MURTADIN_KAFIRUN

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 15 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 15 Guests :: 1 Bot

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 3:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Buku: Bagaimana Peradaban akan Mati dan Islam Juga

View previous topic View next topic Go down

Buku: Bagaimana Peradaban akan Mati dan Islam Juga

Post by admin on Sun May 05, 2013 7:47 am


Cover Buku Bagaimana Peradaban akan Mati dan Islam Juga

Berisi tentang bagaimana angka kesuburan negara Islam menurun drastis dan bahkan paling drastis sepanjang sejarah.
Dibahas juga arti dari Arab Springs.

http://www.amazon.com/How-Civilizations-Die-Islam-Dying/dp/159698273X/

Ada yg mau terjemahkan?

--------------------------------

Bagian 1
Menurunnya Populasi Bangsa Timur

Bab 1 – Menutupnya Rahim Muslim


Jika
musim dingin (masa sukar) secara perlahan merayap mempengaruhi
demografi (struktur populasi) dunia Barat, maka embun beku (masa yang
lebih sukar lagi) telah melanda dunia Islam. Eropa telah mengalami masa
dua ratus tahun perubahan dari tingkat kesuburan tinggi daerah terpencil
ke kesuburan rendah dunia industry. Di lain pihak, Iran, Turki,
Tunisia, dan Aljeria mengalami penurunan kesuburan yang sama dalam waktu
dua puluh tahun saja. Menurunnya kesuburan populasi dunia Muslim dalam
waktu singkat itu tentu akan mengundang konsekuensi tragis.

Dunia
Muslim sekarang mengalami penurunan populasi yang paling cepat sejak
pencatatan populasi pernah dilakukan dalam sejarah. Para ahli demografi
tercengang. “Di sebagian besar dunia Islam, penurunan kesuburan secara
mencengangkan telah terjadi,” kata Hania Zlotnik, kepala bagian riset
populasi PBB, di konferensi tahun 2009. [1]
[1]
These ratios are based on the Elderly Dependency Ratio calculated by
the model of the United Nations World Population Prospects 2010
revision, assuming constant fertility. The model is available at http://esa.un.org/unpd/wpp/unpp/panel_indicators.htm.

Bayangkan
saja tabrakan kereta api: bagian depan kereta menabrak penghalang, dan
kereta² di belakangnya saling bertumbuk bagaikan akordion. Demografi di
Iran, Turki, Aljeria, Tunisia, dan negara² Muslim lainnya digerakkan
oleh “lokomotif” masyarakat yang berusia remaja dan duapuluhan. Mereka
umumnya lahir dari keluarga yang beranak enam atau tujuh. Tapi
“lokomotif” ini telah menabrak tembok demografi: generasi muda ini hanya
punya satu atau dua anak saja. Di masa ini generasi muda Muslim, yang
menggalang pemberontakan Arab tahun 2011 atas alasan politik dan
ekonomi, akan menghasilkan generasi berikutnya yang berjumlah lebih
sedikit lagi.

Saat ini lebih banyak terdapat orang² Iran di usia
pertengahan duapuluhan daripada kelompok umur lainnya. Tapi kelompok
orang muda ini tidak menghasilkan keturunan. Wanita Iran berpendidikan
usia 25 tahun saat ini mungkin dulu dibesarkan di keluarga beranak enam
atau tujuh, tapi wanita ini nantinya hanya punya satu anak saja. Ini
tentu akan mengakibatkan bencana. Saat ini terdapat sembilan orang Iran
yang berusia produktif bagi setiap warga uzur yang tak produktif lagi.
Di tahun 2050, saat populasi Iran itu mencapai usia pensiun, akan
terdapat lebih banyak orang Iran di usia pertengahan 60-an dibandingkan
golongan usia lainnya – ini berarti tujuh warga uzur bergantung pada
sepuluh warga Iran produktif. Iran menghasilkan uang $4.400 per kapita,
atau sekitar 1/10 GDP (Gross domestic product = tingkat pertumbuhan
ekonomi per tahun) AS, dan kebanyakan penghasilan Iran datang secara
langsung atau tak langsung dari minyak dan gas alam – keduanya semakin
lama semakin habis.

Sudah terlambat sekarang untuk mencegah
penurunan populasi. Wanita Iran usia 25 tahun tadi menikah di usia
remaja dan punya beberapa anak di usia 20-an. Putrinya menunda
kehamilan, atau tidak pernah hamil sama sekali, dan menghabiskan masa
suburnya untuk menempuh pendidikan dan bekerja, itu pun jika dia bisa
mendapat pekerjaan – menurut Pemerintah Iran, ¼ generasi muda Iran tidak
punya kerjaan, dan angka sebenarnya mungkin lebih tinggi lagi.

Populasi
uzur juga bahkan mendatangkan masalah bagi negara² kaya yang punya
sistem pensiun yang besar. Bagi negara² miskin yang hanya memiliki
cadangan sosial primitif, populasi uzur merupakan bencana besar.

Dunia
Muslim juga akan mengalami musim dingin demografi yang terjadi di dunia
industri, tapi dengan perbedaan yang besar: negara² industri Barat
cukup mampu menahan benturannya, tapi negara² Muslim tidak. Dengan GDP
per orang sebesar $30.000 di tahun 2009, Eropa cukup kaya untuk
menyokong masyarakat uzurnya – dengan cara berkorban, menghemat, dan
pemindahan sebagian masyarakat. Mesir dan Indonesia punya kurang dari
1/10 GDP per kapita Eropa. Aljeria, sama seperti Iran, memiliki $4.400
per kapita, sedangkan Pakistan hampir $1.000 per kapita – hampir separuh
masyarakat Pakistan hidup dari $1 atau kurang per hari. Bahkan di
Turki, negara Islam yang memiliki ekonomi modern, hanya menghasilkan
$8.000 per kapita, atau 1/4 GDP Eropa.

Di akhir abad ini,
dengan asumsi kesuburan yang sama, populasi produktif (usia 15 sampai 59
tahun) di Eropa Barat akan turun sebanyak 2/5, dan di Eropa Timur dan
Asia Timur sebanyak 2/3. Populasi produktif AS akan bertambah banyak ¼.
Negara² Eropa yang paling tak subur akan melihat populasi mereka turun
40% - 60% dalam abad ini.

Hal ini merupakan keterangan yang
jarang disampaikan saat ini. Merosotnya populasi di seluruh dunia
industri mengancam ekonomi dunia dan stabilitas politik. Eropa Timur,
terutama Rusia, sudah menghadapi lingkaran kematian demografi. Saat
populasi masyarakat produktif turun di kebanyakan dunia industri,
masyarakat uzur yang tergantung pada orang lain akan menjadi masyarakat
terbanyak di populasi Eropa dan Asia Timur. (Tapi jumlah masyarakat uzur
ini hanya 2/5 di AS.) Ekonomi dan penghasilan pajak merosot sedangkan
biaya pensiun dan kesehatan membumbung tinggi. Cendekiawan yang
berpidato tentang turunnya populasi AS seharusnya dihukum kerja paksa
setahun di badan PBB. Dari seluruh masalah biaya pensiun masa depan dan
kesehatan di masa depan, AS tetap akan punya masyarakat produktif yang
menanggung beban masyarakat uzur. Bagian dunia lainnya tidak punya cukup
tenaga kerja untuk menanggung masyarakat uzur. Musim dingin demografi
berarti hancurnya keuangan dan kekacauan sosial.

Tapi yang lebih
mencengangkan daripada merosotnya demografi negara² industri Eropa dan
Asia Timur adalah cepatnya negara² Muslim menyusul hal yang sama dan
bahkan di beberapa kasus mengalami kehancuran kesuburan yang paling
besar. Kesuburan populasi dunia telah turun mencapai dua anak per wanita
di paruh abad terakhir – dari 4,5 anak per wanita menjadi hanya 2,5
saja. Kesuburan di dunia Muslim telah merosot dua atau tiga kali lebih
cepat dibandingkan rata² dunia. Penurunan kesuburan drastis telah
melanda Arab, Persia, Turki, Malaysia, dan Muslim Tenggara. Tingkat
kesuburan populasi Iran berkurang enam anak per wanita, Turki berkurang
lima anak per wanita, Pakistan berkurang lebih dari tiga anak per
wanita, Mesir dan Indonesia berkurang empat anak per wanita.


Merosotnya Kesuburan Populasi Negara² Muslim Jauh Lebih Cepat Dibandingkan Rata² Dunia Lain
Sumber: Divisi Populasi PBB

Syafa
bilang Islam adalah agama yang paling berkembang saat ini? Faktanya
malahan umat Islam adalah umat yang paling cepat musnah dalam beberapa
dekade ke muka. Hihii... Allahuakbar!!


Kebanyakan negara²
Islam tidak punya dana pensiun masyarakat atau sistem kesehatan. Kaum
uzur tergantung pada anak² mereka di usia tua. Para Muslim usia 60 dan
70 tahun punya beberapa anak usia produktif. Di Iran, Turki, dan
Aljeria, kebanyakan orang uzur punya satu atau dua anak di pertengahan
abad ini. Eropa sudah mulai kewalahan mengurus populasi uzur dan
memenuhi tuntutan yang semakin banyak untuk biaya pensiun dan perawatan
kesehatan. Dalam 40 tahun mendatang, rata² usia populasi Eropa hanya
akan bertambah dari 40 ke 46 tahun. Di kebanyakan negara² Muslim, usia
rata² saat ini berkisar dari remaja ke akhir 20 tahunan – tapi di tahun
2050, jumlah itu bisa naik ke 40 tahun atau lebih. Banyak negara² Muslim
terbesar yang akan juga mengalami krisis geriatrik Eropa dalam waktu 1 ½
generasi saja.

Di tahun 2070, beberapa negara Muslim akan
memiliki jumlah masyarakat uzur yang lebih banyak dibandingkan Eropa
Barat. Dengan begitu, beban ekonomi relatif akan jauh lebih besar di
negara² Muslim yang banyak memiliki masyarakat uzur.

Populasi di Atas 65 Tahun, Eropa vs. Negara² Muslim Tertentu
Sumber: Divisi Populasi PBB (Low Variant Scenario)


Masalah yang paling banyak mempengaruhi tingkat kelahiran negara² Muslim biasanya adalah satu hal: literasi. Literasi (melek baca tulis) merupakan pintu yang memisahkan masyarakat tradisional dan modern. Saat para Muslimah bisa membaca, jumlah anggota keluarga jadi merosot jauh. Literasi menjelaskan terjadinya penurunan 60% kesuburan di dunia Muslim.

Di
seluruh dunia Muslim, para Muslimah yang berpendidikan universitas
punya jumlah anak yang sama seperti wanita Eropa berpendidikan sama. Begitu
Muslimah mendobrak kekangan masyarakat tradisional, mereka hanya ingin
punya anak satu saja dan kadangkala dua, dan jarang sekali tiga atau
empat – wanita² ini hampir tidak pernah punya anak enam atau tujuh.

Hubungan ini tetap terjadi saat kita bandingkan tingkat kesuburan di
negara² Muslim yang berbeda atau membandingkan kesuburan wanita dalam
berbagai tingkat pendidikan yang berbeda di negara yang sama, seperti
yang nanti bisa kita lihat di data negara Iran dan Turki.

Juga
ada faktor² lain: Bangladesh lebih gencar promosi penggunaan
konstrasepsi (alat cegah hamil) dibandingkan negara² tetangganya. Karena
itu, jumlah anak per wanita berkisar tiga saja, padahal tingkat
literasi mereka hanya 38%. “Ada perbedaan nyata antara Pakistan dan
tetangga mereka yang lebih miskin, Bangladesh,” begitu tulis sosioligs
Eric Kaufmann. “Para ketua agama Islam di Pakistan telah lama menolak
keras pembatasan anak dibandingkan para agamawan Bangladesh, yang tidak
begitu terpengaruh ideologi fundamental Islam.” [2] Tidak banyak
pengaruh apakah pemerintah² Muslim mendukung atau menolak kontrasepsi.
Pakistan memiliki tingkat literasi yang sama seperti Bangladesh, dan
wanita² Pakistan hanya punya satu anak lebih banyak dibandingkan
kebanyakan wanita² Bangladesh; angka kesuburan Pakistan adalah empat
anak dan ini sesuai dengan dugaan perbandingan taraf literasi. Negara²
Muslim yang masih memiliki Muslimah yang melahirkan anak sampai tujuh
atau delapan adalah negara² yang paling miskin dan paling buta huruf:
Mali, Niger, Somalia, dan Afghanistan.
[2] Jared Diamond’s 2005 book, Collapse: How Societies Choose to Fail or Succeed, blames exhaustion of resources and environmental damage.

Faktor
lain adalah praktek agama, yang berhubungan dengan literasi. Semakin
sering Muslim mengunjungi mesjid, semakin besar pula kemungkinan mereka
punya keluarga besar, begitu menurut World Values Survey (WVS) –
meskipun data yang tersedia berasal dari sejumlah kecil negara.
Sepertiga dari 88% warga Turki yang bisa membaca tidak pernah
mengunjungi mesjid, begitu menurut poll WVS, juga seperempat dari 82%
warga Iran yang bisa membaca tidak pernah mengunjungi mesjid (laporan
terakhir menunjukkan jumlah pengunjung mesjid jauh lebih sedikit lagi) –
dan tingkat kesuburan kedua negara ini sudah begitu rendah sehingga tak
mampu menghasilkan generasi lebih lanjut dalam jumlah sama. Keadaan
sangat berbeda dengan Mesir, di mana hanya seperlima warga Mesir tak
pernah mengunjungi mesjid, dan dengan begitu tingkat kesuburan mereka
lebih tinggi, yakni sekitar 3 anak per wanita. Di Mali yang buta huruf,
hanya 3% warga yang tak pernah mengunjungi mesjid – dan angka kesuburan
naik jadi 5,5 anak per wanita.

Dunia Muslim terperangkap
diantara dua titik ekstrim. Sebagian negara – Pakistan, Bangladesh, dan
Mesir – punya separuh populasi yang buta huruf. Populasi ini
mempertahankan cara hidup di dunia persukuan, di mana angka kesuburan
tinggi. Tapi negara² ini tidak mampu memberi makan separuh masyarakatnya
yang buta huruf, apalagi memberi mereka pekerjaan; dan tingginya
kemiskinan parah dan ancaman kelaparan mengakibatkan kelabilan sosial.
Di titik ekstrim yang lain, negara² yang melek huruf – Iran, Turki,
Tunisia, dan Aljeria – menghadapi kegagalan sosial yang menghancurkan,
dalam bentuk keluarga yang serba kekurangan dan sedikit punya anak.

Modernitas
telah menyerang masyarakat Mesir pada organ yang paling rentan – organ
inilah yang seharusnya menjamin kemenangan Islam terhadap dunia Barat:
RAHIM.
Tapi kerapuhan ini tidak berarti membuat negara² Muslim jadi kurang
berbahaya. Sewaktu negara² Eropa cenderung bersikap pasif karena
mengetahui mereka tak akan mendapatkan apapun dari sikap agresif,
sebaliknya Iran malah bersikap sangat agresif karena tak punya apapun
yang berharga.


Demografi dan Rasa Putus Asa

Para
pemimpin Muslim menunjukkan sikap panik saat mengetahui demografi
mereka merosot jauh lebih cepat dibandingkan Eropa. Presiden Iran dan
Turki, Mahmoud Ahmadinejad dan Tayyip Erdogan, keduanya memperingatkan
negara² mereka bahwa mereka bisa lenyap dalam satu generasi saja.
Kebanyakan media berbahasa Inggris tak peduli akan hal ini, tapi media
berbahasa Turki dan Persia membahasnya. Perasaan hampir mati yang
melanda dunai Muslim membuat negara² ini menjadi berbahaya dan sangat
tak stabil. Resiko nyata bagi keamanan dunia bukanlah kebangkitan Islam
secara perlahan oleh meningkatnya demografi Muslim, tapi keadaan yang
labil, bobroknya sosial, dan sikap agresif karena putus asa.

“Mereka
ingin memusnahkan negara Turki,” kata PM Turki Tayyip Erdogan di tahun
2008. “Inilah yang benar² ingin mereka capai!” Yang dimaksud dengan
“mereka” oleh Erdogan dalam pidatonya pada para wanita di Usak adalah
siapapun yang mendorong para wanita Turki untuk tidak punya anak. Turki
sudah berada dalam perangkap demografi. Jumlah angka kelahiran merosot
sangat pesat, dan populasi uzur bertambah jauh lebih cepat dibandingkan
Iran. Erdogan berkata pada para wanita itu, “Agar masyarakat kita tetap
muda, kalian masing² harus punya anak paling sedikit tiga.” Tapi
anjurannya tak digubris. “Erdogan meminta wanita untuk punya tiga anak,
tapi permintaan kontrasepsi malah semakin meningkat di pasar,” begitu
kata akademis Turki terkemuka. Dari data rendahnya kesuburan Turki,
Erdogan mengira adanya konspirasi untuk menghancurkan Turki. “Jika
keadaan tidak berubah, di tahun 2038 kita akan hancur,” begitu katanya
di bulan Mei, 2010.

Erdogan memang benar: masa depan negara
Turki sangat suram. Masalah demografi bukannya tanpa jalan keluar, tapi
Islamisme yang diterapkan Erdogan tidak bisa menembusnya. Tingkat
kesuburan Turki saat ini sudah jauh di bawah taraf pengganti generasi
berikut dan serupa dengan Eropa. Keadaan yang sama juga terjadi di Iran
dan seluruh dunia Muslim: para wanita Turki yang berpendidikan dan
literal punya anak satu atau dua, sedangkan para wanita Anatolia, Turki
Timur, yang jauh di tempat terpencil punya anak sampai empat. Bagi
Turki, hal ini merupakan ancaman. Musuh besar Turki adalah bangsa Kurdi,
yang menguasai seperlima negara itu dan telah berjuang selama puluhan
tahun untuk merdeka. Di pertengahan abad ini, 2/5 populasi total Turki
dan mayoritas militer adalah orang Kurdi.

Ahmadinejad di Iran
memperingatkan negaranya bahwa Iran akan hancur karena rendahnya angka
kelahiran. Di tanggal 10 September, 2010, Ahmadinejad mengumumkan dalam
rapat di propinsi Alborz,

“Punya
dua anak merupakan resep pemusnahan negara, dan tidak bisa menyelamatkan
negara … Kebanyakan data terakhir menunjukkan hanya ada 18 anak dari
setiap 10 pasutri Iran dan ini merupakan peringatan serius bagi generasi
sekarang … Inilah yang salah dari dunia Barat. Pertumbuhan populasi
negatif akan menyebabkan kita punah. Sikap kita yang menerima saja
keadaan ini menunjukkan kita berada di jalur yang salah. Sikap lebih
suka makan banyak daripada punya anak merupakan sikap pemusnahan ras
sendiri.” [3]

Website berbahasa Persia Javan
Online mengutip Ahmadinejad dan juga sosiologis Majid Abhari, yang
memperingatkan adanya “gelombang raksasa masyarakat uzur” karena
“merosotnya kesuburan” di beberapa dekade terakhir, dan mengakibatkan
“turunnya jumlah tenaga kerja dan tingginya asuransi sosila dan ongkos
kesehatan karena begitu banyak orang yang uzur.”
[3] Rob Banks, “Suicide Contagion,” Indigenous Health Research, CDU, http://www.cdu.edu.au/newsroom/origins/ ... tagion.pdf.

Tabrakan Kereta Api Ala Iran: Perkiraan Populasi 2010 vs. 2050
Sumber: Divisi Populasi PBB (Constant Fertility)

Bukannya
ngurusin populasinya yang semakin musnah, para Mullah Iran malahan
sibuk berusaha membunuh kafir AS & Yahudi dengan senjata nuklirnya.
Rupanya moto mereka adalah: "Karena gw pasti bentar lagi musnah,
mending ajak kafir sebanyak mungkin untuk ikut ke alam baka."


Javan
menyebut faktor² yang memerosotkan kesuburan: “meningkatnya pendidikan
bagi kaum wanita, bertambahnya pekerjaan bagi kaum wanita, membaiknya
fasilitas kesehatan dan rancangan keluarga, penundaan usia nikah,
peningkatan perceraian, perubahan pandangan akan keluarga di budaya
dunia, dan perubahan struktur keluarga, dan urbanisasi.” Akibat dari
angka kesuburan yang rendah termasuk “turunnya jumlah tenaga kerja,
meningkatnya populasi uzur, lemahnya kekuatan negara di dunia
internasional, tenaga ahli meninggalkan Iran karena tak ada kesempatan
kerja yang layak, masalah² psikologi anak.”

Di bulan November
2010, Presiden Ahmadinejad menuntut para gadis Iran menikah di usia 16
tahun dan menghasilkan banyak anak. Seperti yang disampaikannya pada
majalah Pemerintah Jam-e Jam, “Anak laki sebaiknya menikah di usia 20
tahun dan anak perempuan usia 16 – 17.” [4] Selama bertahun-tahun
Ahmadinejad menuduh konspirasi Barat mengakibatkan turunnya angka
kelahiran Iran. Di tahun 2006 dia mengumumkan populasi Iran harus
berlipat ganda: “Aku menentang anggapan dua anak saja cukup. Negara kita
punya banyak kapasitas untuk membesarkan anak. Negara ini punya
kapasitas mengurus 120 juta orang. Pihak Barat itulah yang bermasalah.
Karena populasi mereka negatif, mereka jadi khawatir populasi kita
bertambah, dan kita akan menang atas mereka.”
[4] Laurence J. Kirmayer et al., “Suicide Among Aboriginal People in Canada,” The Aboriginal Healing Foundation Research Series, 2007, http://www.ahf.ca/downloads/suicide.pdf, p. xv.

Tapi
para wanita Iran malahan bertindak berlawanan dari apa yang diminta
Ahmadinejad. Di tahun 2006, ketika dia pertama kali menuduh Barat
berencana mengosongkan populasi negerinya, para wanita Iran punya anak
rata² dua orang. Di tahun 2010, angka kesuburan mereka malah melorot
jadi 1,7 anak per wanita. Masyarakat Persia hanyalah separuh populasi
Iran – selebihnya adalah masyarakat berbahasa Turki yakni Axeris, Kurdi,
Arab, dan Baluchi – dan angka kesuburan mereka lebih rendah. Di pusat²
kota besar Iran, angka kelahiran bahkan lebih rendah lagi. Di Teheran,
angka kesuburan adalah 1,5 anak per wanita.

Ahli demografi tidak
pernah melihat keadaan ini sebelumnya. Di penelitian tahun 2008 yang
berjudul “Pendidikan dan Penurunan Angka Kesuburan Tercepat di Dunia
terjadi di Iran,” sebuah tim ahli demografi Eropa dan Iran di
International Institute for Applied Systems Analysis menjelaskan,


Sensus
analisa pertama terhadap Iran tahun 2006 menunjukkan rendahnya tingkat
kesuburan 1,9 di seluruh negara dan hanya 1,5 di Teheran (yang
berpopulasi 8 juta orang) … Penurunan dalam TFR [total fertility rate =
taraf kesuburan total] sebanyak lebih dari 5.0 dalam dua dekade
merupakan rekor dunia dalam merosotnya kesuburan. Hal ini lebih
mengejutkan para pengamat ketika mengetahui bahwa hal ini terjadi pada
salah satu masyarakat yang paling Islamiah. Keadaan ini memaksa peneliti
untuk mempertimbangkan hubungan agama dengan kesuburan. [5]
[5] Christina Lamb, “Rising suicides cut a swath through Amazon’s children,” Telegraph, November 19, 2000, http://www.telegraph.co.uk/news/worldne ... ldren.html.

Pendidikan
berperan penting pada kehancuran kesuburan Iran, demikian kesimpulan
para peneliti. Seperti yang telah kita lihat, literasi berhubungan
langsung dengan taraf kesuburan di berbagai negara Muslim. Di setiap
negara Islam di mana data tersedia, pola yang sama terus terjadi:
pendidikan berpengaruh pada tingkat kesuburan dalam masyarakat di setiap
negara.

Seorang ibu Iran yang punya anak tujuh di tahun 1960-an
atau 1970-an hanya mengenyam pendidikan SD saja atau mungkin lebih
kurang lagi. Di tahun 1980-an, wanita² buta huruf Iran punya anak hampir
lima orang. Wanita² yang berpendidikan SD punya anak sekitar 3, 5. Yang
lulus SMA punya anak dua. Tapi wanita² Iran yang berpendidikan
universitas hanya punya anak 1,3 saja, sama dengan para wanita Eropa
Barat. Semakin banyak wanita Iran yang mengenyam pendidikan, pengamat
menyimpulkan, semakin sedikit pula anak yang mereka hasilkan. Tingkat
kesuburan pada setiap tangga pendidikan juga semakin rendah, dan angka
kesuburan secara keseluruhan akhirnya ambruk.

Sedikit jumlah
wanita Iran yang buta huruf terdapat di propinsi Baluchistan – dan
mereka masih punya tujuh anak per wanita, dan yang berpendidikan SD
punya empat anak. Tanpa ada hubungan dengan rezim Islam, para wanita
Iran merupakan wanita yang paling tinggi pendidikannya di dunia Islam.
Pemerintahan sekuler Syah Iran yang lalu menerapkan begitu banyak usaha
untuk meningkatkan pendidikan di tahun 1970-an dan 1980-an, dengan
target menghapuskan buta huruf di tahun 1985. “Pasukan Literasi”
mengijinkan para pemuda lulusan SMA untuk mengajar anak² membaca sebagai
alternatif wajib militer, dan sebanyak 200.000 pemuda dengan sukarela
ikut bagian dari kegiatan ini. [6] Ayatollah Khomeini tidak berhasil
menghentikan gerakan literasi yang dilakukan Syah.
[6] John Noble Wilford, “Languages Die, but Not Their Last Words,” New York Times, September 19,2007, http://www.nytimes.com/2007/09/19/scien ... guage.html.

_________________
MURTADINKAFIRUN
MURTADIN KAFIRUN exMUSLIM INDONESIA BERJAYA 11 SEPTEMBER Hari Murtad Dari Islam Sedunia
avatar
admin
ADMINISTRATOR
ADMINISTRATOR

Male
Number of posts : 1202
Age : 18
Reputation : -4
Points : 5513
Registration date : 2008-12-17

View user profile http://groups.yahoo.com/group/MURTADIN_KAFIRUN/

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum