MURTADIN_KAFIRUN

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 13 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 13 Guests :: 1 Bot

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 3:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Kematian Yesus di Salib dan Qur’an

View previous topic View next topic Go down

Kematian Yesus di Salib dan Qur’an

Post by s4n7i on Sat Nov 23, 2013 7:12 pm

Kepercayaan Kristen berdasarkan sejarah

Kekristenan berdasar pada karya Allah dalam sejarah. Bahkan klaim-klaim utama kekristenan terbuka dan tetap tersedia untuk penyelidikan secara historis. Ada hubungan yang jelas antara apa yang dipercaya oleh orang-orang Kristen dan apa yang dilakukan Allah dalam dunia.

J. Gresham Machen, seorang Kristen, mengatakan,

“Gereja mula-mula bukan hanya memikirkan apa yang dikatakan oleh Yesus, namun, khususnya, juga dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Dunia ditebus melalui pemberitaan suatu kejadian. Dan bersama dengan kejadian itu adalah maknanya; dan penjabaran kejadian itu bersama dengan maknanya adalah doktrin. Kedua unsur ini selama menjadi satu dalam berita kekristenan. Mengisahkan fakta adalah sejarah; mengisahkan fakta bersama dengan maknanya, itu adalah doktrin. ”Menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan” — itu adalah sejarah. ”Dia mengasihi saya dan memberi diri-Nya untuk saya” — itu adalah doktrin. Demikianlah kekristenan dari gereja mula-mula” (Christianity and Liberalism, 29).

Seorang Kristen lainnya, George Eldon Ladd, juga menunjukkan pentingnya sejarah dalam kaitannya dengan keyakinan kekristenan.

“Keunikan dan skandal agama Kristen bergantung pada pengantaraan wahyu melalui peristiwa-peristiwa sejarah. Iman Ibrani-Kristen berbeda dari agama-agama lain yang sezaman karena imannya yang historis, di mana agama-agama lainnya berlandaskan mitologi dan siklus alam. Allah Israel adalah Allah sejarah, atau geschichtsgott sebagaimana yang diutarakan dengan begitu jelasnya oleh para teolog Jerman. Iman Ibrani Kristen bukan lahir dari spekulasi filosofis yang muluk-muluk atau pengalaman mistis yang mencengangkan. Lahirnya adalah dari pengalaman historis Israel, lama dan baru, di mana Allah memperkenalkan diri-Nya. Hal ini memberi iman Kristen kandungan yang spesifik dan obyektivitas yang membedakannya dari agama-agama lainnya …. Alkitab bukan sekedar kumpulan pemikiran-pemikiran agama dari sekumpulan pemikir agung. Alkitab bukanlah sebuah sistem konsep teologia, ataupun spekulasi filosofis….Penjabaran tindakan historis Allah adalah susbtansi dari pemberitaan Kristen (“The Knowledge of God: The Saving Acts of God” dalam ed., Carl F. H. Henry, Basic Christian Doctrines [New York: Holt, Rinehart and Winston, 1962], 7-13).

Allah membuat diri-Nya dikenal bukan hanya di dalam Firman-Nya tetapi juga di dalam karya-Nya; Allah bekerja di dalam sejarah. Sejarah sangat penting karena peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam sejarah itu benar bagi semua orang.

Semua itu [peristtiwa-peristiwa yang disebutkan di dalam Injil] adalah benar karena semua itu terjadi di dalam sejarah, dan hal-hal yang terjadi di dalam sejarah bukan hanya benar bagi orang-orang yang terlibat secara langsung, tetapi juga benar bagi semua orang (Michael Horton, “Heaven Came Down”; Modern Reformation Nov./Dec. 1995 Vol. 4 No. 6).

Hubungan antara iman Kristen dengan sejarah sangat penting karena ratusan juta orang Muslim menyangkal peristiwa sejarah tentang kematian Yesus di kayu salib.
Ratusan juta kaum Muslim menolak kematian Yesus di atas salib.
Klaim Qur’an mengenai penyaliban,

dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa.

Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat ‘Isa kepada-Nya ; dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surah An-Nisa 4:157-158)
Salah satu tafsir yang terkenal mengenai An-Nisa 4 ini mengungkapkan,

(Dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”) Allah menghancurkan Tatianos [seorang tentara Romawi]. (Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya) Allah membuat Tatianos terlihat seperti Yesus sehingga dia yang dibunuh; (Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang pembunuhan itu), benar-benar (dalam keragu-raguan) tentang yang dibunuh itu. (Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka), mereka tidak (pula) yakin bahwa (yang mereka bunuh itu) yaitu jelas mereka tidak membunuh dia. (Tafsir Ibn ʿAbbas, http://www.altafsir.com/)
Penafsir al-Baydawi (wafat 685/1282), sebuah contoh yang bagus mengenai penafsiran klasik Islam, mengatakan sbb:

Ada cerita bahwa sekelompok orang Yahudi menghina Yesus dan ibu-Nya, dan karenanya Dia berseru kepada Allah mengenai mereka. Ketika Allah mengubah mereka [yang telah menghina] menjadi monyet dan babi, orang-orang Yahudi sepakat untuk membunuh Yesus. Kemudian Allah memberitahu Yesus bahwa Dia akan mengangkatnya ke surga, dan Yesus berkata kepada para murid-Nya: “Siapa di antara kamu yang bersedia untuk mengambil wujud ku dan mati [menggantikanku] dan disalibkan dan kemudian [langsung] masuk ke firdaus?” Seorang di antara mereka menawarkan dirinya, maka Allah mengubah dia menjadi mirip dengan Yesus dan dia dibunuh dan disalibkan.

Yang lainnya mengatakan bahwa ada seseorang yang berpura-pura [menjadi orang percaya] namun kemudian meninggalkan dia dan menyangkal dia, kemudian Allah mengubah dia menjadi mirip dengan Yesus, dan dia ditangkap dan disalib (dari terjemahan bahasa Inggris Francis E. Peters, Judaism, Christianity, and Islam: The Classical Texts and Their Interpretation, vol. 1, From Covenant to Community, psl.3, no.30 [Princeton: Princeton University Press, 1990], 151).
Penyangkalan Islam terhadap kematian Yesus di kayu salib merupakan pendefinisian ulang sejarah secara radikal.

Penyangkalan Islam terhadap kematian Yesus di kayu salib merupakan pendefinisian ulang sejarah secara radikal. Pengamatan, saksi, kesaksian dan analisa manusia kurang atau tidak berarti untuk mengetahui apa yang terjadi berabad-abad yang lampau di Golgota. Satu-satunya yang penting adalah bahwa Muhammad mengaku bahwa seorang malaikat mengungkapkan kepadanya sesuatu mengenai masa lampau yang bertentangan dengan apa yang diamati dan dicatat. Dan ini sekalipun kenyataannya Muhammad lahir ratusan tahun setelah terjadinya peristiwa itu, tinggal ratusan mil jauhnya dari tempat kejadian, dan sama sekali tidak memberikan bukti apapun. Menyangkal sejarah memiliki konsekuensi yang tragis sebagaimana yang dapat dilihat dari orang-orang yang menyangkal adanya Holocaust.
EMAIL-EMAIL DARI ORANG-ORANG ISLAM MENGENAI PENYALIBAN:

Kami percaya bahwa Yesus adalah nabi agung dan bahwa ibunya adalah seorang perempuan yang suci. Kami tidak percaya pada tritunggal, penyaliban, atau dosa mula-mula atau juruselamat. Mengabaikan keempat hal ini dan mempraktikkan ajaran Kristus sudah lebih dari cukup untuk membuat orang-orang Kristen sebagai orang-orang yang baik. Mengapa harus berfilsafat mengenai hal ini dan membuatnya menjadi ruwet? !!!
SAYA INGIN MENJAWAB PERTANYAAN “Apakah Yesus mati di kayu salib?” SAYA BUKAN BERMAKSUD MENGUNGKAPKAN KEBENCIAN TERHADAP AGAMA MANAPUN, NAMUN UNTUK MENGUNGKAPKAN FAKTA. MENURUT QUR’AN, YESUS TIDAK MATI DI ATAS SALIB, ALLAH MEMBANGKITKAN DIA (4:157-158) SEMENTARA ALKITAB MENGATAKAN BAHWA YESUS DISALIBKAN (MATIUS 16:21) NAMUN KALAU ANDA MEMBACA (MATIUS 27:30-37),(MARKUS 15:19-25)(LUKAS 23:26-27) SIMON ORANG KIRENE LAH YANG DISALIBKAN.

PENJELASAN SAYA SECARA KRISTEN MENGENAI PENYALIBAN DAN MATINYA YESUS DI ATAS SALIB:

Silakan pertimbangkan fakta-fakta di balik peristiwa bersejarah matinya Yesus di atas salib:
Para nabi Perjanjian Lama bersaksi mengenai kematian dan penguburan Yesus.

Hampir 700 tahun sebelum Yesus, Yesaya menuliskan

Yesaya 53:7-9
Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah. Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya
Dalam berbagai peristiwa Yesus bersaksi mengenai kematian-Nya.

Matius 16:21
Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-murid-Nya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga

Matius 20:17-19
Ketika Yesus akan pergi ke Yerusalem, Ia memanggil kedua belas murid-Nya tersendiri dan berkata kepada mereka di tengah jalan: “Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan.”

Matius 26:1-2
Setelah Yesus selesai dengan segala pengajaran-Nya itu, berkatalah Ia kepada murid-murid-Nya:
“Kamu tahu, bahwa dua hari lagi akan dirayakan Paskah, maka Anak Manusia akan diserahkan untuk disalibkan.”

Matius 26:6-12
Ketika Yesus berada di Betania, di rumah Simon si kusta, datanglah seorang perempuan kepada-Nya membawa sebuah buli-buli pualam berisi minyak wangi yang mahal. Minyak itu dicurahkannya ke atas kepala Yesus, yang sedang duduk makan. Melihat itu murid-murid gusar dan berkata: “Untuk apa pemborosan ini? Sebab minyak itu dapat dijual dengan mahal dan uangnya dapat diberikan kepada orang-orang miskin.” Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu. Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku
Para saksi mata kematian Yesus di atas kayu salib:

Maria Magdalena
Maria ibu Yakobus dan Yusuf
Maria ibu Yesus
Murid yang dikasihi Yesus (Yohanes 19:26)

Orang-orang yang turut memakamkan jenazah Yesus:

Yusuf dari Arimatea
Nikodemus
Maria Magdalena
Maria ibu Yakobus dan Yusuf

Sumber bukan Kristen pun menuliskan bahwa Yesus mati:

Yosephus (sejarahwan Yahudi yang lahir sekitar 37 AD dan meninggal 100 AD) merujuk pada kematian Yesus (Antiquities 18.3.3).
Tacitus (AD 55-120) sejarahwan ternama dari zaman Romawi Kuno menulis pada sekitar 115 AD bahwa Kristus “dieksekusi” oleh Pilatus (Annals 15.44).

Hukum Taurat mempersyaratkan bahwa suatu hal harus ditentukan oleh dua atau tiga saksi (Ulangan 17:6-7). Karena itu, kesaksian Yesus, para nabi Perjanjian Lama, para pengikut Yesus, para sejarahwan bukan Kristen, dll adalah benar, sah dan dapat dipercaya dibandingkan dengan kesaksian Muhammad (atau Qur’an) yang ditulis hampir enam ratus tahun setelah peristiwa itu. Secara sederhana, Taurat Musa membuat tidaklah sah untuk percaya pada Qur’an.
Klaim Muhammad bahwa malaikat Jibril berbicara kepadanya adalah suatu klaim bersejarah.

Berikut ini adalah alasan lain mengapa tidak sah untuk percaya pada Qur’an. Klaim Muhammad bahwa malaikat Jibril berbicara kepadanya adalah suatu KLAIM BERSEJARAH. Ada bukti sejarah apa bahwa malaikat Jibril berbicara kepada Muhammand? Apakah ada kesaksian dari saksi mata, atau Muhammad adalah satu-satunya saksi dari klaimnya bahwa Jibril berbicara kepadanya? Alkitab mengatakan bahwa klaim seperti yang dilakukan oleh Muhammad harus ditentukan berdasarkan kesaksian dua atau tiga saksi. Berbeda dengan Musa dan Yesus, Muhammad adalah satu-satunya saksi dari apa yang diklaimnya mengenai malaikat Jibril. Hal ini berarti mempercayai klaim Muhammad adalah merupakan pelanggaran Taurat Allah dan merupakan dosa karena dia menentang kesaksian Musa dan Yesus yang sebelumnya sudah divalidasi dan sah.

Saya membaca bahwa Qur’an mengharuskan empat saksi ketika seorang perempuan dituduh berzinah (Al-Maeda 4:15; Al-Noor 24:4; (bandingkan 2:282) Tentu saja perzinahan merupakan tuduhan yang serius dan perlu ada saksi-saksi. Namun klaim Muhammad bahwa Kitab Suci Kristen dipalsukan adalah klaim yang bahkan lebih serius lagi. Kesaksian/saksi-saksi apa yang diberikan dan diajukan oleh Muhammad untuk mendukung tuduhannya bahwa Kitab Suci Kristen dipalsukan?

Muhammad tidak memiliki saksi bahwa malaikat Jibril berbicara kepadanya. Muhammad tidak memiliki saksi bahwa kata-kata yang dia ucapkan lebih berotoritas dibandingkan dengan Kitab Suci Kristen. Muhammad tidak memiliki dan tidak mampu mengajukan kesaksian yang lebih baik dari fakta mengenai kematian Yesus di atas salib, begitu juga Anda.

Sekalipun An-Nisa 4:157 mengklaim sesuatu yang pasti, ayat itu adalah klaim sejarah yang jauh dari kepastian sejarah.

004.157
dan karena ucapan mereka : “Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, ‘Isa putra Maryam, Rasul Allah”, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan ‘Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) ‘Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah ‘Isa.-

Dalam sudut pandang sejarah klaim ini tidak benar. Klaim ini dibuat ratusan tahun setelah peristiwa itu dan tidak memiliki dukungan historis dari abad pertama; tidak ada seorangpun pengikut Yesus yang menulis atau bersaksi bahwa Yesus hanya kelihatan seperti mati di salib. Qur’an tidak menjelaskan siapa yang mati di salib, tidak menjelaskan apakah para murid Yesus ditipu, dan tidak menjelaskan mengapa Allah mengizinkan dunia ditipu (atau apakah Allah menipu dunia?) dalam soal ini selama ratusan tahun. Adalah orang-orang Islam yang menyangka-nyangka; orang-orang Islam yang tidak tahu secara pasti; orang-orang Islam yang amat meragukan apa yang betul-betul terjadi dalam penyaliban. Semua orang Kristen (Katolik Roma, Ortodoks, dan Protestan) sepakat bahwa Yesus mati di salib. Memang orang Kristen tidak selalu sepakat dalam segala hal. Banyak perbedaan pendapat. Namun satu hal yang semua orang Kristen sepakat yaitu mengenai kematian Yesus di kayu salib. Bahkan para sejarahwan bukan Kristenpun mendukung kesejarahan dari kematian Yesus di kayu salib.1
Kekristenan adalah agama yang keyakinannya mengenai Allah, dosa, dan makna serta tujuan hidup, perbuatan baik, keadilan Allah, dan apa yang terjadi setelah kematian semuanya berdasarkan peristiwa-peristiwa sejarah.

Kekristenan adalah agama yang keyakinannya mengenai Allah, dosa, dan makna serta tujuan hidup, perbuatan baik, keadilan Allah, dan apa yang terjadi setelah kematian semuanya berdasarkan peristiwa-peristiwa sejarah. Apa yang orang-orang Kristen percaya mengenai hal-hal ini bukanlah berdasarkan khayalan atau spekulasi filosofis. Sebaliknya, kepercayaan kami berdasarkan pada apa yang Allah kerjakan dalam dunia nyata.

Iman Ibrani Kristen bukan lahir dari spekulasi filosofis yang muluk-muluk atau pengalaman mistis yang mencengangkan. Lahirnya adalah dari pengalaman historis Israel, lama dan baru, di mana Allah memperkenalkan diri-Nya. Hal ini memberikan iman Kristen kandungan yang spesifik dan obyektivitas yang membedakannya dari agama-agama lainnya …. (George Ladd, “The Knowledge of God: The Saving Acts of God” dalam ed., Carl F. H. Henry, Basic Christian Doctrines [New York: Holt, Rinehart and Winston, 1962], 7-13).

Kekristenan adalah peristiwa bersejarah, sama halnya dengan kekaisaran Romawi atau Kerajaan Prussia, atau Amerika Serikat. Dan sebagai peristiwa bersejarah, kekristenan harus diselidiki berdasarkan bukti sejarah (J. Gresham Machen, Christianity and Liberalism, 20).

Inti dari kekristenan adalah peristiwa-peristiwa bersejarah mengenai matinya Yesus di salib, penguburan-Nya dan kebangkitan-Nya secara fisik. Kalau Anda menyanggah bukti sejarah salah satu dari ketiga kejadian ini Anda membatalkan kekristenan. Di sisi lain, kalau Anda menolak kekristenan Anda menolak sejarah. Anda menolak apa yang Allah telah lakukan dalam dunia nyata melalui Yesus.

Masalah terjadi ketika apa yang dipercaya orang tentang dunia tidak bertalian dengan dunia nyata. Ada cerita mengenai seorang pasien sakit jiwa yang terus menerus mengatakan bahwa dia sudah mati. Para dokter tidak berhasil meyakinkan dia bahwa dia masih hidup dan belum mati. Berjam-jam lamanya mereka berusaha meyakinkan dia bahwa dia masih hidup dan akhirnya mereka memutuskan untuk membuktikan ini dengan menjelaskan kepadanya bahwa orang mati tidak akan mengucurkan darah, hanya orang yang masih hidup yang berdarah. Setelah melihat otopsi, mendengarkan penjelasan cara kerja sistem peredaran darah dan membaca buku-buku kedokteran, sang pasien sakit jiwa akhirnya mengatakan, “Baik, hanya orang yang masih hidup yang mengucurkan darah.”

Begitu pasien itu mengakui kebenaran ini, salah satu dokter mengeluarkan peniti dan menusukkannya ke pembuluh darah pasien itu. Para dokter berseru, “Kamu berdarah. Kamu berdarah! Jadi apa artinya?”

Pasian sakit jiwa itu melihat tangannya yang mengeluarkan darah dan berseru. “TERNYATA ORANG MATI BISA JUGA BERDARAH!”

Dalam pikiran pasien sakit jiwa itu: dia sudah MATI Namun apa yang ada dalam pikirannya tidak berkaitan dengan kenyataan.2

Islam memiliki masalah yang serupa. Klaimnya bahwa Yesus tidak mati di salib tidaklah berdasarkan kenyataan. Klaim itu tidak berdasarkan sejarah.

Mencermati fakta-fakta yang ada secara jujur akan menghasilkan kesimpulan bahwa Alkitab Kristen lebih baik dari Qur’an karena bukti-bukti yang lebih baik yang membuktinya kematian Yesus di salib.

Saya mengajak Anda untuk menerima kekristenan sebagai kebenaran dan satu-satunya jalan keselamatan. Yesus berkata, “Karena itu tadi Aku berkata kepadamu, bahwa kamu akan mati dalam dosamu; sebab jikalau kamu tidak percaya, bahwa Akulah Dia, kamu akan mati dalam dosamu” (Yohanes 8:24). Percayalah kepada Yesus, terima baptisan untuk pengampunan dosa dan Anda bisa yakin bahwa Anda akan mewarisi hidup yang kekal. Kepastian ini berdasarkan pada apa yang telah dikerjakan Allah dalam dunia nyata dalam kaitannya dengna kematian Yesus di salib, penguburan-Nya dan naik-Nya ke surga.

Footnotes

Hal ini penting karena orang-orang Islam percaya pada konsep yang disebut Itmam al-hujjah (istilah Arab untuk “bukti pamungkas/bukti yang tak dapat disangkal lagi”) Itmam al-hujah adalah keyakinan bahwa kebenaran agama telah diklarifikasikan secara sempurna oleh Rasul Allah. Dalam kaitan dengan kematian Yesus di salib – Yesus, Alkitab dan sejarah sudah jelas. Kalau Muhammad adalah Rasul Allah, maka jelas dia tidak membawa kejelasan atau “bukti pamungkas” dengan menyangkal peristiwa bersejarah kematian Yesus di salib. Tidak adanya kejelasan dari Muhammad dan bingungnya orang-orang Islam mengenai apa yang betul-betul terjadi saat penyaliban adalah bukti bahwa Muhammad bukanlah Rasul Allah. [↩]
Kisah ini diambil dari John Warwick Montgomery, “Death of the ‘Death of God,’” dalam Suicide of Christian Theology, 122. Yang dikatakan oleh Dr. Montgomerry adalah “jika Anda mempertahankan anggapan yang tidak sehat dengan gigih, fakta sama sekali tidak ada artinya bagi Anda.” [↩]

s4n7i
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Number of posts : 1658
Reputation : 8
Points : 3537
Registration date : 2011-12-28

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum