MURTADIN_KAFIRUN

Latest topics
Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 11 users online :: 1 Registered, 0 Hidden and 10 Guests :: 2 Bots

dewarugi

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 3:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun511

Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

View previous topic View next topic Go down

Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by maduarab on Tue Oct 11, 2011 2:51 am

Muhamad dan Aisyah - Menikahi Anak 6-7 Tahun Ketika Muhammad Berusia 50 Tahun
Pernikahan Dini Istri Nabi Muhammad

Kalangan umat muslim sendiri terpecah dua dalam hal perkawinan Muhammad (50 th) dengan Aisha (6 th).

Satu kalangan mengatakan bahwa memang benar Muhammad mengawini Aisha pada umur 6 th dan menidurinya pada umur 9 th karena memang tercatat demikian dalam beberapa hadis Sahih (Bukhari dan Muslim) dan berupaya membela habis-habisan alasan Muhammad meniduri Aisha pada usia 9 th dengan mengesampingkan seluruh nilai moral dan hati nurani yang ada, misalnya umur 9 th sudah matang secara fisik atau sudah mens yang artinya sudah siap utk ditiduri tanpa memperhatikan sisi psikologisnya sama sekali.

Kalangan lain, mungkin karena lebih memperhatikan nilai2 moral dan hati nurani, berupaya mati-matian menyanggah bahwa Muhammad menikahi Aisha pada usia 6 th dengan mengajukan hipotesa2 bahwa Aisha waktu itu sudah berumur paling tidak 16 th, dan dengan sendirinya menyanggah kesahihan hadis yang sudah dinyatakan sahih.

Kedua pendapat tersebut di atas sama2 merupakan upaya untuk membersihkan "cacat" yang ada, tetapi upaya kedua kalangan tsb tidak menolong.

Jika memang benar Muhammad meniduri anak 9 th yang masih bermain dengan bonekanya, maka nilai moral yang disunnahkan oleh Nabi Muhammad sangat "menjijikkan" dan tidak bisa diterima oleh siapa saja yang masih bermoral dan berhati nurani. Seorang Nabi selayaknya memberikan standar nilai moral yang tinggi dan bukan terbawa arus jaman itu.

Jika ternyata Muhammad mengawini Aisha bukan pada umur 6 th spt yang tercatat dalam hadis2 sahih, maka bagaimana kesahihan hadis2 tsb dapat dipertanggunjawabkan ? Dengan sendirinya Al Quran juga layak dipertanyakan kesahihan, keaslian dan keabsahannya. Tetapi untuk topik ini, kita akan mempertanyakan nilai2 moral apa yang hendak diajarkan oleh Nabi Besar kepada umat muslim dengan:

1. Mencontohkan mengawini anak ingusan berusia 6 th dan menidurinya pada usia 9 th.

Sahih Bukhari. Vol 7, Book 62. Wedlock, Marriage (Nikaah). Hadith 065.
Narrated By 'Aisha: That the Prophet married her when she was six years old and he consummated
his marriage when she was nine years old. Hisham said: I have been informed that 'Aisha
remained with the Prophet for nine years (i.e. till his death)."

Sahih Muslim. Book 8. Marriage. Hadith 3310.

'Aisha (Allah be pleased with her) reported: Allah's Apostle (may peace be upon him) married me
when I was six years old, and I was admitted to his house when I was nine years old.

2. Menyatakan bahwa "legitnya" Aisha yang berumur 9 th secara fisik, seperti tharid (hidangan roti dan daging), tidak ada bandingannya.

Sahih Bukhari. Volume 4, Book 55, Number 623:
Narrated Abu Musa: Allah's Apostle said, "Many amongst men reached (the level of) perfection
but none amongst the women reached this level except Asia, Pharaoh's wife, and Mary, the
daughter of 'Imran. And no doubt, the superiority of 'Aisha to other women is like the
superiority of Tharid (i.e. a meat and bread dish) to other meals."

3. Menganjurkan untuk mengawini anak2 gadis perawan yang masih ingusan sehingga bisa meraba2 mereka dan bermain2 dengan mereka.

Sahih Bukhari. Vol 7, Book 62. Wedlock, Marriage (Nikaah). Hadith 017.
Narrated By Jabir bin 'Abdullah : When I got married, Allah's Apostle said to me, "What type of
lady have you married?" I replied, "I have married a matron' He said, "Why, don't you have a
liking for the virgins and for fondling them?" Jabir also said: Allah's Apostle said, "Why
didn't you marry a young girl so that you might play with her and she with you?'

Menurut hadis-hadis SAHIH berikut ini, Aisah dinikahi Muhammad pada usia 6 tahun dan ditiduri/digauli pada usia 9 th.

Sunan Abu Dawud, Vol. 2, #2116:

"Aisha said, "The Apostle of Allah married me when I was seven years old." (The narrator Sulaiman
said: "Or six years."). "He had intercourse with me when I was 9 years old."

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 64

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/062.sbt.html#007.062.064
Narrated 'Aisha: that the Prophet married her when she was six years old and he consummated his
marriage when she was nine years old, and then she remained with him for nine years (i.e., till
his death).

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 65

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/062.sbt.html#007.062.065
Narrated 'Aisha: that the Prophet married her when she was six years old and he consummated his
marriage when she was nine years old. Hisham said: I have been informed that 'Aisha remained with
the Prophet for nine years (i.e. till his death)."

Sahih Bukhari Volume 7, Book 62, Number 88

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/062.sbt.html#007.062.088
Narrated 'Ursa: The Prophet wrote the (marriage contract) with 'Aisha while she was six years old
and consummated his marriage with her while she was nine years old and she remained with him for
nine years (i.e. till his death).

Sahih Bukhari Volume 5, Book 58, Number 236

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/058.sbt.html#005.058.236

Narrated Hisham's father: Khadija died three years before the Prophet departed to Medina. He
stayed there for two years or so and then he married 'Aisha when she was a girl of six years of
age, and he consumed (sic – consummated) that marriage when she was nine years old.

Apakah "consummated the marriage" berarti melakukan hubungan intim? Jawabnya YA.

http://www.exmuslim.com/com/evidence.htm : Argumentasi dari Muslim bahwa pada usia 9 th Aisha sudah haid juga tidak tepat karena menurut hadis-hadis yang sahih pada usia tsb Aisha masih BELUM haid.
Pengantin wanita di usia kanak-kanak.

Dari sumber hadis yang sahih, kita bisa melihat bahwa pada usia 9 th saat digauli, Aisha masih belum akil baliq. Bahkan dari hadis2 tsb pada usia sekitar 14-15 saat perang Khaybar, Aisha masih belum haid karena masih bermain dengan boneka. Dalam aturan hukum Islam yang ketat pada jaman Nabi, bermain boneka hanya diperbolehkan bagi anak2 kecil yang belum akil baliq. Kesimpulannya, Aisha belum akil baliq pada usia 9 th saat digauli, bahkan pada usia 14-15 pun saat perang Khaybar dia belum haid.

Sunan Abu Dawud, Vol. 2, #2116:

"Aisha said, "The Apostle of Allah married me when I was seven years old." (The narrator Sulaiman
said: "Or six years."). "He had intercourse with me when I was 9 years old."

Sahih Bukhari Volume 8, Book 73, Number 151

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/073.sbt.html#008.073.151

Narrated 'Aisha: I used to play with the dolls in the presence of the Prophet, and my girl
friends also used to play with me. When Allah's Apostle used to enter (my dwelling place) they
used to hide themselves, but the Prophet would call them to join and play with me. (The playing
with the dolls and similar images is forbidden, but it was allowed for 'Aisha at that time, as she
was a little girl, not yet reached the age of puberty.) (Fateh-al-Bari page 143, Vol.13)

Sunan Abu Dawud. Book 36. General Behavior. Hadith 4914.

Narrated 'Aisha, Ummul Mu'minin : When the Apostle of Allah (pbuh) arrived after the expedition
to Tabuk or Khaybar (the narrator is doubtful), the draught raised an end of a curtain which was
hung in front of her store-room, revealing some dolls which belonged to her.

He asked: What is this? She replied: My dolls. Among them he saw a horse with wings made of
rags, and asked: What is this I see among them? She replied: A horse. He asked: What is this that
it has on it? She replied: Two wings. He asked: A horse with two wings? She replied: Have you not
heard that Solomon had horses with wings? She said: Thereupon the Apostle of Allah (pbuh) laughed
so heartily that I could see his molar teeth.


Alasan bahwa Muhammad mengawini Aisha adalah untuk memperkuat tali persaudaraan dengan "suadara angkatnya" Abu Bakr juga tidak valid karena Abu Bakar jelas keberatan karena mereka adalah saudara angkat. Tetapi Muhammad tetap memaksa dan mengatakan tidak menjadi masalah padahal dia pernah menolak tawaran dari Hamza, saudara angkatnya juga, untuk menikasih puterinya:

Menurut hadist berikut Abu Bakr keberatan saat Muhammad melamar Aisah.

Sahih Bukhari. Volume 7. Book 62. No. 18

http://www.usc.edu/dept/MSA/fundamentals/hadithsunnah/bukhari/062.sbt.html#007.062.018

Narrated 'Ursa: The Prophet asked Abu Bakr for 'Aisha's hand in marriage. Abu Bakr said "But I am
your brother." The Prophet said, "You are my brother in Allah's religion and His Book, but she
(Aisha) is lawful for me to marry."

Abu Bakr sebenarnya tidak salah karena dalam tradisi bangsa Arab persaudaran walaupun saudara angkat sama artinya dengan saudara kandung. Demikian juga dengan anak angkat. Adalah tabu mengawini anak saudara angkat atau isteri anak angkat menurut moral bangsa2 Arab pada waktu itu.

Muhammad sendiri pun menolak saat di tawarin untuk menikah dengan anak Hamza (yang juga adalah saudara angkat spt halnya Abu Bakr) dengan alasan bahwa anak Hamza adalah keponakan angkatnya (seperti halnya Aisha juga adalah keponakannya)

_________________
SUJUD DALAM PENGERTIAN MENYEMBAH...

SUJUD DI DEPAN BATU : MENYEMBAH BATU

maduarab
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts: 10
Reputation: 3
Points: 1164
Registration date: 2011-10-11

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by enggakjelas on Tue Oct 11, 2011 3:56 am

HUIHUIHUI

PAPARAN DIATAS.. SUDAH MEMBUAT SAYA MUAL..

BUAT ANE SEH PAKE LOGIKA O'ON AJAH..:
KALO YG MELAKUKAN ITU MANUSIA BIASA .. SIAPA PEDULI..
KALO SEORANG NABI ???? JUNJUNGAN MULIA ???? MULES DEEH..


SLIMMER2 O'ON .. NUNGGING.. JUNGKIRBALIK.. MEMBELA AJARAN O'ON




_________________

GAK PERLU ILMU TINGGI UNTUK MEMAHAMI AJARAN O'*N


HUIHUIHUI


enggakjelas
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts: 225
Reputation: -13
Points: 1455
Registration date: 2011-08-17

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by raymondantes on Tue Oct 11, 2011 8:08 am

enggakjelas wrote:[size=18]HUIHUIHUI

PAPARAN DIATAS.. SUDAH MEMBUAT SAYA MUAL..

BUAT ANE SEH PAKE LOGIKA O'ON AJAH..:



KALO YG MELAKUKAN ITU MANUSIA BIASA .. SIAPA PEDULI..
KALO SEORANG NABI ???? JUNJUNGAN MULIA ???? MULES DEEH..




=Arial Black]lue]BAGI ENTE UDH MAKLUM ANE.....NGLIAT GYA ENTE NGOMONG AJA...UDH KELIATAN KAYAK APA OTAK ENTE.........


PASTI KAYAK TULISN O'ON KAN..........???????????????? WHAHAHAHAHAHAHAHA.........


raymondantes
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts: 723
Reputation: 3
Points: 1976
Registration date: 2011-10-06

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by MAMAD RAJA FEDOFIL on Tue Oct 11, 2011 8:26 am

raymondantes wrote:
enggakjelas wrote:[size=18]HUIHUIHUI

PAPARAN DIATAS.. SUDAH MEMBUAT SAYA MUAL..

BUAT ANE SEH PAKE LOGIKA O'ON AJAH..:



KALO YG MELAKUKAN ITU MANUSIA BIASA .. SIAPA PEDULI..
KALO SEORANG NABI ???? JUNJUNGAN MULIA ???? MULES DEEH..








Gw kutip sedikit yg atas ya,

Dari sumber hadis yang sahih, kita bisa melihat bahwa pada usia 9 th saat digauli, Aisha masih belum akil baliq. Bahkan dari hadis2 tsb pada usia sekitar 14-15 saat perang Khaybar, Aisha masih belum haid karena masih bermain dengan boneka. Dalam aturan hukum Islam yang ketat pada jaman Nabi, bermain boneka hanya diperbolehkan bagi anak2 kecil yang belum akil baliq. Kesimpulannya, Aisha belum akil baliq pada usia 9 th saat digauli, bahkan pada usia 14-15 pun saat perang Khaybar dia belum haid.


Menyatakan bahwa "legitnya" Aisha yang berumur 9 th secara fisik, seperti tharid (hidangan roti dan daging), tidak ada bandingannya.

Sahih Bukhari. Volume 4, Book 55, Number 623:
Narrated Abu Musa: Allah's Apostle said, "Many amongst men reached (the level of) perfection
but none amongst the women reached this level except Asia, Pharaoh's wife, and Mary, the
daughter of 'Imran. And no doubt, the superiority of 'Aisha to other women is like the
superiority of Tharid (i.e. a meat and bread dish) to other meals."




Setelah lihat ini apakah raymondantes masih bisa tertawa atau malah tertawa makin keras ?

_________________
Selain anak Syi’ah adalah anak haram semua.
- Dalam Al Kafi jilid 8 hal 285 : Setiap orang adalah anak zina kecuali Syiah.
- Dalam tafsir Ayyasyi jilid 2 hal 218 dan Al Burhan jilid 2 hal 139 : setiap anak yang lahir di tunggui oleh iblis, bila yang lahir itu berasal dari kelompok Syiah maka terjaga dari iblis, bila bukan dari kelompok Syiah maka syetan meletakkan jari-jarinya pada lambung belakang anak laki-laki agar kelak menjadi orang tercela dan bila kelamin perempuan agar kelak menjadi pelacur.

CAMKAN HAL ITU !..............CAMKAN HAL ITU !

MAMAD RAJA FEDOFIL
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts: 548
Age: 607
Location: Diatas puhun melihat MOSLEM dungu, mula mula MENYEMBAH BATU, lalu MENCIUM BATU, eh....kemudian MELEMPARIN BATU. Aneh kan !
Humor: MOSLEM identik dengan BATU. Utk disembah, dicium dan dilemparin, bahkan utk CEBOK. Lucu ya !?
Reputation: 1
Points: 1749
Registration date: 2011-10-07

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by yang berserah diri on Tue Oct 11, 2011 8:36 am

saya udah cari di buku hadis kok ga ada ya?

_________________
QS. Yunus (10): 36
Dan kebanyakan mereka(kafir) tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka kerjakan.

QS. Al-Hajj (22): 55
Dan senantiasalah orang-orang kafir itu berada dalam keragu- raguan terhadap Al Quran, hingga datang kepada mereka saat (kematiannya) dengan tiba-tiba atau datang kepada mereka azab hari kiamat.

QS. Al-Hajj (22): 72-73
Dan apabila dibacakan di hadapan mereka ayat-ayat Kami yang terang, niscaya kamu melihat tanda-tanda keingkaran pada muka orang-orang yang kafir itu. Hampir-hampir mereka menyerang orang-orang yang membacakan ayat-ayat Kami di hadapan mereka. Katakanlah, “Apakah akan aku kabarkan kepadamu yang lebih buruk daripada itu, yaitu neraka?” Allah telah mengancamkannya kepada orang-orang yang kafir. Dan neraka itu adalah seburuk-buruknya tempat kembali.

yang berserah diri
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts: 903
Location: BUMI ALLAH SWT
Job/hobbies: MEMBERI PERINGATAN
Humor: A: kenapa yesus disalib?,,,|B: untuk menebus dosa| | A: salah | B: terus apa dong? | A: karena jalannya lambat|
Reputation: -1
Points: 2345
Registration date: 2011-01-16

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by musicman on Tue Oct 11, 2011 11:08 pm


ah bosan...
dah habis2an dibahas disini
Sleep


http://murtadinkafirun.forumotion.net/t11858-undangan-dialog-untuk-muslimsilakan-masuk

sedikit iklan:


Dalam buku yg berjudul
Buku Palungan menyingkap kisah kelahiran oleh Joseph F. Kelly hal.105

menjelaskan (pembelaan?) untuk pernikahan-pernikahan di usia muda bagi wanita-wanita sebelum abad 19....

mari kita simak :






jd bukan cuma nabi Muhammad...tp banyak laki2 pada jaman dahulu...menikahi perempuan dibawah umur..!
apa semua laki2 jaman dahulu phedofil?
mereka mnikah dengan gadis dibawah umur bukan krn pedhofil



Muhammad menikahi Usia Aisyah 9 th?
nih..baca baik2..

http://www.al-ittihad01.sch.id/?p=815

Was Ayesha A Six-Year-Old Bride?
Pernikahan Nabi Muhammad Dengan Siti Aisyah
(Kontroversi Usia Aisyah)

Nabi merupakan manusia teladan, semua tindakannya patut dicontoh sehingga kita, muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk kita, tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, pasti karena ada faktor-faktor tertentu yang sifatnya “memaksa” atau darurat.

Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi instruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur kurang dari 18 tahun dan calon isteri kurang dari 16 tahun. Tahun 1931, sidang dalam oraganisasi-oraganisasi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespons pernikahan bagi pasangan dengan umur di atas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di Mesir yang mayoritas muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

Jadi, kita percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan kita terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis berumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang kita dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi kita benar adanya.

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, kita pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Kita akan menyajikan beberapa bukti melawan keterangan yang diceritakan Hisyam ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

BUKTI #1: PENGUJIAN TERHADAP SUMBER

Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya,yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, ditambah kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.

Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal di sana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.
Tahzibu’l-Tahzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, Yaqub ibn Shaibah menilai, ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq.” (Tahzi’bu’l-Tahzib, Ibn Hajar Al-`asqalani, Dar Ihya Al-Turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).
Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Kita pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tahzi’bu’l-Tahzib, IbnHajar Al- Asqalani, Dar Ihya Al-Turath al-Islami, Vol.11, p. 50).


Mizan’l-I`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” Mizan’l-I`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-Athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

KESIMPULAN:

Berdasarkan referensi ini, ingatan Hisham sangatlah jelek (karena faktor usia) dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.
KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:
pra-610 M : Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M : Turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam
613 M : Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M : Hijrah ke Abyssinia.
616 M : Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M : Dikatakan Nabi meminang Aisyah
622 M : Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
623/624 M : Dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah


BUKTI #2: MEMINANG

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.
Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-Umam wa’l-Mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-Fikr, Beirut, 1979).
Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).


Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi nyatanya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

KESIMPULAN:
Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun. Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-Isabah fi Tamyizi’l-Sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-Haditha, al-Riyadh,1978).
Jika statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

KESIMPULAN:
Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.
BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’


Menurut Abda’l-Rahman ibn abi Zannad: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`lama’l-Nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-Risalah, Beirut, 1992).
Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-Nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`Arabi, Al-Jizah, 1933).
Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-Nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`Arabi, Al- Jizah, 1933)
Menurut Ibn Hajar Al-Asqallani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-Nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).
Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).
Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun ketika Aisyah berumah tangga.
Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, dan Abda’l-Rahman ibn Abi Zannad, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.
Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar, 12 atau 18?


KESIMPULAN:
Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

BUKTI #5: Perang Badar dan Uhud

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-Jihad wa’l-Siyar, Bab Karahiyati’l-Isti`anah fi’l-Ghazwi Bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar mengatakan, “…ketika kita mencapai syajarah…”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-Jihad wa’l-Siyar, Bab Ghazwi’l-Nisa’ wa Qitalihinna Ma`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu] kita melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tersebut].”
Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.
Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-Maghazi, Bab Ghazwati’l-Khandaq wa Hiya’l-Ahzab): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpartisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tersebut.”
Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud


KESIMPULAN:
Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Selain itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti (logis) lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)
Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Kita seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan. (Sahih Bukhari, Kitabu’l-Tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu maw`iduhum wa’l-sa`atu adha wa amarr).
Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tersebut diturunkan pada tahun 614 M. Jika Aisyah memulai berumah tangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat di atas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

KESIMPULAN:
Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab
Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (tsayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-mai, seperti dinyatakan di atas, adalah jariyah. Bikr disisi lain digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”.
Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-Turath al-`Arabi, Beirut).

KESIMPULAN:
Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.
BUKTI #8. Text Qur’an
Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?
Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak yatim juga valid diaplikasikan pada anak kita sendiri sendiri. Ayat tersebut berbunyi, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”(Qs. 4:5) “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (Qs. 4:6)
Dalam hal seorang anak yang ditinggal orang tuanya, seorang muslim diperintahkan untuk :
(a) memberi makan mereka,
(b) memberi pakaian,
(c) mendidik mereka, dan
(d) menguji mereka terhadap kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.
Di sini, ayat Qur’an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.
Dalam ayat yang sangat jelas di atas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggung jawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 tahun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.
Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” Berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah sangat sulit. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?
Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.
KESIMPULAN:
Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun bertentangan dengan hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.
BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan
Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi sah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi keabsahan sebuah pernikahan.
Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.
Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.
Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadis dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.
KESIMPULAN:
Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.
SUMMARY:
Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang Arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.
Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.
Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tersebut dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.
Malang, 21-12-2009
Sumber :
The Ancient Myth Exposed
By T.O. Shanavas , di Michigan.
© 2001 Minaret
from The Minaret Source: http://www.iiie.net/
NB:
Saya (penyadur) tambahkan satu referensi, Global Arabic Encyclopedia, Aisyah dilahirkan pada tahun 8 sebelum hijrah dan wafat pada 50 H (614-670 M.) Tampaknya, ensiklopedi inipun mendata riwayat hidup Aisyah berdasar riwayat-riwayat yang menyimpulkan usia Aisyah 7 tahun ketika dipinang Rasulullah, tanpa telaah kritis terhadap validitas hadis.
Artikel ini dipublish sebagai referensi pelajaran SKI tingkat MTs di Madrasah Tsanawiyah Al-Ittihad Belung Poncokusumo Malang.


Hadist Aisyah menikah dini itu sebenarnya hadist kasuistik, hanya berlaku untuk nabi Muhammad dan Aisyah saja, krn Aisyah diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan hadist ttg kehidupan berumah tangga secara Islami dan hadis-hadist tentang kewanitaan. Jika Aisyah tidak dinikahi tepat pada waktunya maka nabi Muhammad SAW keburu wafat, juga Aisyah dipilih karena ia masih muda dan berusia panjang setelah nabi wafat, sehingga dapat menyebarkan hadist tentang kehidupan berumah tangga secara Islami dan hadis-hadist tentang kewanitaan.
Hadist ini hanya berlaku untuk nabi dan Aisyah ra. dan bukan untuk dicontoh dan dianjurkan apalagi diperintahkan kepada manusia lain selain nabi. Ingat bahwa nabi Muhammad itu adalah laki-laki yang paling kuat menahan hasrat seksualnya dibandingkan laki-laki manapun di dunia ini.
(Bab 23: Memeluk Istri Bagi Orang Yang Berpuasa
939. Aisyah r.a. berkata, "Nabi mencium dan menyentuh/memeluk (istri beliau) padahal beliau berpuasa. Beliau adalah orang yang paling menguasai di antaramu sekalian terhadap hasrat (seksual) nya."
http://opi.110mb.com/haditsweb/bukhari/ ... _puasa.htm)
Sehingga meskipun nabi menikahi Aisyah pada usia 6 tahun sekalipun, jika benar, dan menjalani kehidupan berumah tangga dengan tinggal serumah dengan Aisyah saat Aisyah diperkirakan berusia 9 tahun, namun Nabi pasti dapat menahan diri untuk menunggu berhubungan badan dengan Aisyah saat usia Aisyah sudah mencapai 17 tahun atau 18 tahun, bberapa saat menjelang wafatnya nabi, dan wafatnya nabi karena kondisi kesehatannya yang memburuk, ingat Aisyah tidak memiliki anak, padahal sebagai wanita sehat yang subur kalau ia sering berhubungan badan dan sudah dilakukan sejak lama, sejak kondisi nabi masih sehat, setidaknya sudah lebih dari 2 tahun sebelum nabi wafat, maka kemungkinan peluangnya untuk hamil pasti sangat besar.
JAdi sama sekali tidak ada bukti bahwa nabi itu seorang phedohil, dan menganjurkan pernikahan dini. Hanya bagi laki-laki yang kuat menahan diri lah yg diperbolehkan mempersunting gadis belia, dan hanya Aisyah ra. lah yg diperolehkan menikah pada usia dini karena ia memiliki tugas khusus dari Allah, anak-anak perempuan lainnya tidak.





1. Kalo benar Nabi Muhammad menikahi aisyah yg 9 Th pun bukan sesuatu yg aneh...krn pada masa dahulu..tingkat kematian bayi yg tinggi..dengan menikahi wanita muda akan terjaga keturunan yg berkelanjutan

2.Dilihat Riwayat ..Hadits tsb...banyak diragukan.


_________________
Kunjungi forum Lintas Agama

http://www.laskarislam.com/forum

musicman
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Number of posts: 2736
Reputation: 7
Points: 4316
Registration date: 2011-01-03

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by Islam Is My Religion on Wed Oct 12, 2011 12:26 am

musicman wrote:
ah bosan...
dah habis2an dibahas disini
Sleep


http://murtadinkafirun.forumotion.net/t11858-undangan-dialog-untuk-muslimsilakan-masuk

sedikit iklan:


Dalam buku yg berjudul
Buku Palungan menyingkap kisah kelahiran oleh Joseph F. Kelly hal.105

menjelaskan (pembelaan?) untuk pernikahan-pernikahan di usia muda bagi wanita-wanita sebelum abad 19....

mari kita simak :






jd bukan cuma nabi Muhammad...tp banyak laki2 pada jaman dahulu...menikahi perempuan dibawah umur..!
apa semua laki2 jaman dahulu phedofil?
mereka mnikah dengan gadis dibawah umur bukan krn pedhofil



Muhammad menikahi Usia Aisyah 9 th?
nih..baca baik2..

http://www.al-ittihad01.sch.id/?p=815

Was Ayesha A Six-Year-Old Bride?
Pernikahan Nabi Muhammad Dengan Siti Aisyah
(Kontroversi Usia Aisyah)

Nabi merupakan manusia teladan, semua tindakannya patut dicontoh sehingga kita, muslim dapat meneladaninya. Bagaimaanpun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk kita, tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, pasti karena ada faktor-faktor tertentu yang sifatnya “memaksa” atau darurat.

Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi instruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur kurang dari 18 tahun dan calon isteri kurang dari 16 tahun. Tahun 1931, sidang dalam oraganisasi-oraganisasi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespons pernikahan bagi pasangan dengan umur di atas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di Mesir yang mayoritas muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.

Jadi, kita percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan kita terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis berumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang kita dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi kita benar adanya.

Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, kita pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya. Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Kita akan menyajikan beberapa bukti melawan keterangan yang diceritakan Hisyam ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.

BUKTI #1: PENGUJIAN TERHADAP SUMBER

Sebagaian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya,yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, ditambah kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini.

Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal di sana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.
Tahzibu’l-Tahzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, Yaqub ibn Shaibah menilai, ” Hisham sangat bisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq.” (Tahzi’bu’l-Tahzib, Ibn Hajar Al-`asqalani, Dar Ihya Al-Turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).
Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: ” Kita pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq” (Tahzi’bu’l-Tahzib, IbnHajar Al- Asqalani, Dar Ihya Al-Turath al-Islami, Vol.11, p. 50).


Mizan’l-I`tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: “Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok” Mizan’l-I`tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu’l-Athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).

KESIMPULAN:

Berdasarkan referensi ini, ingatan Hisham sangatlah jelek (karena faktor usia) dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.
KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:
pra-610 M : Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu
610 M : Turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam
613 M : Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat
615 M : Hijrah ke Abyssinia.
616 M : Umar bin al Khattab menerima Islam.
620 M : Dikatakan Nabi meminang Aisyah
622 M : Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina
623/624 M : Dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah


BUKTI #2: MEMINANG

Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.
Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: “Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyah dari 2 isterinya ” (Tarikhu’l-Umam wa’l-Mamlu’k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara’l-Fikr, Beirut, 1979).
Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, yaitu 3 tahun sesudah masa jahiliyah usai (610 M).


Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi nyatanya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.

KESIMPULAN:
Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.

BUKTI # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah

Menurut Ibn Hajar, “Fatima dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun. Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah ” (Al-Isabah fi Tamyizi’l-Sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu’l-Riyadh al-Haditha, al-Riyadh,1978).
Jika statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.

KESIMPULAN:
Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.
BUKTI #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma’


Menurut Abda’l-Rahman ibn abi Zannad: “Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`lama’l-Nubala’, Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu’assasatu’l-Risalah, Beirut, 1992).
Menurut Ibn Kathir: “Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]” (Al-Bidayah wa’l-Nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`Arabi, Al-Jizah, 1933).
Menurut Ibn Kathir: “Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun” (Al-Bidayah wa’l-Nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`Arabi, Al- Jizah, 1933)
Menurut Ibn Hajar Al-Asqallani: “Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H.” (Taqribu’l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani,p. 654, Arabic, Bab fi’l-Nisa’, al-harfu’l-alif, Lucknow).
Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (622M).
Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada tahun ketika Aisyah berumah tangga.
Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, dan Abda’l-Rahman ibn Abi Zannad, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.
Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar, 12 atau 18?


KESIMPULAN:
Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.

BUKTI #5: Perang Badar dan Uhud

Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu’l-Jihad wa’l-Siyar, Bab Karahiyati’l-Isti`anah fi’l-Ghazwi Bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar mengatakan, “…ketika kita mencapai syajarah…”. Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar. Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu’l-Jihad wa’l-Siyar, Bab Ghazwi’l-Nisa’ wa Qitalihinna Ma`a’lrijal): “Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu] kita melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tersebut].”
Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.
Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu’l-Maghazi, Bab Ghazwati’l-Khandaq wa Hiya’l-Ahzab): “Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpartisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tersebut.”
Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 years akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud


KESIMPULAN:
Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Selain itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti (logis) lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.

BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)
Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: “Kita seorang gadis muda (jariyah dalam bahasa arab)” ketika Surah Al-Qamar diturunkan. (Sahih Bukhari, Kitabu’l-Tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu maw`iduhum wa’l-sa`atu adha wa amarr).
Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah (The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tersebut diturunkan pada tahun 614 M. Jika Aisyah memulai berumah tangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat di atas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane’s Arabic English Lexicon). Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karean itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.

KESIMPULAN:
Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.

BUKTI #7: Terminologi bahasa Arab
Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: “Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (tsayyib)”. Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun. Kata yang tepat untuk gadis belia yangmasih suka bermain-mai, seperti dinyatakan di atas, adalah jariyah. Bikr disisi lain digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaiaman kita pahami dalam bahasa Inggris “virgin”.
Oleh karean itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah “wanita” (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p. .210,Arabic, Dar Ihya al-Turath al-`Arabi, Beirut).

KESIMPULAN:
Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah “wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan.” Oleh karean itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.
BUKTI #8. Text Qur’an
Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur’an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?
Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur’an mengenai perlakuan anak yatim juga valid diaplikasikan pada anak kita sendiri sendiri. Ayat tersebut berbunyi, “Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.”(Qs. 4:5) “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya.” (Qs. 4:6)
Dalam hal seorang anak yang ditinggal orang tuanya, seorang muslim diperintahkan untuk :
(a) memberi makan mereka,
(b) memberi pakaian,
(c) mendidik mereka, dan
(d) menguji mereka terhadap kedewasaan “sampai usia menikah” sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.
Di sini, ayat Qur’an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.
Dalam ayat yang sangat jelas di atas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggung jawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambi tugas sebagai isteri. Oleh karean itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa AbuBakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 tahun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.
Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan,” Berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?” Jawabannya adalah sangat sulit. Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?
Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur’an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karean itu menentang hukum-hukum Quran.
KESIMPULAN:
Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun bertentangan dengan hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karean itu, cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.
BUKTI #9: Ijin dalam pernikahan
Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi sah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi keabsahan sebuah pernikahan.
Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.
Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.
Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadis dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.
KESIMPULAN:
Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karean itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.
SUMMARY:
Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah saw dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang Arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karean ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.
Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable. Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.
Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tersebut dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur’an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.
Malang, 21-12-2009
Sumber :
The Ancient Myth Exposed
By T.O. Shanavas , di Michigan.
© 2001 Minaret
from The Minaret Source: http://www.iiie.net/
NB:
Saya (penyadur) tambahkan satu referensi, Global Arabic Encyclopedia, Aisyah dilahirkan pada tahun 8 sebelum hijrah dan wafat pada 50 H (614-670 M.) Tampaknya, ensiklopedi inipun mendata riwayat hidup Aisyah berdasar riwayat-riwayat yang menyimpulkan usia Aisyah 7 tahun ketika dipinang Rasulullah, tanpa telaah kritis terhadap validitas hadis.
Artikel ini dipublish sebagai referensi pelajaran SKI tingkat MTs di Madrasah Tsanawiyah Al-Ittihad Belung Poncokusumo Malang.


Hadist Aisyah menikah dini itu sebenarnya hadist kasuistik, hanya berlaku untuk nabi Muhammad dan Aisyah saja, krn Aisyah diberi tugas oleh Allah untuk menyampaikan hadist ttg kehidupan berumah tangga secara Islami dan hadis-hadist tentang kewanitaan. Jika Aisyah tidak dinikahi tepat pada waktunya maka nabi Muhammad SAW keburu wafat, juga Aisyah dipilih karena ia masih muda dan berusia panjang setelah nabi wafat, sehingga dapat menyebarkan hadist tentang kehidupan berumah tangga secara Islami dan hadis-hadist tentang kewanitaan.
Hadist ini hanya berlaku untuk nabi dan Aisyah ra. dan bukan untuk dicontoh dan dianjurkan apalagi diperintahkan kepada manusia lain selain nabi. Ingat bahwa nabi Muhammad itu adalah laki-laki yang paling kuat menahan hasrat seksualnya dibandingkan laki-laki manapun di dunia ini.
(Bab 23: Memeluk Istri Bagi Orang Yang Berpuasa
939. Aisyah r.a. berkata, "Nabi mencium dan menyentuh/memeluk (istri beliau) padahal beliau berpuasa. Beliau adalah orang yang paling menguasai di antaramu sekalian terhadap hasrat (seksual) nya."
http://opi.110mb.com/haditsweb/bukhari/ ... _puasa.htm)
Sehingga meskipun nabi menikahi Aisyah pada usia 6 tahun sekalipun, jika benar, dan menjalani kehidupan berumah tangga dengan tinggal serumah dengan Aisyah saat Aisyah diperkirakan berusia 9 tahun, namun Nabi pasti dapat menahan diri untuk menunggu berhubungan badan dengan Aisyah saat usia Aisyah sudah mencapai 17 tahun atau 18 tahun, bberapa saat menjelang wafatnya nabi, dan wafatnya nabi karena kondisi kesehatannya yang memburuk, ingat Aisyah tidak memiliki anak, padahal sebagai wanita sehat yang subur kalau ia sering berhubungan badan dan sudah dilakukan sejak lama, sejak kondisi nabi masih sehat, setidaknya sudah lebih dari 2 tahun sebelum nabi wafat, maka kemungkinan peluangnya untuk hamil pasti sangat besar.
JAdi sama sekali tidak ada bukti bahwa nabi itu seorang phedohil, dan menganjurkan pernikahan dini. Hanya bagi laki-laki yang kuat menahan diri lah yg diperbolehkan mempersunting gadis belia, dan hanya Aisyah ra. lah yg diperolehkan menikah pada usia dini karena ia memiliki tugas khusus dari Allah, anak-anak perempuan lainnya tidak.





1. Kalo benar Nabi Muhammad menikahi aisyah yg 9 Th pun bukan sesuatu yg aneh...krn pada masa dahulu..tingkat kematian bayi yg tinggi..dengan menikahi wanita muda akan terjaga keturunan yg berkelanjutan

2.Dilihat Riwayat ..Hadits tsb...banyak diragukan.

Terima kasih bro atas penjelasannya.

Islam Is My Religion
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts: 294
Reputation: 5
Points: 1954
Registration date: 2010-07-31

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Menikahi Anak Berusia 6 Tahun

Post by TukangTipu a.k.a. Yesus on Wed Oct 12, 2011 12:43 am

Netter Muslim di sinih emang JOSS!!!!

_________________
Akibat menolak kodrat, menolak reproduksi manusia! sifatnya malah semangkin kaya HEWAN--Ameen!!
Maha Benar ALLOH dengan segala FIRMANNYA,.
Kebencian mereka, di tanamkan semenjak di buaian!!




Turunkan harga SEMPAK!!..turunkan Harga SEMPAK!!..Turunkan Harga SEMPAKK!!

berjayalah islam! ayo sodara-sodara nyang kresten, mampir di maree...
http://laskarislam.indonesianforum.net/
www.laskarislam.tk

TukangTipu a.k.a. Yesus
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts: 371
Humor: Tuhan Apa yang pake Kancut???
Reputation: -11
Points: 1521
Registration date: 2011-09-27

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum