MURTADIN_KAFIRUN

Latest topics
Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 21 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 21 Guests :: 2 Bots

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 9:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Sekilas Tentang Agama Hindu

View previous topic View next topic Go down

Sekilas Tentang Agama Hindu

Post by hamba tuhan on Wed May 11, 2011 4:22 am

Agama yang dikenal dengan Hindu semula adalah agama Brahma. Kitab ajaran agama Brahma ini, ditilik dari sumbernya, ada dua macam: (1) Sruti, kitab yang berisi ajaran yang diwahyukan secara langsung oleh Brahma (Zat Tunggal Maha Pencipta) kepada setiap rishi (orang suci), yaitu Veda (artinya: pengetahuan). Bandingkan konsep rishi ini dengan nabi atau rasul dalam Islam; (2) Smriti, kitab yang berisi tradisi (ajaran) dari rishi, acharya (guru) atau avatar (inkarnasi-ilahi). Termasuk kategori ini: kitab Brahmanas, Upanishads, Mahabharata, Bhagavadgita, Ramayana, Purana, dan lainnya. Bandingkan konsep smriti ini dengan al-hadith dalam agama Islam. Belakangan, melalui wewenang resmi, smriti kedudukannya diangkat sebagai kitab suci (sacred books) sebagaimana sruti. Tafsir atau komentar atas kitab-kitab di atas disebut Brahma-sutras. Sedangkan karya susastra yang muncul dengan tema-tema keagamaan disebut Brahma-shastra. Dua jenis karya terakhir tidak dianggap sebagai kitab suci.

Dalam Veda terdapat nyanyian yang berkisah tentang makhluk samawi yang mula-mula diciptakan oleh Brahma, bernama Purusha. Makhluk ini digambarkan memiliki 4 (empat) susunan (varnashrama), yaitu: mulut, lengan, paha, kaki. Belakangan, hal ini ditafsirkan sebagai simbol kesatuan kemasyarakatan yang terdiri dari 4 tingkat lapisan (kasta), yaitu: Brahmin, Kshatrya, Vaishya, dan Sudra. Tiga kasta teratas dikenal juga sebagai kasta Dvija (kasta yang mengalami 2 kali kelahiran). Sedangkan Sudra disebut juga sebagai Paria. Syariat mengenai masing-masing kasta termuat dalam himpunan Hukum Manu. Manu dalam kitab Upa Purana yang memuat kisah-kisah kejadian alam semesta adalah nama dari manusia (laki-laki) pertama, sedangkan perempuan pertama disebut dengan nama Shatarupa. Bandingkan dengan kisah Adam dan Hawa dalam Islam. Turunan kedua manusia ini hingga yang keenam telah binasa oleh topan besar. Adapun yang selamat dan selanjutnya menjadi moyang dari manusia yang ada sekarang ini hanyalah manu-ketujuh, yaitu Vaivaswata. Hukum Manu dipercayai sebagai aturan-aturan yang diletakkan pertama kali oleh Vaivaswata tersebut, karenanya syariat itu disucikan.

Selain manusia, Brahma juga mencipta makhluk rohani yang ada dua macam: (1) devas (yang cemerlang), dicipta dari cahaya, sebagai makhluk yang taat mengabdi kepada Brahma. Tidak ada sepatah katapun dalam kitab Veda yang menyatakan bahwa dewa-dewa itu patut dijadikan sebagai obyek sesembahan atau pemujaan. Mereka hanya makhluk ciptaannya Brahma yang diberi martabat dan jabatan tertentu, seperti dewa Indra menjaga swarga-loka, dewa Yama mencabut nyawa, dewa Vishnu sebagai utusan kepada para rishi dan lain-lain. Bandingkan ini dengan malaikat dalam ajaran Islam; (2) Asuras (yang gelap), dicipta dari api, tampil sebagai makhluk yang membantah, ingkar dan menyeleweng dari ajaran Brahma. Kepala dari golongan makhluk rohani yang kedua ini disebut Virochana. Bandingkan dengan Iblis dalam ajaran Islam.

Dalam Veda, alam semesta beserta segenap makhluk yang rohani maupun jasmani diciptakan oleh Wujud Tunggal Maha Sempurna yang disebut Brahma. Dia dengan segala sifat kesempurnaannya, tidak bisa diraba, tidak bisa dilihat, dan tidak bisa didengar. Dia hanya bisa dikenali melalui manifestasinya di alam semesta. Dia Yang Tunggal meresapi seluruh alam dan berada pada seluruh alam. Jadi, alam semesta beserta isinya ini adalah pancaran dari zat Brahma. Dalam Upanishads dikisahkan Rishi Uddalaka memahamkan konsep pancaran ini kepada Svetaku dengan menyuruhnya meletakkan kepingan garam ke dalam mangkok berisi air tawar. Keesokan harinya, Svetaku diminta memeriksa kepingan garam itu, dan ternyata sudah tidak ada. Lantas sang Rishi menyuruhnya mencicipi air yang kini menjadi berasa asin. Rishi Uddalaka menyatakan bahwa demikianlah zat Brahma itu meresap ke dalam seluruh yang ada, dan itulah yang disebut Atman. Jika seorang manusia memanggil dirinya “aku”, maka ketika dipotong kedua kakinya, ia masih berteriak “aku”. Ketika kedua lengannya dipotong, ia masih teriak “aku”. Ketika tubuhnya dicencang, iapun masih teriak “aku”. Bahkan ketika nafas terakhirnya sudah di ujung lidah, ia masih berbisik “aku”. Siapa “aku” itu? Dalam ajaran agama Brahma, itulah Atman, proyeksi dari zat Brahma. Tampak di sini bahwa ajaran “mengenali Dia dengan mengenali diri sendiri” ini lekat dengan faham teresapinya seluruh alam oleh zat Brahma Sang Pencipta Tunggal, atau akrab dikenal sebagai faham panteisme. Belakangan diketahui bahwa Plotinus (205-270 M), pendiri filsafat Neoplatonisme dari Grik yang memiliki kesejajaran pandangan dalam konteks ini, sempat belajar dan mendalami filsafat India. Neoplatonisme itu sangat berpengaruh di kalangan pemuka Kristen seperti terhadap St. Agustinus (396-430 M), Meister Eckhart (1260-1320 M), Jan van Ruysbroeck (1293-1350 M), St. Teresa of Avila (1515-1582 M) dan St. John of the Cross (1542-1591). Di dunia Islam, sufi-sufi besar seperti al-Hallaj (858-922 M), Ibn ‘Arabi (1165-1240 M), Jalaludin al-Rumi (1207-1273 M) dan Bahaudin al-Naqsyabandi (1317-1389 M) juga dikenal memiliki pemikiran yang sehaluan dengan faham panteistiknya teologi agama Brahma ini.

Dalam perkembangannya, dihadapkan dengan berbagai tantangan seperti kemunculan agama Budha dan Jain, agama Brahma ini –yang kemudian diklaim sebagai agama Hindu (agama bagi seluruh Hind atau India)– mengalami banyak penafsiran baru. Semisal Brahman, dipahami sebagai Wujud Azali yang tidak bergerak. Ketika kodratnya bergerak mencipta alam semesta, Dia menjelma menjadi wujud Brahma. Ketika kodratnya bergerak memelihara dan memperkembangkan alam semesta, Dia menjelma wujud menjadi Vishnu. Dan ketika kodratnya bergerak mengembalikan alam semesta kepada asalnya semula melalui pembinasaan dan pemusnahan, Dia menjelma menjadi Shiva. Itulah tiga oknum dari Wujud Azali: Brahma, Vishnu dan Shiva. Ajaran ini disebut Trimurti. Lambat laun, muncul penafsiran yang melihat ketiga kodrat itu mengalami personifikasi dan bergerak sendiri-sendiri atau mempunyai wewenang tersendiri. Perkembangan selanjutnya, masing-masing oknum Trimurti mempunyai pasangan yang dikenal sebagai Trishakti (tiga permaisuri), yaitu: (1) Sharasvati, permaisuri Brahma, sebagai dewi kebijaksanaan dan pengetahuan; (2) Lakshmi, permaisuri Vishnu, sebagai dewi kecantikan dan kebahagiaan; (3) Parvati, permaisuri Shiva, simbol keberanian dan kegarangan. Satu persatu, baik Trimurti maupun Trishakti, kemudian diwujud-aktualkan dalam pemujaan melalui patung-patung. Keahlian pemahatan itu tampaknya diperoleh dari Grik yang kekuasaannya pernah menaklukkan India pada masa Alexander the Great (356-323 SM) dari Macedonia. Selain itu, dalam agama Hindu melalui ajaran tentang avatar (reinkarnasi-ilahi), masing-masing dewa atau dewi dapat melakukan penjelmaan baik dalam bentuk manusia maupun makhluk lainnya. Selanjutnya, dewa-dewa dalam ajaran agama Brahma dalam Hindu kini juga menjadi obyek sesembahan. Ujungnya, pemahaman ini melahirkan ajaran henotheisme, yaitu faham yang mengajarkan bahwa pemujaan terhadap dewa atau dewi tertentu saja (jadi tidak semuanya) dapat dilakukan dengan tanpa mengingkari keberadaan dewa-dewi lainnya.

Perihal perjalanan hidup manusia, khusus terkait kasta Dvija, agama Brahma mengenalkan 4 tingkatan kehidupan yang harus ditempuh oleh setiap orang dari kasta ini sepanjang hidupnya, yaitu: (1) Brahmacharya, masa belajar dan mendalami agama; (2) Grihastha, masa berumah tangga dan memikul kewajiban keluarga; (3) Vanaprastha, masa mendekatkan diri sepenuhnya kepada Tuhan dengan bertapa; (4) Sanyasa, masa beroleh hikmat tinggi dalam pertapaan dan mengembara untuk mengajarkannya sebagai seorang fakir. Orang yang mencapai tingkat ini disebut Sanyasin. Sedangkan perjalanan kehidupan secara umum, manusia terkuasai oleh tiga kepastian: (1) Karma, setiap perbuatan duniawi ada akibatnya; (2) Samsara, hidup berulang ke dunia akibat kehidupan duniawi sebelumnya belum murni. Di sini, seseorang bisa terlahir kembali dengan derajat lebih rendah atau lebih tinggi dari sebelumnya; dan (3) Mokhsa, jalan kebebasan dari karma dan samsara melalui pemurnian kehidupan duniawi dengan mengenali Dia dan menyatukan diri dengan-Nya. Terpahami dari sini bahwa proses tersebut terikat erat dengan tujuan-tujuan kehidupan (purusharta) yang dikejar oleh seseorang. Ada tiga macam purusharta: (1) Artha, kesenangan material (kekayaan atau kemakmuran); (2) Kama, kesenangan atau kepuasan syahwati; dan (3) Dharma, kebajikan dan kebaktian. Seseorang yang ingin moksha atau lepas dari lingkaran karma dan samsara harus sanggup membuat hidupnya suci sehingga menyatu (siddha) dengan Brahma. Jalan menuju moksha disebut yogachara (artinya: cara mengendalikan atau mengawasi). Tingkatannya ada dua: (1) Kriya-yoga, yakni laku lahiriah. Hal ini meliputi yama-yoga (menahan diri dari segala jenis perbuatan yang dipandang dosa), niyama-yoga (melatih membiasakan diri berlaku kebaikan), asana-yoga (mengatur tubuh untuk meditasi), pranayama-yoga (latihan menahan nafas dalam meditasi), dan pracahara-yoga (peniadaan pengaruh indria atas realitas sekelilingnya dalam meditasi); (2) Raja-yoga, yakni laku batiniah yang meliputi: dharana-yoga (pemusatan pikiran atas satu titik sasaran (yaitu Brahman) tanpa tergetar oleh apapun), dhyana-yoga (renungan rohani yang terus-menerus terhadap titik konsentrasi tersebut tanpa ada ingatan lainnya), dan samadhi (titik bersatunya Atman dan Brahman, rumusannya: Dia adalah Aku dan Aku adalah Dia; atau kata Shankara: “Aham Brahmasmi”, Aku adalah Brahma).

Antara masa 5 (lima) abad sebelum dan sesudah Masehi muncul aliran-aliran filsafat agama Brahma/Hindu dengan system tinjauan (dharsanas) yang kesemuanya berjumlah 6 (enam) sistem. Keenam sistem ini tidaklah saling bertentangan, melainkan saling melengkapi: Pertama, Purva Mimansa, dibangun oleh Jaimini. Percaya bahwa Veda adalah wahyu langsung dari Brahma, bukan karya susunan manusia. Meninjau pokok-pokok ajaran dalam Veda secara rasional dengan aspek praktisnya lekat pada pengertian-pengertian harafiah (literal meanings). Menurut mereka, alam semesta ini abadi (eternal), tidak akan musnah dan lalu terciptakan kembali; Kedua, Yogachara, dibangun Patanyali. Ajarannya berisi tatacara mencapai moksha sebagaimana terurai dimuka; Ketiga, Nyanya, dibangun oleh Gautama. Bahasannya seputar epistemologi yang merumuskan metode berfikir yang efektif untuk mencapai kesimpulan. Menurutnya, “tahu” dalam diri manusia berpangkal pada empat sumber: tangkapan indria (pracaksa), kesanggupan akal menarik simpulan (anumana), kias-bandingan (upamana), dan pernyataan-pernyataan otoritatif yang dapat diterima akal (sabda). Sedangkan metode berfikir yang efektif menurut aliran ini mestilah terdiri dari lima bagian: (1) sebuah keterangan berisi tahu, (2) sebuah keterangan berisi sebab, (3) sebuah keterangan berisi prinsip umum, (4) sebuah keterangan berisi tangkapan indria, dan (5) simpulan yang mengukuhkan tanggapan pertama. Sebagai contoh dapat dibaca rumusan berikut ini:

• Gunung itu tengah terbakar.
• Sebab gunung itu mengepulkan asap.
• Dimana ada asap disitu ada api.
• Gunung itu diliputi kepulan asap.
• Jadi: gunung itu tengah terbakar.

Bandingkan nalar epistemik ini dengan logika-silogistik yang dibangun Aristoteles dengan 3 (tiga) premisnya. Salah satu contohnya:

• Setiap manusia pasti mati (premis mayor).
• Plato seorang manusia (premis minor).
• Maka, Plato pasti akan mati (konklusi).

Nyanya juga mengajarkan tentang faktor-faktor menentukan dalam hukum kausalitas. Menurutnya, sebab-akibat itu dipengaruhi 3 (tiga) hal: (1) sebab kebendaan (material cause); (2) sebab resmi (formal cause); dan (3) sebab pelaku (effective cause). Semisal selembar permadani, maka sebab pertamanya adalah berbagai jenis benang wol dengan beragam warnanya. Sebab kedua adalah anyaman antar benang-benang tersebut. Dan sebab ketiga adalah kegiatan sang penenun sehingga benang-benang itu teranyam menjadi sebuah permadani.

Aliran keempat adalah Vaisesika yang dibangun oleh Kanada. Menurutnya, alam semesta ini tersusun dari unsur-unsur halus yang tak dapat terbagi lagi (atom), yang disebut anu, paramanu, atau kana. Beragam bentuk yang ada di alam semesta ini disebabkan karena perbedaan (visesa) pada susunan atomnya.

Aliran kelima dikenal sebagai Samkya (artinya: akal) yang dibangun oleh Kapila dengan pembahasan seputar jiwa dan materi serta hubungan keduanya dalam konstruksi tabiat segala sesuatu. Menurut aliran ini, ada 25 kesatuan hubungan (tattvas) yang menentukan dalam pembentukan tabiat atau kepribadian. Dua tattvas yang paling asasi dan saling bertentangan adalah:

• purusha (jiwa) dan
• prakriti (materi, benda).

Jiwa tak terbatas jumlahnya dan berisi akal murni. Jiwa ini masing-masing berdiri sendiri, tak terbagi, tak bersyarat, tak berobah, dan abadi. Jiwa berkaitan dengan materi: prakriti, pradana atau avyakta. Mula-mula prakriti dalam keadaan diam dengan tiga sifatnya (gunas): sattvas (kebajikan), rajas (hasrat), dan tamas (kegelapan). Ketika diam ketiganya berada dalam perimbangan. Tetapi, ketika prakriti bergetar karena digerakkan oleh purusha, ketiga gunas kehilangan perimbangannya sehingga lahirlah 23 tattvas lainnya. Pertama-tama lahirlah:

• buddhi (akal), yang darinya kemudian terjadi proses kepribadian, yaitu:
• ahamkara, artinya “aku adalah pelaku”. Proses ini bersifat kontinum, alamiah (kosmis), dan dalam individualitasnya menunjukkan diferensiasi (ragam-beda) dengan lainnya.

Selanjutnya, ahamkara secara kosmis melahirkan 5 (lima) unsur terhalus (tanmatras) berupa:

• tanah,
• air,
• api,
• udara, dan
• ether.

Dari kelimanya muncul 5 (lima) unsur tanggapan (mahabhuta), yaitu:

• keras,
• basah,
• hangat,
• hembusan, dan
• cairan.

Kesemuanya itu adalah sasaran dari indria.

Ahamkara dalam individualitasnya melahirkan 5 (lima) indria yang menjadi alat dari akal (buddhindrya), yaitu:

• penglihatan,
• pendengaran,
• penciuman,
• rabaan, dan
• citarasa.

Dari kelimanya lahir 5 (lima) indria untuk bertindak (karmendrya), yaitu:

• mata,
• telinga,
• hidung,
• kulit, dan
• lidah.

Tanmatras dan buddhindrya berhubungan dengan:

• ingatan (mind).

Hubungan itulah yang menentukan kepribadian sesuatu diri, yakni pergumulan antara hasrat dengan akal. Maka, satu-satunya jalan untuk moksha adalah dengan yogha, karena jasmani akan terikat selamanya dengan karma dan samsara sebelum tercapai mokhsa.

Aliran yang keenam dikenal dengan nama Vedanta atau disebut juga Uttara Mimamsa yang dibangun pertama kali oleh Badarayana sekitar abad pertama Masehi. Filsafat spekulatif ini mendasarkan ajarannya kepada kitab suci Rig-veda dan Uphanisads. Belakangan, sekitar tahun 800 M, muncul komentator besar atas karya-karya Badarayana, yaitu Shankara yang ajarannya kemudian dikenal dengan sebutan Advaitavada yaitu ajaran tentang keesaan yang murni (unqualified monism). Ajaran ini bermula dari konsep Vidya, yakni “tahu” dalam diri manusia yang macamnya ada dua: (1) Nirguna, pengetahuan mutlak (ilmu tertinggi) yang terbebas dari pengalaman indria; dan (2) Saguna, pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman indria. Shankara, melakukan pendekatan ajaran Veda melalui sorotan Nirguna ini. Menurutnya, karena Kodrat Maha Esa itu tidak ada yang mengimbanginya, tidak tertangkap oleh indria, tidak terbayangkan oleh ingatan, maka Dia hanya bisa didekati dan dirasakan dengan pemusatan pikiran dan renungan rohani sampai tercapai anubhana (ekstasi) dimana seseorang dapat berkata: Aham Brahmasmi (Aku adalah Brahma). Bandingkan dengan Ana al-Haq atau Ana Allah dari sufi besar Islam, al-Hallaj.

Bagi aliran keenam ini, alam yang beroleh perwujudannya melalui sifat-sifat (qualified being) adalah suatu Maya, khayal yang tidak memiliki hakikat atau realitas. Satu-satunya hakikat yang mutlak adalah Brahma, yang dipanggilkannya dengan sebutan cat (ada), chit (sadar) dan ananda (asih). Menariknya, dalam ajaran Shankara ini, ajaran reinkarnasi (samsara) telah tergantikan dengan konsep Avatamsaka (neraka). Dijelaskannya bahwa manusia yang dalam kehidupannya hanya mengikuti ilmu terbawah (saguna) dan menjalani godaan syahwati akan terjerumus kedalam neraka sesudah matinya. Tetapi mereka yang selama hidupnya senantiasa mendekatkan diri kepada Brahma dengan mengikuti ilmu tertinggi (nirguna), maka dia akan mencapai kemenangan abadi di dalam Nirvana.

Gerakan pembaharuan agama Brahma/Hindu telah bermula sejak abad ke-6 SM hingga berkelanjutan sampai abad ke-20 M. Tiga pembaharu di antaranya melahirkan agama tersendiri, yaitu: dari Siddharta Gautama (560-480 SM) lahir agama Buddha; dari Mahavira (599-527 SM) lahir agama Jaina; dan dari Guru Nanak (1469-1538 M) lahir agama Sikh. Beberapa gerakan pembaharuan yang terkenal di abad-abad terakhir, salah satunya adalah gerakan reformasi Brahma Samaj (Majelis Brahma) yang dipelopori Ram Mohan Roy (1772-1833) dengan semboyannya: “kembali kepada kitab suci Veda!”. Gerakan ini diawali dari kerisauan atas praktik kebaktian umat Hindu yang memuja ribuan patung-patung yang menurut Roy telah menyimpang jauh dari ajaran murni Veda. Tokoh yang mempunyai wawasan luas tentang Islam, Kristen dan Buddha ini lalu berikhtiar menghidupkan kembali praktik peribadatan agama Hindu yang sederhana dengan berkeyakinan kepada Kodrat Maha Esa (Brahma). Tahun 1830, gerakan ini membangun rumah ibadat pertama yang terbuka bagi setiap orang tanpa memandang sektenya yang beriman kepada Wujud-Tunggal-Abadi. Di dalamnya tidak lagi didapati patung, ukiran atau lukisan karena semua itu kini menjadi hal yang terlarang. Gerakan Roy dilanjutkan oleh Babu Rabindranath Tagore (ayah dari pujangga Rabindranath Tagore) yang bergabung Brahma Samaj pada tahun 1841. Tahun 1850, Babu beserta pengikutnya mengumumkan deklarasi radikalnya yang menyebutkan pendirian mereka bahwa keseluruhan kitab suci Veda tidaklah bersifat ma’sum (infallible, tak mungkin salah) karena sebagiannya dinilai mengandung campur tangan penulis-penulis atau penyalin-penyalin dari masa ke masa. Maka untuk itu dibutuhkan pengkajian yang cermat dalam menilai isinya agar diperoleh ajaran yang betul-betul asli dari Brahma, Kodrat Maha Esa.

Secara garis besar, pendirian gerakan ini dapat dinarasikan sebagai berikut: (1) Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Agung; (2) Tuhan memiliki sifat-sifat kesempurnaan; (3) Menolak ajaran penjelmaan berjasad (avatar) dari Tuhan; (4) Keabadian dan perkembangan kejiwaan adalah tujuan hidup; (5) Praktek-praktek peribadatan yang simbolis seperti ziarah ke tempat yang dianggap suci, upacara-upacara kebaktian dan prosesi tatacara penyucian diri, lebih banyak bersifat pameran lahiriah (show) belaka; dan (5) Meyakini bahwa sistem kasta tidak memiliki dasar dalam kitab suci Veda dan karenanya perlu dihapuskan. Sejak tahun 1867, gerakan ini pecah menjadi beberapa sekte. Salah satu sekte yang menyebut dirinya Hindu Missionary Society (1917) yang dibangun G.B. Vaydia, bertujuan membebaskan agama Hindu dari ikatan kekhususan bagi anak benua India, dan selanjutkan menjalankan misi agama Hindu untuk seluruh dunia.

Gerakan-gerakan penghapusan kasta dan juga shutte (ajaran pembakaran para janda bersama jenazah suaminya) berlanjut hingga abad ke-20, puncaknya muncul bersama gerakan Sanatai-Hindu (Hindu Ortodoks) yang dibangun oleh Mohandas Karamchand Mahatma Ghandi (1869-1948). Dia menyebut dirinya sendiri sebagai ortodoks karena beberapa alasan: (1) Percaya pada semua yang termaktub dalam kitab-kitab suci Hindu, termasuk ajaran tentang samsara dan avatar; (2) Percaya pada varnashrama-dharma (empat susunan kewajiban), tetapi tidak dalam artian kasar sebagai pemilahan kasta, melainkan hanya sebagai pembagian tugas kebaktian; (3) Percaya pada perlindungan lembu dalam pengertian yang lebih dalam daripada yang biasa diberikan orang awam kepadanya; dan (4) Tidak menolak pemujaan patung-patung. Gandhi juga menyatakan bahwa kepercayaannya pada Veda tidak menjadikannya tidak percaya kepada adanya kitab-kitab suci lain yang diturunkan ke dunia oleh Tuhan, seperti al-Qur’an dan lainnya. Sebagaimana ia juga menegaskan bahwa kepercayaannya kepada kitab-kitab Hindu tidak berarti bahwa dirinya meyakini setiap perkataan atau sajak di dalamnya sebagai sabda Tuhan.

_________________
Matius 19:28 Kata Yesus kepada mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel.

Inget-inget lho...bagi yang bukan 12 suku israel, ayat matius 19:28 berlaku kelak sesudah kiamat yaitu waktu penciptaan kembali..

hamba tuhan
MUSLIM
MUSLIM

Male
Number of posts: 9905
Age: 14
Location: Aceh
Humor: Obrolan Santai dengan Om Yesus
Reputation: -206
Points: 12369
Registration date: 2010-09-19

View user profile

Back to top Go down

Re: Sekilas Tentang Agama Hindu

Post by Yhowshua on Wed May 11, 2011 2:13 pm

hamba hajar aswad si batu hitam alias auloh wts jimat si momet pembela si momet pedophil mengcopas :

Agama yang dikenal dengan Hindu semula adalah agama Brahma. Kitab ajaran agama Brahma ini, ditilik dari sumbernya, . . . dst . . . dst . . . bla. . . bla. . . bla . . . dan sangat banyak bla. . . . bla. . . bla. . . .
ujung - ujungnya , kamu pasti hanya mau mencari pembenaran tentang ke"babi"an si momet saw - kaw dari agama hindu !!!
iya khan ? HAHAHAHAHAHAHAHAHA. . . . . . . . XIXIXIXIXIXIXIXIXIXXI. . . . . . . . . .
sudahlah . . . manusia bejat kayak si momet saw kaw , mau di belain kayak apa pun , kebejatannya gak bisa di sembunyikan !!!

_________________
- islam adalah agama yang tidak tahu malu , mengatakan agama lain kafir , padahal mereka sendiri adalah penyembah batu.
- islam adalah agama yang tidak tahu malu , mengatakan muhamad adalah manusia sempurna , padahal moral muhamad adalah moral manusia bejat.
- para pengikut islam adalah manusia2 tersesat yang telah di butakan oleh muhamad melalui islam
- sssyyyuuurrrgggaaa versi islam adalah tempat maksiat untuk melakukan segala kemaksiatan yang di larang di dunia : pesta sex , minum minuman keras , dan semua yang haram di dunia maka di sssyyyuuurrrgggaaa maksiat islam halal untuk di lakukan , bahkan sssyyyuuurrrgggaaa islam adalah tempat bagi para hombreng dan lesbian ( sesuai pernyataan netter islam you7tube7com )

Yhowshua
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts: 915
Reputation: -21
Points: 2491
Registration date: 2010-08-01

View user profile

Back to top Go down

Re: Sekilas Tentang Agama Hindu

Post by aku islam on Sat Apr 07, 2012 2:53 pm

@Yhowshua
Yang jawab itu harusnya orang Hindu, bukan Kristen abal2 kayak kamu.....
javascript:emoticonp('')
javascript:emoticonp('')

aku islam

Number of posts: 5
Reputation: 0
Points: 940
Registration date: 2012-04-07

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum