MURTADIN_KAFIRUN
Latest topics
» 10 myths—and 10 Truths—About Atheism
Wed 10 Oct 2018, 12:07 pm by admin

» Ajaran Cinta Kasih ala Islam...........
Wed 10 Oct 2018, 12:01 pm by admin

» Why We Critique Only Islam!
Wed 10 Oct 2018, 11:55 am by admin

» MUSLIMS DON'T GROW UP
Wed 10 Oct 2018, 11:49 am by admin

» Why Muslimas should not lead Muslim men in prayers?
Wed 10 Oct 2018, 11:39 am by admin

» The Islamic Psycho
Wed 10 Oct 2018, 11:36 am by admin

» What has ruined those countries ?
Wed 10 Oct 2018, 11:34 am by admin

» Saya Akui bahwa menjadi muslim (masuk islam) adalah hal yang membanggakan
Thu 31 May 2018, 6:30 pm by buncis hitam

» NABI ISLAM TIDAK PERNA EKSIS....SOSOK FIKTIF...
Tue 03 Apr 2018, 7:36 pm by kuku bima

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 10 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 10 Guests :: 1 Bot

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed 26 May 2010, 4:49 pm
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking digg  Social bookmarking delicious  Social bookmarking reddit  Social bookmarking stumbleupon  Social bookmarking slashdot  Social bookmarking yahoo  Social bookmarking google  Social bookmarking blogmarks  Social bookmarking live      

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


hantu lama bernama komunisme

Go down

hantu lama bernama komunisme

Post by paulusjancok on Sat 08 Oct 2011, 5:21 pm

Adil - Jakarta, Siang itu, seorang pemuda dengan santai sedang berjaga di sebuah posko yang terletak di bawah jembatan layang Slipi Jaya, Jakarta Pusat. Tidak ada seorang pun yang menemaninya di posko yang terbuat dari kayu triplek berukuran 3 x 3 meter itu. ''Biasanya kami berjaga bersama enam rekan kami yang lain,'' ujar Edilay, yang sedang piket jaga pada Jumat (20/4). Lebih ngenas lagi, di sana pun tidak ada perlengkapan posko yang memadai selain kursi kayu.
Begitulah suasana di posko ''Anti-Komunis dan Kekerasan'' yang didirikan oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPMRI) dan Forum Pemuda Betawi sejak dua minggu lalu. Sang pemuda penjaga pos itu pun tak mengesankan sebagai seorang Muslim yang radikal. Tampangnya biasa-biasa saja tanpa berewok dan jenggot --yang selama ini diidentikkan dengan Muslim radikal. Pakaiannya pun seperti pemuda umumnya tanpa mengenakan sorban atau peci. Dia dan teman-temannya juga kalau berjaga tak pernah membawa senjata tajam.
Biar pun demikian, keberadaan posko yang terkesan asal-asalan itu menarik perhatian orang yang lalu lalang di sekitarnya. Selain spanduk besar di atas posko yang berbunyi: ''Posko Anti-Komunis dan Kekerasan'' ada juga sejumlah stiker keras yang terpasang di dinding posko. Bunyi stiker itu antara lain, ''Awas PKI Baru Bikin Kacau'', ''Ingat Bahaya Laten Komunis jangan Dilupakan'', dan ''Komunisme Baru Ada di Sekitar Anda dan Sedang Memutarbalikkan Fakta.''

GERAKAN ANTIMERAH

Belakangan ini kampanye antikomunisme memang sedang marak kembali di Tanah Air. Di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, Semarang dan Yogyakarta, berbagai spanduk yang berisi anjuran agar masyarakat mewaspadai adanya bahaya komunisme banyak terpampang di pinggir-pinggir jalan. Tidak hanya itu. Di Jakarta, sudah berdiri dua posko antikomunis. Satu ya di Slipi Jaya, dan satunya lagi di samping Hotel Indonesia.
Sejumlah ormas Islam dan organ pemuda dari beberapa partai Islam juga sudah mulai bergerak memerangi apa yang mereka sebut komunisme. Kamis (19/4) lalu, secara resmi ada yang mendeklarasikan sebuah presidium yang bernama Aliansi Anti-Komunis (AAK) dengan ketua H. Abdul Muis (Angkatan '66). Aliansi itu melibatkan sekitar 50-an ormas Islam dan pemuda. Antara lain Front Hizbulloh, Gerakan Pemuda Islam, Front Eks-66, BKPRMI, Front Anti-Komunis Banten, Forum Pemuda Betawi, Laskar Ampera, Barisan Merah Putih. Front Pembela Merah-Putih pimpinan Eurico Guterres juga terlibat.
Rencananya, dalam waktu dekat ini mereka akan mendesak kepada pemerintah agar menarik buku-buku yang berbau ajaran Marxisme-Leninisme. ''Jika tak direspons, kami akan men-sweeping sendiri,'' tandas Tasripin Karim, Ketua BKPRMI kepada ADIL. Selain itu, mereka akan menindaklanjuti dengan mendirikan posko-posko antikomunis lewat ormas-ormas yang tergabung di AAK. Bila perlu masjid-masjid yang strategis mau dijadikan posko mereka.

Sebelum itu, mereka pun kerap menggelar aksi antikomunis. Sebulan lalu, sekitar 200 pemuda anggota Front Pembela Islam (FPI) dan Front Hizbulloh berunjuk rasa di depan Masjid Istiqlal dan Istana Negara Jakarta, Jumat (23/3). Dalam orasinya, mereka mengancam akan menindak tegas elemen masyarakat yang menganut paham komunis, sosialis, dan zionis. Alasannya, ketiga kelompok itu telah mengadu domba antarumat beragama di Tanah Air.
Aksi itu merupakan tindaklanjut aksi sebelumnya yang digelar di Bundaran HI, Jakarta, 18 April lalu. Saat itu, massa FPI mengadakan long march dari Petamburan menuju bundaran HI bersama kelompok Anak Betawi Asli. Di sana, mereka membagi-bagikan stiker berbunyi "Ayo Ganyang Komunis" pada pengemudi kendaraan yang dijumpainya. Di akhir aksi, mereka pun membakar bendera merah bergambar palu arit dan memotong kambing simbol komunis.
Besoknya, aksi serupa juga dilakukan sekitar 100 orang yang tergabung dalam Front Rakyat Antikomunis di bundaran HI. Dalam orasinya, mereka menuntut pemerintah untuk melarang gerakan-gerakan yang berciri komunis. Selain itu, mereka juga mengimbau kepada seluruh komponen bangsa agar tak mudah terprovokasi oleh kegiatan yang akan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Tak mau kalah dengan rekannya di Ibukota. Senin (16/4) lalu, enambelas elemen masyarakat di Yogyakarta yang tergabung dalam Forum Masyarakat Taqwa (Format) juga menyatakan diri perang terhadap komunisme. Mereka menggelar unjuk rasa di depan Mapoltabes dan Gedung DPRD DI Yogyakarta.
Adapun ke-16 elemen tersebut, antara lain Forum Komunikasi Putra Putri Purnawirawan dan ABRI (sekarang TNI --red) Indonesia (FKPPI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan (PK), Partai Bulan Bintang (PBB), Gerakan Pemuda Ka'bah dan Pemuda Muhammadiyah. Ada juga dari Forum Silaturahmi Remaja Masjid, Front Anti-Komunis Indonesia (FAKI), Jaringan Pembela Kehormatan Partai Golkar, Kesatuan Aksi Pemuda Anti-Komunis, Pemuda Panca Marga dan Gerakan Pembela Anti-Komunis (Gepako).
Sebelumnya, Kamis (12/4) lalu aksi serupa digelar di Lapangan Benteng, Medan, Sumatera Utara yang melibatkan sekitar 5.000 massa gabungan dari sekitar 40-an ormas/orpol yang melebur dalam wadah Front Anti-Komunis Seluruh Indonesia (Faksi). Antara lain diikuti oleh KNPI, FKPPI, Pemuda Pancasila, dan Himpunan Mahasiswa Al-Washliyah (Himmah). Aksi bertajuk "Apel Pemuda Mahasiswa dan Pelajar" itu mengajak segenap komponen bangsa untuk tak terpengaruh komunisme, juga menyatakan perang terhadap mereka.
Begitu juga di Semarang. Massa yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa-Pelajar untuk Ukhuwah menggelar unjuk rasa di Gedung DPRD Jawa Tengah, 22 Maret lalu. Massa yang mengaku gabungan dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Pelajar Islam Indonesia (PII), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) itu mengajak seluruh komponen bangsa untuk mewaspadai bahaya laten komunis. Pertikaian antarkelompok yang kerap terjadi menurut mereka, justru ditunggu kelompok yang menghendaki perpecahan bangsa.
Di Solo, ribuan massa yang menamakan diri Front Anti-Komunis Surakarta menggelar tablig akbar, 26 Februari lalu. Dalam acara yang dihadiri oleh Ketua MPR Amien Rais dan tokoh PPP setempat, Moedrick M. Sangidu itu, dibacakan ikrar bersama yang intinya menentang paham komunis gaya baru. Mereka merasa perlu menggelar tablig, karena melihat beberapa kelompok membawa bendera berasas sosial demokrat tetapi tindakannya menghalalkan segala cara. Kelompok itu dianggap sering bertindak anarkis dan mendorong disintegrasi.

REKAYASA POLITIK

Siapakah sebetulnya "hantu" yang mereka sebut sebagai komunisme? Secara formal jelas tidak ada satu organisasi atau partai di Indonesia yang mengaku dirinya berasaskan komunisme. Partai Komunis Indonesia (PKI) yang pernah jaya pada tahun 1960-an sudah dibubarkan dan dilarang pada saat rezim Soeharto berkuasa. Hampir semua pentolannya dijebloskan ke dalam penjara. Hanya sebagian aktivisnya yang berada di luar negeri yang konsisten membawa panji-panji palu arit.
Pada masa Orde Baru, cap komunisme pernah ditempelkan pada Partai Rakyat Demokratik (PRD). Stempel itu diberikan setelah meledak ''Peristiwa 27 Juli'' 1996. Aktivis PRD dituding berada di belakang aksi kerusuhan yang terjadi akibat penyerbuan kantor DPP PDI pimpinan Megawati di Jakarta. Manifesto politik PRD adalah salah satu buktinya. Pimpinan PRD pun banyak yang meringkuk di tahanan --akhirnya dibebaskan begitu Gus Dur berkuasa.
Cap komunisme itu agaknya belum bisa hilang pada diri PRD meskipun Ketua Umumnya, Budiman Sudjatmiko berulang kali mengatakan partainya berasaskan kerakyatan. Lihat saja selebaran yang dikeluarkan Front Hizbulloh satu bulan lalu. Mereka jelas-jelas menyebut PRD dan elemen-elemen mahasiswa di bawahnya sebagai komunis.
''Propaganda Orde Baru dengan sasaran antara Golkar yang dimunculkan oleh mereka melalui operator-operatornya di lapangan, sebut saja PRD, Forkot, Front Kota, Forbes, Famred, hampir-hampir berhasil mengelabui masyarakat Indonesia. Penghancuran sekolah-sekolah Muhammadiyah, masjid, kantor PPP, PAN, dan HMI serta pesantren di Jatim adalah indikasi yang jelas dan nyata bahwa mereka adalah komunis, sosialis dan Zionis,'' bunyi selebaran itu.
Dalam aksi Format di Yogyakarta Senin lalu, beberapa spanduk dan poster juga berisi kecaman terhadap PRD. "Gepako Siap Sweeping PRD dan Pokja Rakyat Yogyakarta (elemen di bawah PRD --red)", "Ayo Ramai-ramai Memburu Komunisme: PRD dan PRY sebagai Musuh Rakyat Sejati" dan "Pertahankan Tap MPRS No. XXV/1966 Titik Darah Penghabisan". Juga dalam aksi di Medan.
Kegelisahan mereka terhadap bahaya komunisme memang bisa dipahami. Sejak Abdurrahman Wahid menjadi presiden, keran demokrasi semakin terbuka lebar. Buku-buku "kiri" yang dulu dilarang Orde Baru, kini membanjiri pasaran. Diskusi tentang ajaran dan ideologi Marxisme-Leninisme pun semakin marak di kampus-kampus. Banyak juga aktivis mahasiswa yang berani mengenakan kaus bergambar tokoh-tokoh komunis seperti Karl Marx dan Che Guevara. Lebih gila lagi, Gus Dur pernah mengusulkan agar Tap MPRS No. XXV/1966 tentang pembubaran PKI dan pelarangan ajaran komunisme, dicabut.
Di dunia maya tak mau ketinggalan, situs yang mengaku PKI sempat muncul dengan alamat: http://www.geocities.com/CapitolHill/Looby/9480/pki.html. Di situ bisa dibaca beberapa pemikiran tentang "sejarah" versi PKI dan sebagainya. Tapi entah apa alasannya, sekarang sudah tidak bisa diklik.
Di panggung politik, PRD juga semakin leluasa bergerak. Ia bisa ikut Pemilu 1999 meski hasilnya jeblok. Gus Dur juga pernah menerima pimpinan partai itu di Istana Negara. Aliansi taktis antara PRD dengan PKB juga tampaknya sudah terbentuk. Tak heran jika sikap politik mereka cenderung membela Presiden. Di tengah maraknya aksi menuntut Gus Dur turun, PRD justru menuntut pembubaran Golkar, pengadilan pejabat Orba yang korup, dan TNI kembali ke barak. Mereka pun bergabung dengan massa NU di Jatim untuk membela Gus Dur. Karena itu, wajar saja ada tudingan mereka berada di balik pengrusakan dan pembakaran kantor Golkar di sana.
Cuma anehnya, ada sejumlah elite politik yang dikenal dekat dengan Gus Dur yang dikelompokkan ke dalam "komunisme gaya baru". Sebuah buku saku setebal 34 halaman yang berjudul Awas PKI Bangkit Lagi membeberkan daftar 50 tokoh lebih yang dianggap berpihak pada komunisme. Nama-nama yang tercantum dalam buku bergambar palu arit bertanda silang yang tak jelas penerbitannya itu antara lain: Wimar Witoelar, Erna Witoelar, Adhie M. Massardi, Agus Wirahadikusuma, Saurip Kadi, Bondan Gunawan, Marsillam Simanjuntak, Hendardi dan lain-lain.
Nama-nama itu juga tercantum dalam selebaran yang dikeluarkan oleh Front Hizbulloh. Pun sering kali tercatat dalam poster yang diusung dalam aksi mengingatkan ancaman bahaya komunisme. Mereka dianggap sebagai pembisik yang turut mengipasi Gus Dur agar Tap MPRS No. XXV/1966, segera dicabut.
Tuduhan itu pun ditanggapi oleh Adhie M. Massardi, Juru Bicara Kepresidenan dengan enteng. ''Ha... ha... ha... saya dituduh seperti itu. Sudah lah saya tidak mau mengomentari hal seperti itu, buat apa itu tak ada gunannya,'' katanya kepada ADIL. Sebaliknya ia mengatakan tuduhan itu muncul karena kepanikan. ''Lagi pula itu kan senjatanya Orde Baru. Anda kan tahu kalau isu-isu seperti itu selalu diada-adakan. Sehingga dari dulu saya justru khawatir kalau benar, ada gerakan kiri atau komunis maka masyarakat jadi tidak percaya,'' imbuhnya.
Hal itulah yang memunculkan spekulasi bahwa kampanye antikomunisme yang marak belakangan ini sangat bernuansa politik. Arahnya tidak lain adalah mempreteli elemen-elemen pendukung Gus Dur. Keterlibatan sejumlah ormas yang selama ini dekat dengan lawan-lawan politik Presiden seperti Front Hizbulloh, FPI, FKPPI, BM-PAN, GPK, Pemuda Panca Marga dan sebagainya di dalam gerakan itu semakin memperkuat spekulasi tadi. ''Semua itu jelas akal-akalan mereka agar kekuatan Gus Dur runtuh, dan jalannya reformasi yang dituntut mahasiswa mereka kendalikan,'' ujar sumber yang selama ini dikenal dekat dengan Gus Dur.
Spekulasi lain menyebutkan bahwa gerakan itu rekayasa politik Golkar dan TNI. Alasannya, Golkar ketakutan dengan tuntutan gerakan mahasiswa juga PRD yang menghendaki dibubarkannya partai warisan Orba itu. Elite TNI pun takut Gus Dur terus mengobok-obok urusan dapurnya dengan menggadang-gadang sejumlah jenderal yang dikenal dekat dengannya seperti Agus WK dan Saurip Kadi. ''Itu permainan Golkar dan Wiranto cs. yang sakit hati kepada Gus Dur. Karena itu diembuskan isu komunisme. Kan itu aneh, masa Marsillam dan Bondan itu komunis,'' tandas sumber tadi bersungut-sungut.
Setali tiga uang, Sekjen PRD Petrus Hariyanto melihat gayanya, gerakan semacam itu disponsori oleh kekuatan-kekuatan Orba. Tujuannya menurutnya untuk menghancurkan kekuatan-kekuatan prodemokrasi. ''Kami pernah dapat jawaban langsung dari seorang petinggi Golkar. Dia mengatakan, "Silakan kalian melakukan gerakan anti-Golkar, kami akan mendorong gerakan antikomunis. Artinya, tidak bisa munculnya gerakan itu berjalan tanpa adanya alasan-alasan tertentu,'' tandasnya kepada ADIL. Dalam konteks itu, TNI juga dikatakan punya kepentingan sama.
Menanggapi tudingan itu, Ketua Presidium AAK, H. Abdul Muis mengatakan semua spekulasi itu tidak benar. Mantan aktivis '66 ini mengaku memiliki bukti-bukti hasil kerja intelijennya bahwa gerakan komunislah yang berada di balik kerusuhan selama ini. ''Waktu kerusuhan (pengrusakan Golkar) di Jawa Timur, Budiman (Sudjatmiko) kan sedang di Surabaya,'' tandasnya pada ADIL. Ia juga mengatakan isu-isu yang digembar-gemborkan mereka seperti potong satu generasi, hancurkan Orde Baru, pengadilan rakyat dan lain-lain itu adalah teori komunis. Karena itu, Muis yakin PRD akan bermain pada saat massa pro-Gus Dur dari Jatim masuk ke Jakarta, 29 April nanti.
Begitu juga dengan tudingan gerakan mereka merupakan rekayasa Golkar dan TNI, Muis mengomentari, ''Setahu saya tidak ada. Kalau konsultasi dengan tentara ada, tapi untuk membahas bagaimana nasib negeri ini,'' ujarnya. Lagi pula menurutnya, TNI sudah tidak mau berpolitik lagi. Sedang soal dana katanya selama ini swadaya. Ia menegaskan gerakan yang diperjuangkan AAK sejauh ini masih murni aspirasi umat untuk membentengi bangsa ini dari kehancuran akibat ulah mereka.
Sementara itu, Drs. Ahmad Suhelmi, M.A., dosen politik Pascasarjana UI menilai maraknya kampanye antikomunisme sebagai reaksi yang wajar, terlepas dari kepentingan politiknya. Ia mengakui di era keterbukaan sekarang ini seharusnya semua ideologi dibebaskan. ''Tapi ada satu hal yang mesti saya tekankan di sini mengenai psiko-politik massa bahwa kita punya sejarah yang gelap dengan komunisme,'' jelas pakar pemikiran kiri ini kepada ADIL. Itu katanya yang harus diperhatikan oleh para elite politik.
Namun demikian, Ketua Umum KAMMI Pusat, Andi Rahmat mengkhawatirkan kalau gerakan antikomunisme itu justru memprovokasi masyarakat untuk mengambil tindakan-tindakan emosional yang seharusnya tidak perlu dilakukan. ''Jadi saya kira ini dua titik ekstrem yang harus kita waspadai. Yang satu memang positif dari satu sisi tapi pada saat yang sama harus dipertimbangkan betul efeknya terhadap masyarakat,'' jelasnya kepada ADIL. Ia juga masih melihat gerakan itu dalam koridor demokrasi. (jar)


Habib Mohammad Rizieq, Ketua FPI

Elemen Islam Masih Murni

Gerakan antikomunisme semakin marak. Masih relevankah isu komunisme dibesar-besarkan di zaman reformasi sekarang ini?
Bagi ana (saya) dan FPI, mengangkat isu komunis dalam kondisi sekarang ini tetap relevan. Karena amanat reformasi itu kan untuk menuju ke arah yang lebih baik. Nah, kalau lewat reformasi ini kita disodori dengan paham-paham komunis dengan ajaran Marxis, namanya kan mundur ke belakang.

Bukankah itu isu usang yang pernah dikampanyekan Orde Baru?
Kita perlu mengubah caranya saja. Dulu Orba menekan komunis ini dengan kekuatan kekuasaan, bukan dengan kekuatan pemikiran. Lantaran itu dalam mengikis komunis tidak tuntas. Sekarang ini yang kita tuntut khususnya dari elemen Islam, kita menginginkan pemahaman komunis ini kita kikis dengan pendekatan dan pemahaman agama secara benar. Dengan mengungkap sisi kesalahpamahaman komunis. Kalau berhasil, kita akan mampu mengikis secara tuntas sampai akar-akarnya.

Siapa yang Anda sebut sebagai komunis?
Ya, antara lain PRD atau FORKOT. Mereka mengakui, bahwa kami-kami ini pengagum Marxis. Itu ada pengakuan dari tokoh-tokoh mereka. Di samping mereka ada juga organisasi lain yang mengakui itu. Kalaupun mereka tidak mau dikatakan komunis, itu hak mereka. Tetapi, bagi FPI yang namanya Marxis-Leninis, kemudian sosialis, komunis, ini setali tiga uang. Cuma beda kemasannya saja.

Apa buktinya PRD komunis?
FPI tak main tuding. Tapi ada beberapa hal sehingga nggak ragu-ragu lagi bahwa mereka bagian dari komunis. Misalkan, ya itu tadi pengakuan mereka sendiri sebagai pengagum sosialis, Marxis. Upaya mereka begitu getol untuk memutihkan orang-orang yang terlibat G30S/PKI. Dan cara-cara mereka melakukan gerakan, yakni menghalalkan segala cara.
Ada selebaran yang menyebutkan nama-nama seperti Marzuki Darusman, Marsillam Simanjuntak, Wimar Witoelar, Bondan Gunawan dll. sebagai komunis gaya baru?
Orang yang tadi Anda sebutkan, itu masih perlu pembuktian. Akan tetapi, FPI sependapat bahwa orang tadi banyak berperan dalam memberi masukan dan bisikan kepada Gus Dur untuk dijadikan sebagai kebijakan. Khususnya saat ini Marsillam. Persoalannya, di antara kebijakan Gus Dur itu bersikap lunak terhadap kelompok komunis ini. Itu satu asumsi yang ana kira tidak mengada-ada walau FPI tidak sependapat.

Alasan lainnya?
Jangan lupa Marsillam dan kawan-kawan ini banyak didukung oleh Fordem yang termasuk golongan yang lebih condong kepada pemikiran sosialis. Itu tak boleh kita lupakan. Tadi sudah kita katakan sosialis dengan komunis itu sangat dekat sekali.
Tapi ada spekulasi di balik gerakan antikomunis ada kepentingan politik Golkar dan TNI....Jadi kita tidak pungkiri di mana setiap ada gerakan pasti orang-orang yang kebetulan punya kepentingan sama akan berusaha ikut menunggangi atau setidak-tidaknya memanfaatkan dan itu sudah menjadi rahasia umum. Nah, pada saat bergerak kemudian ada kekuatan-kekuatan lain yang mencoba untuk mendompleng itu tidak kita pungkiri. Bisa jadi kalau Golkar dan TNI juga ikut memanfaatkan karena kebetulan komunis itu musuh mereka.

Kabarnya mereka malah yang membiayai....
Bisa jadi ada beberapa kelompok yang memang dibayar oleh Golkar atau di dorong oleh TNI untuk melakukan itu, tetapi kebanyakan elemen Islam kita lihat masih cukup murni. Artinya mereka memang menolak bahaya komunis ini karena membahayakan ajaran agama. Adapun di tengah jalan gerakan ini ada kelompok-kelompok lain siapa pun dia yang punya kepentingan dan kebetulan ada musuh bersamanya yaitu komunis dan kebetulan mereka ikut, maka itu sesuatu yang logis di dalam dinamika perjuangan.


Deklarasi PKI Baru di Yogya
Di kalangan aktivis prodemokrasi di Yogyakarta, nama Dwi Bambang Sucipto kurang dikenal. Tapi, lelaki 29 tahun itu tiba-tiba jadi bahan perbincangan. Bukan lantaran diculik Kopassus --seperti sejumlah aktivis lain-- melainkan karena pengakuannya yang menyentak, yakni sebagai Ketua Umum DPP Partai Komunis Indonesia Baru (PKIB) sekaligus deklaratornya.
Pengakuan tersebut, tak pelak, menguatkan anggapan sementara orang bahwa komunisme memang belum mati. Itu sebabnya, Senin (16/4) lalu, sekitar 50 massa yang tergabung dalam Forum Masyarakat Takwa (Format) Anti-Komunis, menggelar aksi di Mapolres Yogyakarta dan Gedung DPRD DIY. Saat dialog dengan Kapoltabes Kombes Pol. Ibnu Sudjak, Koordinator Format AK M. Jazir A.S.P. minta polisi memproses secara hukum Dwi yang kini ditahan di sana.
Cerita tertangkapnya Dwi rada unik. Awalnya, pertengahan Maret lalu, dia menemui Bagus Kurniawan, wartawan Detik.com di Yogyakarta, mengajak ngobrol soal ajaran Soekarno sampai munculnya Ratu Adil. Ujung-ujungnya, pria asli Ungaran, Semarang, dan berstatus mahasiswa Magister Manajemen UGM jurusan Agrobisnis tersebut minta diwawancarai tentang aktivitasnya.
Semula sang kuli tinta menanggapi serius. Meski bukan untuk wawancara, Bagus tetap meladeni obrolan tamunya. Tapi lama-kelamaan Bagus merasa ada yang tidak beres. Apalagi Dwi mengaku sebagai tokoh komunis dan bakal mendeklarasikan PKIB. ''Ketika saya tanyakan kantor pusat dan cabang-cabangnya, dia bilang belum ada. Bahkan Dwi mengatakan, dia satu-satunya pengurus PKIB sekaligus anggotanya,'' cerita Bagus kepada ADIL.
Kian curigalah Bagus bahwa tamunya stres. Dia pun berolok-olok agar Bambang mendeklarasikan partainya di bawah tiang bendera depan kantor Detik.com, malam itu juga. Merasa dilecehkan, Dwi yang juga tercatat sebagai pegawai Kanwil Departemen Pertanian Jateng pun pergi.
Sepekan kemudian, Dwi datang ke Stasiun RRI Nusantara II Yogyakarta. Kepada satpam, dia minta dipertemukan dengan bagian siaran. Satpam lalu memanggil Bambang Sulaksono --reporter piket. Sama seperti permintaannya pada Bagus, Dwi juga minta diwawancarai dan disiarkan secara live sebagai Ketua Umum DPP PKIB. ''Tentu saya menolak,'' terang Bambang.
Eh, si tamu ngeyel dan tetap tak mau pergi sebelum permintaannya dikabulkan. Maka, Bambang pun kemudian menelepon Poltabes Yogyakarta. Malam itu juga, Dwi dijemput oleh anggota intel. Di kantor polisi, dia diinterogasi. Tapi karena jawabannya selalu ngelantur, akhirnya dilepas.
Rupanya Dwi belum kapok. Pada 31 Maret malam, dia mendatangi Mapoltabes Yogyakarta. Kali ini, untuk mengadu karena spanduk merah bertuliskan "Musuh Utama Rakyat bukan Agama, Nasionalisme, atau Komunisme, tetapi Kebodohan dan Kemiskinan" miliknya yang dia pasang di kompleks UGM, disobek orang. Dwi juga meminta polisi membantu mengamankan spanduknya.

Petugas yang menerima pengaduan itu sempat nyeletuk. ''Lho, kamu kan orang yang pernah saya tangkap?'' Dwi mengiyakan. Hanya saja, saat itu, petugas melihat ada sesuatu yang mencurigakan di balik baju Dwi. Ketika digeledah, ternyata belati. Maka Dwi pun ditangkap lagi dan ditahan.
Kepada polisi, Dwi kembali menyatakan dirinya sebagai tokoh komunis yang belum lama ini mendeklarasikan PKI Baru. Namun, Kapoltabes menduga dia stres. ''Omongan dan tingkah lakunya tidak sewajarnya orang waras,'' terang Ibnu Sudjak. Untuk memastikan dugaan itu, polisi memeriksakan Dwi ke psikiater. ''Kami masih menunggu hasilnya,'' imbuh Kapoltabes.
Benarkah Dwi stres? Format AK tak yakin. ''Kalau stres, mengapa dia bisa lulus sarjana dan mengambil S2 di UGM?'' kata Jazir saat dihubungi ADIL. Aktivis remaja masjid itu menduga, Dwi menggunakan teori imunitas. ''Dia melakukan test case, bagaimana reaksi masyarakat dengan pendirian PKIB. Karena reaksinya keras dia pura-pura stres agar dibebaskan,'' tambahnya.

Teror Melanda Aktivis Kiri

Hati-hati kalau memilih kelompok aksi mahasiswa. Salah-salah Anda bisa jadi sasaran teror. Tengok saja teror yang belum lama melanda sejumlah aktivis kelompok aksi yang selama ini dipetakan dalam jaringan politik PRD. Semisal Liga Mahasiswa Nasioal untuk Demokrasi (LMND), Forum Kota (Forkot), Forum Bersama (Forbes), Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred), dan Front Kota (Fronkot). Contoh kasus dialami oleh seorang aktivis Famred yang hendak pulang dari Matraman menuju ke tempat kosnya di Pasar Rebo, Jakarta Timur, Kamis (12/4) lalu. Di tengah perjalanan, sekitar Cililitan, secara tiba-tiba taksi yang ditumpanginya ditabrak dari belakang oleh sebuah mobil pick-up hitam. Begitu menabrak, mobil itu langsung kabur entah ke mana. Akibat kecelakaan itu pun ia mengalami luka cukup parah dibagian muka, dan harus mendapat 100 jahitan. Selama dua minggu dia terbaring di rumah sakit.
Memang, kecelakaan itu bisa saja betul-betul musibah tanpa direkayasa. Tapi ia curiga, kejadian itu sebagai teror terhadap dirinya yang dikenal aktif dalam berbagai aksi menuntut pembubaran Golkar. Ia juga dikabarkan sudah lama menjadi target operasi (TO) kelompok tertentu yang menganggap dirinya komunis. ''Akhir-akhir ini, aku memang merasa sering diawasi oleh orang yang aku tidak kukenal,'' ujar mahasiswa Universitas Jakarta ini kepada ADIL.
Belum lama ini, di sejumlah kampus di Ibukota memang beredar selebaran yang isinya berupa daftar TO puluhan aktivis yang dikategorikan sebagai jaringan PRD pimpinan Budiman Sudjatmiko. Mereka dianggap sebagai komunis baru yang berbahaya. Salah satunya ya aktivis korban tabrak lari tadi.
Teror lebih ringan tur tidak biasanya dialami oleh seorang aktivis Forkot. Ia sering menerima pesan melalui Short Message Service (SMS) di telepon genggamnya. Seharian, dia bisa sampai empat kali mendapat pesan yang sama dari handphone-nya. Pesan itu berbunyi, "Anda Komunis," "Anda Harus Mati," dan "Ganyang Komunis." Tapi ia menganggap teror itu sesuatu yang biasa. "Aku nggak mau ambil pusing. Aku kira itu sudah konsekuensi yang harus kita hadapi," ujar mahasiswa ISTN ini kepada ADIL. Beberapa aktivis lain juga mengaku pernah mendapat ancaman serupa lewat telepon.

Adakah teror itu berkaitan dengan maraknya gerakan antikomunisme? Masih belum pasti. Yang jelas, di kalangan aktivis, teror semacam itu bukanlah sesuatu yang luar biasa. Sudah dari dulu teror menjadi bagian yang tak terpisahkan dari aktivitas mereka. Lebih-lebih pada masa Soeharto masih berkuasa. Mulai dari teror ringan melalui telepon, surat kaleng, sampai penangkapan, penculikan, dan pembunuhan. Dan, sekarang ini dalam tingkat yang lebih ringan, teror masih sering terjadi. Entah, siapa pelakunya?


KUTIPAN:
Semua institusi bisa dipakai untuk alat kepentingan politik. Bahwa ada desakan yang kuat untuk membubarkan Golkar adalah sebuah fakta, bisa saja itu dilakukan oleh mereka yang dulu pernah dizalimi oleh Golkar. Terlepas mereka komunis atau bukan. Karena isu itu diangkat maka ada counter lagi terhadap isu itu yaitu membangkitkan isu perlawanan terhadap komunis. Dan Golkar merasa punya kepentingan dengan isu itu. Karena ini alat yang ampuh untuk menghantam lawan-lawan politiknya.

avatar
paulusjancok
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts : 809
Age : 31
Humor : Yesus nggak pake sempak...hanya orang GOBLOK yang menyembahnya
Reputation : 1
Points : 4450
Registration date : 2011-08-12

View user profile

Back to top Go down

Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum