MURTADIN_KAFIRUN

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 13 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 13 Guests :: 1 Bot

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 3:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Syafa'atun Aisya: Habib!

View previous topic View next topic Go down

Syafa'atun Aisya: Habib!

Post by feifei_fairy on Mon Aug 09, 2010 3:32 pm

Mbak, gak bisa lewat situ. Ditutup..”

“Trus
lewat
mana?” Saya pasang muka bodoh.

“Coba gang sebelah
sana..”

“Saya abis dari sana tadi. Gak bisa lewat juga.”
Saya
berkeras.

“Tapi ini dah ditutup. Ada pengajian. Coba aja
lewat
kalau mau.”

”Pengajian kok bikin repot.” Saya mendengus
kesal.
Berlalu mencari jalan lain menuju rumah.

Saya sudah tak
mampu
menahan rasa kesal. Ini Jumat malam. Saya baru saja lepas dari
kemacetan
lalu lintas yang biasa hinggap menjelang weekend tiba. Ditambah
lagi baru
saja lepas hujan petang tadi. Lengkap sudah. Kemacetan yang
sempurna.


Saya seret kaki saya berputar-putar mencari jalan
alternatif.
Wajah merengut, berkeringat. Dengan beban tas berisi laptop serta
beberapa
buku di bahu saya. Dalam kondisi normal, jarak dari muka jalan
tempat saya
dihalau beberapa laki-laki yang berjaga dengan rumah saya tak
lebih dari
300 meter saja. Dengan mulut gang lumayan besar. Biasa dipakai
mobil
berlalu lalang menuju jalan utama. Jalan Raya Bogor.

Beberapa

motor juga biasa nongkrong di mulut gang sebagai pangkalan ojek.
Tapi
malam itu beberapa tukang ojek rupanya telah beralih menjadi
penjaga gang
hingga tak bisa dilewati kendaraan. Bahkan untuk pejalan kaki yang
bukan
jamaah pengajian seperti saya. Perempuan tak berkerudung, memakai
rok
selutut dan kaus lengan pendek dengan potongan leher yang rendah.
Sempat
saya nekat ingin lewat, tapi hampir dapat dipastikan akan menjadi
santapan
mata gratis jamaah pengajian. Menjadi contoh yang baik bagi jamaah
yang
membutuhkan prototype perempuan penghuni neraka jahanam.


Saya susuri tepi jalan raya yang sudah sesak dengan
pedagang
dadakan. Gelaran barang dagangan berimpit-impitan. Botol-botol
kecil
minyak wangi yang baunya tak pernah saya sukai tapi dipercaya
beraroma
surgawi, kaset-kaset murotal, kopiah, gambar-gambar kaligrafi,
baju-baju
gamis dan pakaian takwa lainnya.

Pemuda-pemuda tanggung
dengan baju
koko putih dan kopiah bulat putih berseliweran. Berbicara dengan
sapaan
”ane-ente” pada lawan bicaranya. Sementara para perempuan tampak
ber-abaya
hitam, persis meniru gaya pakaian perempuan timur tengah.


***

Suara dentuman mercon dan kembang api
membangunkan
tidur saya. Rasa penat dan kesal telah melelapkan saya tanpa
sempat
membasuh muka dan berganti pakaian.

Jam dua belas malam.
Dentuman
mercon berganti dengan suara pada mikrofon yang mempersilahkan
seorang
habib menyampaikan tausiyahnya. Suaranya terdengar seperti suara
Uje.
Ustad muda mantan model dan laris muncul di teve.

Suara
stereo
microfon sempat menggoda saya untuk mendatangi pengajian yang
telah
menutup jalan itu. Tapi saya malas berganti pakaian dengan yang
lebih
tertutup.

Pikiran nakal untuk nekat datang dengan pakaian
yang
melekat di badan kembali menggoda saya. Toh hanya beberapa langkah
saja ke
arah sumber suara. Saya buka pintu dan melihat beberapa tetangga
yang
berkerumun di depan rumah. Beberapa ikut mendengarkan ceramah.
Yang lain
asik ngobrol sendiri. Beberapa pemuda tanggung duduk-duduk menjaga
palang
yang difungsikan sebagai penutup jalan.

Melihat kerumunan
orang
dengan pakaian a la Timur Tengah nyali saya ternyata menciut juga.

Kehadiran saya yang seperti si manis jembatan ancol versi modern
tentu
akan segera menjadi santapan empuk para mata yang tengah mencari
contoh
paling baik perempuan laknat penuh dosa.

Rasa penasaran
kemudian
cukup saya tuntaskan pada longokan kepala lewat jendela rumah.


Sebuah panggung tampak berdiri tepat di tengah jalan.
Inilah
alasan mengapa jalan ditutup. Dekorasi gambar mesjid berkubah dan
alam
padang pasir menghampar pada sekat-sekatnya. Dengan sudut pandang
terbatas
saya hanya bisa menyaksikan kerumunan laki-laki berkoko dan pecih
bulat
putih. Jamaah perempuan mungkin di belakang. Posisi yang jamak
terjadi.
Berada di shaf belakang dan tak terlihat.

Kerumunan itu
seakan
ingin menunjukkan, inilah kami, umat islam yang mayoritas itu.
Jangan
macam-macam dengan kami. Saya membayangkan para pemuda tanggung
itu.
Banyak yang putus sekolah dan tak ada kerja. Beberapa sering
nongkrong
menghabiskan malam. Disulut sedikit saja tentu akan mudah
memancing emosi
mereka. Pemuda-pemuda yang juga harus berjuang melawan godaan
serbuan
narkoba yang sudah masuk sampai ke pelosok. Juga tayangan mesum
yang mudah
di dapat lewat warnet-warnet di ujung gang.

***

”Pengajian

apaan sih semalam?” saya bertanya ketus pada ayah saya.

”Ya

biasalah. Anak-anak muda ngundang habib,” ayah saya menjawab
santai.

”Kenapa nutup jalan gitu? Mau lewat aja susah”.
Rasa kesal
saya masih belum pupus.

”Namanya juga syiar. Ngundang
massa..”


”Kenapa gak di mesjid aja? Kan ada mesjid gede..”

”Ya
laen
lah. Mesjid kan udah ada yang megang. Habibnya juga laen. Lagian
kalo di
jalan, orang-orang di pasar kan bisa dateng sambil lewat. Kalo di
mesjid
mana mau pada dateng. Masak kalah sama acara dangdutan..”

Saya
tak
mendebatnya lagi. Dengan lahan yang tersisa, sudah jamak terjadi
jalan
raya dikorbankan untuk acara syukuran. Sunatan, kawinan,
dangdutan.
Sekarang ditambah pengajian.

”Semalem itu itu sih gak
terlalu
rame. Belon kalo Nurul Mustofa..”
Ayah saya melanjutkan
omongannya.
Menyebut sebuah kelompok pengajian yang lebih massal dan heboh
bila bikin
acara.

Ada banyak nama bagi organisasi-organisasi
pengajian habib
ini. Dengan beragam klan dan fam habib. Nurul Musthofa salah
satunya.
Spanduk raksasa dan umbul-umbul biasa sesak terpasang di
jalan-jalan raya
bila mereka mengadakan acara. Menjadi pertanda untuk bersiap
mencari jalan
alternatif untuk melintas karena mereka juga bisa menutup jalan
raya.

”Emang ngundang habib bayar berapa?” Saya mulai
penasaran.

”2-3 jutaan lah. Kalo yang gede kayak Nurul
Mustofa 20
juta juga abis. Belon spanduknya. Bayar polisi...”

”Duit
dari
mana?”

”Sumbangan lah. Nyari sponsor juga. Kemaren kan pada

dimintain. Sumbangan dari jamaah, duit parkiran..”

***

Habib

mengacu pada sebutan untuk sekelompok ulama dari Timur Tengah.
Utamanya
Saudi Arabia. Kelasnya sedikit berbeda dengan pemuka agama lokal.


Habib yang akar kata Arab-nya berarti ”kekasih” juga
dipercaya
masih memiliki silsilah keturunan dengan keluarga Nabi Muhammad
saw. Di
Jakarta terdapat kantong-kantong keluarga habib. Beberapa yang
terkenal
berdomisili di Tanah Abang, Kwitang, Cawang, dan Condet. Nama-nama

belakang seperti Al-Jufri, Al-Attas, Al-Habsyi, Al-Husein,
Assegaf,
merujuk pada fam tertentu dan seakan menjadi jaminan mutu.

Status

sosial mereka juga sangat-sangat dihormati. Menjadi suatu
kehormatan
setempat bila ada habib yang tinggal di suatu perkampungan. Ia
akan
menjadi orang pertama yang didatangi untuk mengambil keputusan
menyangkut
hajat hidup sekitar. Termasuk di dalamnya larangan mengadakan
acara
dangdutan yang sempat marak bila ada hajatan, atau panggung
perayaan tujuh
belasan yang menampilkan tarian anak-anak dan lagu-lagu band masa
kini.
Juga anjuran untuk mengenakan pakaian putih-putih saat shalat dan
menghadiri pengajian.

Selain habib ada pula para ustadz

dan ustadzah sebagai pemuka agama. Dua kelompok terakhir
ini
biasanya tokoh lokal yang memimpin pengajian atau punya madrasah
di
Jakarta. Umumnya keturunan betawi. ‘Ustadz’ sebutan untuk para
guru dan
pemuka agama laki-laki. ‘Ustadzah’ untuk perempuan. Para ustadzah
biasanya
istri atau anak perempuan para ustadz dan memimpin pengajian
ibu-ibu.
Mereka juga memiliki status sosial yang tinggi di masyarakat.
Namun bila
ada habib di lingkungan tersebut, pamornya akan berada di bawah
habib.
Karena warga sudah mafhum untuk lebih mengutamakan dan memuliakan
para
keturunan Rasulullah.

Di masa kecil saya juga sempat
keliling
mengikuti pengajian-pengajian ini. Tapi dulu diadakan di
mesjid-mesjid.
Momennya juga biasanya dalam rangka memperingati maulid nabi, Isra
Mi’raj
atau perayaan islam lainnya. Pengajian biasa diadakan hingga
tengah malam.
Para ustadz yang diundang biasa datang larut malam. Apalagi ustadz
yang
telah terkenal. Alasannya banyak undangan. Sebelum ia mulai
berceramah ia
pasti akan bercerita baru dari tempat anu atau situ. Tarif puluhan
juta
untuk ustadz yang tengah tenar dan sering muncul di teve menjadi
rahasia
umum. Dulu sebutan ’Kyai Pajero’ pun sempat mampir untuk seorang
da’i yang
biasa dipanggil dengan bayaran seharga mobil Pajero.

Dari
gaya
berceramah ada ustadz dan habib favorit. Biasanya yang pandai
beretorika
dengan cerita-cerita lucu yang mengundang gelak tawa (semasa
kecil, sempat
pula saya bercita-cita menjadi ustadzah saat tersirap menyaksikan
penampilan para ustdz/ustadzah favorit Smile).

Sesuai dengan
tren
pasar saat ini, banyak pula tampil habib-habib muda yang fungky
dan wajah
yang enak dilihat.

Para ustadz pun sering menjadi incaran
ibu-ibu.
Berharap menjadikan anak gadisnya sebagai istri para ustadz. Tak
peduli
istri kedua, ketiga atau keempat. Meski untuk habib, kemungkinan
memperistri perempuan lokal hampir musykil. Mereka pasti sudah
dijodohkan
dengan keturunan dan keluarga Arab pula. Mungkin untuk menjaga
kemurnian
darah Arab mereka (bila ada ustadz dan ustadzah untuk guru-guru
agama
perempuan lokal, saya belum pernah mendengar ada istilah ‘habibah’
sebagai
pemuka agama. Perempuan-perempuan Arab istri para habib jarang
yang muncul
di permukaan).

Penghormatan dan kecintaan pada para habib
kadang
sampai pada hal yang irasional. Tak beda dengan perilaku para abdi
dalem
yang setia membasuh kaki tuannya. Lalu meminum air basuhan
tersebut. Dalam
suatu pengajian (yang juga memacetkan jalan), saya menyaksikan
sendiri
karpet merah dihamparkan di jalan raya yang telah ditutup. Para
jamaah
berkerumun di sisi-sisi jalan menunggu kedatangan habib. Persis
seperti
penonton yang tengah menunggu pertujukan karnaval. Mereka setia
menunggu
meski hujan mengguyur.

Begitu terdengar kabar para habib
akan
datang tabuhan rebana dan puji-pujian shalawat diperdengarkan.
Jalan
segera sesak. Saya penasaran, ingin melihat sosok sang habib yang
tengah
dirindu-rindu. Apa lacur, si habib yang disebut-sebut tetap berada
di
dalam mobil yang berjalan tersendat-sendat. Dengan iringan payung
seperti
umbul-umbul kerajaan masa lampau mengiringi konvoi sedan Mercy
yang
menyembunyikan sosok sang habib. Sementara massa tetap setia
membaca
shalawat di sisi-sisi jalan. Diiringi guyuran hujan dan suara
rebana yang
bertalu-talu.

***

Apa isi ceramah mereka?
Biasanya

berisi hal-hal yang terdengar remeh temeh dan menyangkut hidup
keseharian.
Tentang adab sholat, kadang juga soal tata cara bersenggama dan
junub.
Intinya menyangkut perilaku manusia dengan akhlakul karimah.
Dengan
sitiran kitab imam anu, hadits atau ayat al-Qur’an. Bila kita
tekun
menyimak ceramah-ceramah ini lalu membandingkan dengan segala
perbuatan
sehari-hari, akan terasa betapa kotor dan rasa-rasanya cuma
perbuatan dosa
saja yang sudah kita lakukan.

Isi ceramah kadang pula
merembet ke
isu-isu internasional. Terutama bila situasi Islam global tengah
memanas.
Terorisme misalnya. Atau serangan Israel di wilayah Gaza.


Bagaimana dengan isu sosial seperti kemiskinan, korupsi,
atau
kritik terhadap pemerintahan? Jauh pangang dari api. Di era
Soeharto
sempat dikenal ustadz-ustadz vokal yang rajin mengkritik
pemerintahan.
Mereka ditangkapi dan menjadi pahlawan lokal (ingat kasus Tanjung
Priok?)


Sekarang tampaknya eranya telah berubah. Pemerintah pandai
menarik
hati para alim ulama. Dibuatkan majlis-majlis ulama yang
berafiliasi pada
tokoh atau partai politik tertentu. Dalam berbagai perayaan
nasional para
da’i dan habib pun mendapatkan podium. Isu korupsi dan kritik
terhadap
pemerintah terutama menyangkut isu sosial mungkin dianggap urusan
duniawi
yang terlalu kompleks untuk diurai.

Saya menduga-duga.
Ditengah
kepenatan penduduk yang sehari-hari harus berjuang dan bertahan
dengan
hidup yang makin menggila, selain hiburan yang bisa didapatkan
dari
tayangan sinetron atau komedi di teve, mungkin yang butuhkan
adalah
siraman rohani diiringi humor-humor segar (dan kadang sedikit
nakal) dari
para ustadz dan habib.

Omong soal politik? Biar menjadi
urusan
para politikus yang (sebagimana diharapkan bos Golkar) tidak hanya
pandai
menggigit tapi juga mengendus Smile

***

Persaingan
pengaruh
kekuasaan di mesjid-mesjid antara pemuka agama lokal (para ustadz
betawi
yang biasanya mewakafkan tanahnya untuk pembangunan mesjid) dan
habib yang
memiliki privilage juga kerap tak terelakan. Ayah saya
pernah
bercerita bagaimana situasi panas sempat terjadi saat rapat
pemilihan
pengurus salah satu mesjid dekat rumah kami.

Persaingan
itu makin
panas saat ada kelompok baru yang juga tengah mengincar menduduki
mesjid
sebagai panggung syiar mereka. Mereka para usrah yang biasanya
terdiri
dari kalangan muda pendatang. Sering dikaitkan dengan PKS. Partai
kelas
menengah perkotaan yang lahir dari pengajian anak-anak muda dalam
kelompok-kelompok tarbiyah. Kelompok yang diinspirasi dari gerakan

Ikhwanul Muslimin Mesir ini juga dikabarkan tengah rajin merangkul
jamaah
lewat mesjid dan kampus-kampus.

Lalu dimana peran aktivis
(Islam)
liberal atau kultural?

Mungkin pertanyaan yang naif. Tapi
saya
membayangkan adanya ulama fungky berpengaruh yang tidak
tergila-gila
dengan simbolisasi a la Arabia dan dengan mudahnya menunjuk hidung
orang
lain yang tak sealiran dengan sebutan fasik, murtad, atau kafir.





apakah baliho 'habib' ini kena pajak iklan seperti
gambar tumpukan roti di sebelahnya? Smile

_________________
Dasar kepercayaan iman muslim dibangun diatas dusta,kebohongan dan teror pembunuhan yang biadab dimana saat zaman dan waktu sudah berubah kebenaran yang ada diungkapkan dan tidak bisa dihalangi ataupun dibendung serta kejahatan pembunuhan sudah dapat diantisipasi dan diminimalkan maka saat itu juga ambang kehancuran islam akan terjadi dan pada saatnya islam akan lenyap dan ini pasti terwujud. Feifei_fairy

feifei_fairy
KAFIRUN
KAFIRUN

Female
Number of posts : 802
Reputation : -14
Points : 4541
Registration date : 2008-12-20

View user profile http://www.facebook.com/Feifeifairy

Back to top Go down

Re: Syafa'atun Aisya: Habib!

Post by Ontamekah on Sat Aug 03, 2013 8:52 am

Habib singkong goreng.. tak ada pajak...karena kotbah dijalan-jalan...kotbah 72 perawan siap melayani habib

---------------------------------
 claim habib tak masuk neraka

_________________
  يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْأَنْفَالِ ۖ قُلِ الْأَنْفَالُ لِلَّهِ وَالرَّسُولِ ۖ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَصْلِحُوا ذَاتَ بَيْنِكُمْ ۖ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan perang. Katakanlah: "Harta rampasan perang kepunyaan Allah dan Rasul,
oleh sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah perhubungan di antara sesamamu; dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu adalah orang-orang yang beriman".(Q8;1)

Ontamekah
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts : 342
Age : 66
Job/hobbies : Cabuli bocah 6 thn
Humor : gendeng.com
Reputation : 5
Points : 1704
Registration date : 2013-06-08

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum