MURTADIN_KAFIRUN
Latest topics
» 10 myths—and 10 Truths—About Atheism
Wed 10 Oct 2018, 12:07 pm by admin

» Ajaran Cinta Kasih ala Islam...........
Wed 10 Oct 2018, 12:01 pm by admin

» Why We Critique Only Islam!
Wed 10 Oct 2018, 11:55 am by admin

» MUSLIMS DON'T GROW UP
Wed 10 Oct 2018, 11:49 am by admin

» Why Muslimas should not lead Muslim men in prayers?
Wed 10 Oct 2018, 11:39 am by admin

» The Islamic Psycho
Wed 10 Oct 2018, 11:36 am by admin

» What has ruined those countries ?
Wed 10 Oct 2018, 11:34 am by admin

» Saya Akui bahwa menjadi muslim (masuk islam) adalah hal yang membanggakan
Thu 31 May 2018, 6:30 pm by buncis hitam

» NABI ISLAM TIDAK PERNA EKSIS....SOSOK FIKTIF...
Tue 03 Apr 2018, 7:36 pm by kuku bima

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 10 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 10 Guests :: 2 Bots

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed 26 May 2010, 4:49 pm
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking digg  Social bookmarking delicious  Social bookmarking reddit  Social bookmarking stumbleupon  Social bookmarking slashdot  Social bookmarking yahoo  Social bookmarking google  Social bookmarking blogmarks  Social bookmarking live      

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Hak Yahudi atas Tanah Israel

Go down

Hak Yahudi atas Tanah Israel

Post by donny.wiguna on Mon 29 Dec 2008, 4:30 pm

Hak Yahudi atas Tanah Israel
http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/History/ The_Jewish_Claim_To_The_Land_Of_Israel.html

Banyak orang salah kaprah dengan mengatakan bahwa orang-orang Yahudi dipaksa keluar dari tanah mereka oleh tentara Romawi setelah Kuil Kedua mereka di Yerusalem dihancurkan tahun 70 M. Lalu menurut pengertian sejarah salah kaprah ini; 1.800 tahun kemudian, tiba-tiba orang-orang Yahudi kembali ke Palestina dan menuntut kembali tanah airnya. Faktanya adalah : orang-orang Yahudi tetap mempertahankan tanah air mereka selama 3.700 tahun. Bahasa nasional dan kebudayaan khas Yahudi tetap bertahan di wilayah itu.

Yahudi menganggap Israel sebagai tanah airnya berdasarkan empat hal :
1. Tuhan sendiri yang menjanjikan tanah warisan ini kepada Abraham
2. Orang-orang Yahudi tetap hidup disitu dan merawat daerah itu
3. Pemberian kedaulatan penuh oleh PBB kepada Yahudi di Palestina
4. Penguasaan daerah berdasarkan perang bela diri.

Istilah “Palestina” dipercaya diambil dari kata Filistine, yakni merujuk pada orang-orang Aegea yang pada abad 12 SM tinggal di tepi Mediterania yang sekarang dikenal sebagai Israel dan Jalur Gaza. Abad 2M, setelah menghancurkan pemberontakan Yahudi, Pemerintah Romawi untuk pertama kalinya memberi nama Palestina pada tanah Yudea (bagian selatan Israel yang sekarang dikenal sebagai Tepi Barat) dalam usaha untuk menciutkan identitas Yahudi dengan tanah Israel. Kata Arab “Filastin” diambil dari nama Latin ini.

Sejak tahun 1000 SM, ke-12 suku Israel sudah membentuk kerajaan pertama di Palestina. Raja kedua, yakni David, menentukan Yerusalem sebagai ibu kota. Meskipun akhirnya Palestina pecah jadi dua kerajaan, kemerdekaan orang Yahudi tetap berlangsung sampai 212 tahun. Jangka waktu ini hampir sama dengan lamanya kemerdekaan Amerika Serikat sekarang.

Bahkan setelah dihancurkannya Kuil Kedua di Yerusalem dan saat awal pengasingan, orang-orang Yahudi tetap hidup di Palestina dan beranak-pinak. Abad ke 9M, terdapat masyarakat Yahudi dalam jumlah besar di Yerusalem dan Tiberias. Abad ke 11M, masyarakat Yahudi berkembang di Rafah, Gaza, Ashkelon, Jaffa dan Caesarea. Abad ke 12, banyak orang Yahudi dibantai oleh para tentara Perang Salib, tapi mereka dapat berkembang lagi dalam dua abad selanjutnya dengan datangnya para rabi dan peziarah Yahudi dalam jumlah besar ke Yerusalem dan Galilea. Para rabi terkemuka membentuk masyarakat Yahudi di Safed, Yerusalem dan di daerah lain selama 300 tahun berikutnya.

Awal abad ke 19 sebelum kelahiran gerakan Zionist modern, lebih dari 10.000 orang Yahudi telah hidup di daerah yang sekarang dikenal sebagai Israel. Ketika orang-orang Yahudi mulai berdatangan ke Palestina dalam jumlah besar di tahun 1882, kurang dari 250.000 Arab hidup di sana, dan kebanyakan dari mereka datang dalam dekade akhir. Palestina tidak pernah jadi suatu negara Arab yang berdaulat, meskipun perlahan-lahan bahasa Arab jadi bahasa yang paling banyak digunakan setelah penyerangan Muslim di abad ke tujuh. Tidak pernah ada negara Arab atau Palestina yang berdaulat di Palestina.

Ahli sejarah Arab terkemuka AS, Prof. Phillip Hitti dari Universitas Princeton, membuat pengakuan di depan Anglo-American Committee di tahun 1946, dengan mengatakan : Tidak pernah ada 'Palestina' dalam sejarah, sama sekali tidak. Memang, Palestina juga tidak pernah ditulis dengan tegas dalam Qur’an, yang disebut adalah “tanah suci” (al-Arad al-Muqaddash).

Sebelum adanya pembagian daerah, orang-orang Arab Palestina tidak melihat diri mereka punya identitas yang terpisah. Tapi ketika First Congress of Muslim-Christian Associations bertemu di Yerusalem di bulan Februari 1919 untuk memilih wakil-wakil Palestina untuk Konferensi Perdamaian Paris, pernyataan berikut diumumkan : Kami merasa Palestina adalah bagian dari Syria Arab, karena bagian ini tidak pernah terpisah dari Syria dalam waktu kapanpun. Kami berhubungan dengan Syria secara kenegaraan, agama, bahasa, ekonomi dan ikatan daerah.

Tahun 1937, pemimpin Arab setempat, Auni Bey Abdul-Hadi, menyatakan Peel Commission yang pada prinsipnya menuntut bagian Palestina : “Tidak ada negara (Palestina)! Kata ‘Palestina’ itu diciptakan oleh Zionist! Tidak ada kata Palestina dalam Alkitab. Tanah air kami sejak berabad-abad merupakan bagian dari Syria.”

Wakil Arab Higher Committee untuk PBB mengajukan pernyataan di General Assembly di bulan May 1947 yang menyatakan bahwa “Palestina merupakan bagian dari Propinsi Syria” dan karenanya, “secara politis, orang-orang Arab Palestina tidak terpisah dari Syria dan tidak bisa membentuk kesatuan politis yang terpisah dari Syria.” Beberapa tahun kemudian, Ahmed Shuqeiri, yang lalu jadi ketua PLO, mengatakan pada Security Council : “Sudah jadi pengetahuan umum bahwa Palestina adalah bagian selatan Syria.”

Nasionalisme Arab Palestina kebanyakan muncul setelah Perang Dunia I. Tapi ini tidak jadi gerakan politik yang bermakna sampai terjadi Perang Enam Hari di tahun 1967 dan Israel menguasai Tepi Barat.

“Surat Tanda Lahir” Israel secara internasional disahkan oleh janji Tuhan dalam Alkitab; masyarakat Yahudi yang tinggal terus menerus di Israel sejak jaman Yoshua sampai saat ini; Deklarasi Balfour di tahun 1817; Mandat Liga Bangsa-Bangsa, yang berhubungan dengan Deklarasi Balfour; partition resolution PBB tahun 1947; diterimanya Israel di PBB tahun 1949; pengakuan atas negara Israel oleh sebagian besar dunia; dan yang terpenting dari semuanya, masyarakat yang diciptakan oleh orang-orang Israel selama berpuluh-puluh tahun berkembang menjadi suatu negara yang dinamis.

donny.wiguna
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 14
Reputation : 0
Points : 3581
Registration date : 2008-12-29

View user profile

Back to top Go down

Re: Hak Yahudi atas Tanah Israel

Post by donny.wiguna on Mon 29 Dec 2008, 4:30 pm

Kami bukan Yahudi/situs Yahudi seperti yang sering dituduhkan Muslim yang sering OOT. Tapi boleh dong mendengar cerita salah satu musuh Islam ? Apa uneg-uneg mereka ? Khan kita (muslim murtad & Yahudi) sama-sama diserang Islam, jadi perlu konsolidasi kekuatan, gitu !

http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/myths/mf2.html#a

Myths & Facts Online
The Mandatory Period/Masa Mandat PBB Inggris di Palestina
By Mitchell G. Bard

----------------------------------------------------------------------

“Inggris membantu Yahudi mendepak Arab, penduduk asli Palestina.”
“Inggris membiarkan arus imigrasi Yahudia membanjiri Palestina sementara imigrasi Arab dijaga ketat.”
“Inggris mengubah kebijakan mereka setelah PD II untuk mengijinkan korban-korban NAZI tinggal di Palestina.”
“Semakin meningkat jumlah penduduk Yahudi di Palestina, semakin buruk nasib Arab Palestina.”
“Yahudi mencuri tanah Arab.”
“Inggris membantu Palestina hidup damai dengan Yahudi.”
“Mufti tidak anti-Semitik.”
“Kaum Irgun mem-bom Hotel King David Hotel sebagai bagian teror mereka melawan penduduk sipil.”


MITOLOGI PERTAMA :
Orang Inggris membantu Yahudi mendepak penduduk Arab asli Palestina.

FAKTA :
Herbert Samuel, Yahudi Inggris pertama yang menjadi High Commissioner of Palestine, malah membatasi imigrasi Yahudi demi kepentingan penduduk yang ada dan KAPASITAS PENYERAPAN (absorption capacity) negara itu. (1) Masuknya arus Yahudi dikatakan memaksakan Fellahin Arab (petani asli) dari tanah mereka. Padahal ini tadinya kawasan yang dihuni kurang dari 1 juta orang dan sekarang sanggup menampung lebih dari 9 juta jiwa.

Inggris sebenarnya membatasi kapasitas penyerapan Palestina dengan membagi dua (partitioning) negara itu.

Tahun 1921, Colonial Secretary Winston Churchill mengambil kira-kira 4/5 bagian Palestina, sekitar 35.000 mil persegi, bagi terciptanya Transjordan, negara Arab baru. Churchill menghadiahkan Abdulah, putera Sherif Hussein (dari Saudi), karena sumbangannya dalam perang melawan Turki, dengan jabatan Emir Transjordan. Wilayah Hejaz dan Arabia (sekarang dikenal dengan Arab Saudi) diberikan kepada keluarga Saud.

Inggris juga membatasi Yahudi membeli tanah Palestina yang masih tersisa. Pada tahun 1949, Inggris memberikan 87.500 acres dari 187.500 acres tanah pertanian kepada Arab. Hanya 4.250 acres diberikan kepada Yahudi. (2)

Pada akhirnya, Inggris mengakui bahwa argumen tentang kapasitas penyerapan hanyalah dibuat-buat. The Peel Commission mengatakan : Imigrasi besar-besaran pada tahun 1933-36 menunjukkan bahwa Yahudi mampu memperbesar KAPASITAS PENYERAPAN negeri itu bagi orang Yahudi. (3)


MYTH KEDUA :
Inggris mengijinkan Yahudi membanjiri Palestina sementara imigrasi Arab dijaga ketat.

FAKTA :
Cara-cara Inggris mengatur imigrasi Yahudi adalah guna menenangkan Arab (appeasing the Arabs), yang disusul dengan batas waktu Mandat Inggris di Palestina. Inggris membatasi arus imigrasi Yahudi, sementara membiarkan Arab memasuki wilayah Palestina secara bebas. Ternyata London lupa (!) menerapkan rumus KAPASITAS PENYERAPAN pada arus imigran Arab.

Selama PD I, penduduk Yahudi di Palestina berkurang akibat perang, kelaparan, penyakit dan pengusiran oleh Turki. Pada tahun 1915, kira-kira 83.000 Yahudi tinggal di Palestina diantara 590.000 Arab Muslim dan Kristen.

Menurut sensus 1922, penduduk Yahudi hanya 84.000, sementara Arab berjumlah 643.000. (4) Jadi, penduduk Arab tumbuh pesat, sementara Yahudi mengalami stagnasi.

Pertengahan tahun 20-an, imigrasi Yahudi ke Palestina meningkat akibat UU ekonomi anti-Yahudi di Polandia & pembatasan/quota imigran oleh Washington. (5)

Jumlah rekor imigran tahun 1935 (lihat tabel dibawah) adalah akibat perlakuan Nazi terhadap Yahudi. Pemerintah Inggris menganggap jumlah ini terlalu besar dan tahun 1936, the Jewish Agency diberitahu agar menerapkan quota kurang dari 1/3 jumlah calon imigran. (6)

Tahun 1939, Inggris terus MENYERAH kepada tuntutan Arab dengan mengumumkan RUU bagi dibentuknya sebuah negara Arab merdeka dalam waktu 10 tahun dan bahwa imigrasi Yahudi dibatasi sampai 75.000 dalam 5 tahun berikut ini, dalam waktu mana Yahudi akan hilang seluruhnya. RUU ini juga melarang pembelian tanah oleh Yahudi atas 95 % wilayah Palestina. Namun demikian pihak Arab tetap menolak RUU tersebut.

Imigrasi Yahudi ke Palestina (7)

1919 1,806
1920 8,223
1921 8,294
1922 8,685
1923 8,175
1924 13,892
1925 34,386
1926 13,855
1927 3,034
1928 2,178
1929 5,249
1930 4,944
1931 4,075
1932 12,533
1933 37,337
1934 45,267
1935 66,472
1936 29,595
1937 10,629
1938 14,675
1939 31,195
1940 10,643
1941 4,592

Sementara, semasa seluruh Mandat Inggris di Palestina, imigrasi Arab tidak dibatasi. Tahun 1930, the Hope Simpson Commission, yang diutus dari London guna menyelidiki huru-hara Arab tahun 1929, mengatakan bahwa praktek membiarkan imigrasi gelap orang Arab dari Mesir, Transjordan dan Syria berakibat terdepaknya calon imigran Yahudi.

Gubernur Inggris untuk Sinai tahun 1922-36 mengamati : Imigrasi gelap Arab ini tidak saja berlangsung dari Sinai, tetapi dari Transjordan dan Syria, dan sangat sulit mengatasi kesengsaraan Arab jika pada saat bersama, saudara-saudara mereka dari negara-negara tetangga turut menyumbang pada kesengsaraan tersebut. (9)

The Peel Commission melaporkan pada tahun 1937 bahwa kekurangan tanah ... bukan akibat jumlah tanah yang didapatkan Yahudi, tetapi lebih akibat meningkatnya populasi Arab. (10)


MYTH KETIGA :
Inggris mengubah kebijakan mereka setelah PD II untuk membiarkan korban-korban Holocaust yang selamat untuk menempati Palestina.

FAKTA :
Selama perang, pintu Palestina tetap tertutup bagi Yahudi, mengakibatkan ratusan ribu Yahudi di Eropa terlunta-lunta, kebanyakan dari mereka korban "Final Solution" Hitler. Setelah PDII, Inggris masih juga menolak para korban Nazi mendapatkan tempat di Palestina. Tanggal 6 Juni 1946, Presiden Truman mendesak Inggris agar mengurangi kesengsaraan Yahudi yang tersebar di kamp-kamp di Eropa dengan segera menerima 100,000 imigran Yahudi. Menlu Inggris, Ernest Bevin, menjawab dengan sinis bahwa AS ingin Yahudi tak bertanah ini agar berimigrasi ke Palestina karena AS tidak mau membiarkan terlalu banyak Yahudi berkeliaran di NY. (11)

Beberapa Yahudi berhasil mencapai Palestina, dengan cara diselundupkan dalam kapal tak layak layar yang sering digunakan organisasi pejuang Yahudi. Antara Agustus 1945 dan pendirian negara Israel bulan Mei 1948, 65 perahu imigran “illegal” ini mengangkut 69.878 orang, tiba dari pelabuhan-pelabuhan Eropa. Namun bulan Agustus 1946, Inggris memulai meng-intern mereka yang ditemukan di bekas kamp Nazi ke kamp-kamp di Cyprus. Kira-kira 50.000 orang ditahan di kamp-kamp, 28.000 dari mereka masih berada di kamp saat Israel menyatakan kemerdekaan. (12)


MYTH KEEMPAT :
Dengan meningkatnya penduduk Yahudi di Palestina, nasib Arab Palestina semakin memburuk.

FAKTA :
Penduduk Yahudi meningkat dengan 470.000 antara PD I dan PD II, sementara penduduk non-Yahudi meningkat dengan 588.000. (13) Kenyataannya, penduduk permanen Arab meningkat 120 % antara 1922 dan 1947. (14)

Pertumbuhan pesat ini akibat beberapa faktor; imigrasi dari negara-negara tetangga — sampai mencapai 37 % dari total imigrasi masa pra-pembentukan Israel — oleh Arab yang ingin mengambil manfaat dari tingginya standar hidup yang dimungkinkan oleh Yahudi. (15)

Jumlah penduduk Arab juga meningkat karena perbaikan kondisi hidup oleh Yahudi setelah Yahudi membersihkan daerah-daerah sarang malaria dan mengadakan perbaikan sanitasi dan kesehatan. Contoh, tingkat kematian anak Muslim (Muslim infant mortality rate) jatuh dari 201 per 1000 anak pada tahun 1925 ke 94 per 1000 anak pada tahun 1945. Tingkat harapan hidup (life expectancy) meningkat dari 37 tahun pada tahun 1926 menjadi 49 tahun pada tahun 1943. (16)

Jumlah penduduk Arab meningkat di kebanyakan kota dimana penduduk Yahudi membuka kesempatan ekonomi baru. Dari 1922-1947, penduduk non-Yahudi meningkat 290 % di Haifa, 131 % di Jerusalem dan 158 % di Jaffa. Bandingkan dengan pertumbuhan penduduk Arab di kota-kota dengan mayoritas Arab : 42 % di Nablus, 78 % di Jenin dan 37 % di Bethlehem. (17)

donny.wiguna
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 14
Reputation : 0
Points : 3581
Registration date : 2008-12-29

View user profile

Back to top Go down

Re: Hak Yahudi atas Tanah Israel

Post by donny.wiguna on Mon 29 Dec 2008, 4:31 pm

MYTH KEENAM :
YAHUDI CURI TANAH ARAB.

FAKTA :
Terlepas dari kenyataan meningkatnya penduduk mereka, Arab bersikeras bahwa mereka didepak dari tanah mereka. Faktanya adalah bahwa sejak permulaan PD I, sebagian tanah Palestina dimiliki oleh pemilik tanah ‘in absentia’ yang tinggal di Cairo, Damaskus dan Beirut. Sekitar 80% Arab Palestina adalah petani dengan banyak hutang, semi-nomad dan Bedouin. (18)

Yahudi sebenarnya sangat hati-hati agar tidak membeli tanah di kawasan milik Arab. Mereka membeli tanah yang sebagian besar belum dimanfaatkan, tanah tergenang, murah dan paling penting, tanpa penduduk. Tahun 1920, pemimpin Zionis partai Buruh, David Ben-Gurion, mengungkapkan kekhawatirannya tentang para Arab fellahin, yang dianggapnya “asset paling penting milik penduduk asli.” Ben-Gurion mengatakan “Bagaimanapun kita tidak boleh menyentuh tanah yang dimiliki atau dipekerjakan para fellahin.” Ia membantu membebaskan mereka dari penindas finansial mereka. “Hanya jika seorang fellah ingin meninggalkan tempatnya,” kata Ben-Gurion, “boleh kita menawarkan untuk membeli tanahnya, dengan harga yang pantas.” (19)

Hanya setelah Yahudi membeli semua tanah yang belum dimanfaatkan, mulailah mereka membeli tanah yang sudah dipekerjakan. Banyak Arab ingin menjual tanah mereka karena ingin migrasi ke kota-kota dipinggir laut dan karena perlu uang untuk investasi dalam industri jeruk. (20)

Saat John Hope Simpson tiba di Palestine bulan Mai 1930, ia mengatakan : “Yahudi membayar tanah dengan harga tinggi, dan sebagai tambahan mereka memberikan uang kepada penduduk jumlah yang sebenarnya tidak diwajibkan secara hukum.” (21)

Tahun 1931, Lewis French mengadakan survey orang-orang tidak bertanah (landlessness) dan menawarkan tanah-tanah baru kepada Arab yang kehilangan tanah ("dispossessed"). Inggris menerima lebih dari 3.000 permohonan, dimana 80 % dianggap tidak sah karena bukan merupakan Arab tak bertanah. Akhirnya tinggal sekitar 600 Arab tidak bertanah, 100 dari mereka menerima tawaran tanah Pemerintah. (22)

Bulan April 1936, pecah lagi serangan Arab terhadap Yahudi yang dipanas-panasi gerilyawan Syria bernama Fawzi al­Qawukji, panglima Arab Liberation Army. Bulan November, saat Inggris mengirimkan komisi penyelidikan baru yang diketuai Lord Peel, 89 yahudi dibunuh dan lebih dari 300 luka-luka. (23)

Laporan Peel Commission menunjukkan bahwa keluhan Arab tentang pencaplokan tanah oleh Yahudi tidak berdasar (baseless). Katanya, “Kebanyakan tanah yang ditumbuhi pohon jeruk dulunya tanah gersang atau tergenang ... pada saat pembelian tanah tidak ada bukti bahwa pemilik memiliki sumber maupun kemampuan untuk mengembangkan tanah tersebut.” (24) Komisi juga menemukan bahwa kekurangan tanah adalah “bukan karena jumlah tanah yang didapatkan Yahudi tetapi lebih akibat meningkatnya penduduk Arab.”

Disimpulkan bahwa kehadiran Yahudi di Palestina, bersamaan dengan upaya Otoritas Sementara Inggris, membawa peningkatan penghasilan, standar hidup dan kesempatan pekerjaan. (25)

Dalam memoir-nya, Raja Abdullah dari Transjordan menulis :
“Kita semua bisa melihat jelas, baik dari peta yang disusun the Simpson Commission dan Laporan the Peel Commission, bahwa Arab sangat boros dalam menjual tanah mereka, serupa dengan kemampuan mereka dalam MENGELUH dan MERATAP.” (26)

Bahkan pada saat huru-hara Arab tahun 1938, the British High Commissioner to Palestine percaya bahwa para pemilik tanah Arab mengeluh tentang penjualan tanah kepada Yahudi dengan sengaja agar mengakibatkan meningkatnya harga tanah mereka yang ingin mereka jual.

Banyak pemilik tanah Arab saking takutnya diteror para pemberontak Arab sehingga mereka memutuskan untuk meninggalkan Palestina dan menjual tanah mereka kepada Yahudi. (27)

Yahudi membayar harga sangat tinggi kepada pemilik tanah kaya bagi tanah secuil dan kering. “Tahun 1944, Yahudi membayar antara $1,000 dan $1,100 per acre di Palestina. Kebanyakan tanah kering atau semi- kering. Sebagai perbandingan, pada tahun yang sama, tanah subur di Iowa (AS) hanya seharga $110 per acre.” (28)

Tahun 1947, kepemilikan Yahudi terhadap Palestina berjumlah 463.000 acres. Sekitar 45.000 dari jumlah diatas dibeli dari Pemerintahan Sementara (Pemerintahan Mandat Inggris); 30.000 dari berbagai gereja dan 387.500 dari Arab. Analisa pembelian tanah dari tahun 1880-1948 menunjukkan bahwa 73 % tanah Yahudi dibeli dari pemilik tanah kaya dan bukan dari FELLAHIN melarat. (29) Mereka yang menjual tanah termasuk walikota Gaza, Jerusalem dan Jaffa. As'ad el­Shuqeiri, pakar agama Islam dan ayah ketua PLO Ahmed Shuqeiri, menerima uang Yahudi atas tanahnya. Bahkan Raja Abdullah menyewakan tanahnya kepada Yahudi. Malahan, banyak pemimpin gerakan nasionalis Arab, termasuk anggota Dewan Tinggi Muslim (Muslim Supreme Council), menjual tanah kepada Yahudi. (30)


MITOLOGI KETUJUH :
Inggris membantu orang-orang Palestina agar hidup damai dengan Yahudi.

FAKTA :
Tahun 1921, Haji Amin al-Husseini adalah orang pertama yang mengorganisasikan FEDAYEEN ("orang yang mengorbankan diri sendiri") untuk menteror Yahudi. Haji Amin mencoba mencontek Kemal Atatürk (dari Turki yang sukses mengusir Yunani dari negaranya), dengan mengusir Yahudi dari Palestina. (31)

Kaum Arab radikal sanggup menang pengaruh karena administrasi Inggris enggan mengambil tindakan efektif melawan mereka sampai mereka akhirnya berperang melawan kuasa Inggris. Colonel Richard Meinertzhagen, mantan intel militer Inggris di Kairo dan kemudian Chief Political Officer bagi Palestina dan Syria, menulis dalam buku-harian mereka bahwa pejabat Inggris “mengarah kepada pengusiran Zionisme dari Palestina.” Malahan, Inggris mendukung orang Arab Palestina agar menyerang Yahudi.

Menurut Meinertzhagen, Col. Walters Taylor (penasehat keuangan Military Administration di Palestina tahun 1919-23) bertemu dengan Haji Amin beberapa hari sebelum Paskah pada tahun 1920, dan mengatakan kepada haji tersebut bahwa ia memiliki kesempatan besar pada masa Paskah ini untuk menunjukkan dunia bahwa Zionisme tidak disukai -- bukan saja oleh Administrasi Palestina tetapi juga oleh Whitehall (London). Dan jika ada huru hara dengan cukup kekerasan di Yerusalem pada saat Paskah, baik Jendral Bols [Chief Administrator in Palestine, 1919-20] dan Jendral Allenby [Commander of Egyptian Force, 1917-19, then High Commissioner of Egypt] akan mendorong ditinggalkannya tanah Yahudi. Walters Taylor menjelaskan bahwa kebebasan hanya didapatkan melalui kekerasan. (32) Haji Amin menerima nasehat kolonel itu dan meng-instigasi huru hara. Inggris menarik pasukan mereka dan polisi Yahudi dari Yerusalem, membiarkan massa Arab menyerang Yahudi dan toko-toko mereka. Karena peranan penting Haji Amin dalam meng-instigasi pogrom ini, Inggris memutuskan untuk menangkapnya. Tapi ia lolos, dan dihukum 10 tahun penjara in absentia.

Satu tahun kemudian, seorang pakar Arab dari Inggris meyakinkan High Commissioner Herbert Samuel untuk memaafkan Haji Amin dan menunjuknya sebagai Mufti. Padahal, Vladimir Jabotinsky dan sejumlah pengikutnya yang membentuk organisasi pembela Yahudi selama masa huru-hara itu dikenakan penjara 15 tahun. (33)

Samuel bertemu Haji Amin tanggal 11 April 1921, dan diyakinkan bahwa pengaruh keluarganya dan dirinya akan dibaktikan kepada kedamaian. Tiga (3) minggu kemudian, terjadi huru-hara di Jaffa dan tempat lainnya mengakibatkan kematian 43 Yahudi. (34)

Haji Amin mengkonsolidasikan kekuatannya dan menguasai semua dana yayasan keagamaan di Palestina. Ia menggunakan segala kekuasaannya untuk mengontrol mesjid, sekolah dan pengadilan. Tidak ada Arab yang dapat mencapai posisi penting tanpa menunjukkan kesetiaannya kepada sang Mufti. Kekuasaannya begitu absolut sampai tidak ada Muslim di Palestina yang dapat lahir atau mati tanpa keterlibatan Haji Amin. (35)

Algojo-algojo sang Mufti juga menjamin agar ia tidak memiliki lawan politik dengan membunuhi secara sistimatis semua orang Palestina dari clan-clan musuh yang mendiskusikan kerjasama dengan Yahudi.

Sebagai juru bicara kaum Arab Palestina, Haji Amin tidak meminta agar Inggris memberi mereka kemerdekaan. Malahan, dalam surat kepada Churchill tahun 1921, ia menuntut agar Palestina disatukan kembali dengan Syria dan Transjordan. (36)

Kaum Arab menganggap huru-hara sebagai alat politik efektif karena sikap Inggris yang lemah menerapkan kekerasan terhadap Yahudi. Dalam menangani setiap keributan, Inggris melakukan segala-galanya untuk menghindari kemampuan Yahudi untuk membela diri, tetapi berbuat sedikit untuk menghindari Arab menyerang Yahudi. Setiap kali ada kerusuhan, sebuah komisi penyidikan ala Inggris dibentuk untuk mencari sebab musabab kekerasan. Kesimpulannya selalu sama: Arab takut didepak Yahudi. Jadi, untuk menghindari huru-hara, komisi mengusulkan : agar imigrasi Yahudi dibatasi (!!). NAH, PIHAK ARAB KEMUDIAN MENYIMPULKAN BAHWA CARA TERBAIK MENGHENTIKAN ARUS IMIGRASI YAHUDI ADALAH DENGAN : MENGADAKAN HURU-HARA.

Siklus ini dimulai setelah serangkaian kerusuhan bulan Mei 1921. Setelah gagal melindungi komunitas Yahudi dari serangan massa Arab, Inggris menunjuk the Haycraft Commission untuk memeriksa akar kekerasan. Walaupun panel menyimpulkan bahwa Arab adalah pihak agresor, Inggris membenarkan alasan serangan itu: Sebab utama huru-hara adalah ketidakpuasan dan/atau permusuhan Arab terhadap Yahudi akibat politik, ekonomi, imigrasi Yahudi, dan lahirnya kebijakan Zionist ... (37) Huru-hara Arab selalu berakibat dibatasinya imigrasi Yahudi secara sementara.

Ketakutan Arab “diusir” atau “didominasi” dipakai sebagai alasan untuk melakukan serangan biadab terhadap penduduk sipil Yahudi yang tidak bersalah. Perhatikan bahwa huru-hara inipun tidak di-inspirasi oleh semangat nasionalisme — karena kalau memang begitu mereka akan berontak terhadap Kuasa Inggris — melainkan akibat alasan rasisme dan kebencian mendalam Arab.

Tahun 1929, para provokator Arab sukses meyakinkan masyarakat bahwa Yahudi memiliki rancangan/design pada Temple Mount (taktik yang diulang berkali-kali, yang terakhir pada tahun 2000 setelah kunjungan Ariel Sharon). Upacara keagamaan Yahudi di Tembok Barat, yang merupakan bagian dari Temple Mount, menjadi pemicu huru-hara Arab melawan Yahudi yang akhirnya meluap ke Yerusalem dan desa-desa sekelilingnya, termasuk Safed and Hebron.

Lagi-lagi, Administrasi Inggris tidak mengambil tindakan apapun untuk menghindari kekerasan dan, setelah pecahnya kerusuhan, Inggris tidak melakukan apa-apa untuk melindungi penduduk Yahudi. Baru setelah huru hara 6 hari, Inggris menurunkan pasukan untuk mengatasi kerusuhan. Pada saat ini, seluruh penduduk Yahudi Hebron mengungsi atau terbunuh. Total 133 Yahudi terbunuh dan 399 luka-luka dalam POGROM ini. (38)

Setelah lewatnya kerusuhan, Inggris memerintahkan investigasi yang menghasilkan the Passfield White Paper. Dikatakannya, kebijakan imigrasi, pembelian tanah dan penempatan penduduk Organisasi Zionis sudah, atau akan merugikan kepentingan Arab. Kami mengerti bahwa kewajiban Mandat adalah kepada masyarakat non-Yahudi; sumber-sumber Palestina harus dijaga bagi ekonomi Arab yang terus bertumbuh ... (39) Ini tentunya berarti bahwa penting untuk membatasi imigrasi Yahudi dan juga pembelian tanah.


MITOLOGI KEDELAPAN :
Mufti tidak anti-Semitik

FAKTA :
Tahun 1941, Haji Amin al-Husseini lari ke Jerman dan ketemu Adolf Hitler, Heinrich Himmler, Joachim Von Ribbentrop dan pemimpin Nazi lainnya. Ia ingin membujuk mereka agar menyebarkan program anti-Yahudi mereka kepada dunia Arab.

Mufti mengirim Hitler 15 rancangan deklarasi kepada Jerman dan Italia agar diterapkan kepada Timur Tengah. Bahkan ada yang menyerukan agar kedua negara menyatakan tidak sahnya keberadaan Yahudi di Palestina. Juga, agar mereka memberikan Palestina dan negara Arab lainnya hak untuk mengatasi masalah KEPENDUDUKAN YAHUDI di Palestina dan negara Arab lainnya sesuai dengan kepentingan Arab dan masalah ini diselesaikan di negara-negara Axis. (40)

Bulan November 1941, Mufti ketemu Hitler, dan mengatakan kepada sang Fuhrer bahwa Yahudi adalah musuhnya yang paling utama. Hitler menangkis permintaan Mufti bagi sebuah deklarasi mendukung Arab dengan mengatakan bahwa saatnya belum tepat. Mufti memberi Hitler ucapan terima kasih atas simpati yang selalu ditunjukkannya terhadap persoalan Arab, khususnya Palestina, yang disebutkannya secara khusus dalam pidato-pidatonya ... Arab di Jerman adalah teman-teman Hitler karena mereka memiliki musuh sama, yaitu ... YAHUDI.

Hitler menjawab :
Jerman berpihak pada perang tanpa kompromi melawan Yahudi. Ini secara natural mencakup oposisi aktif terhadap kediaman nasional Yahudi di Palestina ... Jerman akan memberikan bantuan positif dan praktis kepada kaum Arab yang terlibat dalam perjuangan yang sama ... Tujuan Jerman ... hanyalah penghancuran elemen-elemen Yahudi dalam dunia Arab ... Dan Mufti adalah juru bicara otoritatif bagi dunia Arab.

Sang Mufti mengucapkan terima-kasih sebesar-besarnya kepada Hitler. (41)

Tahun 1945, Yugoslavia mencoba menyeret sang Mufti sebagai kriminal perang (war criminal) atas perannya dalam merekrut 20.000 sukarelawan Muslim bagi SS, yang ikut serta membunuh Yahudi di Kroasia dan Hungaria. Ia lolos dari penjara Perancis, tahun 1946, dan lari ke Kairo dan kemudian Beirut, melanjutkan perangnya melawan Yahudi. Ia meninggal dunia tahun 1974.

donny.wiguna
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 14
Reputation : 0
Points : 3581
Registration date : 2008-12-29

View user profile

Back to top Go down

Re: Hak Yahudi atas Tanah Israel

Post by donny.wiguna on Mon 29 Dec 2008, 4:33 pm

http://arabwomanprogressivevoice.blogspot.com/


Wanita Palestina, sesuai dengan tradisi 3000 tahun


Wanita HAMAS, abad 20-21

MYTH KESEMBILAN :
Pasukan Irgun (Yahudi) mem-bom the King David Hotel sebagai bagian kampanye terornya atas penduduk sipil.
Irgun: http://www.jewishvirtuallibrary.org/jsource/History/irguntoc.html

FAKTA :
Hotel King David adalah lokasi komando militer Inggris dan Divisi Penyidikan Kriminal Inggris (the British Criminal Investigation Division). Pasukan Irgun memilihnya sebagai target setelah pasukan Inggris menginvasi the Jewish Agency tanggal 29 Juni 1946 dan menyita sejumlah besar dokumen. Pada saat yang sama, lebih dari 2.500 Yahudi dari seluruh Palestina ditahan. Informasi tentang operasi the Jewish Agency, termasuk aktivitas intel terhadap negara-negara Arab, dibawa ke Hotel King David.

Seminggu kemudian, berita pembunuhan masal 40 Yahudi dalam pogrom di Polandia mengingatkan Yahudi Palestina bagaimana kebijakan imigrasi ketat Inggris bisa mengakibatkan kematian ribuan Yahudi.

Pemimpin Irgun, Menachem Begin, menekankan keinginannya untuk menghindarkan korban sipil. Ia memperingatkan Inggris agar mereka mengosongkan gedung sebelum dihancurkan. 3 peringatan lewat telpon, satu kepada hotel, satu kepada konsulat Perancis dan ketiga kepada surat kabar the Palestine Post, memperingatkan mereka bahwa King David Hotel akan segera didetonasi.

Tanggal 22 Juli 1946, mereka semua ditelpon. Telpon di hotel ternyata diterima tetapi tidak digubris. Menachem Begin mengutip pejabat Inggris yang menolak mengosongkan gedung : Kami tidak mengikuti perintah yahudi. (42) Akibatnya, saat bom meledak, jumlah korban tinggi : 91 orang terbunuh dan 45 luka-luka. Diantara korban terdapat 15 Yahudi. Tidak banyak orang yang terdapat di hotel itu sendiri luka2. (43)

Bertentangan dengan serangan Arab melawan Yahudi, yang sering dipuji sebagai tindakan PAHLAWAN, the Jewish National Council mengecam pemboman the King David. (44)

Selama puluhan tahun, Inggris menolak bahwa mereka mendapat peringatan dini. Tahun 1979, namun demikian, anggota parlemen Inggris menyampaikan bukti bahwa Irgun memang mengeluarkan peringatan. Ia menawarkan kesaksian pejabat Inggris yang mendengar rekannya di the King David Hotel bergurau tentang ancaman Zionis terhadap markas mereka. Pejabat yang mendengarkan percakapan itu segera meninggalkan hotel itu dan selamat. (45)
-----------------------------------------------------------------------


Notes
01) Aharon Cohen, Israel and the Arab World, (NY: Funk and Wagnalls, 1970), p. 172; Howard Sachar, A History of Israel: From the Rise of Zionism to Our Time, (NY: Alfred A. Knopf, 1979), p. 146.
02) Moshe Auman, “Land Ownership in Palestine 1880-1948,” in Michael Curtis, et al., The Palestinians, (NJ: Transaction Books, 1975), p. 25.
03) Palestine Royal Commission Report (the Peel Report), (London: 1937), p. 300.[Henceforth Palestine Royal Commission Report].
04) Arieh Avneri, The Claim of Dispossession, (Tel Aviv: Hidekel Press, 1984), p. 28; Yehoshua Porath, The Emergence of the Palestinian-Arab National Movement, 1918-1929, (London: Frank Cass, 1974), pp. 17-18.
05) Porath (1974), p. 18.
06) Cohen, p. 53.
07) Yehoshua Porath, Palestinian Arab National Movement: From Riots to Rebellion: 1929-1939, vol. 2, (London: Frank Cass and Co., Ltd., 1977), pp. 17-18, 39.
08) John Hope Simpson, Palestine: Report on Immigration, Land Settlement and Development, (London, 1930), p. 126.
09) Palestine Royal Commission Report, p. 291.
10) Palestine Royal Commission Report, p. 242.
11) George Lenczowski, American Presidents and the Middle East, (NC: Duke University Press, 1990), p. 23.
12) Cohen p. 174.
13) Dov Friedlander and Calvin Goldscheider, The Population of Israel, (NY: Columbia Press, 1979), p. 30.
14) Avneri, p. 254.
15) Curtis, p. 38.
16) Avneri, pp. 264; Cohen p. 60.
17) Avneri, pp. 254-55.
18) Moshe Aumann, Land Ownership in Palestine 1880-1948, (Jerusalem: Academic Committee on the Middle East, 1976), p. 5.
19) Shabtai Teveth, Ben-Gurion and the Palestinian Arabs: From Peace to War, (London: Oxford University Press, 1985), p. 32.
20) Porath, pp. 80, 84.
21) Hope Simpson Report, p. 51.
22) Avneri, pp. 149-158; Cohen, p. 37; based on the Report on Agricultural Development and Land Settlement in Palestine by Lewis French, (December 1931, Supplementary; Report, April 1932) and material submitted to the Palestine Royal Commission.
23) Netanel Lorch, One Long War, (Jerusalem: Keter, 1976), p. 27; Sachar, p. 201.
24) Palestine Royal Commission Report (1937), p. 242.
25) Palestine Royal Commission (1937), pp. 241-242.
26) King Abdallah, My Memoirs Completed, (London, Longman Group, Ltd., 1978), pp. 88-89.
27) Porath (77), pp. 86-87.
28) Aumann, p. 13.
29) Abraham Granott, The Land System in Palestine, (London, Eyre and Spottiswoode, 1952), p. 278.
30) Avneri, pp. 179-180, 224-225, 232-234; Porath (77), pp. 72-73.
31) Jon Kimche, There Could Have Been Peace: The Untold Story of Why We Failed With Palestine and Again With Israel, (England: Dial Press, 1973), p. 189.
32) Richard Meinertzhagen, Middle East Diary 1917-1956, (London: The Cresset Press, 1959), pp. 49, 82, 97.
33) Samuel Katz, Battleground-Fact and Fantasy in Palestine, (NY: Bantam Books, 1977), pp. 63-65; Howard Sachar, A History of Israel: From the Rise of Zionism to Our Time, (NY: Alfred A. Knopf, 1979), p. 97.
34) Paul Johnson, Modern Times: The World from the Twenties to the Nineties, (NY: Harper & Row, 1983), p. 438.
35) Larry Collins and Dominique Lapierre, O Jerusalem!, (NY: Simon and Schuster, 1972), p. 52.
36) Kimche, p. 211.
37) Ben Halpern, The Idea of a Jewish State, (MA: Harvard University Press, 1969), p. 323.
38) Sachar, p. 174.
39) Halpern, p. 201.
40) “Grand Mufti Plotted To Do Away With All Jews In Mideast,” Response, (Fall 1991), pp. 2-3.
41) Record of the Conversation Between the Fuhrer and the Grand Mufti of Jerusalem on November 28, 1941, in the Presence of Reich Foreign Minister and Minister Grobba in Berlin, Documents on German Foreign Policy, 1918-1945, Series D, Vol. XIII, London, 1964, p. 881ff in Walter Lacquer and Barry Rubin, The Israel-Arab Reader, (NY: Penguin Books, 2001), pp. 51-55.
42) Menachem Begin, The Revolt, (NY: Nash Publishing, 1977), p. 224.
43) J. Bowyer Bell, Terror Out Of Zion, (NY: St. Martin's Press), p. 172.
44) Anne Sinai and I. Robert Sinai, Israel and the Arabs: Prelude to the Jewish State, (NY: Facts on File, 1972), p. 83.
45) Benjamin Netanyahu, ed., "International Terrorism: Challenge And Response," Proceedings of the Jerusalem Conference on International Terrorism, July 2­5, 1979, (Jerusalem: The Jonathan Institute, 1980), p. 45.)

Photo Credits: Israeli Government National Photo Collection


To receive a weekly myth and fact and periodic fact sheets by email, send a request to mgbard@aol.com

donny.wiguna
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 14
Reputation : 0
Points : 3581
Registration date : 2008-12-29

View user profile

Back to top Go down

Re: Hak Yahudi atas Tanah Israel

Post by Tom Jerry on Tue 13 Sep 2011, 3:53 pm

sundul...

_________________
"Akulah jalan (yang lurus) dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Allah, kalau tidak melalui Aku.” (Yohanes 14:6)

"Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:31-32)

Trinitas dan Ketuhanan Yesus tidak bisa dipahami, hanya bisa ter-imani dengan pertolongan dari Roh Kudus… Ini adalah iman, ini adalah kepercayaan… Namun demikian jika iman atau kepercayaan ini tidak bisa dipahami, bukanlah berarti Allah SWT yang ada di Islam pastilah Tuhan…!!! (My Opinion)
avatar
Tom Jerry
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Male
Number of posts : 1829
Location : Jakarta
Job/hobbies : Cari kebenaran
Reputation : 11
Points : 5223
Registration date : 2010-09-21

View user profile

Back to top Go down

Re: Hak Yahudi atas Tanah Israel

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum