MURTADIN_KAFIRUN

Latest topics
»  Quran: Allah = penipu, pembuat sesat, pembunuh
Sat Jul 15, 2017 11:09 pm by admin

» [Quran] Kebaikan Allah yang menipu
Sat Jul 15, 2017 11:08 pm by admin

»  [Quran] Allah = penipu, pembuat sesat, pendusta
Sat Jul 15, 2017 11:06 pm by admin

» Sharia in America
Sat Jul 15, 2017 11:00 pm by admin

»  ISLAMIC CIRCUS
Sat Jul 15, 2017 10:45 pm by admin

» Scientific Errors of the Qur’an
Sat Jul 15, 2017 10:36 pm by admin

» Why Muslims are so delusional?
Sat Jul 15, 2017 10:30 pm by admin

» Emangnya allah swt itu tuhan??
Sat Apr 29, 2017 9:34 am by shaggy

» Asal Usul Islam - Sebuah Kritik Sejarah
Tue Apr 18, 2017 8:31 am by Frontline Defender

Gallery


MILIS MURTADIN_KAFIRUN
MURTADIN KAFIRUNexMUSLIM INDONESIA BERJAYA12 Oktober Hari Murtad Dari Islam Sedunia

Kami tidak memfitnah, tetapi menyatakan fakta kebenaran yang selama ini selalu ditutupi oleh muslim untuk menyembunyikan kebejatan nabinya

Menyongsong Punahnya Islam

Wadah syiar Islam terlengkap & terpercaya, mari sebarkan selebaran artikel yang sesungguhnya tentang si Pelacur Alloh Swt dan Muhammad bin Abdullah yang MAHA TERKUTUK itu ke dunia nyata!!!!
 

Kebrutalan dan keberingasan muslim di seantero dunia adalah bukti bahwa Islam agama setan (AJARAN JAHAT,BUAS,BIADAB,CABUL,DUSTA).  Tuhan (KEBENARAN) tidak perlu dibela, tetapi setan (KEJAHATAN) perlu mendapat pembelaan manusia agar dustanya terus bertahan

Subscribe to MURTADIN_KAFIRUN

Powered by us.groups.yahoo.com

Who is online?
In total there are 12 users online :: 0 Registered, 0 Hidden and 12 Guests :: 1 Bot

None

[ View the whole list ]


Most users ever online was 354 on Wed May 26, 2010 3:49 am
RSS feeds


Yahoo! 
MSN 
AOL 
Netvibes 
Bloglines 


Social bookmarking

Social bookmarking Digg  Social bookmarking Delicious  Social bookmarking Reddit  Social bookmarking Stumbleupon  Social bookmarking Slashdot  Social bookmarking Yahoo  Social bookmarking Google  Social bookmarking Blinklist  Social bookmarking Blogmarks  Social bookmarking Technorati  

Bookmark and share the address of MURTADINKAFIRUN on your social bookmarking website

Bookmark and share the address of MURTADIN_KAFIRUN on your social bookmarking website


Nabi Muhammad Seorang Ateis?

View previous topic View next topic Go down

Nabi Muhammad Seorang Ateis?

Post by bileambinbeor on Sun May 04, 2014 2:23 am

Seorang pemuja Yesus menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam seorang Ateis. Apa itu Ateis? Si penuduh memberikan definisi dan ciri orang Ateis sebagai berikut: “ate·is /atéis/ n orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan: kelompok — tidak akan mengambil bagian dalam suatu upacara agama. Di Indonesia ini, ateisme belum begitu berkembang. Walaupun mungkin jumlahnya bertambah tetapi biasanya mereka belum terang-terangan, tidak seperti di negara-negara barat. Ada dua ciri khas seorang ateis yang cukup mencolok menurut hemat saya:

1.  Seorang ateis pastinya hidup mengandalkan diri sendiri atau orang lain. Karena dia tidak percaya bahwa ada Tuhan yang akan menolongnya maka ia pun akan berusaha mati-matian dengan tenaga sendiri atau dengan pertolongan orang lain, yang pasti mereka harus bergantung pada manusia, siapapun manusia itu.

2.  Selain itu seorang ateis pun biasanya menolak hukum Tuhan. Biasanya ateis suka membuat peraturan sendiri sesuka-sukanya, misal prilaku seks bebas dianggap tidak apa-apa selama tidak merugikan pihak lain sementara Tuhan jelas menentang ini. Untuk seorang ateis tulen membunuh seseorang atau memperkosa seseorang pun bukanlah masalah besar, karena toh tidak ada Tuhan sehingga tidak ada benar atau salah, baik atau buruk, semua serba relatif. Konsekuensi yang ada paling dari manusia lain, seperti aparat keamanan, tetapi itu pun kalau tertangkap.”


Dengan dua ciri di atas, si penuduh kemudian menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam seorang Ateis, karena menurutnya di dalam diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam terdapat ciri-ciri seorang Ateis. Ciri-ciri Ateis pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang di maksud oleh si penuduh adalah sebagai berikut:

A. SIFAT BERGANTUNG PADA MANUSIA, BUKAN PADA TUHAN

1) Sewaktu Nyawa Muhammad Terancam oleh Orang-Orang Quraish di Mekkah Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 400-401 Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbicara. Beliau membaca Al-Qur’an, mengajak mereka kepada agama Allah dan mengharapkan keislaman mereka. Setelah itu, beliau bersabda, ‘Aku membait kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi anak-istri kalian.’ Al-Barra’ bin Ma’rur memegang tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian ia berkata, ‘Ya, demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, kami pasti melindungimu sebagaimana kami melindungi anak-istri kami. Baiatlah kami wahai Rasulullah! Demi Allah, kami ahli perang dan ahli senjata. Itu kami wariskan dari satu generasi kepada generasi lainnya.’


2) Sewaktu Nyawa Muhammad Terancam di Uhud Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 Halaman 43-44 Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah SAW dikepung orang-orang Quraisy, beliau berkata, ‘Siapa orang yang siap mengorbankan nyawa untukku?’

Kesimpulan:

Saudara seperti kita lihat, Muhammad sama sekali TIDAK mengandalkan tuhannya. Bukannya berdoa kepada tuhannya untuk menolong, Muhammad malah meminta pertolongan dari manusia manusia sekitar. Ini sangat kontras dengan nabi Daud yang sangat mengandalkan Tuhan: Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.” Kemudian ia menanggalkannya. (1 Samuel 17:39)

Daud tidak takut untuk menanggalkan baju perangnya, dia sadar betul, keselamatan dia bukan tergantung baju perang, diri sendiri, atau orang lain. Ini terlihat dari perkataannya kepada Goliat: Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama RAJA semesta alam, Tuhan segala barisan Israel yang kautantang itu. (1 Samuel 17:45)

Yang Daud andalkan di sini hanya nama Tuhan saja! Dan kita semua tahu akhir ceritanya, Daud pun berkemenangan walaupun tanpa baju perang, tanpa pedang, dengan postur tubuh yang kecil tetapi Daud disertai Tuhan sehingga ia TIDAK takut. Sangat berbeda dengan Muhammad yang KETAKUTAN lalu bukannya mengandalkan tuhannya malah, berteriak-teriak minta tolong pada orang lain! Saudara siapa yang kau andalkan? Muhammad kah? Kalau kamu mengandalkan Muhammad dengan bershalawat untuknya dengan harapan Muhammad akan bersyafaat untuk kamu, berarti kamu telah mengandalkan manusia!

Baik, saya jawab terlebih dahulu tuduhan di atas terlebih dahulu.

Al-Qur’an memang mengajarkan untuk hanya meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena Allah Subhanahu wata’ala adalah tempat bergantung segala sesuatu. Al-Qur’an juga mengajarkan agar selalu bertawakal (berserah diri) kepada Allah Subhanahu wata’ala. Namun tawakal (berserah diri) kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak berarti kemudian meninggalkan ikhtiar (usaha) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam dalam dua kisah dari Sirah Ibnu Hisyam di atas merupakah ikhtiar atau usaha Nabi dalam mencari pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Seperti anda misalkan berdoa, memohon agar diberi rezeki oleh Tuhan, apakah setelah berdoa, anda berdiam diri dan hanya mengandalkan Tuhan untuk memberi anda rezeki turun dari langit? Tentu tidak! Anda tetap harus bekerja untuk mencari rezeki. Bekerja itulah ikhtiar atau usaha yang anda lakukan agar Tuhan mengabulkan doa dengan memberi anda rezeki.

Pada kesimpulan, si pemuja Yesus mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam sama sekali tidak mengandalkan Tuhan dan tidak berdoa kepada Tuhan untuk menolong, tetapi justru meminta pertolongan kepada manusia di sekiranya. Si penuduh terlihat sangat bodoh, karena menganggap mengandalkan Tuhan (tawakal) itu tidak boleh disertai dengan ikhtiar atau usaha untuk mencapai sesuatu, itulah yang menyebabkan si penuduh kemudian berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam sama sekali tidak mengandalkan Tuhan, karena dia melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam berikhtiar atau berusaha mencari pertolongan Allah Subhanahu wata’ala dengan jalan mencari bantuan orang-orang beriman. Mengandalkan Tuhan (tawakal) dan ikhtiar atau usaha memang harus seiring sejalan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidak berdoa kepada Tuhan, ini juga salah. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam selalu memohon perlindungan Allah Subhanahu wata’ala, khususnya pada setiap shalat dalam doa qunut. Dalam Al-Qur’an, juga telah disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam berdoa, sebagaimana dapat anda baca di surah Al-Anfaal ayat 9.

Si pemuja Yesus juga memuji Daud yang di sebutnya hanya mengandalkan nama Tuhan saja, Daud tidak takut menanggalkan baju perang karena yakin keselamatan bukan tergantung baju perang, diri sendiri, atau orang lain. Daud pun dikatakan berakhir dengan kemenangan walaupun tanpa menggunakan baju perang dan pedang. Apakah semua yang dikatakan pemuja Yesus tersebut adalah benar? Coba anda baca baik-baik ayat-ayat setelah 1 Samuel 17:39. Maka anda akan menemukan bahwa alasan Daud melepaskan baju perang, ketopang, baju zirah dan pedang, bukanlah karena ingin mengandalkan Tuhan, akan tetapi karena Daud tidak biasa menggunakan baju perang, ketopang, baju zirah dan pedang (1 Samuel 17:39). Anda tahu mengapa Daud tidak biasa menggunakan semua peralatan perang? Karena Daud bukalah seorang prajurit perang, melainkan hanya seorang penggembala kambing domba (1 Samuel 17:34). Daud juga tidak dapat di sebut mengandalkan Tuhan, karena dalam mengalahkan orang Filistin, Daud mengandalkan diri sendiri dengan berbekal batu dan umbannya di tangan (1 Samuel 17:40) dan di 1 Samuel 17: 51 anda akan membaca Daud menghabisi salah seorang musuhnya dengan pedang.

B. MEMBUAT HUKUM SENDIRI YANG MENENTANG HUKUM TUHAN

Muhammad tidak hanya seenak dirinya membuat hukumnya sendiri dan hukum yang dibuat itu bertentangan dengan hukum Tuhan, dia bahkan dengan entengnya mengklaim bahwa hukum tersebut berasal dari Tuhan! Sungguh ini tingkah laku orang yang tidak takut akan Tuhan. Muhammad jelas adalah seorang ateis. Dia mengira dia tidak akan dihukum untuk kejahatannya di dunia dengan mengangkat dirinya sebagai nabi tetapi tiada kejahatan yang lepas dari mata Tuhan.

1.  Ajaran budak seks & nikah Mutah itu dari Tuhan (Qs 4:24), bertentangan dengan: Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Matius 5:28)

2. Ajaran memalak dan memerangi kafir itu dari Tuhan (Qs 9:29), bertentangan dengan: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44)

3. Ajaran poligami itu dari Tuhan (Qs 3:4), bertentangan dengan: Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (Matius 19:5)

4. Ajaran memukul istri itu dari Tuhan (Qs 4:34), bertentangan dengan: Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:39)

5. Ajaran berhobong (Taqiyya) itu dari Tuhan (Qs 3:54), bertentangan dengan: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Matius 5:37)

6. Ajaran pedofilia itu dari Tuhan (Qs 65:4), bertentangan dengan: Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, bukan Adam dan Hawa yang masih anak-anak. (Kejadian 1:27)

7. Ajaran pagan itu dari Tuhan Ajaran untuk sujud kepada kuil hitam, mengelilingi kuil hitam, dan mencium berhala batu hitam. bertentangan dengan: “Kasihilah Tuhan, Rajamu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37-40) dan Jangan sujud kepadanya atau beribadah kepadanya (berhala), (Keluaran 20:5)

Kesimpulan:

Saudara, apakah anda berani untuk mengatakan ajaran-ajaran keji di atas adalah ajaran Tuhan? Jika Anda berani, berarti Anda telah menentang dan menghina Tuhan, saya mohon bertobatlah sebelum terlambat. Muhammad benar-benar seorang ateis, tanpa ragu-ragu dia mengajarkan kejahatan pada umatnya dan meyakinkan umatnya kalau kejahatan itulah yang disukai oleh Tuhan. Hai umat Muslim, sudah begitu tidak takutkah kalian akan Tuhan sehingga kalian dengan mudahnya melakukan kejahatan-kejahatan di atas?

Pada tuduhannya kali ini, si pemuja Yesus menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam adalah seorang Ateis karena dikatakan menolak hukum Tuhan dan membuat hukumnya sendiri. Selanjutnya, si pemuja Yesus menulis tujuh ajaran yang dikatakannya sebagai ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang di sebutnya bertentangan dengan hukum Tuhan. Hukum Tuhan yang di maksud si pemuja Yesus tentu saja Injil Kristen. Sebelum saya jawab, ada beberapa hal yang Anda harus ketahui. Injil Kristen tidak dapat di sebut hukum Tuhan, karena Injil Kristen bukanlah kitab wahyu yang Allah Subhanahu wata’ala turunkan kepada Nabi-Nya. Injil Kristen tidak lebih dari kitab karangan manusia, yang kemudian penulisnya di atas-namakan murid-murid Yesus oleh gereja agar Injil Kristen memperoleh pengakuan.

1.  “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa(4):24)

Ayat di atas hanya berisi kebolehan menggauli budak yang diperoleh dari peperangan dan kewajiban membayar mahar terhadap wanita yang dikawini, tidak ada sama sekali kebolehan kawin Mut’ah seperti yang dituduhkan.

Ayat di atas juga dikatakan oleh si pemuja Yesus telah bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28). Si pemuja Yesus sekali lagi memperlihatkan kebodohannya. Dia menganggap menggauli budak adalah sama dengan berzina, padahal Bibel Perjanjian Lama tidak melarang menggauli budak atau menghukum orang yang menggauli budak. Jika menggauli budak sama dengan berzina, sudah barang tentu Bibel Perjanjian Lama akan mengharamkannya. Bukan hanya tidak melarang menggauli budak, Bibel Perjanjian Lama justru mendorong seorang tuan untuk menggauli budaknya, jika tidak si budak dapat bebas tanpa membayar tebusan. Simak ayat-ayatnya di bawah ini:

7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.
8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu.
9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan.
10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia.
11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa." (Keluaran 21: 7-11)    

Bagaimana dengan Yesus? Yesus tidak mengubah hukum yang telah ada seperti janjinya sendiri, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17)

2.  “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah* dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
*Jizyah adalah semacam pajak yang dikenakan kepada  individu bukan Islam yang berlindung di negara Islam sebagai imbalan bagi keamanan diri mereka . Umat Islam membayar zakat, sementara yang bukan Islam membayar Jizyah, adil bukan?

Si pemuja Yesus mengatakan bahwa ayat di atas bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44)

Perang tidak pernah dilarang dalam Bibel Perjanjian Lama, justru banyak perintah perang yang diberikan Tuhan melalui para Nabi kepada raja-raja di masa Perjanjian Lama. Bahkan Tuhan melatih perang Israel (Hakim-Hakim 3:2). Bagaimana dengan ucapan Yesus di Matius 5:44? Yesus hanya memiliki sedikit pengikut dan tak satu pun dari pengikutnya yang tangkas dalam menggunakan senjata perang. Sedangkan pasukan Romawi sangat ahli dalam perang dan memiliki persenjataan super lengkap. Kondisi yang tidak berimbang itulah yang menyebabkan Yesus dan murid-muridnya memilih untuk tidak membalas perlakuan kejam orang-orang kafir dan lebih memilih untuk menunjukkan kasih kepada musuh-musuhnya, dengan harapan hati mereka akan tersentuh. Kondisi Yesus dan pengikutnya tersebut sama dengan kondisi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam pada masa awal berdakwah di Mekkah.

3.  “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An Nisaa'(4):3)

Poligami dalam Islam merupakan praktik yang diperbolehkan (mubah, tidak larang namun tidak dianjurkan). Ayat kebolehan poligami dalam Al-Qur’an terdapat pada surah An-Nisaa’ ayat 3, tidak ada pada ayat yang disebutkan oleh si pemuja Yesus. Menurut si pemuja Yesus, poligami yang diperbolehkan dalam Islam bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil Kristen: ” Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” (Matius 19:5). Ucapan Yesus yang ada di Matius 19:5, bukan merupakan larangan berpoligami, melainkan hanya menunjukkan perkawinan ideal adalah monogami. Walaupun Al-Qur’an memperbolehkan pernikahan poligami seperti pada An-Nisaa’ ayat 3, namun pada ayat yang sama, Allah Subhanahu wata’ala juga menyatakan bahwa pernikahan yang ideal adalah pernikahan monogami. Makna ini dapat anda tangkap dari kalimat yang bergaris bawah pada An-Nisaa’ ayat 3 di atas. Poligami dilarang sejak masa kepemimpinan Paus Leo XIII pada tahun 1866, bukan pada masa awal kekristenan. Bibel Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak melarang, lalu apa yang mau dipermasalahkan?

 4.  “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisaa’(4):34)

Si pemuja Yesus menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an di atas bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil Kristen: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39)

Dalam An-Nisaa’ ayat 34 tersebut di atas, Allah Subhanahu wata’ala membolehkan seorang suami memukul isterinya. Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang bolehnya memukul adalah harus terpenuhinya kaidah-kaidah sebagai berikut, yaitu:

1. Setelah dinasihati, dipisahkan tempat tidurnya, namun tetap tidak mau kembali kepada syari’at Islam.

2. Tidak diperbolehkan memukul wajahnya.

3. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang menimbulkan bekas atau membahayakan isterinya.

Pukulannya pun pukulan yang tidak melukai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.” (Shahih Muslim)

Pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada sebagian Shahabat yang memukul isterinya, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Namun ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu mengadukan atas bertambah beraninya wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan rukhshah untuk memukul mereka. Para wanita berkumpul dan mengeluh dengan hal ini, kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.” (Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)

Dari ‘Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya?” (Shahih Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang laki-laki yang baik, yaitu yang baik kepada isteri-isterinya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya dan aku adalah yang paling baik kepada isteriku” (Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Tirmidzi)

Jadi pukulan yang diperbolehkan dilakukan oleh suami terhadap istrinya adalah pukulan untuk memberi pelajaran atau mendidik, bukan ditujukan untuk menyakiti. Seperti seorang ayah atau ibu yang demi memberi pelajaran atau mendidik, memberikan cubitan kecil kepada sang buah hatinya.

5.  “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali 'Imran: 54)

Pemuja Yesus menganggap ayat di atas adalah ajaran untuk berbohong dan bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)

Ayat Ali ‘Imran: 54 bukanlah ajaran untuk berbohong atau taqiyah. Ayat tersebut berkenaan dengan penyelamatan Nabi Isa ‘Alaihissalam dari tipu daya orang-orang kafir. Allah Subhanahu wata’ala membalas mereka dengan tipu daya pula, yaitu dengan menyelamatkan Nabi Isa ‘Alaihissalam tanpa sepengetahuan orang-orang yang hendak membunuhnya. Islam mengajarkan untuk selalu bersikap jujur dan menjauhi kebohongan. Namun, ada kebohongan yang tidak di anggap berdosa dalam Islam, yaitu kebohongan ketika perang, berbohong untuk mendamaikan sesama manusia dan bohongnya suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya untuk melestarikan kasih sayang dan ketenangan keluarga. Sedangkan Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Taqiyah dikenal di kalangan Ahlussunnah dan Syi’ah. Hanya saja menurut Ahlussunnah taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam. Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka.

Si pemuja Yesus saya sarankan untuk melongok ajaran Tuhannya sendiri sebelum mengkritik ajaran agama orang lain. mau mengkritik ajaran taqiyah boleh saja, tapi coba lihat terlebih dahulu, apa Yesus tidak pernah berbohong. Jelas-jelas Yesus dalam Bibel Perjanjian Baru pernah berbohong. Seperti di Yohanes 7:8-10, ketika Yesus di ajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke pesta. Yesus menolak dengan alasan belum waktunya. Namun ketika saudara-saudaranya sudah pergi ke pesta, Yesus dengan diam-diam (mungkin juga sambil clingak-clinguk) pergi ke pesta. Bukankah itu bohong namanya?!   

6.  Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Ath Thalaaq: 4)

Selanjutnya, si pemuja Yesus menuduh bahwa Islam mengajarkan pedofilia yang kemudian dia sebut bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Bibel Perjanjian Lama: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian 1:27)

Apa itu pedofilia? Pedofilia adalah kecenderungan seseorang yang telah dewasa baik pria maupun wanita untuk melakukan aktivitas seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual dengan anak-anak kecil. Bahkan terkadang melibatkan anak di bawah umur, jika umur keduanya sama atau tidak terlampau jauh tidak dapat di sebut pedofilia. Jadi, Pedofilia itu penyakit dan bukan suatu ajaran agama mana pun, apa lagi ajaran Islam seperti yang dituduhkan si pemuja Yesus. Sedangkan firman Allah Subhanahu wata’ala: ”Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (Ath Thalaaq: 4). Ayat tersebut adalah jawaban Allah Subhanahu wata’ala ketika Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, “Ya Rasullullah, sesungguhnya ada beberapa kelompok wanita yang tidak di sebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu wanita yang masih kecil, wanita tua dan wanita yang sedang hamil. Di lihat dari asbabun nuzulnya, ayat tersebut tidak dapat di sebut sebagai ajaran atau perintah bagi orang dewasa untuk menikahi anak-anak kecil. Ayat tersebut tidak lebih sebagai jawaban dari pertanyaan Ubay bin Ka’ab yang mungkin melihat bahwa ada wanita-wanita yang belum haid (belum dewasa) namun sudah menikah.

7.   Pemuja Yesus mengatakan bahwa Islam adalah agama pagan dan umat Islam diajarkan untuk sujud kepada kuil hitam, mengelilingi kuil hitam, dan mencium berhala batu hitam dan itu dikatakannya bertentangan dengan ayat: “Kasihilah Tuhan, Rajamu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37-40) dan Jangan sujud kepadanya atau beribadah kepadanya (berhala), (Keluaran 20:5)

Tuduhan ngawur dan tak berdasar, Membuktikan si penuduh belum sempurna akalnya. Ka’bah bukan kuil dan Hajar Aswad bukan berhala, karena umat Islam tidak pernah menyembahnya. Ka’bah adalah sebagai penentu arah sholat bukan objek yang disembah sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya:

“Palingkanlah  mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS.Al-Baqarah :144)

Jadi intinya bukan menyembah batu  tapi inti dari ajaran itu ialah ketundukan kepada Tuhan mereka. Pengakuan bahwa Allah itu Rabb mereka. Analoginya begini, misalkan anda disuruh oleh orang tua anda untuk mencium komputer di depan anda lalu anda menuruti, lalu apakah ini berarti anda menyembah komputer ? Tentu orang yang berpikiran jernih mengatakan tidak. Anda melakukan itu karena wujud taat dan tunduk kepada peintah orang tua, sebagai wujud bakti anda sebagai anak kepada orang tua. Nah begitulah umat islam dalam melakukan sholat dan thowaf kenapa mereka menghadap batu dan mencium batu. Itu karena wujud ketaatan kepada Allah, Tuhan mereka memerintahkan dalam ajaran-Nya supaya melakukan demikian. Mereka tidak menganggap batu itu istimewa.

Daud dalam Bibel juga bersujud dan mengelilingi mezbah atau Bait Tuhan sebagaimana ayat di bawah ini:

Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau. (Mazmur 5:7)

Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN, (Mazmur 26:6) 

Jadi ajaran Thowaf dan sujud menghadap Ka’bah atau mencium Hajar Aswat sama sekali tidak bertentangan dengan Matius 22:37-40 dan Keluaran 20:5. Dari ke tujuh poin yang di sebut oleh si pemuja Yesus, semuanya merupakan tuduhan-tuduhan lama yang sudah sangat sering sekali di jawab. Hanya orang bodoh dan bebal saja yang kemudian terus mempermasalahkannya.

Kesimpulan:

Dari pada menuduh umat Islam yang macam-macam, bukankah sebaiknya orang-orang Kristen menilai diri mereka sendiri? Bukankah Yesus sendiri pernah berpesan untuk tidak menghakimi agar tidak dihakimi?  Jangan menyebut orang lain tidak mengasihi Tuhan kalau diri sendiri tidak mengasihi Tuhan. Yesus pernah berkata bahwa hukum utama yang pertama adalah mengasihi Tuhan (Matius 22:37). Apa itu mengasihi Tuhan? Mengasihi Tuhan adalah meyakini Tuhan itu satu, tidak memiliki sekutu, sebagaimana jawaban ahli Taurat kepada Yesus dalam Markus 12:32. Menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam seorang ateis adalah tindakan bodoh. Mengapa demikian? Karena dengan kriteria ateis yang digunakan untuk menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, saya pun dapat mengatakan Yesus seorang ateis.

Kriteria ateis yang dibuat si pemuja Yesus ada dua: hidup mengandalkan diri sendiri atau orang lain dan menolak hukum Tuhan. Mari kita lihat, apakah kriteria tersebut ada pada diri Yesus.

Yesus mengandalkan diri sendiri atau orang lain    

Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. (Matius 21:19)

Yesus yang lapar mendekati pohon ara dengan harapan mendapat buahnya. Yesus kecewa karena harapannya tidak terjadi dan mengutuk pohon ara yang tidak bersalah. Itu artinya Yesus mengandalkan pohon ara untuk dapat makan, bukan mengandalkan Tuhan.

Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” (Yohanes 4:7)

Pada ayat di atas, Yesus tidak mengandalkan Tuhan untuk dapat minum, tapi mengandalkan perempuan Samaria yang tidak dikenalnya.

Yesus menolak hukum Tuhan

Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. (Yohanes 7:8-10)

Satu hari Yesus diajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke pesta. Yesus menolak dengan alasan bahwa waktunya belum genap. Tetapi setelah saudara-saudaranya pergi, Yesus pergi juga ke pesta dengan diam-diam. Itu artinya Yesus telah berbohong kepada saudara-saudaranya!

Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya." (Matius 21:1-3)

Ketika telah dekat Yerusalem, Yesus menyuruh murid-muridnya untuk mengambil keledai milik orang lain dengan berjanji akan mengembalikannya. Apakah dalam ayat Bibel Perjanjian baru anda menemukan Yesus atau murid-muridnya mengembalikan keledai yang mereka pinjam? Tidak ada! Artinya Yesus telah mencuri dan telah berbohong atau berdusta kepada pemilik keledai!  


Mencuri dan Berbohong atau berdusta melanggar hukum Tuhan dalam Imamat 19:11 yang berbunyi, “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamuberdusta seorang kepada sesamanya.”


Demikian jawaban saya atas tuduhan salah seorang penghujat dari salah satu pemuja Yesus. Tuduhan yang dia lontarkan sama sekali tak akan pernah meruntuhkan iman seorang Muslim, justru malah memperlihatkan kebodohan dan kedunguannya sendiri. Bahkan dengan kriteria yang sama seperti yang dia gunakan untuk menuduh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wasallam seorang ateis, saya dapat membuktikan pula bahwa Yesus seorang ateis.    

bileambinbeor
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 61
Reputation : 0
Points : 1942
Registration date : 2012-08-22

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Seorang Ateis?

Post by sampurna234 on Sun May 04, 2014 5:26 am

bileambinbeor wrote:
Demikian jawaban saya atas tuduhan salah seorang penghujat dari salah satu pemuja Yesus. Tuduhan yang dia lontarkan sama sekali tak akan pernah meruntuhkan iman seorang Muslim, justru malah memperlihatkan kebodohan dan kedunguannya sendiri. Bahkan dengan kriteria yang sama seperti yang dia gunakan untuk menuduh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wasallam seorang ateis, saya dapat membuktikan pula bahwa Yesus seorang ateis.    

Gobloknya muslim ini memang luar biasa.
Muhammad atheis, bukannya disanggah, malah dicarikan alasan bahwa Yesus juga atheis. Jadi poinnya apa yg anda bahas disini. Minta ampun gobloknya.

Kita uji dulu nyali muslim.
Ya, udah kita anggap kamu sudah bisa membuktikan bahwa Yesus itu atheis. Sekarang pertanyaannya, setuju ngak kamu Muhammad itu juga atheis seperti tulisa di atas?
a. setuju
b. tidak setuju.

sampurna234
BLUE MEMBERS
BLUE MEMBERS

Number of posts : 220
Reputation : 11
Points : 1825
Registration date : 2013-04-02

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Seorang Ateis?

Post by bileambinbeor on Sun May 11, 2014 4:33 am

Bisa baca nggak sih?! Tiap poin tuduhan sudah saya jawab tapi kamu bilang tidak di sanggah, koplak!!!

bileambinbeor
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 61
Reputation : 0
Points : 1942
Registration date : 2012-08-22

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Seorang Ateis?

Post by wanniezam on Wed Oct 07, 2015 7:19 pm

nabi muhammad nggak atheis ya..sy nggak perlu membaca hujah2 yang mengatakan nabi muhammad itu atheis, sebab yang menuduh muhammad itu pun, nggak paham apa itu atheis dan juga pasal kenabian..kalian kena tau apabila seseorg itu menjadi nabi, samada muhammad, abraham, yesus dan lain-lain nabi, mereka disucikan dari keaiban, kecacatan , dan segala kelemahan manusia biasa oleh tuhan termasuk fahaman atheis..

wanniezam
RED MEMBERS
RED MEMBERS

Number of posts : 12
Reputation : 0
Points : 672
Registration date : 2015-10-07

View user profile

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Seorang Ateis?

Post by kuku bima on Thu Oct 22, 2015 3:36 am

bileambinbeor wrote:
Seorang pemuja Yesus menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam seorang Ateis. Apa itu Ateis? Si penuduh memberikan definisi dan ciri orang Ateis sebagai berikut: “ate·is /atéis/ n orang yg tidak percaya akan adanya Tuhan: kelompok — tidak akan mengambil bagian dalam suatu upacara agama. Di Indonesia ini, ateisme belum begitu berkembang. Walaupun mungkin jumlahnya bertambah tetapi biasanya mereka belum terang-terangan, tidak seperti di negara-negara barat. Ada dua ciri khas seorang ateis yang cukup mencolok menurut hemat saya:
1.  Seorang ateis pastinya hidup mengandalkan diri sendiri atau orang lain. Karena dia tidak percaya bahwa ada Tuhan yang akan menolongnya maka ia pun akan berusaha mati-matian dengan tenaga sendiri atau dengan pertolongan orang lain, yang pasti mereka harus bergantung pada manusia, siapapun manusia itu.
2.  Selain itu seorang ateis pun biasanya menolak hukum Tuhan. Biasanya ateis suka membuat peraturan sendiri sesuka-sukanya, misal prilaku seks bebas dianggap tidak apa-apa selama tidak merugikan pihak lain sementara Tuhan jelas menentang ini. Untuk seorang ateis tulen membunuh seseorang atau memperkosa seseorang pun bukanlah masalah besar, karena toh tidak ada Tuhan sehingga tidak ada benar atau salah, baik atau buruk, semua serba relatif. Konsekuensi yang ada paling dari manusia lain, seperti aparat keamanan, tetapi itu pun kalau tertangkap.”

Dengan dua ciri di atas, si penuduh kemudian menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam seorang Ateis, karena menurutnya di dalam diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam terdapat ciri-ciri seorang Ateis. Ciri-ciri Ateis pada diri Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang di maksud oleh si penuduh adalah sebagai berikut:
A. SIFAT BERGANTUNG PADA MANUSIA, BUKAN PADA TUHAN
1) Sewaktu Nyawa Muhammad Terancam oleh Orang-Orang Quraish di Mekkah Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 1 Halaman 400-401 Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berbicara. Beliau membaca Al-Qur’an, mengajak mereka kepada agama Allah dan mengharapkan keislaman mereka. Setelah itu, beliau bersabda, ‘Aku membait kalian agar kalian melindungiku sebagaimana kalian melindungi anak-istri kalian.’ Al-Barra’ bin Ma’rur memegang tangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kemudian ia berkata, ‘Ya, demi Dzat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, kami pasti melindungimu sebagaimana kami melindungi anak-istri kami. Baiatlah kami wahai Rasulullah! Demi Allah, kami ahli perang dan ahli senjata. Itu kami wariskan dari satu generasi kepada generasi lainnya.’

2) Sewaktu Nyawa Muhammad Terancam di Uhud Sirah Nabawiyah Ibnu Hisyam Jilid 2 Halaman 43-44 Ibnu Ishaq berkata, “Ketika Rasulullah SAW dikepung orang-orang Quraisy, beliau berkata, ‘Siapa orang yang siap mengorbankan nyawa untukku?’
Kesimpulan:
Saudara seperti kita lihat, Muhammad sama sekali TIDAK mengandalkan tuhannya. Bukannya berdoa kepada tuhannya untuk menolong, Muhammad malah meminta pertolongan dari manusia manusia sekitar. Ini sangat kontras dengan nabi Daud yang sangat mengandalkan Tuhan: Lalu Daud mengikatkan pedangnya di luar baju perangnya, kemudian ia berikhtiar berjalan, sebab belum pernah dicobanya. Maka berkatalah Daud kepada Saul: “Aku tidak dapat berjalan dengan memakai ini, sebab belum pernah aku mencobanya.” Kemudian ia menanggalkannya. (1 Samuel 17:39)
Daud tidak takut untuk menanggalkan baju perangnya, dia sadar betul, keselamatan dia bukan tergantung baju perang, diri sendiri, atau orang lain. Ini terlihat dari perkataannya kepada Goliat: Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: “Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama RAJA semesta alam, Tuhan segala barisan Israel yang kautantang itu. (1 Samuel 17:45)
Yang Daud andalkan di sini hanya nama Tuhan saja! Dan kita semua tahu akhir ceritanya, Daud pun berkemenangan walaupun tanpa baju perang, tanpa pedang, dengan postur tubuh yang kecil tetapi Daud disertai Tuhan sehingga ia TIDAK takut. Sangat berbeda dengan Muhammad yang KETAKUTAN lalu bukannya mengandalkan tuhannya malah, berteriak-teriak minta tolong pada orang lain! Saudara siapa yang kau andalkan? Muhammad kah? Kalau kamu mengandalkan Muhammad dengan bershalawat untuknya dengan harapan Muhammad akan bersyafaat untuk kamu, berarti kamu telah mengandalkan manusia!
Baik, saya jawab terlebih dahulu tuduhan di atas terlebih dahulu.
Al-Qur’an memang mengajarkan untuk hanya meminta pertolongan kepada Allah Subhanahu wata’ala, karena Allah Subhanahu wata’ala adalah tempat bergantung segala sesuatu. Al-Qur’an juga mengajarkan agar selalu bertawakal (berserah diri) kepada Allah Subhanahu wata’ala. Namun tawakal (berserah diri) kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak berarti kemudian meninggalkan ikhtiar (usaha) untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam dalam dua kisah dari Sirah Ibnu Hisyam di atas merupakah ikhtiar atau usaha Nabi dalam mencari pertolongan Allah Subhanahu wata’ala. Seperti anda misalkan berdoa, memohon agar diberi rezeki oleh Tuhan, apakah setelah berdoa, anda berdiam diri dan hanya mengandalkan Tuhan untuk memberi anda rezeki turun dari langit? Tentu tidak! Anda tetap harus bekerja untuk mencari rezeki. Bekerja itulah ikhtiar atau usaha yang anda lakukan agar Tuhan mengabulkan doa dengan memberi anda rezeki.
Pada kesimpulan, si pemuja Yesus mengatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam sama sekali tidak mengandalkan Tuhan dan tidak berdoa kepada Tuhan untuk menolong, tetapi justru meminta pertolongan kepada manusia di sekiranya. Si penuduh terlihat sangat bodoh, karena menganggap mengandalkan Tuhan (tawakal) itu tidak boleh disertai dengan ikhtiar atau usaha untuk mencapai sesuatu, itulah yang menyebabkan si penuduh kemudian berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam sama sekali tidak mengandalkan Tuhan, karena dia melihat Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam berikhtiar atau berusaha mencari pertolongan Allah Subhanahu wata’ala dengan jalan mencari bantuan orang-orang beriman. Mengandalkan Tuhan (tawakal) dan ikhtiar atau usaha memang harus seiring sejalan. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam tidak berdoa kepada Tuhan, ini juga salah. Karena Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam selalu memohon perlindungan Allah Subhanahu wata’ala, khususnya pada setiap shalat dalam doa qunut. Dalam Al-Qur’an, juga telah disebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam berdoa, sebagaimana dapat anda baca di surah Al-Anfaal ayat 9.
Si pemuja Yesus juga memuji Daud yang di sebutnya hanya mengandalkan nama Tuhan saja, Daud tidak takut menanggalkan baju perang karena yakin keselamatan bukan tergantung baju perang, diri sendiri, atau orang lain. Daud pun dikatakan berakhir dengan kemenangan walaupun tanpa menggunakan baju perang dan pedang. Apakah semua yang dikatakan pemuja Yesus tersebut adalah benar? Coba anda baca baik-baik ayat-ayat setelah 1 Samuel 17:39. Maka anda akan menemukan bahwa alasan Daud melepaskan baju perang, ketopang, baju zirah dan pedang, bukanlah karena ingin mengandalkan Tuhan, akan tetapi karena Daud tidak biasa menggunakan baju perang, ketopang, baju zirah dan pedang (1 Samuel 17:39). Anda tahu mengapa Daud tidak biasa menggunakan semua peralatan perang? Karena Daud bukalah seorang prajurit perang, melainkan hanya seorang penggembala kambing domba (1 Samuel 17:34). Daud juga tidak dapat di sebut mengandalkan Tuhan, karena dalam mengalahkan orang Filistin, Daud mengandalkan diri sendiri dengan berbekal batu dan umbannya di tangan (1 Samuel 17:40) dan di 1 Samuel 17: 51 anda akan membaca Daud menghabisi salah seorang musuhnya dengan pedang.
B. MEMBUAT HUKUM SENDIRI YANG MENENTANG HUKUM TUHAN
Muhammad tidak hanya seenak dirinya membuat hukumnya sendiri dan hukum yang dibuat itu bertentangan dengan hukum Tuhan, dia bahkan dengan entengnya mengklaim bahwa hukum tersebut berasal dari Tuhan! Sungguh ini tingkah laku orang yang tidak takut akan Tuhan. Muhammad jelas adalah seorang ateis. Dia mengira dia tidak akan dihukum untuk kejahatannya di dunia dengan mengangkat dirinya sebagai nabi tetapi tiada kejahatan yang lepas dari mata Tuhan.
1.  Ajaran budak seks & nikah Mutah itu dari Tuhan (Qs 4:24), bertentangan dengan: Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. (Matius 5:28)
2. Ajaran memalak dan memerangi kafir itu dari Tuhan (Qs 9:29), bertentangan dengan: Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44)
3. Ajaran poligami itu dari Tuhan (Qs 3:4), bertentangan dengan: Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. (Matius 19:5)
4. Ajaran memukul istri itu dari Tuhan (Qs 4:34), bertentangan dengan: Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. (Matius 22:39)
5. Ajaran berhobong (Taqiyya) itu dari Tuhan (Qs 3:54), bertentangan dengan: Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. (Matius 5:37)
6. Ajaran pedofilia itu dari Tuhan (Qs 65:4), bertentangan dengan: Tuhan menciptakan Adam dan Hawa, bukan Adam dan Hawa yang masih anak-anak. (Kejadian 1:27)
7. Ajaran pagan itu dari Tuhan Ajaran untuk sujud kepada kuil hitam, mengelilingi kuil hitam, dan mencium berhala batu hitam. bertentangan dengan: “Kasihilah Tuhan, Rajamu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37-40) dan Jangan sujud kepadanya atau beribadah kepadanya (berhala), (Keluaran 20:5)
Kesimpulan:
Saudara, apakah anda berani untuk mengatakan ajaran-ajaran keji di atas adalah ajaran Tuhan? Jika Anda berani, berarti Anda telah menentang dan menghina Tuhan, saya mohon bertobatlah sebelum terlambat. Muhammad benar-benar seorang ateis, tanpa ragu-ragu dia mengajarkan kejahatan pada umatnya dan meyakinkan umatnya kalau kejahatan itulah yang disukai oleh Tuhan. Hai umat Muslim, sudah begitu tidak takutkah kalian akan Tuhan sehingga kalian dengan mudahnya melakukan kejahatan-kejahatan di atas?
Pada tuduhannya kali ini, si pemuja Yesus menyatakan bahwa Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam adalah seorang Ateis karena dikatakan menolak hukum Tuhan dan membuat hukumnya sendiri. Selanjutnya, si pemuja Yesus menulis tujuh ajaran yang dikatakannya sebagai ajaran Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam yang di sebutnya bertentangan dengan hukum Tuhan. Hukum Tuhan yang di maksud si pemuja Yesus tentu saja Injil Kristen. Sebelum saya jawab, ada beberapa hal yang Anda harus ketahui. Injil Kristen tidak dapat di sebut hukum Tuhan, karena Injil Kristen bukanlah kitab wahyu yang Allah Subhanahu wata’ala turunkan kepada Nabi-Nya. Injil Kristen tidak lebih dari kitab karangan manusia, yang kemudian penulisnya di atas-namakan murid-murid Yesus oleh gereja agar Injil Kristen memperoleh pengakuan.
1.  “dan (diharamkan juga kamu mengawini) wanita yang bersuami, kecuali budak-budak yang kamu miliki (Allah telah menetapkan hukum itu) sebagai ketetapan-Nya atas kamu. Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina. Maka isteri-isteri yang telah kamu nikmati (campuri) di antara mereka, berikanlah kepada mereka maharnya (dengan sempurna), sebagai suatu kewajiban; dan tiadalah mengapa bagi kamu terhadap sesuatu yang kamu telah saling merelakannya, sesudah menentukan mahar itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa(4):24)
Ayat di atas hanya berisi kebolehan menggauli budak yang diperoleh dari peperangan dan kewajiban membayar mahar terhadap wanita yang dikawini, tidak ada sama sekali kebolehan kawin Mut’ah seperti yang dituduhkan.
Ayat di atas juga dikatakan oleh si pemuja Yesus telah bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil: “Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya” (Matius 5:28). Si pemuja Yesus sekali lagi memperlihatkan kebodohannya. Dia menganggap menggauli budak adalah sama dengan berzina, padahal Bibel Perjanjian Lama tidak melarang menggauli budak atau menghukum orang yang menggauli budak. Jika menggauli budak sama dengan berzina, sudah barang tentu Bibel Perjanjian Lama akan mengharamkannya. Bukan hanya tidak melarang menggauli budak, Bibel Perjanjian Lama justru mendorong seorang tuan untuk menggauli budaknya, jika tidak si budak dapat bebas tanpa membayar tebusan. Simak ayat-ayatnya di bawah ini:
7 Apabila ada seorang menjual anaknya yang perempuan sebagai budak, maka perempuan itu tidak boleh keluar seperti cara budak-budak lelaki keluar.
8 Jika perempuan itu tidak disukai tuannya, yang telah menyediakannya bagi dirinya sendiri, maka haruslah tuannya itu mengizinkan ia ditebus; tuannya itu tidak berhak untuk menjualnya kepada bangsa asing, karena ia memungkiri janjinya kepada perempuan itu.
9 Jika tuannya itu menyediakannya bagi anaknya laki-laki, maka haruslah tuannya itu memperlakukannya seperti anak-anak perempuan berhak diperlakukan.
10 Jika tuannya itu mengambil perempuan lain, ia tidak boleh mengurangi makanan perempuan itu, pakaiannya dan persetubuhan dengan dia.
11 Jika tuannya itu tidak melakukan ketiga hal itu kepadanya, maka perempuan itu harus diizinkan keluar, dengan tidak membayar uang tebusan apa-apa." (Keluaran 21: 7-11)    
Bagaimana dengan Yesus? Yesus tidak mengubah hukum yang telah ada seperti janjinya sendiri, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Matius 5:17)
2.  “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah* dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.”
*Jizyah adalah semacam pajak yang dikenakan kepada  individu bukan Islam yang berlindung di negara Islam sebagai imbalan bagi keamanan diri mereka . Umat Islam membayar zakat, sementara yang bukan Islam membayar Jizyah, adil bukan?
Si pemuja Yesus mengatakan bahwa ayat di atas bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil: “Tetapi Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. (Matius 5:44)

Perang tidak pernah dilarang dalam Bibel Perjanjian Lama, justru banyak perintah perang yang diberikan Tuhan melalui para Nabi kepada raja-raja di masa Perjanjian Lama. Bahkan Tuhan melatih perang Israel (Hakim-Hakim 3:2). Bagaimana dengan ucapan Yesus di Matius 5:44? Yesus hanya memiliki sedikit pengikut dan tak satu pun dari pengikutnya yang tangkas dalam menggunakan senjata perang. Sedangkan pasukan Romawi sangat ahli dalam perang dan memiliki persenjataan super lengkap. Kondisi yang tidak berimbang itulah yang menyebabkan Yesus dan murid-muridnya memilih untuk tidak membalas perlakuan kejam orang-orang kafir dan lebih memilih untuk menunjukkan kasih kepada musuh-musuhnya, dengan harapan hati mereka akan tersentuh. Kondisi Yesus dan pengikutnya tersebut sama dengan kondisi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam pada masa awal berdakwah di Mekkah.
3.  “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (An Nisaa'(4):3)
Poligami dalam Islam merupakan praktik yang diperbolehkan (mubah, tidak larang namun tidak dianjurkan). Ayat kebolehan poligami dalam Al-Qur’an terdapat pada surah An-Nisaa’ ayat 3, tidak ada pada ayat yang disebutkan oleh si pemuja Yesus. Menurut si pemuja Yesus, poligami yang diperbolehkan dalam Islam bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil Kristen: ” Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.” (Matius 19:5). Ucapan Yesus yang ada di Matius 19:5, bukan merupakan larangan berpoligami, melainkan hanya menunjukkan perkawinan ideal adalah monogami. Walaupun Al-Qur’an memperbolehkan pernikahan poligami seperti pada An-Nisaa’ ayat 3, namun pada ayat yang sama, Allah Subhanahu wata’ala juga menyatakan bahwa pernikahan yang ideal adalah pernikahan monogami. Makna ini dapat anda tangkap dari kalimat yang bergaris bawah pada An-Nisaa’ ayat 3 di atas. Poligami dilarang sejak masa kepemimpinan Paus Leo XIII pada tahun 1866, bukan pada masa awal kekristenan. Bibel Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak melarang, lalu apa yang mau dipermasalahkan?
 4.  “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (An-Nisaa’(4):34)
Si pemuja Yesus menyatakan bahwa ayat Al-Qur’an di atas bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil Kristen: “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Matius 22:39)
Dalam An-Nisaa’ ayat 34 tersebut di atas, Allah Subhanahu wata’ala membolehkan seorang suami memukul isterinya. Akan tetapi ada hal yang perlu diperhatikan dengan sungguh-sungguh tentang bolehnya memukul adalah harus terpenuhinya kaidah-kaidah sebagai berikut, yaitu:
1. Setelah dinasihati, dipisahkan tempat tidurnya, namun tetap tidak mau kembali kepada syari’at Islam.
2. Tidak diperbolehkan memukul wajahnya.
3. Tidak boleh memukul dengan pukulan yang menimbulkan bekas atau membahayakan isterinya.
Pukulannya pun pukulan yang tidak melukai, sebagaimana sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Dan pukullah mereka dengan pukulan yang tidak melukai.” (Shahih Muslim)
Pada zaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ada sebagian Shahabat yang memukul isterinya, kemudian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarangnya. Namun ‘Umar bin al-Khaththab radhiyallaahu ‘anhu mengadukan atas bertambah beraninya wanita-wanita yang nusyuz (durhaka kepada suaminya), sehingga Rasul memberikan rukhshah untuk memukul mereka. Para wanita berkumpul dan mengeluh dengan hal ini, kemudian Rasul shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya mereka itu (yang suka memukul isterinya) bukan orang yang baik di antara kamu.” (Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban)
Dari ‘Abdullah bin Jam’ah bahwasanya ia telah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Bagaimana mungkin seseorang di antara kalian sengaja mencambuk isterinya sebagaimana ia mencambuk budaknya, lalu ia menyetubuhinya di sore harinya?” (Shahih Bukhari, Muslim dan Tirmidzi)
Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan tentang laki-laki yang baik, yaitu yang baik kepada isteri-isterinya. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada isterinya dan aku adalah yang paling baik kepada isteriku” (Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Tirmidzi)
Jadi pukulan yang diperbolehkan dilakukan oleh suami terhadap istrinya adalah pukulan untuk memberi pelajaran atau mendidik, bukan ditujukan untuk menyakiti. Seperti seorang ayah atau ibu yang demi memberi pelajaran atau mendidik, memberikan cubitan kecil kepada sang buah hatinya.
5.  “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali 'Imran: 54)
Pemuja Yesus menganggap ayat di atas adalah ajaran untuk berbohong dan bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Injil: “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.” (Matius 5:37)
Ayat Ali ‘Imran: 54 bukanlah ajaran untuk berbohong atau taqiyah. Ayat tersebut berkenaan dengan penyelamatan Nabi Isa ‘Alaihissalam dari tipu daya orang-orang kafir. Allah Subhanahu wata’ala membalas mereka dengan tipu daya pula, yaitu dengan menyelamatkan Nabi Isa ‘Alaihissalam tanpa sepengetahuan orang-orang yang hendak membunuhnya. Islam mengajarkan untuk selalu bersikap jujur dan menjauhi kebohongan. Namun, ada kebohongan yang tidak di anggap berdosa dalam Islam, yaitu kebohongan ketika perang, berbohong untuk mendamaikan sesama manusia dan bohongnya suami berbohong kepada istrinya atau istri berbohong pada suaminya untuk melestarikan kasih sayang dan ketenangan keluarga. Sedangkan Taqiyah adalah kondisi luar seseorang dengan yang ada di dalam batinnya tidaklah sama. Taqiyah dikenal di kalangan Ahlussunnah dan Syi’ah. Hanya saja menurut Ahlussunnah taqiyah digunakan untuk menghindarkan diri dari musuh-musuh Islam alias orang kafir atau ketika perang maupun kondisi yang sangat membahayakan orang Islam. Sementara itu menurut Syi’ah bahwa Taqiyah wajib dilakukan. Jadi taqiyah adalah salah satu prinsip agama mereka.
Si pemuja Yesus saya sarankan untuk melongok ajaran Tuhannya sendiri sebelum mengkritik ajaran agama orang lain. mau mengkritik ajaran taqiyah boleh saja, tapi coba lihat terlebih dahulu, apa Yesus tidak pernah berbohong. Jelas-jelas Yesus dalam Bibel Perjanjian Baru pernah berbohong. Seperti di Yohanes 7:8-10, ketika Yesus di ajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke pesta. Yesus menolak dengan alasan belum waktunya. Namun ketika saudara-saudaranya sudah pergi ke pesta, Yesus dengan diam-diam (mungkin juga sambil clingak-clinguk) pergi ke pesta. Bukankah itu bohong namanya?!   
6.  Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (Ath Thalaaq: 4)
Selanjutnya, si pemuja Yesus menuduh bahwa Islam mengajarkan pedofilia yang kemudian dia sebut bertentangan dengan “hukum Tuhan” yang ada dalam Bibel Perjanjian Lama: “Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.” (Kejadian 1:27)
Apa itu pedofilia? Pedofilia adalah kecenderungan seseorang yang telah dewasa baik pria maupun wanita untuk melakukan aktivitas seksual berupa hasrat ataupun fantasi impuls seksual dengan anak-anak kecil. Bahkan terkadang melibatkan anak di bawah umur, jika umur keduanya sama atau tidak terlampau jauh tidak dapat di sebut pedofilia. Jadi, Pedofilia itu penyakit dan bukan suatu ajaran agama mana pun, apa lagi ajaran Islam seperti yang dituduhkan si pemuja Yesus. Sedangkan firman Allah Subhanahu wata’ala: ”Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya” (Ath Thalaaq: 4). Ayat tersebut adalah jawaban Allah Subhanahu wata’ala ketika Ubay bin Ka’ab bertanya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, “Ya Rasullullah, sesungguhnya ada beberapa kelompok wanita yang tidak di sebutkan di dalam Al-Qur’an, yaitu wanita yang masih kecil, wanita tua dan wanita yang sedang hamil. Di lihat dari asbabun nuzulnya, ayat tersebut tidak dapat di sebut sebagai ajaran atau perintah bagi orang dewasa untuk menikahi anak-anak kecil. Ayat tersebut tidak lebih sebagai jawaban dari pertanyaan Ubay bin Ka’ab yang mungkin melihat bahwa ada wanita-wanita yang belum haid (belum dewasa) namun sudah menikah.
7.   Pemuja Yesus mengatakan bahwa Islam adalah agama pagan dan umat Islam diajarkan untuk sujud kepada kuil hitam, mengelilingi kuil hitam, dan mencium berhala batu hitam dan itu dikatakannya bertentangan dengan ayat: “Kasihilah Tuhan, Rajamu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37-40) dan Jangan sujud kepadanya atau beribadah kepadanya (berhala), (Keluaran 20:5)
Tuduhan ngawur dan tak berdasar, Membuktikan si penuduh belum sempurna akalnya. Ka’bah bukan kuil dan Hajar Aswad bukan berhala, karena umat Islam tidak pernah menyembahnya. Ka’bah adalah sebagai penentu arah sholat bukan objek yang disembah sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala berfirman yang artinya:
“Palingkanlah  mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan”. (QS.Al-Baqarah :144)
Jadi intinya bukan menyembah batu  tapi inti dari ajaran itu ialah ketundukan kepada Tuhan mereka. Pengakuan bahwa Allah itu Rabb mereka. Analoginya begini, misalkan anda disuruh oleh orang tua anda untuk mencium komputer di depan anda lalu anda menuruti, lalu apakah ini berarti anda menyembah komputer ? Tentu orang yang berpikiran jernih mengatakan tidak. Anda melakukan itu karena wujud taat dan tunduk kepada peintah orang tua, sebagai wujud bakti anda sebagai anak kepada orang tua. Nah begitulah umat islam dalam melakukan sholat dan thowaf kenapa mereka menghadap batu dan mencium batu. Itu karena wujud ketaatan kepada Allah, Tuhan mereka memerintahkan dalam ajaran-Nya supaya melakukan demikian. Mereka tidak menganggap batu itu istimewa.
Daud dalam Bibel juga bersujud dan mengelilingi mezbah atau Bait Tuhan sebagaimana ayat di bawah ini:
Tetapi aku, berkat kasih setia-Mu yang besar, aku akan masuk ke dalam rumah-Mu, sujud menyembah ke arah bait-Mu yang kudus dengan takut akan Engkau. (Mazmur 5:7)
Aku membasuh tanganku tanda tak bersalah, lalu berjalan mengelilingi mezbah-Mu, ya TUHAN, (Mazmur 26:6) 
Jadi ajaran Thowaf dan sujud menghadap Ka’bah atau mencium Hajar Aswat sama sekali tidak bertentangan dengan Matius 22:37-40 dan Keluaran 20:5. Dari ke tujuh poin yang di sebut oleh si pemuja Yesus, semuanya merupakan tuduhan-tuduhan lama yang sudah sangat sering sekali di jawab. Hanya orang bodoh dan bebal saja yang kemudian terus mempermasalahkannya.
Kesimpulan:
Dari pada menuduh umat Islam yang macam-macam, bukankah sebaiknya orang-orang Kristen menilai diri mereka sendiri? Bukankah Yesus sendiri pernah berpesan untuk tidak menghakimi agar tidak dihakimi?  Jangan menyebut orang lain tidak mengasihi Tuhan kalau diri sendiri tidak mengasihi Tuhan. Yesus pernah berkata bahwa hukum utama yang pertama adalah mengasihi Tuhan (Matius 22:37). Apa itu mengasihi Tuhan? Mengasihi Tuhan adalah meyakini Tuhan itu satu, tidak memiliki sekutu, sebagaimana jawaban ahli Taurat kepada Yesus dalam Markus 12:32. Menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam seorang ateis adalah tindakan bodoh. Mengapa demikian? Karena dengan kriteria ateis yang digunakan untuk menuduh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam, saya pun dapat mengatakan Yesus seorang ateis.
Kriteria ateis yang dibuat si pemuja Yesus ada dua: hidup mengandalkan diri sendiri atau orang lain dan menolak hukum Tuhan. Mari kita lihat, apakah kriteria tersebut ada pada diri Yesus.
Yesus mengandalkan diri sendiri atau orang lain    
Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu. (Matius 21:19)
Yesus yang lapar mendekati pohon ara dengan harapan mendapat buahnya. Yesus kecewa karena harapannya tidak terjadi dan mengutuk pohon ara yang tidak bersalah. Itu artinya Yesus mengandalkan pohon ara untuk dapat makan, bukan mengandalkan Tuhan.
Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.” (Yohanes 4:7)
Pada ayat di atas, Yesus tidak mengandalkan Tuhan untuk dapat minum, tapi mengandalkan perempuan Samaria yang tidak dikenalnya.
Yesus menolak hukum Tuhan
Pergilah kamu ke pesta itu. Aku belum pergi ke situ, karena waktu-Ku belum genap." Demikianlah kata-Nya kepada mereka, dan Iapun tinggal di Galilea. Tetapi sesudah saudara-saudara Yesus berangkat ke pesta itu, Iapun pergi juga ke situ, tidak terang-terangan tetapi diam-diam. (Yohanes 7:8-10)
Satu hari Yesus diajak oleh saudara-saudaranya untuk pergi ke pesta. Yesus menolak dengan alasan bahwa waktunya belum genap. Tetapi setelah saudara-saudaranya pergi, Yesus pergi juga ke pesta dengan diam-diam. Itu artinya Yesus telah berbohong kepada saudara-saudaranya!
Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku. Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya." (Matius 21:1-3)
Ketika telah dekat Yerusalem, Yesus menyuruh murid-muridnya untuk mengambil keledai milik orang lain dengan berjanji akan mengembalikannya. Apakah dalam ayat Bibel Perjanjian baru anda menemukan Yesus atau murid-muridnya mengembalikan keledai yang mereka pinjam? Tidak ada! Artinya Yesus telah mencuri dan telah berbohong atau berdusta kepada pemilik keledai!  

Mencuri dan Berbohong atau berdusta melanggar hukum Tuhan dalam Imamat 19:11 yang berbunyi, “Janganlah kamu mencuri, janganlah kamu berbohong dan janganlah kamuberdusta seorang kepada sesamanya.”

Demikian jawaban saya atas tuduhan salah seorang penghujat dari salah satu pemuja Yesus. Tuduhan yang dia lontarkan sama sekali tak akan pernah meruntuhkan iman seorang Muslim, justru malah memperlihatkan kebodohan dan kedunguannya sendiri. Bahkan dengan kriteria yang sama seperti yang dia gunakan untuk menuduh Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi wasallam seorang ateis, saya dapat membuktikan pula bahwa Yesus seorang ateis.    
bukankah...pencipta supermen ..meminta tolong pada suparman.....karena suparman itu nyata...sedang supermen itu fiktif....

_________________
ALLOH SWT TERNYATA BISA DI TIPU MANUSIA.....

Qs..4:142 berkata: “Sesungguhnya orang2 munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.”
TERNYATA QURAN ITU KARYA EROR KANG MAMAD
"Sesungguhnya Alquran itu perkataan rasul yang mulia." (Qs.69:40)
"innahu (sesungguhnya) la qaula (perkataan) rasuulin kariim (rasul yang mulia)
avatar
kuku bima
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Male
Number of posts : 4041
Age : 36
Location : firdaus
Job/hobbies : memperkenalkan Yesus
Humor : iman yang buta membawa malapetaka...
Reputation : 12
Points : 7876
Registration date : 2011-05-19

View user profile http://Islam bukan agama ,tapi Idiologi mematikan..

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Seorang Ateis?

Post by kuku bima on Thu Oct 22, 2015 3:44 am

wanniezam wrote:nabi muhammad nggak atheis ya..sy nggak perlu membaca hujah2 yang mengatakan nabi muhammad itu atheis, sebab yang menuduh muhammad itu pun, nggak paham apa itu atheis dan juga pasal kenabian..kalian kena tau apabila seseorg itu menjadi nabi, samada muhammad, abraham, yesus dan lain-lain nabi, mereka disucikan dari keaiban, kecacatan , dan segala kelemahan  manusia biasa oleh tuhan termasuk fahaman atheis..
nabi itu gelar bangsawan yahudi.........muhammad orang mane tong........Orang yang  pertama mendapat gelar NABI adalah Musa.......gelar mulia untuk keturunan Yakub.........tidak ada nabi sebelum ..Musa......

_________________
ALLOH SWT TERNYATA BISA DI TIPU MANUSIA.....

Qs..4:142 berkata: “Sesungguhnya orang2 munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.”
TERNYATA QURAN ITU KARYA EROR KANG MAMAD
"Sesungguhnya Alquran itu perkataan rasul yang mulia." (Qs.69:40)
"innahu (sesungguhnya) la qaula (perkataan) rasuulin kariim (rasul yang mulia)
avatar
kuku bima
SILVER MEMBERS
SILVER MEMBERS

Male
Number of posts : 4041
Age : 36
Location : firdaus
Job/hobbies : memperkenalkan Yesus
Humor : iman yang buta membawa malapetaka...
Reputation : 12
Points : 7876
Registration date : 2011-05-19

View user profile http://Islam bukan agama ,tapi Idiologi mematikan..

Back to top Go down

Re: Nabi Muhammad Seorang Ateis?

Post by Sponsored content


Sponsored content


Back to top Go down

View previous topic View next topic Back to top

- Similar topics

 
Permissions in this forum:
You cannot reply to topics in this forum