Islam. Di sinilah megaproyek Muhammed Abed al-Jabiry tentang Kritik Nalar Arab (Naqd al-`aqli al-`Arabiy) mendapat signifikansinya. Artinya, kita harus bisa memisahkan mana unsur universal dan partikular dari Islam.
Salat dalam hal ini memang menjadi ketentuan yang pasti dari Tuhan (qath'iy). Tetapi ihwal praktek dan tatacara peribadatannya, termasuk doa yang ada di dalamnya adalah sepenuhnya konstruksi fuqaha. Wajar jika kemudian banyak perbedaan dalam hal ini.
Saya membuat pengandaian yang barangkali agak ceroboh, meski sebenarnya cukup masuk akal juga; jika saja Muhammad adalah orang pribumi asli (Indonesia) atau orang inlandeer, umat Islam Indonesia mungkin tidak harus kebakaran jenggot ketika melihat praktek salat Ustadz Roy. Karena pasti Muhammad akan melaksanakan salat di mana bacaannya adalah ujaran yang dipahami kaumnya. Muhammad barangkali akan melaksanakan salat persis seperti yang dilakukan Ustadz Roy.
Selain itu, bagi saya, penangkapan Ustadz Roy adalah salah satu bentuk intervensi negara terhadap agama. Jika kita berkomitmen bahwa beragama dan beribadat menurut kepercayaannya adalah urusan privat, maka sesungguhnya penangkapan terhadap Ustadz Roy adalah bentuk pelanggaran terhadap hak beragama.

heirnee@gmail.com

Number of posts: 2
Reputation: 0
Points: 2046
Registration date: 2009-01-21

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum