MURTADIN_KAFIRUN

Latest topics
» Diskusi dengan njlajahweb
Mon Jul 31, 2017 7:35 pm by njlajahweb

»  Quran: Allah = penipu, pembuat sesat, pembunuh
Sat Jul 15, 2017 11:09 pm by admin

» [Quran] Kebaikan Allah yang menipu
Sat Jul 15, 2017 11:08 pm by admin

»  [Quran] Allah = penipu, pembuat sesat, pendusta
Sat Jul 15, 2017 11:06 pm by admin

» Sharia in America
Sat Jul 15, 2017 11:00 pm by admin

»  ISLAMIC CIRCUS
Sat Jul 15, 2017 10:45 pm by admin

» Scientific Errors of the Qur’an
Sat Jul 15, 2017 10:36 pm by admin

» Why Muslims are so delusional?
Sat Jul 15, 2017 10:30 pm by admin

» Emangnya allah swt itu tuhan??
Sat Apr 29, 2017 9:34 am by shaggy

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 9 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 9 Guests :: 2 Bots

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 3:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


orientalisme memang brengsek

View previous topic View next topic Go down

orientalisme memang brengsek

Post by shellameliala on Sat Aug 25, 2012 8:42 am

A. Pengertian

Orientalisme adalah studi Islam yang
dilakukan oleh orang-orang Barat. Kritikus orientalisme bernama Edward W
Said menyatakan bahwa orientalisme adalah suatu cara untuk memahami
dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia
Barat Eropa1.

Secara bahasa orientalisme berasal dari kata orient
yang artinya timur. Secara etnologis orientalisme bermakna
bangsa-bangsa di timur, dan secara geografis bermakna hal-hal yang
bersifat timur, yang sangat luas ruang lingkupnya. Orang yang menekuni
dunia ketimuran ini disebut orientalis. Menurut Grand Larousse
Encyclopedique seperti dikutip Amin Rais2, orientalis adalah sarjana
yang menguasai masalah-masalah ketimuran, bahasa-bahasanya,
kesusastraannya, dan sebagainya. Karena itu orientalisme dapat dikatakan
merupakan semacam prinsip-prinsip tertentu yang menjadi ideologi
ilmiah kaum orientalis.
Kata isme menunjukkan pengertian tentang
suatu faham. Jadi, orientalisme bermakna suatu faham atau aliran yang
berkeinginan menyelidiki hal-hal yang berkaitan dengan bangsa-bangsa di
timur beserta lingkungannya.

B. Latar Belakang Munculnya Orientalisme

Munculnya
orientalisme tidak terlepas dari beberapa faktor yang
melatarbelakanginya, antara lain akibat perang Salib atau ketika
dimulainya pergesekan politik dan agama antara Islam dan Kristen
Barat di Palestina. Argumentasi mereka menyatakan bahwa permusuhan
politik berkecamuk antara umat Islam dan Kristen selama pemerintahan
Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al-Ayyubi. Karena kekalahan demi
kekalahan yang dialami pasukan Kristen maka semangat membalas dendam
tetap membara selama berabad-abad.

Faktor lainnya adalah bahwa
orientalisme muncul untuk kepentingan penjajahan Eropa terhadap
negara-negara Arab dan Islam di Timur, Afrika Utara dan Asia Tenggara,
serta kepentingan mereka dalam memahami adat istiadat dan agama
bangsa-bangsa jajahan itu demi memperkokoh kekuasaan dan dominasi
ekonomi mereka pada bangsa-bangsa jajahan.
Faktor-faktor
tersebut mendorong mereka menggalakkan studi orientalisme dalam berbagai
bentuknya di perguruan-perguruan tinggi dengan perhatian dan bantuan
dari pemerintah mereka.

C. Dogma Orientalisme

Menurut
pengamatan Amien Rais3 sekurang-kurangnya terdapat enam dogma
orientalisme, yaitu pertama, ada perbedaan mutlak dan perbedaan
sistematik antara Barat yang rasional, maju, manusiawi dan superior,
dengan Timur yang sesat, irrasional, terbelakang dan inferior. Menurut
anggapan mereka, hanya orang Eropa dan Amerika yang merupakan
manusia-penuh, sedangkan orang Asia-Afrika hanya bertaraf
setengah-manusia.
Edward W Said menyatakan orientalisme memandang
Timur sebagai sesuatu yang keberadaannya tidak hanya disuguhkan
melainkan juga tetap tinggal pasti dalam waktu dan tempat bagi Barat.
Seluruh periode sejarah budaya, politik, dan sosial Timur hanyalah
dianggap sebagai tanggapan semata-mata terhadap Barat. Barat adalah
pelaku (actor), sedangkan Timur hanyalah penanggap (reactor) yang pasif.
Barat adalah penonton, penilai dan juri bagi setiap segi tingkah laku
Timur4.

Sikap-sikap orientalis kontemporer, lanjut
Said, telah menguasai pers dan pikiran masyarakat. Orang-orang Arab,
umpamanya, dianggap si hidung belang yang senang menerima suap yang
kekayaannya merupakan penghinaan terang-terangan terhadap peradaban
sejati. Selalu ada asumsi bahwa meskipun konsumen Barat tergolong
minoritas dari penduduk dunia, mereka berhak untuk memiliki atau
membelanjakan sebagian besar sumber daya dunia. Mengapa? Karena mereka
manusia-manusia sejati yang berlainan dengan dunia Timur5.

Kedua,
abstraksi dan teorisasi tentang Timur lebih banyak didasarkan pada
teks-teks klasik, dan hal ini lebih diutamakan daripada bukti-bukti
nyata dari masyarakat Timur yang konkret dan riil. Dalam masalah ini,
para orientalis tidak bisa mengelakkan tuduhan Edward W Said
bahwa mereka tidak mau menyelidiki perubahan yang terjadi
dalam masyarakat Timur, tetapi lebih mengutamakan isi teks-teks
kuno sehingga orientalisme berputar-putar di sekitar studi tekstual,
tidak realistis. Philiph K Hitti, umpamanya, mengatakan bahwa untuk
mempelajari Islam dan umatnya tidak diperlukan kerangka teori baru
karena, menurutnya, masyarakat Islam yang sekarang ini masih persis sama
dengan masyarakat Islam sembilan abad yang lalu.


Ketiga, Timur dianggap begitu lestari (tidak berubah-ubah), seragam, dan
tidak sanggup mendefinisikan dirinya. Karena itu menjadi tugas Barat
untuk mendefinisikan apa sesungguhnya Timur itu, dengan cara yang
sangat digeneralisasi, dan semua itu dianggap cukup obyektif.


Keempat, pada dasarnya Timur itu merupakan sesuatu yang perlu
ditakuti, atau sesuatu yang perlu ditaklukkan. Apabila seorang
orientalis mempelajari Islam dan umatnya, keempat
dogma itu perlu
ditambah dengan dua dogma pokok lainnya.

Kelima, al-Quran bukanlah
wahyu Ilahi, melainkan hanyalah buku karangan Muhammad yang merupakan
gabungan unsur-unsur agama Yahudi, Kristen, dan tradisi Arab pra-Islam.
Seorang orientalis bernama Chateaubriand, misalnya, mengindoktrinasi
murid-muridnya bahwa al-Quran itu sekedar buku karangan Muhammad.
Al-Quran tidak memuat prinsip-prinsip peradaban maupun ajaran yang
memperluhur watak manusia. Ia bahkan mengatakan, al-Quran
tidak mengutuk tirani dan tidak menganjurkan cinta pada
kemerdekaan.

Keenam, kesahihan atau otentisitas semua hadis harus
diragukan. Malah ada yang mengeritik syarat-syarat sahihnya hadis
seperti yang dilakukan Joseph Schacht. Amien Rais menyindir bahwa
disamping ada hadis riwayat Bukhari dan Muslim ada juga hadis riwayat
Josep Schacht.

D. Tujuan Orientalisme

Edward W
Said melakukan kritik yang keras terhadap orientalisme. Menurutnya,
orientalisme tidak terletak dalam suatu ruang hampa budaya; ia merupakan
kenyataan politik dan budaya6. Barat, tulis Said, bertanggung jawab
membentuk persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka jelaskan.

Merupakan suatu kenyataan bahwa para orientalis senantiasa
menyajikan karya tulisnya yang didasarkan pada tujuan tertentu. Secara
garis besar tujuan itu terbagi tiga yaitu : (1) Untuk kepentingan
penjajahan (2) Untuk kepentingan agama mereka (3) Untuk kepentingan ilmu
pengetahuan.

Untuk kepentingan penjajahan jelas
tergambar dari penelitian-penelitian yang serius yang dilakukan para
orientalis. Dalam kasus Indonesia, Snouck Hurgronye begitu jelas. Nama
ini oleh pemerintah Belanda diberi kepercayaan untuk mengkaji Islam
sedalam-dalamnya sehingga sempat menetap di Mekkah bertahun-tahun. Namun
tujuan pengkajiannya tidak lain kecuali untuk melemahkan perlawanan
umat Islam terhadap Belanda serta mengobrak-abrik pertahanan
Persatuan dan pertahanan kaum Muslim dengan politik belah bambunya7.

Untuk kepentingan agama juga jelas karena semua penjajah
yang menguasai negara-negara Muslim adalah berlatar belakang agama
Kristen. Sekalipun ada teori bahwa para kolonialis tidak berambisi
mengkristenkan penduduk, namun setidak-tidaknya para penginjil telah
menemukan momentumnya untuk membonceng pihak kolonialis untuk
menyebarkan Kristen ke tengah penduduk.

Untuk
kepentingan ilmu pengetahuan; memang para orientalis berasal dari para
intelek dan sarjana yang serius mengkaji masalah-masalah ketimuran.
Hampir di tiap universitas di Amerika selalu ada pusat-pusat kajian
ketimuran seperti pusat kajian Timur Tengah, Asia Tenggara, Asia Tengah
dan Asia Selatan.

Tujuan yang ketiga dapat menghasilkan
kesilmpulan yang netral atau fair tentang Islam sekalipun demi
kenetralan ilmu mereka juga dapat memberi kesimpulan yang kurang fair
tentang Islam. Namun tujuan pertama dan kedua sudah pasti akan
menghasikan penilaian yang miring, bias dan tidak fair tentang Islam
demi kepentingan kolonial dan ekspansi agama mereka.

E. Pro Kontra terhadap Orientalisme

Berbagai macam tanggapan kaum Muslimin terhadap
orientalisme. Sebagian mereka ada yang menganggap seluruh orientalis
sebagai musuh Islam. Mereka bersikap ekstrim dan menolak seluruh karya
orientalis. Bahkan di antara mereka ada yang secara emosional
menyatakan bahwa orang Islam yang mempelajari tulisan karya orientalis
termasuk antek zionis8.

Mereka mempunyai argumen bahwa
orientalisme bersumber pada ide-ide Kristenisasi yang menurut Islam
sangat merusak dan bertujuan menyerang benteng pertahanan Islam dari
dalam. Karena pada faktanya tidak sedikit karya-karya orientalis yang
bertolak belakang dengan Islam. H.A.R.Gibb, misalnya, dalam karyanya
Mohammedanism berpendapat bahwa al-Quran hanyalah karangan Nabi
Muhammad; juga dengan menanamkan Islam sebagai Mohammedanism, Gibb
mencoba menurunkan derajat kesucian agama wahyu ini, padahal ia tahu
persis tak ada seorang manusia Muslim pun berpendapat bahwa Islam adalah
ciptaan Muhammad SAW9.

Pandangan yang sepenuhnya
negatif dikemukakan oleh Ahmad Abdul Hamid Ghurab mengenai karakter
Orientalisme yaitu: pertama, orientalisme adalah suatu kajian yang
mempunyai ikatan yang sangat erat dengan kolonialisme Barat; kedua,
orientalisme merupakan gerakan yang mempunyai ikatan yang sangat kuat
dengan Kristenisasi; ketiga, orientalisme merupakan kajian gabungan yang
kuat antara kolonialisme dengan gerakan Kristenisasi yang validitas
ilmiah dan obyektivitasnya tidak dapat dipertanggungjawabkan secara
mutlak khususnya dalam mengutarakan kajian tentang Islam; keempat,
orientalisme merupakan bentuk kajian yang dianggap paling potensial
dalam politik Barat untuk melawan Islam.

Sebagian lagi bersikap lebih
toleran dan mereka terbagi dalam dua kelompok, satu kelompok bersikap
sangat berlebihan, artinya semua karya tulis kaum orientalis dinilai
sangat ilmiah sehingga bagi mereka seluruh karya orientalis sangat
obyektif dan dapat dipercaya.
Kelompok lain bersikap
hati-hati dan kritis; mereka selalu berusaha berpijak pada landasan
keilmuan. Menurut mereka, cukup banyak karya tulis kaum orientalis yang
berisi informasi dan analisis obyektif tentang Islam dan ummatnya,
karena memang tidak semua karya orientalis bertolak belakang dengan
Islam melainkan hanya sebagian kecilnya saja.
Maryam
Jamilah menyatakan bahwa orientalisme tidak sama sekali buruk. Sejumlah
pemikir besar di Barat, kata Jamilah, telah menghabiskan umurnya untuk
mengkaji Islam lantaran mereka secara jujur tertarik terhadap
kajian-kajian itu. Tanpa usaha mereka, banyak di antara pengetahuan
berharga dalam buku-buku Islam kuno akan hilang tanpa bekas atau tidak
terjamah orang11. Para orientalis dari Inggris seperti mendiang Reynold
Nicholson dan Arthur J. Arberry berhasil menulis karya penting berupa
penerjemahan karya-karya Islam klasik sehingga terjemahan-terjemahan itu
untuk pertama kalinya dapat dikaji oleh para pembaca di Eropa.

Pada
umumnya para orientalis itu benar-benar menekuni pekerjaan penerjemahan
ini. Mereka yang cenderung membatasi cakupan pengkajiannya hanya
pada deskripsi, kadang-kadang berhasil menulis buku-buku yang sangat
bermanfaat, informatif dan membuka cakrawala pemikiran baru. Persoalan
timbul pada saat mereka melangkah terlalu jauh dari batas-batas yang
benar dan berusaha menafsirkan Islam dan peristiwa-peristiwa yang
terjadi di Dunia Islam berdasarkan pandangan-pandangan pribadi yang
tidak cocok.
Yang paling jelek di antara mereka adalah
para orientalis yang mencoba memberikan saran kepada kita tentang
bagaimana seharusnya kita memecahkan persoalan-persoalan kita dan apa
yang seharusnya kita lakukan terhadap agama kita12. Kritik tajam,
ilmiah dan berdampak pada dunia orientalisme datang dari Edward W Said
dalam karyanya Orientalisme. Karya Guru besar Universitas Columbia, New
York, ini telah menimbulkan kehebohan dan kontroversi di lingkungan
dunia akademis Barat yang biasa disebut kaum orientalis.


Menurut Said, orientalisme bukan sekedar wacana akademis tetapi juga
memiliki akar-akar politis, ekonomis, dan bahkan relijius. Secara
politis, penelitian, kajian dan pandangan Barat tentang dunia oriental
bertujuan untuk kepentingan politik kolonialisme Eropa untuk menguasai
wilayah-wilayah Muslim13. Dan kolonialisme Eropa tak bisa lain berkaitan
dengan kepentingan ekonomi dan sekaligus juga kepentingan keagamaan;
tegasnya penyebaran Kristen.
Ketiga kepentingan yang
saling terkait satu sama lain ini tersimpul dalam slogan yang
sangat terkenal tentang ekspansi

Eropa ke kawasan dunia Islam, yang mencakup 3G yakni Glory, Gold and Gospel: kejayaan, kekayaan ekonomi dan penginjilan.

Semua motif dan kepentingan orientalisme ini secara implisit
juga bersifat rasis. Dan ini tercermin dalam slogan missi pembudayaan
terhadap dunia Timur yang terbelakang, jika tidak primitif.


Kritik keras Said yang sangat menusuk itu mau tak mau sangat
mengguncangkan sendi-sendi kajian Barat terhadap dunia Timur. Hasilnya,
di kalangan banyak sarjana Barat yang biasa disebut orientalis, istilah
orientalisme menjadi sesuatu yang pejoratif, jika tidak disgusting14.

F. Beberapa Contoh Orientalis
1. H.A.R. Gibb

Ia
meninggal tahun 1971. Dulu mengajar di Oxford dan Harvard.
Pendapat-pendapat Gibb mengenai Islam sering dianggap simpatik oleh
kalangan sarjana Islam sendiri. Salah satu pendapatnya yang simpatik
adalah ia menyatakan bahwa Islam is indeed much more than a system of
theology, it is complete civilization (Islam sesungguhnya lebih dari
satu sistem teologi, ia adalah peradaban yang sempurna.
Tetapi
menurut pengamatan Amien Rais, kalau diteliti dalam salah satu
bukunya ia mengarahkan pembacanya supaya yakin bahwa pada zaman
modern peranan Islam dalam kehidupan sosial pasti akan sirna.
Secara ringkas argumennya adalah:
sebagai agama dalam arti
sempit, Islam hanya kehilangan sedikit kekuatannya. Namun sebagai
penentu dalam kehidupan sosial di zaman modern, Islam sedang dicopot
dari singgasananya. Dalam kehidupan modern terlalu banyak masalah yang
tidak ada sangkut pautnya dengan Islam. Dalam hal ini, Islam tidak bisa
berbuat apa-apa, kecuali menyerah pada keadaan, dan Islam akan ditelan
oleh perkembangan zaman15. Orang Islam yang tertarik pada Gibb ini tentu
akan berpikir bahwa sekularisme memang tepat untuk kemajuan Islam.

2. Wilfred Cantwell Smith

Orientalis
ini sering juga dianggap simpatik pada Islam. Bukunya Islam in Modern
History sangat masyhur termasuk di negara kita. Setelah kita selesai
membaca buku ini penilaian aneh segera timbul karena menurut Smith
perkembangan yang paling menggembirakan dalam dunia Islam sedang dialami
oleh Islam di India dan Turki.
Tetapi bagaimana mungkin Smith
bisa mengambil kesimpulan yang begitu ahistorical? Islam sedang
terbentur-bentur di samudera India, dan sampai sekarang pun tetap jadi
minoritas yang keadaannya sangat memprihatinkan, sedangkan ketika buku
Smith itu terbit (1957), Islam di Turki sedang bergulat dengan sisa-sisa
Sekularisme Attaturk yang mengakibatkan luka-luka terlalu dalam.

3. Montgomery Watts

Selain
dipandang lembut dan simpatik pada Islam, Watt dinilai juga sebagai
sangat teliti dan hati-hati dalam mempelajari sumber-sumber Islam.
Walaupun demikian kita memperoleh sebuah nasehat yang bagus dalam bab
terakhir bukunya Islam and the Integration of Society. Setelah
memaparkan analisisnya, Watt cukup berbesar jiwa mau mengakui bahwa
Islam bisa memiliki peranan besar di dunia ini pada masa mendatang.
Namun cepat ia menambahkan bahwa Islam harus bersedia mengakui
asal-usulnya. Apa yang ia maksud? Tidak lebih dari pada pencampurbauran
unsur-unsur Perjanjian Lama, Perjanjian Baru dan sumber-sumber lain.
Logika selanjutnya adalah umat Islam supaya mau melepaskan al-Qur’an
kalau ingin memiliki peranan di masa mendatang.
Karya-karya Watt
tentang Islam terhitung banyak. Kebanyakan kajiannya adalah tentang
sejarah Islam. Karya-karyanya antara lain adalah: Muhammad at Mecca,
Muhammad at Medina, The Majesty That Was Islam, History of Islamic
Spains, The Influence of Islam in Medieval Europe. Dalam karya yang
disebut terakhir, ia dengan meyakinkan menegaskan jasa besar Islam di
bidang ilmu pengetahuan yang kemudian diadopsi oleh orang-orang Eropa.

4. Gustave von Grunebaum

Menurut Amien Rais, tokoh ini tidak pernah menyembunyikan
kebenciannya terhadap Islam. Di antara buku-bukunya yang mencaci-maki
Islam
adalah Modern Islam : The Search for Cultural Identity. Dalam
buku ini antara lain ia menyatakan bahwa peradaban Islam tidak memiliki
aspirasi-aspirasi primer seperti peradaban lainnya. Ciri peradaban Islam
adalah antikemanusiaan. Selain itu, Islam tidak punya etik formatif dan
kekurangan kesegaran intelektual. Kaun Muslim tidak bisa maju, tidak
ilmiah, tidak bisa obyektif, tidak kreatif, dan otoriter. Islam di
tangan von Grunebaum adalah Islam yang direduksi dan ditempeli
sifat-sifat negatif yang bisa dikhayalkan oleh Grunebaum. Kebenciannya
juga dituangkan dalam bukunya Medieval Islam.

G. Studi Islam para Orientalis

Studi yang dilakukan para orientalis berangkat dari
paradigma berfikir bahwa Islam adalah agama yang bisa diteliti dari
sudut mana saja dan dengan kebebasan sedemikian rupa. Tidak mengherankan
kalau mereka begitu bebasnya menilai, mengritik bahkan melucuti
ajaran-ajaran dasar Islam yang bagi kaum Muslim tabu untuk
dipermasalahkan.
Studi yang mereka lakukan meliputi seluruh aspek
ajaran Islam seperti sejarah, hukum, teologi, quran, hadis,
tasauf, bahasa, politik, kebudayaan dan pemikiran. Di antara
mereka ada yang mengkaji Islam meliputi seluruh aspek tadi, ada juga
yang hanya meneliti satu aspek saja. Philiph K Hitti, HAR Gibb, dan
Montgomery Watt banyak menfokuskan pengkajian pada aspek sejarah
Islam. Sementara Joseph Schact pada kajian hukum Islam, David Power
pada kajian Quran, dan A J Arberry pada aspek tasawuf.

Sebagai contoh David Power pernah meneliti sedalam-dalamnya ayat-ayat
Qur’an sehingga memunculkan kesimpulan Quran tidak sempurna antara lain
karena tidak adil membagi waris antara laki-laki dan perempuan. Josep
Schacht pernah meneliti masalah hadis sedemikian rupa sehingga pembaca
bisa tergiring ke kesimpulan bahwa hadis tidak layak menjadi sumber
hukum Islam.

H. Orientalis dan Islamisis

Akhir-akhir
ini pengkajian Islam oleh orang-orang bukan Islam terus dilakukan
bahkan makin intensif. Pengkajian itu masih didominasi oleh para pemikir
Barat. Hanya kalau dahulu para peneliti Islam disebut orientalis maka
sekarang mereka tidak suka disebut orientalis. Sebutan yang mereka lebih
sukai adalah Islamisis.
Menurut Azyumardi Azra
kecenderungan mereka tidak ingin disebut orientalis muncul setelah
kritik tajam Edward W. Said dalam bukunya Orientalisme16. Dalam buku ini
Said mengungkapkan secara tajam bias intelektual Barat terhadap dunia
Timur (oriental) umumnya, dan Islam serta dunia Muslim khususnya. Dengan
tegar dia mengemukakan gugatan bahwa Barat bertanggung jawab membentuk
persepsi yang keliru tentang dunia yang ingin mereka jelaskan.

Perbandingan Paradigma Orientalis dan Islamisis

Memang
terdapat perbedaan antara keduanya. Orientalis lebih kental nuansa
politis dan tendensi kencurigaannya terhadap Islam. Islamisis tampak
lebih bersahabat. Kajiannya lebih bersifat ilmiah, daripada penyelidikan
demi kepentingan imperialisme. Nama-nama Islamisis yang produktif saat
ini adalah John L. Esposito, Karen Armstrong, Martin Lings, Annemarie
Schimmel, John O. Voll, Ira M. Lapidus, Marshal GS Hodgson, Leonard
Binder dan Charles Kurtzman. Di antara mereka ada yang kemudian masuk
Islam seperti Annemarie Schimmel.
Esposito amat produktif menulis
kajian Islam. Di antara bukunya adalah: Voices of Resurgent Islam,
Ensiklopedi Dunia Islam Modern, Sejarah Peradaban Islam, Islam Politik,
dan Ancaman Islam Mitos atau Realitas. Kajiannya berusaha
mengungkapkan fakta seobyektif mungkin, nyaris tanpa komentar yang
miring. Kecenderungan mencari kelemahan-kelemahan Islam dan umatnya
seperti yang dilakukan para orientalis tampaknya tidak menonjol. Bahkan
kekayaan data dan fakta menjadi ciri mereka dalam mengkaji Islam.
Marshal Hodgson misalnya menguraikan peradaban Islam dalam sejarah dalam
sudut pandang integral dan sistemik. Lapidus juga menawarkan horison
baru peradaban Islam lewat analisis-analisisnya yang multiaspek.
Azyumardi
Azra memuji karya Hodgson s ebagai contoh yang sangat baik tentang
penulisan sejarah Islam setelah Perang Dunia II17 dan karya Lapidus
sebagai karya paling lengkap dan komprehensif tentang sejarah
masyarakat-masyarakat Muslim18

Catatan

Edward W Said, Orientalisme, Terj. Asep Hikmat, Bandung: Pustaka Salman, 1996.
M. Amien Rais, Cakrawala Islam, Bandung: Mizan, 1986, hlm.
Ibid., hlm. 234.
Said, Orientalisme, hlm. 143-144.
Ibid., hlm. 143.
Ibid., hlm. 16.
Untuk
melihat lebih jelas peran Hurgronje lihat Hamid Algadri, Snouck
Hurgronye, Politik Belanda terhadap Islam dan Keurunan Belanda, Jakarta:
Penerbit Sinar Harapan, 1984. dan Aqib Suminto, Politik Islam Snouck
Hurgronye, Jakarta: LP3ES.
Qasim Al-Samurai, Bukti-bukti Kebohongan Orientalis, Jakarta: Gema Insani Press, 1996, hlm. 1.
Rais, Cakrawala, hlm. 241.
Ahmad Abdul Hamid Ghurab, Menyingkap Tabir Orientalisme, Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1993, hlm. 21.
Maryam Jamilah, Islam dan Orientalisme, Sebuah Kajian Analitik, Terj. Machnun Husein, Jakarta: Rajawalipers, 1994, hlm. 11.
Ibid.
Said, Orientalisme, hlm. 16.
Azra, Historiografi, hlm. 187.
HAR Gibb, Whiter Islam, hlm. 335 sebagaimana dikutip Amien Rais dalam Cakrawala, hlm. 240.
Azra, Historiografi, hlm. 187.
Ibid., hlm. 68.
Ibid., hlm. 65.

_________________


kunjungi forum debat terbesar hanya di http://murtadinkafirun.forumotion.net
avatar
shellameliala
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Female
Number of posts : 213
Location : medan
Humor : gw pasti bisa jadi muallaf
Reputation : 0
Points : 2236
Registration date : 2012-07-25

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum