MURTADIN_KAFIRUN

Latest topics
Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 15 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 15 Guests :: 2 Bots

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 9:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Furl  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Dosa Muhammad tidak akan diampuni Tuhan, mengapa masih mau mengikuti ajarannya

View previous topic View next topic Go down

Dosa Muhammad tidak akan diampuni Tuhan, mengapa masih mau mengikuti ajarannya

Post by admin on Thu Jun 17, 2010 11:27 pm

Dari diskusi pada tulisan berjudul “Tidak ada kepastian Muhammad masuk surga, apalagi pengagumnya” ada pengagum Muhammad yang memberi masukan yang tidak saya pahami sebelumnya dan dari masukan itu kita mendapat kepastian bahwa dosa Muhammad pasti tidak akan diampuni Tuhan.
Masukan itu adalah:
Hadis riwayat Anas bin Malik, ia berkata:
“Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Aku datang ke pintu surga pada hari kiamat, lalu aku meminta supaya pintu surga dibuka. Penjaga surga bertanya : “Engkau siapa?” Saya menjawab: “Muhammad!” Lalu dia berkata : “Saya diperintahkan, supaya tidak membukakan pintu surga kepada siapapun sebelum engkau”

Allah menjamin Nabi Muhammad masuk surga
Agar Allah mengampuni dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmatNya kepadamu dan menunjukimu jalan yang lurus. (Qs 48:2)

Dari Hadis dan Ayat al-Quran itu tampak sekali bahwa Muhammad di ujung hidupnya menyadari bahwa dia sudah melakukan banyak dosa. Tapi lalu apa yang dilakukan Muhammad untuk menghapus dosanya agar dapat masuk surga? Muhammad berharap agar Tuhan mau mengampuni dosa-dosa yang telah diperbuatnya maka dilantunkanlah ayat 48:2 yang isinya sebenarnya harapan Muhamamd agar Tuhan mengampuni dosanya. Waktu ayat itu dilantunkan Muhammad masih hidup dan belum sadar kapan akan mati dan karena Muhammad masih ingin menikmati hidup di dunia dan masih ingin berbuat dosa, Muhammad yang serakah tidak cukup mengharapkan pengampunan dosa yang telah diperbuatnya tetapi juga menodong Tuhan agar juga mau memberikan cek kosong pengampunan dosa yang masih akan diperbuatnya “dosamu (Muhammad) yang telah lalu dan yang akan datang” dan Muhammad memang masih ingin apa yang dinikmatinya walau dalam dosa akan menjadi sempurna.

Tidak cukup dengan melantunkan ayat, Muhammad membuat cerita yang disampaikan kepada sahabat-sahabatnya dan kemudian tertulis di Hadis, untuk mengatakan bahwa dia sudah dikenal oleh penjaga pintu surga, cerita itu ya cerita Muhammad yang memang banyak bikin cerita.

Muhammad menyadari bahwa dirinya berdosa tatapi tidak paham bahwa untuk menghapus dosa, orang harus bertobat dan bukannya bertobat tetapi Muhammad malah minta pengampunan atas dosa yang masih akan diperbuatnya. Perhatikan ajaran Hindu, Budda, dan Yesus tentang bagaimana orang harus bertobat agar mendapat pengampunan dari dosa yang pernah dilakukan.

Kita ambil cerita Mahabharata dari ajaran Hindu. Pandawa Lima dikisahkan sebagai orang baik tetapi ajaran Hindu mengatakan siapa saja yang terlibat dalam urusan dunia tidak bisa lepas dari dosa karena terikat pada nafsu. Contoh yang baik adalah dialog antara Arjuna dan Kreshna, Arjuna paham bahwa membunuh adalah dosa apalagi membunuh guru dan saudaranya sendiri. Tetapi Arjuna harus melakukan perang yang pasti akan ada yang terbunuh dan perang itu harus dilakukan dalam rangka menjalankan tugas negara. Pandawa memenangkan pertempuran dan setelah negara menjadi aman, Pandawa perlu membersihkan diri dari dosa yang pernah mereka lakukan agar dapat masuk ke Sorgaloka. Pandawa melepaskan semua kekuasan duniawi kemudian pergi bertapa lalu mendaki Gunung Himalaya. Dalam ajaran Hindu, raja yang merasa sudah selesai melakukan tugasnya di dunia akan pergi ke hutan untuk bertapa, meminta pengampunan atas semua dosa yang pernah dilakukan dan dengan melepaskan jabatan duniawi sang raja sudah bersumpah tidak akan melakukan dosa lagi.

Setelah menjadi Buddha, Sidharta berpendapat bahwa penerangan sempurna hanya dapat diraih oleh mereka yang hidup dalam Sangha artinya orang harus menjadi Biksu untuk menyempurnakan hidupnya, orang harus meninggalkan kenikmatan duniawi. Tapi kemudian Buddha menemukan bahwa orang yang masih harus hidup mengurus masalah dunia juga bisa mendapatkan penerangan sempurna melalui perjuangan batin melakukan semadi, artinya walau hidup dalam kenikmatan dunia, orang dapat mengelolanya sehingga kenikmatan itu tidak membuat dosa. Tetapi Buddha mengatakan pada saat seorang awam yang hidup mengurus dunia mendapatkan penerangan sempurna, dia harus meninggalkan urusan dunia dan masuk ke Sangha menjadi biksu. Ajran Buddha jelas menghapus dosa harus diperjuangkan oleh orang yang bersangkutan semasa hidupnya dan begitu terbebas dari dosa, orang itu harus menjalani hidup suci agar tidak berbuat dosa lagi.

Bagaiman dosa manusia diampuni, jawab Yesus sangat sederhana, agar kamu mau mengampuni orang yang bersalah kepada kamu. Ajaran itu menjadi bagian dari doa yang diajarkan Yesus, yaitu Doa Bapa Kami, “Ampunilah kesalahan kami seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami” Dosa seseorang akan diampuni dengan syarat orang itu bisa mengampuni orang yang bersalah kepadanya. Sangat sederhana tetapi logika di balik kesedehanaan itu juga harus dipenuhi, orang yang berani mengampuni kesalahan orang lain tentu tidak akan menyakitu orang lain dan jika orang mau mengampuni kesalahan orang lain dan tidak mau menyakiti orang lain maka ajaran Kasihi sesamamu manusia seperti kamu mengasihi dirimu sendiri akan terpenuhi. Cara menghapus dosa yang diajarkan Yesus harus dilakukan oleh orang itu sendiri semasa hidupnya, karena Yesus mengatakan apa yang terikat di dunia akan terikat selamanya.

Dari ajaran ketiga Guru Agung Spiritual yang pernah hidup di dunia ini, kita bisa melihat apakah dosa Muhammad akan diampuni. Menurut ajaran Hindu dan Buddha pasti tidak karena Muhammad walau sudah menyadari banyak melakukan dosa tetapi tidak mau meninggalkan kehidupan duniawi yang penuh dosa dan malah bertekad akan hidup terusa dalam dosa. Menurut ajaran Yesus, Muhammad juga tidak akan diampuni dosanya karena sampai ahir haaytnya tidak mau mengampuni orang yang ditudunya menyakiti hatinya, Muhammad mengobar kebencian kepada kafir dalam banyak ayat di dalam al-Quran, Muhamamd tidak pernah memafkan kafir. Terahap sesama Mukmin pun Muhammad tidak pernah mau mengapuni orang yang dianggapnya besalah dan sumpah serapah Muhammad terhadap Mukmi yang tidak mau ikut berperang diabadikan dai dalam ayat di dalam al-Quran.

9:84. Dan janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik.

Menjadi jelas menurut ajaran Hindu, Buddha dan Yesus, dosa Muhammad tidak akan diampuni dan kesempatan Muhammad untuk membersihkan dosa yang pernah dibuatnya sudah tidak ada lagi. Masihkan anda berharap masuk surga dengan mengiktui ajaran Muhamamd? Jawaban berpulang kepada Anda yang ingin meningalkan dunia ini tanpa dosa.

_________________
MURTADINKAFIRUN
MURTADIN KAFIRUN exMUSLIM INDONESIA BERJAYA 11 SEPTEMBER Hari Murtad Dari Islam Sedunia

admin
ADMINISTRATOR
ADMINISTRATOR

Male
Number of posts: 1171
Age: 15
Reputation: -5
Points: 4395
Registration date: 2008-12-18

View user profile http://groups.yahoo.com/group/MURTADIN_KAFIRUN/

Back to top Go down

Re: Dosa Muhammad tidak akan diampuni Tuhan, mengapa masih mau mengikuti ajarannya

Post by faris on Fri Jun 18, 2010 2:37 am

Karangan yang menyedihkan ..
inilah tafsir dari al-fath ayat 1 -3

Makna Kemenangan

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا ﴿١﴾
لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا ﴿٢﴾
وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا ﴿٣﴾


Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al Fath : 1 – 3)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa surat yang mulia ini turun ketika Rasulullah saw kembali dari Hudaibiyah di bulan dzulqaidah tahun ke-6 H yang pada saat itu dihalang-halangi oleh kaum musyrikin untuk memasuki Masjidil Haram dalam menunaikan umroh. Kaum musyrikin cenderung untuk mengadakan perjanjian dan gencatan senjata serta meminta Rasulullah saw pulang pada tahun ini dan kembali lagi pada tahun berikutnya. Tawaran ini disambut oleh Rasulullah saw meskipun tampak kekurangsukaan diwajah sebagian sahabat, diantaranya Umar bin Khottob ra. Setelah mereka menyembelih hewan-hewan kurbanya dan pada saat pulang kemudian Allah swt menurunkan surat ini yang menceritakan tentang apa yang terjadi diantara Rasulullah saw dengan mereka—orang-orang Quraisy—dan menyatakan bahwa perjanjian tersebut adalah kemenangan dikarenakan berbagai maslahat yang ada didalamnya. (Tafsir Ibnu Katsir juz VII hal 325)

إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا


Artinya : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.” (QS. Al Fath : 1)

Terjadi perbedaan pendapat tentang maksud dari kata fath (kemenangan) didalam ayat itu. Ada yang mengatakan bahwa ia adalah Futuh Mekah, berbagai kemenangan yang didapat oleh Rasulullah saw, kemenangan orang-orang Romawi, ataupun baiat Ridwan pada hari-hari Hudaibiyah, namun banyak yang menyebutkan bahwa kemengan itu adalah perjanjian Hudaibiyah.

Az Zuhri mengatakan bahwa tidak ada kemenangan yang lebih besar dari perjanjian Hudaibiyah, dimana orang-orang musyrik bercampur dengan kaum muslimin mendengarkan perkataan mereka, mulai bersemayamnya islam di hati mereka sehingga dalam kurun waktu tiga tahun banyak manusia yang masuk kedalam agama islam . (Fathul Qodir juz V hal 44)

لِيَغْفِرَ لَكَ اللَّهُ مَا تَقَدَّمَ مِن ذَنبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ وَيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكَ وَيَهْدِيَكَ صِرَاطًا مُّسْتَقِيمًا

وَيَنصُرَكَ اللَّهُ نَصْرًا عَزِيزًا


Artinya : “supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al Fath : 2 – 3)

Ibnul Anbari mengatakan bahwa kata fathan mubina (kemenangan yang nyata) belum sempurna karena perkataan,”supaya Allah memberi ampunan kepadamu terhadap dosamu yang telah lalu” masih berkaitan dengan kemenangan tersebut, seakan-akan Dia mengatakan,”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata agar Allah swt mengumpulkan buatmu dengan kemenangan ini ampunan dan mengumpulkan bagimu dengannya berbagai hal yang menyenangkan pandanganmu di dunia dan akherat.

Sayyid Qutb mengatakan bahwa kemenangan Hudaibiyah ini pun diikuti oleh berbagai kemenangan lainnya, seperti :

1. Kemenangan dalam Da’wah.
Ibnu Ishaq mengatakan bukti kebenaran perkataan az Zuhri—diatas—adalah bahwa Rasulullah saw tatkala berangkat menuju Hudaibiyah bersama dengan 1400 orang, menurut penuturan Jabir bin Abdullah dan dua tahun kemudian beliau saw berangkat lagi pada saat Futuh Mekah bersama 10.000 orang.

2. Kemenangan di bumi.
Kaum muslimin saat itu merasa aman dari kejahatan orang-orang Quraisy, untuk itu Rasulullah saw mengarahkan da’wahnya dalam rangka pembebasan jazirah dari sisa-sisa kejahatan orang-orang Yahudi—setelah membebaskannya dari Yahudi Bani Qoinuqo, Bani Nadhir dan Bani Quraizhoh—dan kejahatan itu tergambar pada kekokohan benteng Khaibar yang menakutkan dijalan menuju Syam. Kemudian Allah swt menundukkannya bagi kaum muslimin dan mereka mendapatkan ghonimah yang banyak dan Rasulullah saw mengkhusukan ghonimah tersebut untuk orang-orang yang telah ikut serta dalam peristiwa Hudaibiyah.

3. Kemenangan pada sikap diantara kaum muslimin di Madinah, Quraisy di Mekah dan seluruh kaum musyrikin yang berada di sekitar mereka… Orang-orang Quraisy mengakui ketangguhan dan eksistensi Nabi dan kaum muslimin, dan menganggap bahwa Nabi dan kaum muslimin adalah musuh mereka akan tetapi mereka menghalangi Nabi dan para sahabatnya dengan cara yang paling baik pada waktu dimana mereka telah memerangi Madinah dalam dua tahun dengan dua kali peperangan dan peperangan terakhir adalah satu tahun sebelum Hudaibiyah ini…. kaum muslimin juga tampak begitu kuat di mata kabilah-kabilah, orang-orang Arab pun banyak yang mundur dari memeranginya, dan semakin tidak terdengar lagi suara-suara orang-orang munafiq..

Rasulullah saw begitu gembira dengan surat ini. Hatinya gembira dengan karunia Allah yang besar yang diberikan kepadanya dan orang-orang beriman yang bersamanya. Bergembira dengan kemenangan yang nyata, ampunan yang menyeluruh, kenikmatan yang sempurna, petunjuk kepada jalan Allah yang lurus, pertolongan yang kuat dan dengan keredhoan Allah swt kepada orang-orang beriman yang telah mensifatkan mereka dengan penyifatan yang mulia. (Fii Zhilali Qur’an juz VI hal 3316 – 3317)

Jalan Menuju Kemenangan

Surat ini memberikan penjelasan bahwa kemenangan yang diperoleh kaum mukminin tidak selamanya harus melalui suatu kontak senjata dengan orang-orang kafir atau musuh-musuhnya namun kemenangan juga bisa diperoleh melalui suatu perjanjian atau perdamaian dengan mereka selama hal itu memang memberikan kemaslahatan bagi da’wah islam dan kaum muslimin.

Kondisi realita umat islam saat ini yang terus menerus menjadi ‘mangsa’ orang-orang kafir tidaklah bisa dikatakan kontradiksi dengan surat al Fath ini yang menceritakan tentang kemenangan yang diperoleh kaum mukminin.

Perintah Allah swt kepada Rasul-Nya dan juga orang-orang beriman untuk pergi berumroh yang kemudian dihalang-halangi untuk memasuki Masjidil Haram oleh orang-orang Quraisy dan pada akhirnya menghasilkan perjanjian Hudaibiyah ini terjadi pada tahun ke-6 H.

Perjanjian yang dikatakan oleh Allah swt sebagai kemenangan yang nyata ini tidaklah terjadi secara tiba-tiba atau tanpa sebab. Allah swt tidak memberikan kemenangan ini diawal-awal da’wahnya ketika di Mekah ataupun ketika mereka baru tiba hijrah di Madinah. Akan tetapi Allah swt memberikan kemenangan ini setelah 13 tahun da’wah islam ini muncul dan dibawa oleh Rasulullah saw di Mekah dan 6 tahun da’wah ini mewarnai masyarakat muslim di Madinah.

Selama masa itu Rasulullah saw mempersiapkan suatu generasi yang kuat, kokoh, sabar dan tahan akan berbagai ujian yang menerpa mereka sebagai satu konsekuensi dari perjalan da’wah di jalan Allah swt untuk menyongsong kemenangan yang dijanjikan Allah swt, termasuk Hudaibiyah ini.

Selama masa itu berbagai ujian dan peristiwa-peristiwa besar mewarnai perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya, diantaranya :

Pada fase Mekah terjadi berbagai penyiksaan dan intimidasi yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy terhadap orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, pemboikotan selama tiga tahun, penolakan masyarakat Thaif terhadap da’wah. Yang pada akhirnya fase ini ditutup dengan hijrahnya kaum muslimin dan Rasulullah saw ke Madinah.

Pada fase Madinah sebelum terjadi perjanjian Hudaibiyah berbagai upaya dilakukan oleh Rasulullah saw untuk mengokohkan masyarakat muslim pertama tersebut, seperti pembangunan masjid dan mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor dan setelah itu Allah swt mengizinkan mereka untuk berperang melawan orang-orang yang menentang da’wah sehingga terjadilah berbagai peperangan, seperti Badar, Uhud, dan Ahzab disamping peperangan melawan orang-orang Yahudi.

Dari perjalanan da’wah generasi muslim pertama tersebut maka kondisi umat islam saat ini merupakan salah satu proses untuk meraih kemenangan yang dijanjikan Allah swt.

Meskipun kesewenang-wenangan orang-orang kafir terhadap kaum muslimin begitu melampaui batas terlebih lagi didukung dengan berbagai sarana yang dimilikinya namun hingga saat ini mereka belum mampu menguasai kaum muslimin. Uni Sovyet takluk di Afghanistan, Amerika diusir dari Somalia dan hingga saat ini mereka masih kewalahan menghadapi para mujahidin Iraq, dan yang baru-baru ini kaum Yahudi Zionis yang pada awalnya begitu sombong akan menaklukan Gaza hanya dalam hitungan hari ternyata Allah swt takdirkan hal itu tidak terjadi dan justru kemenangan berada di pihak mujahidin Gaza bahkan mereka mendapatkan simpati dari seluruh masyarakat dunia.

Berbagai kezhaliman yang dilakukan oleh orang-orang kafir terhadap kaum muslimin di bumi mereka tidak akan pernah sanggup memusnahkan islam dan kaum muslimin dan tidak akan pernah meredupkan cahaya Allah yang akan senantiasa menyinari bumi ini. Justru itu semua akan semakin menyadarkan kaum muslimin bahwa pertentangan antara haq dan batil akan terus berlangsung hingga hari kiamat dan juga akan menyadarkan mereka untuk kembali kepada Allah swt, berkomitmen dengan nilai-nilai robbani, dan mengokohkan ukhuwah islamiyah sebagai modal meraih kemenangan yang telah dijanjikan Allah swt. Firman Allah swt :

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللّهِ قَرِيبٌ


Artinya : “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.” (QS. Al Baqoroh : 214)

Semoga Allah swt memberikan kesabaran kepada seluruh mujahidin yang berjuang dijalan-Nya demi meninggikan kalimat-Nya dan menyatukan umat ini didalam satu barisan yang kokoh.

faris
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Male
Number of posts: 300
Location: Indonesia
Humor: Tuhan Cucu, Tuhan Menantu dll
Reputation: 16
Points: 1933
Registration date: 2010-06-07

View user profile

Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top


Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum