MURTADIN_KAFIRUN

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 10 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 10 Guests

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 3:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


ZIONISEM KRISTEN-YAHUDI, SIMBIOSA PEMUSNAH PERDABAN

View previous topic View next topic Go down

ZIONISEM KRISTEN-YAHUDI, SIMBIOSA PEMUSNAH PERDABAN

Post by Gerabah on Mon Oct 08, 2012 8:53 pm

ZIONISME KRISTEN-YAHUDI, SIMBIOSA PEMUSNAH PERDABAN
Zionisme Kristen sederhananya dapat didefinisikan sebagai dukungan Kristen sepenuhnya terhadap Zionisme Yahudi. Bapak Zionisme Yahudi, Theodore Herzl (seorang agnostik) melalui tulisannya Der Judenstaat (terbit 1896) telah menyuarakan dengan kuat aspirasi Zionis, yaitu kehendak orang-orang Yahudi Diaspora (yang terserak-serak di Eropa Barat, Eropa Timur dan daerah Balkan) untuk memiliki negeri sendiri.


Pada tahun 1897 di dalam Kongres Zionis Dunia I di Basle, Switzerland, cita-cita Zionis dirumuskan dalam suatu seruan agar "kepada orang-orang Yahudi diberikan suatu negeri yang kehidupan publiknya aman dan memiliki kekuatan hukum yang terjamin di tanah Palestina." Dukungan politik resmi, pertama dan sepenuhnya, terhadap aspirasi Zionisme ini datang dari Arthur James Balfour (1848-1930), seorang politikus (menlu) Inggris terpenting pada zamannya, ketika ia pada tanggal 2 November 1917 mendeklarasikan secara terbuka bahwa pemerintah Inggris mendukung "….pendirian suatu Tempat Tinggal Nasional (a National Home) bagi bangsa Yahudi di tanah Palestina, dan akan berusaha sebaik-baiknya untuk memudahkan tercapainya tujuan ini,…." Deklarasi ini dikenal sebagai Deklarasi Balfour.

Arthur J. Balfour dibesarkan dalam suatu keluarga Kristen injili yang saleh dan sangat bersimpati terhadap Zionisme karena pengaruh ajaran dispensasionalisme John N. Darby yang ditekuninya. Sejalan dengan kepentingan-kepentingan pragmatis politik luar negeri Inggris, posisi dan peran politisnya yang sangat kuat telah dimanfaatkannya untuk menerjemahkan skema dispensasionalisme-pra-millennial ke dalam suatu bentuk material yang kongkret, yaitu pendirian a National Home bagi bangsa Yahudi, yang kemudian, pada 1948, terwujud dalam bentuk Negara Israel Modern.


Deklarasi Balfour ini telah memberikan kepada Zionisme, untuk pertama kalinya, suatu legitimasi politik internasional, dan ini menjadi pendorong kuat bagi kaum Zionis Kristen dan Zionis Yahudi untuk menguasai dan mendiami Palestina, tanpa memperhatikan apalagi memperhitungkan sejumlah, pada waktu itu, 700.000 orang Arab-Palestina yang sedang mendiami tanah itu dimana 10 % di antaranya, pada waktu itu, adalah orang-orang Arab Kristen.

Ketidakjelasan yang disengaja atas apa yang dimaksud dengan "a National Home" dalam Deklarasi Balfour―apakah "a Home" ini sinonim dengan suatu negara berdaulat, kalau ya di mana batas-batas geografis teritorialnya, apakah teritorinya akan mencakup seluruh wilayah Palestina ataukah sebagian saja dari padanya, atau lebih luas lagi, lalu mengapakah yang disebut hanya tanah Palestina, sedangkan orang-orang Arab-Palestina sebagai penduduknya tidak disebut-sebut, dan bagaimanakah status kota Yerusalem ke depannya― telah menjadi penyebab selalu terhalang dan gagalnya segala perundingan yang bertujuan untuk mencapai kedamaian di Negara Israel dan kawasan Timur Tengah umumnya pada masa kini, seperti telah diatur dalam The Road Map to Peace yang diprakarsai dan dirancang Amerika Serikat, PBB, Uni Eropa dan Russia.

Di Amerika Serikat, mendahului gerakan Zionis Theodore Herzl di Eropa, William E. Blackstone, tokoh Kristen Zionis Amerika, pada bulan Maret 1891 melobi Presiden Amerika Serikat, Benjamin Harrison, dan mengajukan petisi pro-Yahudi yang ditandatangani tidak kurang dari 413 pemimpin Kristen dan Yahudi terkemuka Amerika. Petisi ini, yang kemudian dikenal sebagai Memorial Blackstone, mengajukan suatu solusi atas masalah yang dihadapi bangsa Yahudi: "Mengapa tidak memberikan kembali tanah Palestina kepada [orang-orang Yahudi]? Sejalan dengan tindakan Allah menyebarkan bangsa-bangsa ke tempat-tempat di bumi, Palestina adalah tempat tinggal orang-orang Yahudi, suatu harta pusaka milik mereka yang dari padanya mereka telah disingkirkan dengan paksa…. Mengapa para pemimpin dunia ini yang di bawah Perjanjian Berlin tahun 1878 telah memberikan Bulgaria kepada orang-orang Bulgaria dan Serbia kepada orang-orang Serbia, sekarang ini tidak memberikan tanah Palestina kepada orang-orang Yahudi?"

Meskipun Presiden Harrison tidak menuruti amanat petisi itu, namun Memorial Blackstone itu telah menjadi sesuatu yang sangat penting dalam mendorong para aktivis Zionis Kristen dan Yahudi Amerika selama lebih dari 60 tahun ke muka, sampai berdirinya Negara Israel Modern.

Pada suatu rapat besar Zionis Yahudi yang diadakan di Los Angeles pada bulan Januari 1918, dengan sadar Blackstone melandaskan politik Zionisnya ini, yang sudah diperjuangkannya selama 30 tahun, pada keyakinan teologis dispensasionalisme: "[Hal ini saya lakukan] karena saya percaya bahwa Zionisme sejati didirikan atas dasar rencana, tujuan, dan perintah dari Allah yang mahakuasa dan kekal, sebagaimana secara profetis telah dicatat dalam Firman Kudus-Nya, Alkitab."

Karena komitmennya yang dalam pada gerakan Zionisme di Amerika, Blackstone, oleh sahabat karibnya, Louis Brandeis, seorang Hakim Agung Yahudi pertama dalam Mahkamah Agung Amerika Serikat, dinyatakan sebagai Bapak Zionisme: "You are the Father of Zionism as your work antedates Herzl." Bersama-sama dengan Brandeis, Blackstone, sejak pencanangan Memorial-nya, terus bekerja selama beberapa dasawarsa ke muka untuk meyakinkan rakyat Amerika dan khususnya para Presiden Amerika yang secara berkala berganti, untuk mendukung agenda perjuangan Zionisme.

Setelah Perang Dunia I berakhir, dan kemenangan berada di pihak sekutu, maka negara-negara sekutu pun membagi-bagi "tumpeng" Timur Tengah ke dalam "kawasan-kawasan pengaruh" (spheres of influence); dan Inggris mendapat mandat untuk memerintah di tanah Palestina sebagaimana ditetapkan oleh Liga Bangsa-bangsa waktu itu. Deklarasi Balfour pun dilaksanakan. Maka, pada 14 Mei 1948 Negara Israel Modern didirikan, dengan menelantarkan satu juta orang Arab-Palestina yang terusir dari tanah Palestina.

Inilah awal kemenangan Zionisme, yang bagi kalangan Kristen Zionis dispensasionalis merupakan awal dari serangkaian peristiwa di Tanah Israel yang masih akan terjadi dan tengah dinanti-nantikan, sesuai nubuat para nabi, beberapa di antaranya: perluasan wilayah Tanah Israel sehingga mencakup wilayah-wilayah yang pernah dikuasai raja Daud dalam sejarah Israel kuno; kembalinya orang-orang Yahudi Diaspora ke Tanah Israel; pembangunan Bait Allah III di kawasan Bukit Bait (Temple Mount), yang kemudian, menurut perspektif dispensasional, akan diduduki dan dinajiskan oleh sang Antikristus persis sebelum Kristus datang kembali untuk mengangkat gereja Kristen ke surga; dan perang dahsyat Armageddon.

Ini semua akan membawa dan menyeret dunia ke dalam kemelut dan kesengsaraan besar, selanjutnya tibalah pemerintahan Millennium, yang akan didahului oleh kedatangan Yesus Kristus kembali yang akan menegakkan kedaulatan Yahudi atas dunia melalui pemerintahannya di kota Yerusalem. Orang-orang Kristen Zionis di mana pun harus mengupayakan segala hal apa pun untuk semua nubuat ini dipenuhi.

Dalam Kongres Zionis Dunia ke-27 (1968) di Yerusalem, Zionisme Yahudi dirumuskan dalam lima prinsip: 1) kesatuan orang-orang Yahudi dan keutamaan Negara Israel dalam kehidupan orang-orang Yahudi; 2) berkumpulnya kembali orang-orang Yahudi di negeri historik mereka, Eretz Israel; 3) penguatan Negara Israel Modern; 4) pemeliharaan identitas orang Yahudi; dan 5) perlindungan hak-hak orang Yahudi.

Dua orang Rabbi Yahudi membuat lebih jelas dan tegas, apa itu Zionisme.
Rabbi Shlomo Aviner (dikutip 1999) menegaskan "Kita tidak boleh lupa… bahwa tujuan paling utama dari dikumpulkannya kembali orang-orang Yahudi yang terserak-serak di negeri-negeri pembuangan dan pendirian Negara Israel Modern adalah pembangunan Bait Allah. Bait Allah ada di puncak piramida [perjuangan kita]."

Hubungan antara teologi dan politik di dalam Zionisme Yahudi dengan gamblang dan tegas dinyatakan oleh Rabbi Yisrael Meida, "Ini adalah suatu perkara kedaulatan. Orang yang mengontrol Gunung Bait Allah, mengontrol Yerusalem. Dan orang yang mengontrol Yerusalem, mengontrol Tanah Israel." Dari dua pernyataan ini pokok-pokok terpenting dari Zionisme Yahudi kelihatan jelas: menjadikan bangsa Yahudi berdaulat atas Tanah Israel dan kota Yerusalem, dan membangun Bait Allah; semuanya ini dapat dicapai hanya melalui Negara Israel Modern yang harus terus diperkuat.

Zionisme Kristen Masa Kini

Berdirinya Negara Israel Modern pada 1948 dipandang kalangan Kristen Zionis sebagai sebetik berita profetis terbesar dalam abad ke-20, suatu kabar tentang pemenuhan terpenting dari nubuat Kitab Suci, antara lain Yeremia 3:14, 18:
"Kembalilah, hai anak-anak murtad,…! Aku akan mengambil kamu, seorang dari setiap kota dan dua orang dari setiap keluarga, dan akan membawa kamu ke Zion … pada masa itu kaum Yehuda akan pergi kepada kaum Israel, dan mereka akan datang bersama-sama dari negeri utara ke negeri yang telah Kubagikan kepada nenek moyangmu menjadi milik pusaka." "Datang bersama-sama dari negeri utara" ditafsir sebagai kembalinya orang-orang Yahudi dari negara-negara Rusia, Polandia, Jerman dan negara-negara lain di Eropa Timur dan daerah Balkan. Yeremia 16:14-15 juga ditafsir kalangan dispensasionalis dari sudut restorasionisme Zionis: “Sebab waktunya akan datang…. Aku akan membawa mereka pulang ke tanah yang telah Kuberikan kepada nenek moyang mereka."

Dalam argumentasi seorang dispensasionalis, kendati pun teks-teks ini pada konteks sejarahnya mengacu pada kembalinya Israel dari pembuangan di Babilonia, namun kalau teks-teks tersebut dipandang sebagai "nubuat lintas-zaman," maka sebetulnya teks-teks ini "melihat ke depan, kepada peristiwa-peristiwa yang jauh lebih besar daripada kembalinya orang Yahudi dari Babilonia di bawah pimpinan Zerubabel", yaitu kepada peristiwa pengumpulan kembali orang Yahudi untuk keduakalinya di zaman modern dari segala penjuru dunia, terutama dari negeri-negeri utara. "Negeri pusaka yang Allah telah berikan kepada nenek moyang Israel" yang akan dipulihkan kembali, ditafsir telah digenapi melalui Perang Enam Hari Israel (4-7, 9-10 Juni 1967) dalam melawan Yordania, Suriah, Mesir dan Irak, yang membuat Israel menguasai Yerusalem (termasuk Kota Lama Yerusalem), Tepi Barat, Jalur Gaza (Samaria), Dataran Tinggi Golan, dan Sinai

Menyusul kemenangan-kemenangan spektakuler Israel dalam Perang Enam Hari itu, ayah mertua Billy Graham, Nelson Bell, yang pada waktu itu menjadi editor majalah Christianity Today, menyuarakan perasaan-perasaan banyak orang Kristen injili Amerika pada waktu itu, ketika ia, di dalam editorial majalah itu, menulis, "untuk pertama kalinya dalam kurun waktu lebih dari 2000 tahun Yerusalem kini sepenuhnya berada kembali dalam kekuasaan orang-orang Yahudi; dan fakta ini memberikan suatu kepercayaan yang dibarui dan tergairahkan kepada setiap orang yang mempelajari Alkitab bahwa Alkitab itu benar dan sah."

Perang Enam Hari itu dilegitimasi dengan penjelasan teologis oleh Zionis Kristen, ketika mereka menyatakan bahwa: Allah ingin memberikan kepada umat-Nya bagian dari tanah yang tidak mereka terima pada tahun 1948. Hasil dari Perang Enam Hari adalah bahwa Yudea dan Samaria, dan Kota Lama Yerusalem, ibu kota kerajaan Daud, dikembalikan kepada pemilik semula.

Dalam tahun 1976 terjadi serangkaian peristiwa yang membawa Zionisme Kristen langsung ke kancah politik arus utama Amerika Serikat. Berkat dukungan kalangan sayap kanan (sayap fundamentalis) kaum Kristen injili Amerika, Jimmy Carter terpilih sebagai seorang Presiden yang sudah "lahir baru." Setahun kemudian, di Israel Menachem Begin dan Partai Likud yang berhaluan politik fundamentalis (sayap kanan) memegang kekuasaan. Maka, lambat tapi pasti, terbangunlah suatu koalisi antara para politisi kanan, kaum Kristen injili, dan para pelobi Yahudi, di Amerika.

Pada tahun 1978, Presiden Jimmy Carter mengakui bahwa kepercayaan-kepercayaan pro-Zionis yang dipegangnya telah memengaruhi kebijakan politik Timur Tengahnya; ia menyatakan, antara lain, bahwa Negara Israel adalah "suatu gerak kembali, pada akhirnya, kepada tanah alkitabiah yang dari dalamnya bangsa Israel telah disingkirkan pada beratus-ratus tahun silam….Pendirian Negara Israel adalah pemenuhan dan hakikat sebenarnya dari nubuat-nubuat alkitabiah."

Tetapi, ketika Carter mulai ragu terhadap program-program pendudukan yang dengan agresif dilancarkan Partai Likud, dan mengusulkan suatu rencana untuk menciptakan suatu negara merdeka bagi orang-orang Arab Palestina, maka koalisi pro-Israel antara orang-orang Kristen injili dan orang-orang Yahudi dengan tanpa kasihan mengucilkannya, dan mereka mengalihkan dukungan mereka kepada Ronald Reagan dalam Pemilu 1980.

Ketika Reagan terpilih sebagai Presiden, maka dukungan Amerika kepada Zionisme Kristen bertambah besar dan luas. Pemerintahan Reagan bukan saja suatu pemerintahan yang paling pro-Israel dalam sejarah Amerika, tetapi juga memberikan jabatan-jabatan politik sangat penting pada beberapa orang Zionis Kristen. Bukan hanya Reagan, tetapi juga Kepala Departemen Kehakiman Amerika, Ed Meese, Sekretaris Departemen Pertahanan, Casper Weinberger, dan Mendagri James Watt, menganut kepercayaan pra-millenial dispensasional.

Dalam menjalankan pemerintahannya di Gedung Putih, Reagan secara teratur mengadakan seminar-seminar, dengan mengundang orang-orang Kristen Zionis fundamentalis seperti Jerry Falwell, Mike Evans dan Hal Lindsey, untuk berbicara dan mengadakan kontak pribadi langsung dengan para pemimpin nasional dan Kongres.

Sebagai contoh, pada tahun 1982, Reagan mengundang Falwell untuk memberikan suatu pandangan dan pengarahan kepada Dewan Keamanan Nasional mengenai kemungkinan pecahnya perang nuklir melawan Russia. Hal Lindsey juga mengklaim bahwa Reagan telah mengundangnya untuk berbicara perihal perang dengan Russia di depan para pajabat Pentagon.

Di dalam suatu percakapan pribadi dengan Tom Dine, seorang pelobi senior Yahudi yang bekerja untuk American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) yang dilaporkan dalam surat kabar The Washington Post, April 1984, Presiden Reagan menyatakan, "Anda tahu, saya berpaling kepada nabi-nabi kuno Perjanjian Lama dan kepada tanda-tanda yang meramalkan Perang Armageddon, dan saya sendiri jadi bertanya-tanya apakah kita ini adalah generasi yang akan melihat semuanya itu terpenuhi. Saya tidak tahu apakah Anda belakangan ini juga telah memperhatikan nubuat-nubuat para nabi itu; akan tetapi, percayalah kepada saya bahwa nubuat-nubuat itu menggambarkan masa-masa yang sekarang ini sedang kita jalani."

Sementara George Bush Snr., Bill Clinton dan George W. Bush, tidak tampak memegang keyakinan-keyakinan dan prapaham-prapaham pra-millennialisme dispensasional yang dipercayai Jimmy Carter dan Ronald Reagan, mereka juga tetap mempertahankan, mungkin dengan setengah hati, posisi kuat pro-Zionis para pendahulu mereka. Ini bisa terjadi terutama karena kuatnya pengaruh para pelobi Zionis yang dipandang banyak orang sebagai kelompok paling berkuasa di Amerika Serikat.

Seperti telah disinggung di atas, Presiden Bush malah yakin bahwa di balik aksi-aksi militer Amerika Serikat terhadap Afghanistan, yang sempat disebutnya sebagai "crusade" bangsa Amerika, dan terhadap Irak, terdapat rencana dan maksud Allah sendiri dalam pekerjaan-Nya di dunia ini, yakni untuk menghancurkan "axis of evil." Tiga orang pemimpin Kristen evangelikal fundamentalis, Jerry Falwell, Pat Robertson, dan Hal Lindsey, yang pada masa pemerintahan Reagan diberi kewenangan untuk berbicara di Gedung Putih untuk menyampaikan visi-visi pra-millennial dispensasional mereka yang menyangkut Negara Israel dan pergolakan politik di Timur Tengah yang melibatkan negara-negara adidaya dunia, adalah orang-orang yang paling berpengaruh dalam empat dasawarsa terakhir ini dalam memantapkan kebijakan politik luar negeri Amerika untuk tetap pro-Zionis.

Falwell, Pat Robertson dan Hal Lindsey, bersama-sama telah menjadi figur-figur simbolik terkemuka yang mempersatukan para pemimpin Kristen fundamentalis injili yang berpengaruh di Amerika, yang mencakup nama-nama seperti Zola Levitt, Oral Roberts, Mike Evans, Tim LaHaye, Kenneth Copeland, Paul Crouch, Ed McAteer, Jim Bakker, Chuck Missler dan Jimmy Swaggart. Semuanya adalah para pemuka Kristen pro-Zionis; mereka membela kepentingan Israel melalui tulisan-tulisan dan siaran-siaran radio dan TV-satelit (network dan cable) mereka.

Para pemimpin Kristen fundamentalis ini, bersama dengan organisasi-organisasi pro-Israel yang mereka pimpin, secara rutin dan teratur menjangkau lebih dari 100 juta orang Kristen Amerika, lebih dari 100 ribu pendeta; dan anggaran keuangan mereka, bila digabung, akan mencapai suatu jumlah yang besar, 300 juta USD per tahun.

Mereka membentuk suatu aliansi Zionis yang luas, fanatik, besar dan ampuh dalam membentuk dan mengendalikan baik politik luar negeri Amerika Serikat di Timur Tengah maupun dukungan Kristen menyeluruh bagi Negara Israel. Hal Lindsey bahkan tanpa ragu menyamakan orang-orang Kristen lain yang anti-dispensasionalisme sebagai pendukung Nazisme yang anti-Semit, karena, mereka, dalam penilaian Lindsey, menyangkal baik jati diri khas maupun masa depan bangsa Yahudi yang di dalam tujuan-tujuan Allah dengan dunia ini diberi tempat istimewa, yang karenanya harus didukung orang-orang Kristen.

Jerry Falwell, yang dengan mantap mengakui dirinya sebagai seorang Fundamentalis, adalah seorang pendeta dari Thomas Road Baptist Church dan pendiri serta rektor dari Baptist Liberty University yang mandiri, di Lynchburg, Virginia, dengan mahasiswanya berjumlah sekitar 10 ribu orang. Jerry Falwell Ministries mensponsori Jaringan Siaran TV Liberty dan program bersama Old Time Gospel Hour yang disiarkan 350 stasiun TV dan memiliki anggaran sebesar 60 juta USD per tahun.

Jerry Falwell juga mendirikan Moral Majority pada tahun 1979 sebagai bagian dari usahanya untuk menjadikan Amerika bangsa bermoral, yang anti terhadap homoseksualitas, aborsi, pornografi, dan dosa-dosa sosial lainnya (ironisnya usaha-usaha moral ini bertolak belakang dengan keyakinan fatalistik dispensasionalisme-nya). Seperti umumnya orang-orang Kristen evangelikal, semula Falwell menjauhkan diri dari politik; tetapi ketika pada tahun 1967, dalam Perang Enam Hari, Israel berhasil merebut dan menguasai kawasan-kawasan lain di Timur Tengah dari negara-negara Arab tetangganya, Falwell pun, karena melihat "tangan Allah" bekerja dalam Perang Enam Hari itu, masuk ke dalam dunia politik dan menjadi seorang pendukung yang sangat bersemangat terhadap Negara Zionis.

Sikap politik fundamentalisme Amerika Utara terhadap Negara Israel Modern jelas sekali dalam ucapan representatif dari Jerry Falwell, "We are Pro-American, which means strong national defense and the State of Israel" (lihat Jerry Falwell, "An Interview with the Lone Ranger of American Fundamentalism", Christianity Today XXV, 15 [September 4,1981] 21).

Pada tahun 1979, pemerintah Israel memberi Falwell sebuah pesawat jet untuk membantunya melaksanakan misinya membela kepentingan Israel. Setahun kemudian, 1980, Falwell menjadi seorang non-Yahudi pertama yang oleh Perdana Menteri Menachem Begin dianugerahi medali Vladimir Ze'ev Jabotinsky, sebuah penghargaan untuk mereka yang berjuang bagi keunggulan Zionis. Jabotinsky adalah pendiri Zionisme Revisionis dan berpandangan bahwa orang-orang Yahudi memiliki mandat ilahi untuk menguasai dan menduduki "kedua tepi (barat dan timur) Sungai Yordan" dan tidak bertanggungjawab pada hukum internasional.

Dalam bulan Maret 1985, Falwell berbicara di hadapan Majelis Para Rabbi konservatif di Miami dan berjanji akan "memobilisasi 70 juta orang Kristen konservatif bagi Israel." Pada Januari 1998, ketika PM Israel Benjamin Netanyahu berkunjung ke Washington, yang pertama dijumpainya bukan Presiden Clinton, tetapi Jerry Falwell dan The National Unity Coalition for Israel, suatu perhimpunan lebih dari 500 pemimpin Kristen fundamentalis.

Dalam pertemuan itu, orang-orang dalam perhimpunan ini menyanjung Netanyahu sebagai "Ronald Reagan bangsa Israel." Kali ini, Falwell berjanji akan menghubungi 200.000 pendeta dan pemimpin gereja untuk meminta Presiden Clinton mengakhiri tekanannya pada Israel yang mengharuskan Israel taat pada kesepakatan-kesepakatan Oslo ("Declaration of Principles") yang ditandatangani di Washington 13 September 1993.
Dalam suatu wawancara dengan surat kabar The Washington Post di tahun 1999, Falwell menegaskan bahwa Tepi Barat adalah "suatu bagian tidak terpisahkan dari negara Israel." Memaksa Israel untuk menarik diri dari Tepi Barat, kata Falwell, adalah "sama dengan meminta Amerika memberikan Texas kepada Mexico, demi membangun suatu hubungan yang baik. Ini sungguh tidak masuk akal." Falwell telah berhasil, barangkali lebih baik daripada pemimpin Kristen mana pun di Amerika, untuk meyakinkan para pengikutnya untuk mengakui bahwa adalah kewajiban mereka kepada Allah untuk memberikan dukungan tanpa syarat kepada Negara Israel.

Doktrin Diterjemah ke dalam Aktivitas Politik


Para penganut dispensasionalisme pra-millennial tidak membiarkan doktrin-doktrin mereka tinggal sebagai doktrin saja yang mengapung di awang-awang, melainkan menerjemahkannya ke dalam pelbagai aktivitas politik pro-Israel. Berikut ini suatu tinjauan dalam garis besar atas relasi doktrin dispensasionalisme pra-millennial dengan aktivitas-aktivitas politik para penganutnya.

1) Doktrin: Israel Umat Pilihan Allah

Keyakinan bahwa Israel adalah "umat khusus pilihan Allah" yang tidak bisa dibatalkan (selain teks-teks PL, kerap dirujuk Roma 11:28-29, "… tetapi mengenai pilihan, mereka [Israel] adalah kekasih Allah oleh karena nenek moyang. Sebab kasih karunia dan panggilan Allah tidak bisa diubah") melahirkan kegiatan-kegiatan politik yang seratus persen berpihak kepada atau pro Israel.

Beberapa contoh dapat dikemukakan.

Menyusul Perang Enam Hari di tahun 1967, kecuali satu-satunya dukungan dari Amerika Serikat, Negara Israel amat sangat dikucilkan dari komunitas dunia. Hal Lindsey pun meratap, "Sampai pada Konferensi Madrid 1991, orang-orang Arab 'dihimbau' sebanyak empat kali untuk 'menaati', 'menghentikan', 'mengakhiri', dsb. Tetapi Israel 'dituntut', 'diperintahkan', dsb., sebanyak tiga ratus lima kali, untuk melaksanakan keputusan Sidang Umum [PBB]. PBB membuat sebanyak 605 resolusi sejak berdirinya sampai Perang Teluk. Dari antaranya, sebanyak 429 atau sebesar 62 persen dari keseluruhan resolusi PBB melawan Israel atau kepentingan-kepentingannya." Maka orang-orang Kristen Zionis pun melihat peran mereka untuk menghibur Israel, dengan mengutip Yesaya 40:1-2, "Hiburkanlah, hiburkanlah umat-Ku, demikian firman Allahmu."

Lalu, dalam bulan Oktober 2000, beberapa hari setelah Ariel Sharon melakukan perkunjungannya yang provokatif ke Haram Al-Sharif (kawasan pintu gerbang yang yang membawa masuk orang ke Bukit Bait, Temple Mount) yang waktunya diatur dengan seksama untuk merongrong pemerintahan Barak yang sedang bernegosiasi dengan Arafat untuk menjadikan Yerusalem sebagai suatu kota milik bersama (perkunjungan ini telah memicu perlawanan intifadah yang kedua), maka sebuah iklan muncul di The New York Times dengan judul "Surat Terbuka kepada Orang-orang Kristen Evangelikal dari Orang-orang Yahudi bagi Yesus (Jews for Jesus - yaitu, orang-orang Yahudi Kristen)."

Di dalam iklan ini, mereka meminta orang-orang Kristen evangelikal untuk menunjukkan solidaritas mereka kepada Negara Israel pada saat-saat kritis ini: "Sekaranglah waktunya untuk berpihak kepada Israel. Saudara-saudara di dalam Kristus, hati kami sangat berat ketika kami melihat gambaran-gambaran kekerasan dan pertumpahan darah di Timur Tengah… Rekan-rekan Kristen, 'kasih karunia dan panggilan Allah itu tidak bisa diubah' (Roma 11:29). Begitu juga, dukungan kita bagi kehidupan dan ketahanan Israel di masa kegelapan ini tidak bisa diubah. Sekaranglah saatnya bagi orang-orang Kristen untuk berdiri di pihak Israel."

Selain yang telah dikemukakan di atas tentang lobi-lobi Yahudi yang sangat kuat memengaruhi kebijakan luar negeri Amerika Serikat untuk kawasan Timur Tengah, bahkan juga sangat menentukan pemilihan-pemilihan presiden, beberapa hal lain dapat disebutkan. Pada tahun 1980 didirikanlah International Christian Embassy Jerusalem (ICEJ), dengan tujuan untuk mengoordinasikan "kegiatan-kegiatan lobi politik langsung dalam kerja sama dengan pemerintah Israel." Salah satu sasaran utamanya adalah disingkirkannya kantor-kantor PLO di Negara-negara Barat dan dipindahkannya kedutaan besar Amerika Serikat dari Tel Aviv ke Yerusalem sebagai suatu bentuk pengakuan Amerika atas kedaulatan Israel atas kota Yerusalem.

Lembaga yang namanya National Unity Coalition for Israel (NUCFI) adalah jaringan Zionis terbesar dan paling berpengaruh yang telah didirikan di Amerika Serikat pada tahun 1994. NUCFI sekarang ini telah menjadi suatu koalisi besar dari 200 organisasi Yahudi dan Kristen yang berbeda-beda dan otonom, mewakili 400 juta orang anggotanya yang "bertekad bulat untuk menjadikan Israel sebuah negara yang aman."

Strategi utama mereka adalah melakukan lobi-lobi kepada media massa dan para politikus mapan papan atas Amerika Serikat, untuk menantang apa yang mereka sebut "disinformasi dan propaganda" yang disebar musuh-musuh Israel dan untuk mengungkapkan "kebenaran tentang Israel."



Ke dalam NUCFI telah bergabung tiga organisasi Kristen Zionis terbesar, yaitu Bridges for Peace, International Christian Embassy, dan Christians for Israel.
Karena kekuatan politik para pelobi Zionis, Amerika Serikat setiap tahunnya secara teratur mengikatkan diri untuk memberikan lebih dari 3 (tiga) milyar USD kepada Israel dalam bentuk pemberian, hutang dan bantuan.

Dukungan finansial besar kepada Israel juga datang dari kegiatan-kegiatan Holy Land tours yang dilaksanakan sebagai tanda solidaritas dengan Israel, sekaligus sebagai propaganda yang akan menimbulkan posisi pro-Israel dalam diri banyak orang Kristen injili sedunia. Dua orang pemuka Kristen injili Amerika, Pat Boone dan Jerry Falwell, adalah sekutu-sekutu Israel dalam mempromosikan pro-Israeli solidarity tours.

Biro perjalanan ke Israel Friendship Tours milik Falwell, misalnya, memberikan kesempatan-kesempatan kepada para peserta untuk bukan hanya bertatap-muka dengan pejabat-pejabat tinggi pemerintah Israel dan pejabat-pejabat militer, tetapi juga untuk meninjau langsung medan-medan tempur Israel, mengadakan perkunjungan resmi ke instalasi dan posisi pertahanan strategis militer Israel, bahkan juga mengalami langsung perang yang dihadapi Israel sebagai suatu bangsa.

2) Doktrin: Restorasionisme

Orang-orang Kristen Zionis percaya bahwa adalah kehendak Allah untuk orang-orang Yahudi kembali ke Tanah Israel, sebab tanah ini, melalui ikatan perjanjian, telah diberikan Allah kepada keturunan-keturunan Abraham. Terkumpulnya kembali orang-orang Yahudi di Tanah Israel adalah pemenuhan nubuat para nabi PL. Dengan dipulihkannya status mereka sebagai pemilik sah Tanah Israel, maka akan menyusul kejadian-kejadian lain yang sedang dinanti-nantikan, antara lain, pembangunan kembali Bait Allah (sebagai Bait Allah III) yang di dalamnya ibadah dan pemberian kurban-kurban yang diatur dalam Kitab Imamat akan dipulihkan.

Restorasionisme semacam ini melahirkan kegiatan-kegiatan besar untuk memindahkan orang-orang Yahudi Diaspora (selain di Eropa Barat, tidak sedikit yang berdiam di negeri-negeri bekas Uni Sovyet) kembali ke Tanah Israel. Emigrasi (Aliyah = "naik ke" Yerusalem) Yahudi besar-besaran, keluar dari negara-negara Eropa Barat dan Eropa Timur, kembali ke Tanah Israel, sedang berlangsung. Banyak organisasi atau agen perjalanan Kristen Zionis, yang tersebar di Eropa Barat dan Eropa Timur, dengan bekerja sama dengan organisasi-organisasi Yahudi, melaksanakan pemindahan besar-besaran ini, dengan dukungan dana sangat besar yang digali dari gereja-gereja Kristen evangelikal sedunia yang pro-Israel.

Mereka mengurus hampir segala-galanya, dari dokumen-dokumen identitas dan perjalanan, transportasi darat, laut dan udara, sampai pada pemelajaran, pelatihan dan pemberian fasilitas-fasilitas dan sarana-sarana untuk hidup baru dan sehat di kawasan-kawasan pemukiman baru di Tanah Israel yang rawan penembakan gelap dan yang bagi para pendatang baru masih asing. Kawasan-kawasan pemukiman baru yang dibuka di tempat-tempat yang sebelumnya dihuni oleh orang-orang Arab Palestina (misalnya kawasan Tepi Barat) ditawarkan untuk "diadopsi", dibiayai dan dipelihara, oleh gereja-gereja Kristen injili pro-Zionis.

3) Doktrin: Tanah Israel Seutuhnya Seperti Yang Dijanjikan


Bagi Zionisme Yahudi-Kristen yang memakai Kitab Suci sebagai petunjuk dan peta geografis, Tanah Israel, Eretz Israel, yang sah untuk bangsa Yahudi, dalam pandangan mereka, memiliki batas-batas yang jauh lebih luas ketimbang yang sekarang ini sedang diperdebatkan dengan Otoritas Palestina, Syria dan Yordania. Karena itu, orang-orang Kristen Zionis yang terlibat dalam usaha-usaha pemulihan Tanah Israel selalu mendukung dan membenarkan setiap aksi militer yang ingin memperluas batas-batas teritorial Negara Israel.



Sejak 1967, dengan menggunakan berbagai insentif ekonomis dan perpajakan, dan juga
dengan mengacu pada teks-teks Kitab Suci, pemerintah Israel telah berhasil mendorong 400 ribu orang Yahudi untuk mendiami Yerusalem Timur, Tepi Barat, Gaza, dan Dataran Tinggi Golan, melalui pembukaan 190 kawasan pemukiman baru yang, dilihat dari hukum internasional, illegal. Organisasi-organisasi Kristen Zionis mendukung penuh, secara politik dan finansial, usaha-usaha yahudisasi terhadap kawasan-kawasan pendudukan yang semula didiami bangsa Arab-Palestina atau atas kawasan-kawasan yang berupa bukit-bukit bebatuan yang kering dan tandus yang belum pernah didiami sama sekali selama ribuan tahun.

David Allen Lewis, Presiden dari Christians United for Israel, menempatkan klaim Israel atas teritori mereka dalam konteks yang lebih luas Timur Tengah. Ia menegaskan, "Orang-orang Arab telah menguasai 99,5 persen kawasan Timur Tengah … hal ini tidak bisa dibenarkan." Sudah dikatakan di atas, Perang Enam Hari pada tahun 1967 dipandang kalangan Zionis Kristen sebagai pekerjaan Allah untuk memberikan kepada Israel bagian-bagian tanah yang belum mereka terima pada tahun 1948, ketika Negara Israel didirikan.


Organisasi Jews for Jesus, misalnya, membandingkan pendudukan-pendudukan Israel atas kawasan-kawasan yang semula dimiliki bangsa Arab dengan pendudukan Texas oleh Amerika Serikat. Program-program "adopsi" dijalankan untuk memperkuat kawasan-kawasan pemukiman baru itu. Lembaga Christian Friends of Israeli Communities (CFOIC), yang didirikan Ted Beckett pada tahun 1995, dengan bekerjasama dengan Christian Friends of Israel (CFI), mengklaim telah berhasil menggerakkan 50 gereja di Amerika Serikat, Afrika Selatan, Jerman, Belanda, dan Filipina, untuk mengadopsi 39 kawasan pemukiman baru orang-orang Yahudi.


Melalui program bantuan-bantuan sosial, The International Christian Embassy Jerusalem (ICEJ) menyediakan dukungan finansial dan material terhadap proyek-proyek pembukaan dan pemeliharaan kawasan-kawasan pemukiman baru, termasuk juga program penyediaan rompi-rompi anti peluru untuk memperkuat kemauan para penghuni baru untuk bertahan diam di kawasan-kawasan yang rawan bahaya, yang kerap ditimbulkan oleh apa yang mereka gambarkan sebagai "3 juta orang Palestina yang bermusuhan."


ICEJ juga berhasil menggalang dana sebesar 150 ribu USD untuk membeli sebuah bus anti-peluru yang digunakan untuk memindahkan para pemukim keluar dan masuk dari dan ke kawasan-kawasan pemukiman baru yang dibuka di Tepi Barat dan Efrat. CFOIC meminta orang-orang Kristen untuk berdoa bagi keamanan para pemukim baru Yahudi dan bagi diakhirinya aksi-aksi teroris, dan agar pemberian tanah kepada orang-orang Palestina dihentikan dan, sebaliknya, orang-orang Yahudi makin banyak mendapatkan tanah.

4) Doktrin: Yerusalem Harus Dipertahankan Utuh, Tidak Terbagi


Bagi Zionisme Kristen dan Yahudi, kota Yerusalem seluruhnya, yang tidak dibagi-bagi, adalah ibu kota abadi bagi kerajaan Daud dalam zaman PL yang dilanjutkan dalam Negara Israel Modern. Orang-orang Kristen Zionis dengan sangat kuat menolak setiap proposal apa pun yang mau menjadikan Yerusalem Timur sebagai ibu kota Negara Palestina, atau sebagai kota yang dimiliki bersama tiga agama besar. Setelah Perang Enam Hari di tahun 1967, yang membuat Israel dikucilkan masyarakat internasional, orang-orang Kristen Zionis berjuang untuk dunia internasional mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Negara Israel.



Pada bulan Februari 1984, ICEJ mengirim seorang wakilnya, Richard Hellman, untuk berbicara di depan US Senate Committee on Foreign Relations di Washington dan mendesak Amerika Serikat untuk memindahkan kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem dan mengakui kota itu sebagai ibu kota Israel. Falwell dan American Israel Public Affairs Committee (AIPAC) juga melakukan gerak yang sama.

Belakangan, Senator Bob Dole mengajukan suatu rancangan UU kepada Senat, yang kemudian disetujui, yang isinya mengharuskan Kedutaan Besar Amerika Serikat dibangun kembali di Yerusalem pada 21 Mei 1999, dan mengesahkan anggaran 100 juta USD sebagai dana pendahuluan untuk tujuan tersebut.


Dalam bulan Oktober 1995 ia menegaskan, "Ibu kota Israel tidak dibicarakan dalam proses perdamaian, dan pemindahan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem tidak akan mempengaruhi hasil perundingan-perundingan apa pun di masa depan.” Akan tetapi Presiden Amerika Serikat tidak mau mengesahkan keputusan Senat itu; hal ini disesalkan Dole, dan ia memberikan komentarnya: "Seperti telah berlaku selama tiga ribu tahun, Yerusalem pada masa kini juga adalah hati dan jiwa dari bangsa Yahudi. Kota ini pada masa kini juga, dan harus selamanya, menjadi ibu kota abadi dan tidak terbagi-bagi dari Negara Israel…. Waktunya telah tiba… untuk tidak hanya berbicara di atas kertas, untuk tidak hanya menyuarakan dukungan-dukungan, atau hanya membicarakan keputusan-keputusan Kongres. Waktunya telah tiba untuk melaksanakan UU itu sehingga memungkinkan tercapainya tujuan itu."

Dalam tahun 1997, ICEJ mendukung sebuah iklan satu halaman penuh di
The New York Times yang diberi judul "Orang-orang Kristen Menuntut suatu Yerusalem Yang Dipersatukan."
Pernyataan ini ditandatangani sepuluh pemimpin Kristen evangelikal, termasuk Pat Robertson, ketua Christian Broadcasting Netrwork dan Presiden Christian Coalition; Oral Roberts, pendiri dan ketua Oral Robert University; Jerry Falwell, pendiri Moral Majority; Ed McAteer, Presiden Religious Roundtable; dan David Allen Lewis, Presiden Christians United for Israel.

Pernyataan mereka berbunyi, "Kami, yang bertandatangan di bawah ini, para pemimpin spiritual Kristen, yang setiap Minggu berkomunikasi dengan lebih dari 100 juta orang Kristen Amerika, menyatakan bangga dapat bergabung bersama dalam mendukung kedaulatan yang tetap dari Negara Israel atas kota suci Yerusalem… kami percaya bahwa Yerusalem, atau bagian mana pun darinya, tidak akan dapat ditawar-tawar lagi dalam proses menuju perdamaian. Yerusalem harus tetap utuh, tidak terbagi, sebagai ibu kota abadi dari bangsa Yahudi."


Lalu para pembaca diundang untuk "bergabung bersama kami dalam misi suci kami untuk menjamin bahwa Yerusalem akan tetap tidak terbagi-bagi, sebagai ibu kota abadi Israel." Mereka menegaskan, "Perang untuk mempertahankan Yerusalem sudah dimulai, dan sekaranglah waktunya orang-orang yang percaya pada Yesus Kristus untuk mendukung saudara-saudara Yahudi kita dan Negara Israel. Inilah saatnya untuk kita bersatu dengan orang-orang Yahudi." Pada tahun 2002, Falwell mengaitkan serangan teroris terhadap WTC (11 September 2001) dengan klaim Israel sebagai pemilik satu-satunya kota Yerusalem: serangan itu ditujukan untuk melawan Israel dan Zionisme Kristen Amerika. Falwell meminta Presiden Amerika Serikat untuk "Mempertahankan Yerusalem Tetap Bebas."

Para Zionis Yahudi berpandangan bahwa siapa mengontrol Yerusalem, mengontrol Israel. Untuk bisa mengontrol Yerusalem, orang harus mengontrol Bait Allah. Karena itu, dalam politik Zionis, Bait Allah harus dibangun kembali; sebab dari pusat Bait Allah inilah Israel oleh Messias Yahudi yang dinantikan akan dikendalikan melalui ibadah, ritus-ritus kurban dan sistim imamat, seperti pada zaman PL. Bagi para Zionis Kristen, Bait Allah III harus dibangun, karena sudah diramalkan dalam Kitab Suci bahwa persis menjelang kedatangan Kristus kembali, akan datang sang Antikristus yang akan menajiskan Bait Allah Yahudi dan selanjutnya membawa dunia ke dalam kesengsaraan besar Perang Armageddon (Daniel 9:27; 11:31; 12:11; Markus 13:14 dan par.; Wahyu 16:12-16). Bagi mereka, kedatangan kembali Yesus Kristus harus diperjuangkan, dan akan dipercepat jika Bait Allah III dibangun.

5) Doktrin: Bait Allah Harus Dibangun Kembali

Bait Allah harus dibangun kembali, di lokasinya semula, di atas kawasan Temple Mount, karena, bagi Zionis Kristen, pembangunan ini sudah dinubuatkan, dan mereka bersama orang Yahudi, harus memenuhi nubuat itu. Para Zionis melihat persiapan-persiapan pembangunan
Bait Allah III sudah dimulai sejak 1967, ketika Israel berhasil menguasai Kota Lama Yerusalem; Bait ini akan menjadi Bait Allah Akhir Zaman.


Karena kawasan Bukit Bait sekarang ini dikuasai Islam, dengan di atasnya berdiri bangunan-bangunan suci umat Islam (Mesjid Umar, dengan Kubah Emas-nya; dan mesjid Al Aqsa), dan kawasan ini dilarang dimasuki orang Yahudi, maka untuk Bait Allah Yerusalem dapat dibangun kembali dan sistim imamat dan kurban-kurban dapat dihidupkan kembali, kawasan Bukit Bait harus direbut kembali melalui aksi-aksi militer, dan bangunan-bangunan suci Islam yang ada di atasnya harus dihancurkan sampai rata dengan tanah.

Orang-orang Zionis Yahudi generasi masa kini berpandangan bahwa adalah tugas mereka membebaskan Bukit Bait sehingga orang-orang Yahudi tidak dihalangi untuk melewati kawasan gerbang-gerbang (Haram Al-Sharif) yang membawa orang masuk ke Bukit ini, lalu melenyapkan bangunan-bangunan "kafir" yang ada di atasnya, serta mendirikan Bait Allah dan menegakkan

Hanya dengan perang demi pembangunan Bait Allah, sang Messias akan datang. Antara 1967-1990 sudah terjadi 100 kali serangan terhadap Al-Haram Al-Sharif oleh kelompok-kelompok militan Yahudi; yang tidak sedikit di antaranya didukung oleh kelompok-kelompok Zionis Kristen.




Ratusan organisasi Zionis Yahudi dan Kristen telah dan sedang bekerja melakukan persiapan-persiapan yang luas dan mendalam untuk pembangunan Bait Allah III.
Dana milyaran USD terus dihimpun dan digalang dari begitu banyak gereja evangelikal di Amerika dan Eropa untuk membiayai semua rencana dan persiapan pembangunan Bait Allah III dan restorasi sistim imamat dan peternakan: hewan kurban bakaran sistim kurban dalam agama Yahudi. Kerinduan bangsa Yahudi untuk memiliki Bait Allah, harapan-harapan Kristen untuk diangkat ke surga menjelang masa kesengsaraan besar, dan ketakutan-ketakutan kuat Muslim Arab-Palestina dan Muslim sedunia akan dihancurkannya bangunan-bangunan suci Islam yang berada di Bukit Bait Allah―semuanya ini merangsang munculnya visi-visi apokaliptis tentang kehancuran total tatanan yang ada; dan semua ini, bagi kalangan dispensasionalis, adalah sesuatu yang sudah dinubuatkan: Perang Armageddon.

6) Doktrin: Mempercepat Perang Armageddon




Setelah runtuhnya komunisme, dalam penglihatan para dispensasionalis, perang Armageddon dalam Wahyu 16:12-16 akan berlangsung dalam bentuk suatu perang antara "peradaban Islam" (negara-negara Arab dan sekutu-sekutu non-Arab mereka) dan "peradaban Kristen" (USA dan sekutu-sekutunya) yang akan berlangsung mula-mula di Timur Tengah. Perang ini demikian dahsyat sehingga jikalau Allah tidak mempersingkat waktunya, maka tidak ada yang akan selamat. Tetapi, orang-orang Kristen pro-Zionisme tidak akan ikut mengalami perang itu, sebab sebelum perang itu terjadi, mereka sudah akan diangkat ke surga; dan tinggal menyaksikan "dari atas" bagaimana bumi diseret ke dalam penderitaan berat sebelum tibanya Millennium dan pemulihan pemerintahan Messias Yahudi di Yerusalem.



Adalah tugas dan panggilan setiap orang Kristen, ini keyakinan para dispensasionalis, untuk mempercepat tibanya perang dahsyat itu, antara lain dengan menolak semua proses menuju perdamaian (the Road Map to Peace) yang sedang diupayakan oleh para pemimpin dunia untuk kawasan Timur Tengah, khususnya dalam rangka khususnya dalam rangka mengatasi konflik Israel dan Palestina. Hal Lindsey, misalnya, mengatakan, "Aku sungguh muak memperhatikan bagaimana Presiden Amerika yang Kristen, yang bermaksud baik, berbicara tidak hentinya tentang visinya mengenai suatu negara Palestina yang hidup berdampingan dalam damai dengan negara Yahudi." Bagi para dispensasionalis, perundingan untuk perdamaian bukan hanya telah membuang waktu, tetapi juga suatu pemberontakan melawan rencana-rencana Allah. Sejalan dengan penolakan proses perdamaian itu, kebencian dan satanisasi (demonizing) terhadap bangsa-bangsa Arab, khususnya terhadap Arafat (ketika ia masih hidup), dan pada agama Islam, harus terus ditanamkan ke dalam sanubari setiap orang Kristen yang pro-Israel. Maka bukan mustahil jikalau "pembersihan etnis" Arab-Palestina dari Tanah Israel juga akan dilakukan.



Pada bulan Mei 2002, Dick Army, pemimpin Republican Senate House Majority, menyatakan: "Bagian terbesar dari orang yang sekarang mendiami Israel telah didatangkan dari segala tempat di muka bumi ke negeri ini, dan mereka menjadikannya tempat tinggal mereka. Orang-orang Palestina dapat
melakukan hal yang sama dan kami akan puas sepenuhnya untuk bekerja sama dengan orang Palestina dalam mewujudkan pemindahan ini. Kami tidak ingin mengorbankan Israel hanya demi bangsa Palestina memiliki suatu negeri buat mereka…. Saya puas melihat Israel menguasai Tepi Barat…. Ada banyak bangsa Arab yang memiliki beratus-ratus ribu are wilayah, tanah, tempat-tempat tinggal, dan kesempatan untuk menciptakan suatu Negara Palestina."

Ketika Dick Army diminta untuk mengklarifikasi pernyataannya yang kontroversial itu, ia kembali menegaskan bahwa "Saya puas kalau Israel telah berhasil menduduki tanah yang sekarang sedang didudukinya dan kalau orang-orang yang menjadi penyerang-penyerang Israel menyingkir ke suatu daerah lain."


Amerika Serikat bagaimana pun, sebagai satu-satunya adidaya dunia ini, harus tetap dijaga untuk selalu berpihak kepada Israel, kendati pun untuk itu negara adidaya ini harus menggunakan standard ganda dalam semua kebijakan politik, pertahanan dan militernya yang berkaitan dengan dunia Timur Tengah. Jika Amerika Serikat sampai gagal mempertahankan keberpihakannya kepada Negara Israel yang menyebabkannya kalah dalam melawan bangsa-bangsa Arab, maka negara adidaya ini juga, seperti "dinubuatkan" para tokoh dispensasionalis, akan kena murka Allah, terjatuh dari anugerah, dan mengalami keruntuhan besar-besaran.



Kata Falwell, "If Israel falls, the United States can no longer remain a democracy” dan juga, "Kekuatiran terbesar saya adalah bahwa Presiden Bush dengan tanpa diketahuinya sedang membawa Amerika Serikat ke dalam penghukuman Allah. Sebab Allah sudah memperingatkan bahwa Ia akan menghakimi semua bangsa yang telah menyebabkan umat-Nya Israel tersingkir dari tanah yang Ia dengan kuasa-Nya sudah berikan kepada mereka." Begitu juga, Pat Robertson memberi peringatan, jika Amerika Serikat, "ingin mengintervensi nubuat Alkitab dan ingin masuk lalu mengambil Yerusalem Timur dari orang-orang Yahudi lalu memberikannya kepada Yasser Arafat … maka semoga Tuhan menolong bangsa Amerika…. Jika Amerika Serikat mengambil Yerusalem Timur kembali dan menjadikannya ibu kota Negara Palestina, maka kami meminta supaya murka Allah dijatuhkan ke atasnya." [Dr. Ioanes Rakhmat (with new tittle and images)].

Gerabah
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Number of posts : 2335
Reputation : -3
Points : 4315
Registration date : 2011-11-14

View user profile

Back to top Go down

Re: ZIONISEM KRISTEN-YAHUDI, SIMBIOSA PEMUSNAH PERDABAN

Post by Frontline Defender on Tue Oct 09, 2012 2:35 am

Hal Lindsey, misalnya, mengatakan, "Aku sungguh muak memperhatikan bagaimana Presiden Amerika yang Kristen, yang bermaksud baik, berbicara tidak hentinya tentang visinya mengenai suatu negara Palestina yang hidup berdampingan dalam damai dengan negara Yahudi." Bagi para dispensasionalis, perundingan untuk perdamaian bukan hanya telah membuang waktu, tetapi juga suatu pemberontakan melawan rencana-rencana Allah. Sejalan dengan penolakan proses perdamaian itu, kebencian dan satanisasi (demonizing) terhadap bangsa-bangsa Arab, khususnya terhadap Arafat (ketika ia masih hidup), dan pada agama Islam, harus terus ditanamkan ke dalam sanubari setiap orang Kristen yang pro-Israel. Maka bukan mustahil jikalau "pembersihan etnis" Arab-Palestina dari Tanah Israel juga akan dilakukan.
Haleluya (Terpujilah Dewa Bulan)!

_________________
5:75. Al Masih putra Maryam hanyalah seorang Rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, kedua-duanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka (ahli Kitab) tanda-tanda kekuasaan (Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari memperhatikan ayat-ayat Kami itu).

5:116. Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: “Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: “Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?” Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib”.

Frontline Defender
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts : 735
Reputation : 4
Points : 2714
Registration date : 2011-09-05

View user profile

Back to top Go down

Re: ZIONISEM KRISTEN-YAHUDI, SIMBIOSA PEMUSNAH PERDABAN

Post by Gerabah on Tue Oct 09, 2012 10:39 am


Menyadarkan kristiani Pendukung Zionis Israel

Dr. David Duke, mantan anggota senat negara bagian Lousiana yang juga seorang kristiani, membuat video untuk menyadarkan pengikut ajaran Kristus yang mendukung para ekstrimis Yahudi, Zionis. Video ini bukan untuk membuat permusuhan di antara kedua ajaran, tapi untuk menyadarkan dan membuka mata atas kejahatan Israel. Zionis sangat berbeda dengan Yahudi bahkan menyelisihi ajarannya. Berikut ini sedikit rangkuman video tersebut:
Oleh : Ali Reza
Dalam sebuah acara di stasiun televisi Israel, Yesus atau Isa putra Mariam disebut sebagai musuh Yahudi bahkan disamakan dengan Nazi. Yahudi ekstrimis yang menguasai media di Amerika Serikat ingin membuat para penontonnya—yang notabene kebanyakan kristiani—untuk tidak bangga dengan warisannya sendiri, kecuali milik Zionis. Kalau kita cinta dan mempertahankan urusan kita seperti yang dilakukan Zionis terhadap milik mereka, maka kita tidak akan mendukung perang Zionis dengan uang dan nyawa kita sendiri.

Film dan media mengesankan bahwa kewajiban orang kristiani untuk mendukung Israel. Siapa yang menguasai Hollywood dan media New York? Tentu saja bukan kristiani. Selama ini kita semua dibohongi tentang Israel, zionisme, dan Yahudi. Meskipun kita tahu tentang kebenarannya, banyak dari saudara dan teman kita yang terus dibanjiri propaganda Zionis. Jangan salahkan orang yang Anda cintai karena pandangannya, tetap berbuat baik dan bersabarlah pada mereka dan tunjukkan pada mereka apa yang tidak mereka ketahui. Nantinya, mereka akan membuka mata dan hati.
Bukan hanya televisi Israel yang membenci Kristus dan kristiani. Hollywood dan televisi di AS juga melakukan hal yang sama. Apakah orang-orang yang melecehkan ajaran kristiani akan dihukum? Tidak. Mereka bahkan dihormati dengan mendapatkan tempat di red carpet. Dari sumber mana mereka semua membenci kristiani? Talmud, yang sebenarnya bukanlah kitab asli ajaran Yahudi.
Saya tahu tidak semua Yahudi adalah ekstrimis dan jahat. Saya menghormati keturunan Yahudi seperti Israel Shahak dan Gilad Atzmon yang membongkar Talmud. Kristiani Zionis dan medianya menjauhkan fakta bahwa setiap hari orang Kristen di Israel diludahi. The Jerusalem Post mengutip ucapan Bapa Aghoyan dari Gereja St. James, “Semua pendeta di gereja ini sudah diludahi. Ini terjadi siang dan malam.” Bisakah Anda bayangkan kalau ada rabi Yahudi yang diludahi di kota London atau New York? Pasti akan menjadi berita penting di media Zionis. Untuk menjaga agar uang kristiani terus mengalir ke Israel, orang Kristen tidak boleh tahu kalau terjadi peludahan setiap harinya.
Ketika saya mendengar penceramah mengatakan mereka yang memberkati Israel akan diberkati, saya berdiri dan bertanya: “Berkat apa yang Amerika telah terima karena mendukung Israel? Ratusan juta bayi yang diaborsi? Hancurnya pernikahan rakyat Amerika? Penyakit seksual dan tingkat kejahatan tertinggi di dunia Barat? Atau puluhan juta remaja yang dihancurkan oleh alkohol dan narkotika? Apakah peristiwa 11 September sebuah berkat? Ratusan ribu tentara yang terluka? Jangan lupakan juga bahwa Amerika Serikat telah menjadi ibu kota dunia untuk pornografi.”
Apalagi yang dibutuhkan untuk menyadarkan Anda? Kebanyakan kristiani di AS tidak tahu tentang ratusan ribu orang Kristen Palestina sangat menderita karena Zionis. Tempat kelahiran Kristus, Bethlehem, adalah tempat mayoritas bagi warga Kristen Palestina. Zionis membunuh pendeta, menghancurkan ratusan gereja dan sekolah.
Jutaan Kristiani dan lainnya mulai sadar. Orang dapat mengenali kebenaran ketika akhirnya mereka mendengar. Kekuatan Zionis didasari dengan kebohongan. Bukan ketakutan yang membawa pada kebebasan, tapi keberanian. Ingat, apapun pandangan agama Anda, cintai dan bersabarlah terhadap saudara dan rekan Anda yang belum melihat cahaya. Tetap berbagi kebenaran dengan mereka dan suatu hari mereka akan berterima kasih.
Catatan:
Saya teringat dengan ucapan Joe Biden, wapres Obama saat ini, yang mengatakan, “Seandainya saya Yahudi, saya akan menjadi seorang Zionis. Saya seorang Zionis. Anda tidak perlu menjadi Yahudi untuk menjadi seorang Zionis.” Singkatnya, Zionis tidak mewakili ajaran agama apapun. Karenanya ia berusaha untuk mengadu domba para pengikut agama. Ketika banyak orang muak dengan keributan di antara pengikut agama, maka agama pun mulai ditinggalkan banyak orang.

Gerabah
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Number of posts : 2335
Reputation : -3
Points : 4315
Registration date : 2011-11-14

View user profile

Back to top Go down

Re: ZIONISEM KRISTEN-YAHUDI, SIMBIOSA PEMUSNAH PERDABAN

Post by PAULOS on Sat Nov 03, 2012 4:53 pm

Zionisme menemukan kekuatan dari perbedaan monoteistis dalam jaringan organisasi Kristen yang subur dan berkuasa, terutama di Amerika Serikat. Zionis Kristen memandang Israel sebagai bagian ketentuan suci yang ditakdirkan Tuhan, yang berpuncak pada kedatangan Kristus untuk kedua kalinya. Jumlah mereka mencapai puluhan juta dan telah berusaha mempengaruhi berbagai generasi politis Amerika. Namun demikian, cara pandang mereka bersandar pada kesalahan interpretasi fundamental terhadap kitab suci, yang justru bertentangan dengan pesan sejati ajaran Kristen.
MENGAPA hari ini tercipta hubungan yang sedemikian dekat antara Amerika dan Israel? Mengapa sangat sulit menemukan anggota kongres AS yang bersedia mengkritik Israel di muka umum? Walaupun sebenarnya Israel harus lebih tunduk pada sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB dibandingkan dengan negara lain di dunia ini, mengapa Amerika Serikat selalu memveto nyaris setiap pasalnya?
Mengapa setelah hampir 40 tahun, Israel masih saja menduduki Teritori Palestina dan Dataran Tinggi Golan, sedangkan Suriah telah dipaksa mundur dari Libanon? Mengapa Israel diizinkan untuk mempertahankan senjata biologis, kimia, dan nuklir, sedangkan Iran diancam dengan serangan pendahuluan karena berupaya mengembangkan teknologi nuklir?
Mengapa Kesepakatan Damai Oslo dan Wye gagal mewujudkan perdamaian? Alih-alih memperoleh kesepakatan dari Rusia, Masyarakat Eropa, Amerika Serikat, dan PBB, mengapa belum ada itikad politik untuk menerapkan Peta Jalan Damai (Road Map) dan menciptakan negara Palestina yang merdeka di dekatnya?
Alih-alih ketentuan Mahkamah Internasional, mengapa Israel masih bisa melanjutkan pembangunan Tembok Pemisah tanpa memperoleh sanksi, dan membangun ghetto untuk warga Palestina? Mengapa Amerika dan Inggris begitu dibenci mayoritas dunia Arab dan menjadi sasaran aksi kekerasan umat Islam? Jawaban untuk semua pertanyaan itu kebanyakan tetap misterius tanpa mempertimbangkan peran gerakan yang mungkin saat ini paling berpangaruh dan paling kontroversial dalam kekristenan, yakni Zionisme Kristen .
Pengertian Zionisme Kristen
Dalam definisi yang paling sederhana, Zionisme Kristen adalah kelompok Kristen yang mendukung Zionisme. Artinya, kelompok ini merupakan sebuah sistem politik yang membenarkan sebentuk kolonialisme apartheid berdasarkan Injil, dengan mengutamakan hak kaum Yahudi di atas hak bangsa Palestina, juga mengklaim hak eksklusif atas sebuah wilayah yang sampai kini belum jelas di Timur Tengah. Dalam hal ini, pada dasarnya Zionis Kristen mendukung Negara Israel.


Grace Halsell, misalnya, bertanya, “Apa makna Zionis Kristen? Katakan saja begini: setiap tindakan Israel adalah sesuai dengan kehendak Tuhan, dan karenanya harus dimaafkan, didukung, dan bahkan dipuji oleh kita semua.”1


Dale Crowley, seorang penyiar Washington yang berlatar belakang religius, menggambarkan kelompok ini sebagai ‘sekte yang paling cepat berkembang di Amerika’:


Anggota utama kelompok ini bukanlah “orang-orang gila,” melainkan warga Amerika kelas menengah hingga menengah ke atas. Mereka memberikan jutaan dollar setiap minggunya kepada pengabar-pengabar di TV yang memaparkan prinsip-prinsip dasar sekte ini. Mereka membaca karya Hal Lindsey dan Tim LaHaye. Mereka punya satu tujuan: menjadi tangan Tuhan untuk mengangkat mereka ke surga, terbebas dari semua masalah, dan dari sana mereka akan menyaksikan Armageddon—perang akhir zaman, dan kehancuran planet bumi

Makna Gerakan Zionisme Kristen

Sebagai gerakan, Zionisme Kristen sangat berbeda. Setidaknya, ada tiga elemen pembeda yang bisa diamati: evangelistis, apokaliptis, dan politis.

Zionisme Kristen menyebar terutama melalui denominasi evangelistis, karismatik, dan independen, termasuk Sidang Jemaat Allah, Pantekosta, dan Baptis Selatan, maupun kebanyakan jemaat mega (mega church) yang independen. Crowley mengklaim bahwa kelompok ini dibimbing oleh 80.000 pastor fundamentalis. Pandangan para pastor itu disebarkan oleh 1.000 radio Kristen maupun 100 stasiun TV Kristen.

Diperkirakan, secara keseluruhan gerakan ini memiliki pendukung sebanyak 25 juta hingga 100 juta. Di bulan Maret 2002, dalam sebuah survey besar terhadap pendapat umat Kristen, Pusat Riset Pew menemukan bahwa 44% umat Protestan Amerika dan 72% Evangelis Kulit Putih bisa dikaitkan dengan gerakan Zionis Kristen.

Mungkin Unity Coalition for Israel adalah jaringan Zionis Kristen yang paling berperan dalam menyatukan 200 organisasi Yahudi dan Zionis Kristen yang berbeda-beda, termasuk International Christian Embassy, Christian Friends of Israel dan Bridges for

Peace. Mereka mengklaim memiliki dukungan dari 40 juta anggota aktif. Organisasi-organisasi ini, dengan cakupan yang berbeda-beda, dan dengan alasan yang bermacam-macam, dengan kontradiksi yang ada, membentuk sebuah koalisi besar yang mewarnai agenda Zionis Kristen hari ini.

Walaupun akar Zionisme Kristen sebagai sebuah gerakan bisa ditelusuri hingga awal abad ke-19, dan yang kemudian dikenal sebagai Dispensasionalisme—pemikiran bahwa Tuhan telah memilih dua kaum: Gereja dan Israel—gerakan ini baru mengemuka sejak tahun 1967, ketika perang antara bangsa Arab-Israel dianggap sebagai wujud nyata dari ramalan Injil.

Tanpa dukungan finansial dan politis Zionis Kristen di Amerika, yang telah memastikan tersedianya anggaran dana pemerintah dalam jumlah besar, sangat diragukan bahwa Negara Israel masih bisa bertahan sejak 1948, apalagi terus menerus menduduki dan menjajah Teritori Palestina sejak 1967.

Agenda Politis Zionisme Kristen

Zionis Kristen memperlihatkan tingkat antusiasme yang berbeda-beda untuk menerapkan enam keyakinan dasar yang berasal dari pemahaman literal mereka terhadap Injil.

1. Orang-orang Terpilih: Mendukung Kolonialisme Israeli

Keyakinan bahwa Tuhan menjadikan Yahudi sebagai ‘kaum terpilih’ yang dalam beberapa hal terpisah dari Gereja sepenuhnya berakar kuat dalam Zionisme Kristen. Hal itu diungkapkan dengan bermacam cara. Di bulan Oktober 2000, misalnya, hanya beberapa hari setelah kunjungan provokatif Sharon ke Haram Al-Sharif, sebuah iklan muncul di New York Times berjudul ‘Surat Terbuka kepada umat Kristen Evangelis dari umat Yahudi demi Yesus.’ Di dalamnya mereka menghimbau kalangan evangelis untuk menunjukkan solidaritas dengan Negara Israel di saat yang kritis ini:

‘Kini saatnya berpihak pada Israel. Saudara Saudari dalam Kristus, berat hati kita menyaksikan terjadinya kekerasan dan pertumpahan darah di Timur Tengah….Sahabat-sahabat Kristen “Tuhan tak menyesali karunia dan panggilan-Nya” (Roma 11:29). Karena itu, dukungan kita bagi bertahannya Israel di saat-saat gelap ini tak perlu dibantah lagi. Kini saatnya umat Kristen berpihak kepada Israel.’

Hingga 1980an, kebijakan AS terhadap Timur Tengah secara umum tak sebanding dengan kebijakan tentang ancaman global yang lebih luas, yang berasal dari pengaruh Soviet. Perlindungan terhadap Eropa Barat melalui NATO adalah prioritas. Namun demikian, tumbangnya Komunisme menciptakan kekosongan kekuasaan di Timur Tengah, yang kemudian diisi oleh AS. Setelah Perang Teluk untuk menyingkirkan pasukan Irak dari Kuwait, selanjutnya Taliban dari Afghanistan, dan Saddam Hussein dari Irak, jelas bahwa AS telah memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah. Di saat yang sama, terjadi peningkatan dalam gelombang lobi pro-Israel. Konsekuensinya, Timur Tengah, khususnya Israel, telah menjadi pusat kebijakan luar negeri AS. Sama sekali bukan karena serangan al-Qaeda ke New York dan Washington.
Di 1980, Kedutaan Kristen Internasional didirikan di Yerusalem dengan tujuan mengkoordinir secara langsung berbagai aktivitas lobi politik yang bekerja sama dengan pemerintah Israel. Salah satu tujuan utamanya adalah menyaksikan keluarnya delegasi Palestina dari negara-negara Barat dan pemindahan kedutaan AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Di acara Doa Buka Puasa Nasional bulan Februari 1991, Ed McAteer, Presiden Religious Roundtable,meluncurkan Christian Israel Public Affairs Committee (CIPAC), mencontoh American Israel Political Affairs Committee (AIPAC) yang berkuasa, yang telah melakukan lobi-lobi atas nama hak bangsa Israel.9 Tujuan-tujuan CIPAC sama persis dengan AIPAC. Salah satu tujuan pertama CIPAC adalah melobi Kongres agar memastikan tersedianya jaminan hutang AS sebanyak 10 miliar dollar untuk mendanai penataan ulang pemukiman bangsa Yahudi dari bekas Uni Soviet di Israel dan di Tepi Barat.

Pemerintahan Bush menghubungkan jaminan utang tersebut dengan berhentinya pembangunan pemukiman Yahudi di Tepi Barat. Jan Willem van der Hoeven dari ICEJ berkata pada Jerusalem Post, bahwa “Komunitas Kristen menganggap kebijakan pemerintah tentang jaminan utang itu sama sekali tak bisa diterima.” Dia mengklaim bahwa 80% umat Kristen Evangelis Amerika mendukung jaminan utang tersebut. Mungkin inilah sebabnya di kemudian hari, George Bush Senior mengeluh bahwa “ada 1.000 pelobi di Hill saat ini yang tengah melobi Kongres agar memberikan jaminan utang kepada Israel, dan aku hanyalah lelaki kecil yang sendirian meminta Kongres untuk menunda pertimbangan pinzaman itu selama 120 hari.”

Zionis Kristen juga begitu dermawan menyediakan dukungan finansial kepada Israel. Zeev Chafets, dalam tulisannya di New York Times tahun 2005, memaparkan dengan sedikit sinis, betapa kelompok Kristen evangelis telah membiayai pekerjaan Rabbi Yechiel Eckstein di Israel:

Dalam delapan tahun terakhir saja, diperkirakan 400.000 donatur baru telah mengirimi Eckstein sekitar seperempat miliar dollar untuk kepentingan Yahudi—terserah dia mau digunakan dengan cara apa. Tak ada orang Yahudi sejak zaman Yesus yang pernah memerintahkan kemuliaan semacam ini.

Zionis Kristen juga sudah begitu berpengaruh dalam meneguhkan hubungan yang lebih dekat dengan Israel dengan memfasilitasi berbagai ziarah solidaritas dan kunjungan pendidikan ke Tanah Suci.

2. Restorasionisme: Memfasilitasi Aliyah dari Bekas Uni Soviet
Dengan runtuhnya Komunisme di Bekas Uni soviet (Former Soviet Union—FSU) dan Eropa Timur, sejak 1980, sebuah koalisi agen-agen Zionis Kristen telah mengambil inisiatif mendorong orang-orang Yahudi berimigrasi ke Israel, dan menganggapnya sebagai bukti kebenaran ramalan.

Mungkin Exobus adalah agen Zionis Kristen pertama yang mengubah doktrin Restorasionisme menjadi kenyataan dan membantu kaum Yahudi di FSU membentuk aliyah. Exobus didirikan tahun 1984 oleh Phil Hunter, direktur Good News Travels Bus Company, bermarkas di Hull, Inggris. Tujuan agensi ini adalah memfasilitasi perpindahan kaum Yahudi di FSU ke Israel.

Tim Exobus pertama dikirim ke Ukraina tahun 1991, dan mengklaim bahwa sejak saat itu organisasi ini telah membantu 80.000 orang Yahudi berimigrasi ke Israel dengan kerja sama yang kuat dengan agen Yahudi. Mungkin saat ini Exobus adalah agen Kristen terbesar yang memfasilitasi aliyah, terdiri dari 80 anggota tim dari 13 negara dan mengoperasikan 40 kendaraan. Exobus mengangkut sekira 1.200 Yahudi dari 16 lokasi di FSU setiap bulannya.13 Dukungan keuangan utama Exobus berasal dari sebuah agen mitra bernama Christians for Israel International, yang mengembangkan Exobus di AS.

Sejak 1991, ICEJ juga telah membiayai pengangkutan 40.000 imigran, 15.000 di antaranya dibawa ke Israel dengan 51 penerbangan yang disponsori ICEJ. Anggota tim ICEJ Rusia secara khusus aktif di wilayah yang lebih terpencil di FSU. Seperti Exobus, ICEJ dan Bridges for Peace menggambarkan tugas mereka dengan istilah ‘mengail ikan’ untuk umat Yahudi, berdasarkan Jeremiah 16:16. Mereka menemukan kaum Yahudi, membujuk mereka untuk pindah, membantu mereka memperoleh dokumen yang membuktikan asal-usul keyahudian mereka, membagikan paket kemanusiaan dan membayar izin keluar, paspor, pelunasan utang, transportasi dan akomodasi selama pengajuan mereka diproses oleh Agen Yahudi di kota-kota Rusia yang lebih besar. Begitu tiba di Israel , ICEJ maupun BFP membantu imigran dengan biaya pemukiman, menyediakan makanan, pakaian, selimut, persediaan dapur dan sekolah, maupun perlengkapan kesehatan.

3. Eretz Israel: Mendukung Pemukiman Tepi Barat

Bagi Zionisme, Yahudi, dan Kristen religius, batas absah bagi Israel jauh lebih luas daripada dengan yang kini diperdebatkan dengan Suriah, Yordania, dan Otoritas Palestina. Keyakinan bahwa seluruh Tepi Barat merupakan bagian integral dengan Israel telah membuat banyak Zionis Kristen ‘mengadopsi’ pemukiman khusus Yahudi untuk memperkuat klaim mereka atas wilayah tersebut.

Christian Friends of Israeli Communities (CFOIC), yang didirikan oleh Ted Beckett tahun 1995, menjalin kerja kemitraan dengan Christian Friends of Israel (CFI) dan mendefinisikan pemukiman sebagai:

Sebidang tanah untuk tempat tinggal pionir kaum Yahudi yang pemberani. Sebagian besar didirikan di puncak bukit berbatu kosong, dibangun untuk membentuk komunitas Yahudi yang belum pernah ada selama ribuan tahun. Sebagian lagi, seperti Shiloh, pemukiman dibangun di sebuah situs asli kota Yahudi kuno.

Sejauh ini, ‘progress meter’CFOIC menunjukkan bahwa 39 pemukiman ilegal penduduk Israel telah ‘diadopsi’ oleh 50 denominasi maupun gereja independen di AS, Afrika Selatan, Jerman, Belanda, dan Pilipina.

Selain memfasilitasi imigrasi Yahudi ke Israel, sejumlah agen Zionis Kristen juga aktif mendanai pemukiman Yahudi ilegal di Tepi Barat. Program ‘Bis Anti Peluru untuk Efrat,’ misalnya, juga mengeluarkan 150.000 dollar untuk membeli sebuah bis lapis baja anti peluru untuk mengangkut warga pemukiman keluar dan masuk Tepi Barat dari pemukiman Efrat. Bridges for Peace (BFP) punya skema serupa bernama ‘Operation Ezra‘ yang mendanai lebih dari 50 proyek yang sedianya terancam gagal seperti ladang pemukiman, Sde Bar, dekat Beit Jala dan Herodian.16
Anglicans for Israel mewakili wajah baru Kristen Zionis di Inggris.17Website mereka memuat banyak artikel yang menyangkal pendudukan di Palestina, menjustifikasi Tembok Pemisah dan pembangunan pemukiman,

Selama bangsa Palestina masih berpegang pada pemahaman keliru bahwa mereka “diduduki,” dan Israel berperan sebagai “penindas,” mereka tak akan bisa bertanggung jawab pada diri sendiri.18

Saat mengunjungi Israel belum lama ini, aku melihat pagar pengaman dalam banyak peristiwa, dan pagar itu sangat panjang. Kecuali di sejumlah kecil lokasi—dan hanya untuk melindungi pengendara motor dari penembak jitu—bukan tembok.19

Efek lobi pro-Israel terhadap kebijakan luar negeri Amerika tentang pemukiman nampaknya memang membuahkan hasil. Selama pemerintahan Carter, pemukiman dianggap ‘ilegal’; di bawah pemerintahan Reagan dipandang sebagai ‘penghalang’ perdamaian’; saat pemerintahan Clinton menjadi ‘faktor yang rumit’; sedangkan di masa George W. Bush, pemukiman adalah bagian dari Israel.

4. Jerusalem: Melobi untuk Pengakuan Internasional

Inti dari dukungan Zionis Kristen terhadap klaim Israel atas Wilayah Pendudukan adalah keyakinan bahwa Jerusalem adalah, dan harus tetap menjadi, pusat Yahudi yang eksklusif dan tidak terbagi-bagi. Sejauh ini, berbagai upaya untuk mencapai kesepakatan dalam konflik Arab-Israel yang kian luas ini tertahan atau terbentur pada status akhir Jerusalem. Zionis Kristen dengan tegas menolak setiap pengajuan apapun tentang kedaulatan bersama atau pembentukan pusat pemerintahan Palestina di Jerusalem Timur.

Senator Bob Dole kemudian mengumumkan sebuah perundangan di Senat Amerika yang memerintahkan kedutaan besar AS membangun kembali Yerusalem sebelum 31 Mei 1999, dan mengesahkan 100 juta dollar untuk membiayai pengeluaran ‘awal.’ Di bulan Oktober 1995 dia menyatakan, “Pusat Israel bukan ditentukan di meja proses perundingan damai, dan memindahkan kedutaan besar AS ke Yerusalem tidak berpengaruh sedikitpun untuk memprediksi hasil negosiasi apapun di masa mendatang.” Sambil menyesalkan kegagalan Presiden AS untuk meratifikasi keputusan Senat tersebut, Dole berkomentar:

Yerusalem hari ini, dan sudah sejak tiga ribu tahun yang lalu, menjadi jantung dan jiwa kaum Yahudi. Kota ini juga harus tetap, selamanya, menjadi pusat Negara Israel yang abadi dan tak terbagi-bagi…Saatnya telah tiba…untuk melangkah lebih dari sekadar kata-kata, ungkapan dukungan, dan bermacam resolusi Kongres. Saatnya telah tiba untuk menjalankan perundangan yang bisa menuntaskan pekerjaan.

Di tahun 1992, ICEJ mensponsori berbagai perayaan untuk menandai ulang tahun ke-25 peristiwa yang mereka sebut sebagai ‘Reunifikasi Yerusalem.’23 Di tahun 1996, dalam Kongres Zionis Kristen Internasional, pemikiran ini dikemukakan kembali di hadapan 1.500 peserta yang menandatangani sebuah pernyataan sikap:

Karena tujuan mutlak Tuhan bagi Kota ini, maka Yerusalem harus tetap tidak terbagi-bagi, di bawah kedaulatan Israel, terbuka bagi semua orang, pusat negara Israel saja, dan karenanya semua bangsa harus sepakat dan menempatkan kedutaan mereka di sini…kebenaran Tuhan adalah mutlak dan tertulis bahwa Tanah yang dijanjikanNya untuk kaum-Nya itu bukan untuk disekat-sekat.24

ICEJ juga telah memberikan dukungan berupa satu halaman penuh di New York Times untuk iklan yangberjudul ‘Umat Kristen menyeru untuk Yerusalem yang Utuh.’

Kami, yang bertanda tangan di bawah ini adalah para pimpinan spiritual Kristen yang setiap minggu melayani lebih dari 100 juta umat Kristen Amerika, begitu bangga bisa bergabung bersama-sama mendukung keberlangsungan kedaulatan Negara Israel atas kota suci Yerusalem. Kami mendukung upaya-upaya Israel untuk mencapai rekonsiliasi dengan tetangga Arab, namun kami percaya bahwa Yerusalem, atau bagian manapun darinya, seharusnya tidak lagi ditawar-tawar dalam proses perdamaian. Yerusalem harus tetap utuh sebagai pusat abadi kaum Yahudi.

Para pembaca juga diseru:

Bergabunglah bersama kami dalam misi suci untuk memastikan bahwa Yerusalem akan tetap menjadi pusat Israel yang utuh dan abadi.’ Mereka mengklaim, ‘perang demi Yerusalem telah dimulai, dan kinilah saatnya umat yang beriman kepada Kristus untuk mendukung saudara mereka bangsa Yahudi dan Negara Israel. Saat persatuan dengan kaum Yahudi kini telah tiba.’26 Namun demikian, yang dirasa lebih penting bagi Zionis Kristen berkaitan dengang ramalan yang mereka yakini adalah membangun kembali Kuil Yahudi.

5. Kuil: Memihak pada Zionisme Religius

Zionis Kristen masa kini begitu aktif membantu banyak organisasi Yahudi yang bertujuan membangun kembali Kuil Yahudi dengan memproklamirkan berbagai organisasi Temple Mount; mencari lokasi situs Kuil; memfasilitasi program pembangunan ulang; mengembangbiakkan lembu merah dan mendanai Lembaga Keuangannya.

Randall Price adalah ahli aliran dispensational terkemuka dalam rencana pembangunan ulang Kuil Yahudi dalam waktu dekat. Di halaman 735 bukunya, The Coming Last Days Temple, dia menyajikan rincian lengkap dan alamat semua organisasi Yahudi yang turut memfasilitasi pembangunan ulang Kuil Yahudi.27 Gershon Salomon adalah tokoh kontroversial dalam gerakan ini dan pendiri The Temple Faithful. Ketika berbicara sebagai tamu ICEJ, dalam Kongres Zionis Kristen tahun 1998, Salomon bersikukuh bahwa:

Misi generasi masa kini adalah membebaskan Temple Mount dan menyingkirkan—saya ulangi, menyingkirkan—kebencian yang menodai tempat itu…kaum Yahudi tak akan diberhentikan di gerbang-gerbang menuju Temple Mount… Akan kita kibarkan bendera Israel kita di Temple Mount, yang bakal berdiri tanpa Kubah Batu dan masjidnya, dan yang akan ada di sana hanyalah bendera kita dan Kuil kita. Itulah yang harus dilaksanakan oleh generasi kita.

Namun demikian, Sam Kiley menulis di The Times untuk memberikan perspektif lain. Dia mengklaim Salomon sebagai “wajah paling tepat untuk berbagai sekte di milenium ini.” Dalam sebuah wawancara dengan Salomon bersikeras bahwa tempat ibadah umat Islam harus dihancurkan:

Pemerintah Israel harus melakukannya. Kita harus berperang. Akan banyak bangsa yang menentang kita, Tapi Tuhan akan memimpin kita. Aku yakin ini adalah ujian, dan Tuhan mengharapkan kita menyingkirkan Kubah itu tanpa rasa takut kepada bangsa-bangsa lain. Al-Masih tak akan datang dengan sendirinya; kita harus menghadirkanya dengan berjuang.’

Sejak 1967 sudah terjadi lebih dari 100 serangan bersenjata terhadap al-Haram al-Sharif oleh kaum Yahudi militan, seringkali dipimpin para rabbi. Tak sekalipun Perdana Menteri Israel atau kepala rabbi Sephardic pernah mengecam serangan-serangan itu. Seperti yang pernah dikemukakan Lawrence Wright, “kerinduan Yahudi akan Kuil, harapan Kristen akan Kegembiraan, dan paranoia Muslim terhadap perusakan masjid mereka tengah diaduk dalam sebuah mangkuk apokaliptik.”

6. Masa Depan: Menentang Perdamaian dan Menyegerakan Armageddon

Permusuhan yang diperlihatkan Zionis Kristen terhadap kompromi apapun tentang pembagian Tanah, atau Yerusalem, atau situs-situs suci, sama sekali bukan karena pesimisme yang inheren dalam eskatologi mereka.

Aliansi AS-Israel

Saat Zionis Kristen secara umum sepakat untuk berpihak pada Israel, secara khusus ada hubungan dekat antara Israel dan Amerika. Jerry Falwell menjelaskannya secara sederhana. Tuhan begitu baik kepada Amerika karena ‘Amerika baik kepada Yahudi.’32 Mike Evans adalah salah seorang yang menemukan dasar-dasar Injili tentang hubungan antara Israel dan Amerika:

Tuhan hendak memberkati Amerika maupun Israel…Jika Israel runtuh, maka Amerika Serikat tak akan mampu lagi menjaga demokrasinya…Uang Arab digunakan untuk mengendalikan dan mempengaruhi banyak Perusahaan besar di AS, sehingga membuat Amerika Serikat kian dan kian sulit menentang terorisme dunia.33

Bagi Zionis Kristen seperti Jerry Falwell dan Mike Evans, ‘Sabuk Injil’ Amerika dipandang sebagai ‘Sabuk Pengaman’ Israel. Amerika dianggap sebagai penyelamat besar mereka, perannya sebagai negara adidaya di dunia sudah diramalkan dalam kitab suci dan memang sudah ditakdirkan Tuhan.36 Para kritikus memperingatkan bahaya logika semacam ini karena cara pandangnya yang dualistik dan Manichaean terhadap politik global. Amerika dan Israel bersama-sama melawan dunia yang keji.’

Antipati terhadap Bangsa Arab

Zionis Kristen adalah pecinta Israel, dan mereka jarang memperlihatkan perasaan yang sama terhadap bangsa Arab. Bahkan, antipati mereka seringkali sangat berlawanan dengan empati mereka terhadap Israel. Stereotipe prasangka anti-Arab dan Orientalis lazim dijumpai dalam tulisan-tulisan mereka.38 Menurut Orientalis, Barat dipandang sebagai kalangan yang liberal, damai, rasional, dan mampu menerima nilai-nilai yang ‘hakiki’ sedangkan Timur Tengah tidak.

Ramon Bennett menjelaskan betapa prasangka semacam itu tetap lazim hingga hari ini dengan menggambarkan bangsa Arab modern sebagai bangsa ‘barbar’39 Dia mengklaim bahwa ‘kebiasaan mereka dalam hal keramahtamahan dan kedermawanan hanya sedikit berubah dalam 4.000 tahun ini, begitupun kebiasaan menyerang orang lain (mencuri, bersikap kasar), mengagungkan harga diri, dan kebuasan mereka.40 Mengutip John Laffin, Bennett berpendapat bahwa bangsa Arab bukan kejam atau pembohong yang penuh perhitungan; mereka adalah orang-orang yang natural.41 Ketika anti-Semitisme dianggap tabu di Amerika, nampaknya saat ini sedang ‘musim berburu’ untuk prasangka anti-Arab.

Ethnic Cleansing di Palestina

Dick Armey, mantan pimpinan Senat Republik, melansir kabar mengejutkan dengan membenarkan ethnic cleansing terhadap bangsa Palestina dari Wilayah Pendudukan. Dalam sebuah wawancara dengan Chris Matthews di CNBC 1Mei 2002, Armey menyatakan bahwa:

Kebanyakan penduduk yang kini menghuni Israel sebelumnya diangkut dari seluruh penjuru dunia ke tanah yang kini menjadi kampung halaman mereka. Bangsa Palestina juga bisa melakukan hal yang sama, dan kami sepenuhnya akan senang membantu Palestina untuk melakukannya. Kami tak hendak mengorbankan Israel demi pendapat tentang tanah air bangsa Palestina…Aku yakin bahwa Israel harus menguasai seluruh Tepi Barat…Begitu banyak bangsa Arab yang punya tanah ratusan ribu hektar tanah, lahan, dan harta benda, juga peluang untuk mendirikan sebuah negara bagi bangsa Palestina.’

Matthews memberi Armey beberapa kali kesempatan untuk mengklarifikasi pernyataannya bahwa dia tak sedang menganjurkan ethnic cleansing terhadap seluruh bangsa Palestina dari Tepi Barat, namun Armey tak bergeming. Ketika ditanya, “Pernahkan Anda memberitahu George Bush, Presiden dari negara bagian Anda, Texas, tentang pendapat Anda bahwa seluruh bangsa Palestina harus bangkit dan pergi meninggalkan Palestina; dan itulah solusinya?”

Armey menyahut, “Mungkin sekarang ini sedang kuberitahukan padanya …Aku yakin bahwa Israel harus memperoleh tanah yang kini dikuasainya dan orang-orang yang menyerang melawan Israel harus pindah ke wilayah lain.”43

Pendapat Armey bahwa bangsa Palestina harus ‘pergi’ hanyalah bagian terakhir dari serangkaian seruan yang jadi isu utama media AS dan Inggris tentang ethnic cleansing terhadap bangsa Palestina dari Wilayah Pendudukan.44

Menentang Proses Damai

Zionis Kristen selalu membenarkan klaim sepihak Israel atas Wilayah Pendudukan, sedangkan di saat yang sama mereka menentang aspirasi bangsa Palestina untuk menentukan nasib mereka sendiri, karena secara hakiki keduanya memang berlawanan. Banyak yang memandang perjanjian damai sebagai pengkhianatan pada kehendak Tuhan bagi kaum Yahudi. “Perdamaian…adalah kesalahan dan ada orang-orang yang percaya bahwa akarnya adalah dari kejahatan.” Clarence Wagner dari BFP juga sepakat dengan pendapat tersebut. Dia juga tidak sepakat dengan dengan perjanjian damai:

Kita perlu mendorong bangsa-bangsa lain untuk memahami rencana Tuhan, bukan rencana-rencana PBB, AS, MEE, Oslo , Wye, dsb. yang berasal dari pemikiran manusia. Tuhan sama sekali tak menetapkan rencana untuk merebut Kota Tua Yerusalem, termasuk wilayah Mount Temple dan Gunung Zaitun (Mount of Olives), kemudian memberikannya ke dunia Islam. Al-Masih tak akan kembali ke kota umat Islam bernama Al-Quds, tapi untuk mengumpulkan kembali, membangkitkan kembali kota Yahudi, Yerusalem.

Karena itu, bahasan tentang perdamaian bukan hanya dianggap buang-buang waktu, tetapi juga sangat memperlihatkan kurangnya keimanan, dan yang paling buruk, merupakan pemberontakan terhadap kehendak Tuhan. Pernyataan semacam itu berasal dari pimpinan tingkat tinggi umat Kristen, yang jadi tak jauh beda dengan pandangan ekstrimis Muslim yang menyeru ‘perang suci’ melawan Barat. Bahaya teologi semacam itu nampaknya tak separah hingga menyebabkan kematian, namun seperti kisah ‘chicken little,’ begitu menular.Karen Armstrong tak sendirian dalam menelusuri bukti keabsahan Perang Salib dalam Zionisme Kristen Barat. Berdasarkan pengamatannya, kelompok fundamentalis seperti itu kini ‘kembali ke konsep perang suci zaman kuno dan ekstrim.’

Penilaian Kritis terhadap Zionisme Kristen

Sebagaimana telah dibahas, Zionisme Kristen sebagai sebuah gerakan telah menyebabkan banyak konsekuensi politis yang dalam dan jangka panjang. Zionis Kristen telah menunjukkan berbagai tingkat antusiasme untuk menerapkan enam keyakinan teologis fundamental yang muncul dari hasil pemahaman mereka yang literal dan futuris terhadap Injil:

1. Keyakinan bahwa Yahudi tetaplah kaum yang dipilih Tuhan membuat Zionis Kristen menjustifikasi pendudukan militer Israel atas Palestina.

2. Sebagai kaum pilihan Tuhan, kembalinya seluruh bangsa Yahudi ke Israel secara aktif dianjurkan dan difasilitasi melalui kemitraan antara organisasi-organisasi Kristen dan agen Yahudi.

3. Eretz Israel, dari Mesir hingga Irak, adalah milik bangsa Yahudi sepenuhnya; karenanya, tanah tersebut harus diambil alih dan pemukimannya dijaga sekaligus diperkuat.

4. Yerusalem dianggap sebagai pusat abadi dan eksklusif bagi kaum Yahudi, dan tak bisa dibagi-bagi dengan bangsa Palestina. Karena itu, secara strategis pemerintah negara-negara Barat di bawah tekanan Zionis Kristen harus memindahkan kedutaan mereka ke Yerusalem, yang berarti mengakui kebenarannya.

5. Kuil Ketiga tetap harus dibangun, kerahibannya disucikan, pengorbanan dihidupkan kembali. Sebagaimana yang diyakini oleh Zionis Kristen, khususnya dispensational, bahwa hal ini telah diramalkan, mereka memberikan berbagai macam tingkat dukungan kepada sejumlah organisasi Jewish Temple Mount yang bertekad mewujudkannya.

6. Karena Zionis Kristen yakin bahwa akan terjadi perang apokaliptis antara kebaikan dan keburukan dalam waktu dekat, maka perdamaian jangka panjang antara bangsa Arab dan Yahudi tak lagi bisa diharapkan. Sesungguhnya, menyarankan Israel untuk berkompromi dengan Islam atau hidup berdampingan dengan bangsa Palestina berarti menyamakan diri dengan orang-orang yang ditakdirkan untuk melawan Tuhan dan Israel dalam perang Armageddon yang sudah dekat.

Jelas bahwa tidak semua Zionis Kristen meyakini keenam butir doktrin di atas, atau berkeyakinan dan melibatkan diri dengan derajat yang sama. Namun demikian. Sebagaimana telah dibahas, secara umum, konsekuensi dukungan tanpa pertimbangan kritis terhadap Negara Israel, khususnya dari kalangan Evangelis Amerika, pada hakikatnya sangat merusak, bahkan bagi kaum Yahudi yang mereka klaim sebagai orang-orang terkasih.

Umumnya, Zionisme Kristen telah ditolak oleh sejumlah denominasi utama Kristen.

Misalnya, dalam Koferensi Sabil Internasional ke-5 di Yerusalem bulan April 2004, sekitar 600 anggota dari 30 negara mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengecam Zionisme Kristen sebagai bid’ah:

Zionisme Kristen adalah gerakan teologis dan politis modern yang menganut pandangan ideologis yang paling ekstrim tentang Zionisme, karenanya jadi sangat merugikan bagi perdamaian yang adil antara Israel dan Palestina. Program-program Zionis Kristen menyajikan cara pandang bahwa Kitab Injil dinisbahkan pada ideologi kekaisaran, kolonialisme, dan militerisme. Dalam bentuk ekstrimnya, paham ini mengutamakan berbagai peristiwa apokaliptis yang mengarah pada berakhirnya sejarah, bukan menghidupkan cinta kasih Kristus dan kadilan di masa kini.

Kami juga menolak bentuk Zionisme Kristen yang lebih berbahaya, yang mewarnai kebijakan banyak gereja besar sehingga mereka tetap diam saat menyaksikan pendudukan Israel atas Palestina. Oleh karena itu, dengan tegas kami menolak doktrin-doktrin Zionis Kristen, menyatakannya sebagai ajaran palsu yang merendahkan pesan kasih, pengampunan, dan keadilan yang ada dalam Injil…

Kami menolak ajaran-ajaran bid’ah Zionisme Kristen yang memfasilitasi dan mendukung kebijakan ekstrimis ini. Alih-alih mengabarkan cinta kasih universal, pertaubatan dan persatuan yang diajarkan oleh Yesus Kristus, mereka justru tengah mengkampanyekan eksklusivitas rasial dan perang tiada akhir.49

Zionisme Kristen hanya menghidupkan keyakinan terhadap masa depan apokaliptik yang didasarkan pada pemahaman hermeneutik literal, dengan menisbahkan janji yang disebutkan dalam Perjanjian Lama bagi kaum Yahudi kuno itu pada Negara Israel saat ini. Asumsi literal mereka itu menafikan kemungkinan apapun untuk memaknai Injil dengan cara lain, untuk memaknai sejarah, atau hasil perundingan damai yang adil dan jangka panjang di Timur Tengah.

Akhirnya, Zionisme Kristen harus ditolak karena tanpa sikap kritis telah memberlakukan agenda rasis eksklusif untuk mewujudkan hak politis Israel. Selain itu, kurangnya rasa kasih mereka kepada tragedi bangsa Palestina sungguh tak bisa dimaafkan. Baik sengaja maupun tidak, kelompok ini telah melegitimasi penindasan terhadap bangsa Palestina atas nama Tuhan. Di saat yang sama, kepada kaum Yahudi, mereka memberikan masa depan apokaliptik yang jauh lebih mengerikan, bahkan lebih dari Shoah–Holocaust.[Stephen Sizer]


PAULOS
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 74
Reputation : 0
Points : 1738
Registration date : 2012-05-26

View user profile

Back to top Go down

Re: ZIONISEM KRISTEN-YAHUDI, SIMBIOSA PEMUSNAH PERDABAN

Post by Sponsored content Today at 5:50 pm


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum